Di tempat lain, bersamaan waktunya dengan Berri yang bertemu mautnya.
Di ruang tamu, Santi tampak sudah rapi dan siap untuk pergi. Dia hanya tinggal menunggu telepon dari Berri, baru berangkat.
Pintu rumah terbuka, Wati masuk seorang diri dan menatap Santi.
"Mau ke mana kamu? Rapi, wangi dan terlihat cantik."
"Ibu mau tahu aja. Yang pasti aku mau pergi dong, Bu!"
"Iya, pergi ke mana dan sama siapa? Apa kamu dandan secantik ini untuk suamimu?" tanya Wati.
"Nah, Ibu sudah tahu kok masih bertanya aja. Aku kan istri yang baik, Bu. Jadi harus selalu tampil sempurna di depan Abay. Tadi Abay menelepon, dia mengajak makan di luar, tanpa membawa Dina. Kami mau pacaran, Bu!" jawab Santi lancar dan terkesan jujur.
"Apa benar seperti itu?" selidik Wati.
Santi tampak curiga dengan sikap Wati sore ini. Apa Abay mengadukan perbuatannya pada Wati?
"Ibu hanya takut, kamu masih belum bisa lupakan Berri. Ingat, Santi... kamu ini istri dari Abay, seorang Ibu sambung bagi Dina. Ibu berharap, kamu dan Abay cepat-cepat beri cucu untuk menjadi teman Dina."
"Berri itu masa laluku, Bu! Aku ini istri yang setia, Bu. Masalah anak, bukan aku tak mau. Tetapi aku takut Abay mandul!" jawab Santi seenaknya.
"Kamu ini, selain menyebut nama suami tanpa embel-embel, eh sekarang malah menuduh mandul." Wati berdecak kecewa.
"Bukan menuduh Bu. Hanya bicara potensi atau kemungkinan Abay mandul. Itu saja dan tak lebih!" Santi melirik jam dinding. Waktu semakin berjalan menjauh.
Wati menghela napas. Dia ada maksud untuk terus mengajak bicara Santi, bahkan ada niat melarang anaknya itu pergi. Hanya saja dia teringat akan janjinya pada Abay.
"Aku titip rumah sama Dina ya, Bu! Aku pergi dulu!" Santi pun berlalu dari hadapan Wati.
*
Santi baru saja melewati pintu lobi hotel, ketika itulah matanya menyaksikan ruang lobi dipenuhi banyak orang. Tak hanya pegawai dan petugas kemanan hotel, lalu tamu hotel yang bisa dilihatnya. Tetapi juga petugas kepolisian.
"Mbak, maaf... ada apa ya ramai-ramai seperti ini? Sampai ada polisi segala?" tanya Santi pada salah satu karyawan hotel yang dari seragam yang dipakai bekerja sebagai resepsionis.
"Oh, ada yang meninggal dunia di dalam kamar hotel, Mbak."
"Kasihan sekali!" seru Santi bersimpati. "Sakit apa Mbak?"
"Sakit atau tidak, masih dalam proses penyelidikan Mbak. Soalnya sebelum ditemukan ada mayat di kamar, tamu sebelah mendengar suara teriakan. Eh, pas pintu dipaksa buka sama petugas keamanan, ditemukan mayat pria muda mati dengan tubuh hijau."
"Apa keracunan?" tanya Santi.
Santi tak mendapat jawaban. Tetapi dia mendapat tatapan tajam si resepsionis.
"Oh, aku ingat! Kayaknya Mbak teman dari pria muda itu, deh! Aku pernah melihat Mbak sama dia sepuluh hari yang lalu. Kalau tak salah, aku yang melayani check in nya!"
"Apa pria itu namannya Berri Wirawan?" tanya Santi cepat dan dia berharap bukan.
"Ya, aku dengar nama itu disebut temanku!"
Santi mendadak lemas kakinya. Kabar ini bukan kabar yang ingin dia dengar.
"Tidak! Ini tidak mungkin! Korbannya pasti bukan Berri, bukan Berri!" teriak Santi panik.
Tingkah laku Santi ini mengundang banyak mata menatap ke arahnya. Ada juga beberapa kening berkerut melihat Santi masih terus berteriak, meski sudah ditenangkan karyawan hotel.
Santi semakin menggila, ketika dia melihat petugas polisi menggotong tas khusus membawa mayat keluar dari dalam lift.
Santi memburu ke depan, dia memohon pada petugas polisi untuk bisa melihat wajah Berri. Tanpa malu-malu dia mengaku sebagai istri siri Berri, hanya untuk bisa menatap paras pria idamannya itu. Sekaligus memastikan, kalau itu bukan Berri.
Petugas polisi mengijinkan, tetapi hanya boleh dilihat sebentar saja. Karena nantinya jenazah setelah dibawa ke rumah sakit akan dipulangkan ke keluarganya.
Santi lantas jatuh pingsan. Walaupun wajah Berri telah menghijau kehitaman, dia percaya yang dilihatnya itu Berri adanya.
Tadinya Santi berharap, hanya nama Berri Wirawan saja yang sama dan orangnya berbeda. Tetapi tidak, nama dan parasnya sangat dikenalnya.
Sore yang kelabu bagi Santi. Dia teramat mencintai Berri. Baginya suaminya itu ya Berri, bukan Abay.
Kini Berri sudah meninggal dunia. Santi meski tak mengenal racun, tetapi melihat kondisi mayat Berri yang hijau kehitaman dan mulai berbau busuk, dia pun percaya Berri mati keracunan.
Yang jadi pertanyaan, siapa yang begitu jahat memberikan racun untuk Berri? Racun apa yang dipakai si pembunuh?
Santi yakin Berri korban pembunuhan, karena dia tak percaya Berri membunuh diri.
Sore yang menyenangkan yang dibayangkan Santi akan dilalui dan dihabiskan bersama Berri, telah lenyap dan buyar. Berganti rasa sedih dengan cucuran air mata membasahi wajah dan menghapus riasan cantiknya.
Tanpa bisa ditahan lagi, Santi pun jatuh pingsan. Ketika dia bangun nanti dan waktu malam tiba, dia akan berkumpul dengan Berri di dunia yang lain.
*
Sebenarnya waktu belum terlalu malam. Masih berkisar di jam sepuluh. Tetapi jalanan menuju rumah Rodi, sudah mulai sepi.
Gerimis turun.
Tak ada orang yang mau berjalan di bawah gerimis selain Rodi. Tak ada bapak-bapak dan anak muda yang nongkrong yang bisa dilihat Rodi.
Semuanya memilih masuk ke dalam rumah.
Gerimis mulai berganti dengan hujan. Rodi sedikit percepat dan melebarkan langkah kakinya. Rumahnya sudah tak terlalu jauh lagi, cukup sepuluh langkah dia pun sampai. Pagar rumah dibukanya cepat, lalu dia berlari masuk ke arah teras.
Pas sekali. Karena hujan pun semakin deras dengan sinar biru melesat turun cepat dari langit. Ledakan kilat pun terdengar keras.
Rodi membuka pintu rumah yang tak dikunci. Di ruang tamu tak ada orang sama sekali. Tetapi begitu mulai masuk ke ruang tengah, dia temukan istri dan sepasang anaknya duduk di ruang televisi.
"Bapak pulang!" panggil anak gadisnya.
"Bu, Bapak tunggu di kamar!" Rodi tak mau banyak bicara. Dia berjalan lebih dulu masuk ke dalam kamar.
Istrinya Rodi berdiri, lalu menyusul masuk ke kamar.
"Tutup pintu Bu!"
Pintu kamar pun ditutup.
Rodi duduk di tengah kasur, di sebelah kirinya ada tas yang dibawanya dari rumah Ki Jabaya.
"Ada apa Pak?"
"Buka, Bu!" Rodi berikan tas ke tangan istrinya.
"Apa ini?"
"Buka saja Bu!" pinta Rodi.
Tas pun dibuka, lalu terdengar jeritan kaget istrinya Rodi.
"Bapak tak habis merampok kan?"
"Ibu menghina, ya?"
"Tak berani Pak! Tapi uang dan emas ini sangat banyak, darimana Bapak dapatkan ini?"
Rodi menarik napas. Beruntung dia sudah siapkan jawaban atas pertanyaan istrinya. Dia tak berani berkata jujur dengan mengatakan dapat uang dari siluman ular. Karena pasti akan ditolak istrinya.
Tetapi baru saja Rodi mau membuka mulut, dia didahului istrinya.
"Wajah Bapak kok terlihat aneh?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Adinda
jangan-jangan wajah rodi mirip ular
2022-06-19
1