Abay tak bisa berkutik. Dia terduduk dengan mata menyorot takut, menatap ke arah piramida ular yang baru saja terbentuk.
"Bantu aku temukan tumbal yang banyak, Abay. Begitu juga, cari orang baru menjadi hamba bagiku, mereka yang ingin kaya tanpa harus keluarkan tenaga besar, cukup berkeringat bersamaku saja. Jika kamu bersedia untuk itu, kamu tak akan terkubur di dalam piramida ular!" bisik Nyi Malini, lalu lidahnya terjulur keluar dan membasahi pipi Abay.
Dalam hati, Abay menyesal karena telah menyuruh Nyi Malini mengambil jiwa Endah. Dia tak tahu, bukan hanya Endah saja yang menjadi korban, tetapi Entis juga. Mertuanya itu ikut menjadi korban seperti Endah.
Abay juga teringat pada Idang. Dia yakin, pria itu juga telah menjadi korban Nyi Malini. Karena dia meminta itu, meminjam kekuatan Nyi Malini untuk memberi hukuman pada Idang.
Padahal urusan terbilang sepele, hanya sebuah fitnah jahat yang terlontar dari mulut Idang. Hanya saja Abay terlanjur sakit hati, karena ulah mulut Idang membuatnya celaka, terusir dari kampung.
Sebenarnya hati Abay cukup lapang, terbukti dia mau menerima Endah sebagai istri dan mengakui Dina sebagai anaknya. Tetapi ada kalanya manusia berubah sikap, apalagi jika dalam keadaan tertekan.
Abay yang sedang diguncang emosinya itu pun menjadi gelap mata dan berhati sempit. Tahu Nyi Malini bisa diandalkan, dia pun meminta tolong.
Abay telah menjadi otak dari hilangnya tiga nyawa manusia yang berharga. Saat ini pun dia diminta memilih, melanjutkan ikatannya dengan Nyi Malini atau putus sampai di sini.
Lanjut artinya Abay harus mencari tumbal selanjutnya. Berhenti, dia sendiri yang harus berkorban.
"Tumbal seperti apa yang kamu inginkan?" tanya Abay.
"Istrimu. Tetapi aku punya ciri tumbal yang lain. Selain istri, aku menerima perawan dan perjaka, juga bayi di bawah setahun."
Abay bengong.
"Aku hanya meminta satu tumbal setiap satu tahun. Tepat pada tanggal inilah batas waktunya. Terserah, tumbal mana yang kamu mau berikan padaku!"
Abay masih terdiam.
"Apa kamu menerima syarat ini? Jika iya, aku tak hanya memberikan kekayaan padamu, tetapi juga keamanan dirimu. Aku tanggung, mereka yang memusuhi dirimu secara berterang akan mati, cukup dengan satu perintahmu. Apa kamu mengerti?"
"Hanya sebagian," jawab Abay lesu.
"Apa yang tak kamu pahami?"
"Tentang istri, aku bisa mencari dengan modal uang yang kamu berikan. Tetapi jika aku setiap tahun ganti istri, apa orang tak akan curiga?" tanya Abay.
"Hihihi, karena itu aku tawarkan tumbal yang lain. Jadi itu tergantung kepintaran yang kamu miliki."
"Lalu bagaimana caranya? Maksudku, jika aku memilih memberikan tumbal anak perawan atau perjaka, apa yang harus aku lakukan?"
"Sampai waktunya nanti tiba, aku akan berikan semacam barang untukmu. Berikan saja barang itu pada calon korban yang telah kamu pilih. Selanjutnya aku yang bekerja."
Abay tampak sedang berpikir. Namun waktu matanya menatap ke arah piramida ular, dia kaget. Karena piramida itu pecah dan para ular tampak berbaris rapi di dekat kakinya, hanya berjarak sejengkal.
Bau amis ular memasuki lubang hidung Abay dan membuat perutnya terasa mual.
"Aku terima syaratnya!" teriak Abay ketakutan.
"Hihihi!"
Selanjutnya Abay tak tahu apa para ular itu masih berada di bawah kakinya atau tidak. Karena tubuhnya telah dibelit Nyi Malini yang berubah menjadi ular besar.
*
Waktu berlalu dengan cepat.
Saat ini Dina berusia enam tahun. Dia tumbuh besar di bawah asuhan Abay dan tiga ibu sambung yang baru. Dua ibu yang terdahulu sudah meninggal dunia. Kini hadir Santi, sebagai ibu tirinya yang ketiga.
Kedua ibu terdahulu Dina itu tentunya menjadi korban tumbal yang Abay berikan pada Nyi Malini. Dua korban lainnya itu dua orang perjaka tanggung, yang mati penasaran dan mengubur mimpi mereka akibat tergoda tawaran uang yang Abay berikan berikut sebuah mutiara yang indah gemerlap.
Tetapi tak ada yang menyadari jika kematian keempat orang itu akibat perjanjian Abay dan Nyi Malini.
Kematian mereka terlihat wajar, mati dalam keadaan tertidur lelap. Hanya saja dengan pintarnya Abay pindah rumah.
Kehidupan nomaden di pilih Abay untuk menghindari kecurigaan orang. Tempat yang dipilih pun selalu berjarak lebih dari lima kilo dari rumah yang lama. Dia mampu lakukan itu karena uangnya tak habis-habis.
Selain mengurangi rasa curiga mantan tetangga akibat kematian tumbal yang diberikannya, Abay juga ingin membuat orang-orang tak bertambah curiga. Karena dia tak terlihat bekerja sama sekali, namun uang terus mengalir dan keluar dari dalam kantongnya dalam jumlah yang banyak.
Pagi ini saat jam pulang sekolah. Abay tampak sedang menikmati kopinya di teras rumah. Saat dia menyeruput sisa kopi, sebuah sepeda motor keluaran terbaru pun muncul dan berhenti di depan pintu pagar. Pintu pagar memiliki dua pintu, satu pintu dorong untuk jalan masuk mobil dan satu pintu kecil untuk jalan masuk orang.
Abay bangkit berdiri dan tertawa pada Dina yang berlari masuk.
"Papa."
"Sayangku!" Abay terus mengangkat tubuh Dina yang terbilang montok.
Dina terlihat imut dengan pipinya yang tebal. Wajahnya terlihat sedikit bulat, saking montoknya dia. Rambutnya panjang halus dan wangi khas shampo.
"Papa, tadi aku belajar hitung-hitungan. Aku pintar loh!" seru Dina ceria.
"Ah, masa? Coba jawab... 1 + 1 berapa?"
"Ih, gampang!" Dina berikan dua jari sebagai jawabannya.
"Kang Abay sudah makan?" tanya Santi yang baru masuk. Motor tetap di parkir di luar.
"Ya, belum. Kan tunggu motor. Kamu mau makan apa?" tanya Abay sambil menatap Santi istrinya yang cukup sedap dipandang.
Santi bukan wanita cantik, tetapi dia memiliki pesona kegenitan yang mengundang mata pria untuk memandangnya. Buktinya, pagi ini saja pakaian seksi menutup tubuhnya, walau berupa kaos dan celana berbahan jeans, tetapi modelnya pas di badan, lekuk tubuhnya terlihat menggoda.
Abay tak peduli Santi mau bergaya apa, yang dia peduli suatu saat nanti akan tiba masa di mana Santi dicabut jiwanya oleh Nyi Malini, lalu dibawa ke kerajaan Nyi Malini sebagai budak sampai nanti hari kiamat tiba.
"Apa saja Kang, yang penting enak."
"Aku mau bakso ya, Pa!" seru Dina.
"Iya. Kamu turun, Papa mau beli makan!" Abay turunkan Dina.
Santi memberikan kunci motor ke tangan Abay.
"Kang, nanti sore aku pergi ya sama teman. Boleh kan?" tanya Santi meminta ijin.
"Boleh. Pergi saja dan bersenang-senang! Biar Dina sama orang tuamu saja!" Abay tertawa.
Santi tersenyum lebar. Sinar matanya terlihat aneh. Tetapi Abay tak peduli, karena dia tahu siapa Santi dan mau apa dia sore nanti.
Pernikahan antara Abay dan Santi bukan dilandasi cinta. Uang yang dimiliki Abay yang memikat orang tua Santi, apalagi dengan uang itu hutang orang tua Santi lunas. Dia dan Santi pun sepakat, meski sudah menikah Santi tetap dibiarkan bebas bertemu mantannya.
"Sebentar lagi, kamu tak akan bisa menatap indahnya langit!" batin Abay sambil melirik Santi yang sedang tersenyum.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Isnaaja
satu tahun sekali mah boros atuh, boros nyawa
2025-02-16
0
Elisanoor
kejem bener si Abay, Neng santi bohay mau di sedot si Nyai,ngeri euy 😆
2023-09-22
0
💎hart👑
👍👍👍👍
2022-06-19
2