Abay berada di atas pembaringan empuk berbentuk bulat, seperti ular yang melingkar dengan kepala ular memayungi kasur.
Nyi Malini duduk di tepi pembaringan dengan tangan mengelus lembut betis kaki Abay.
"Apa kamu sudah mengerti syarat yang aku ajukan tadi?" Jemari Nyi Malini berjalan di tulang kering kaki kanan Abay sampai berhenti di lutut.
"Sebagian aku sudah paham. Aku mendapat keistimewaan untuk memilih, berikan tumbal atau tidak. Tetapi apa bedanya Nyi?" tanya Abay sambil menatap Nyi Malini.
"Bedanya, apa betul kamu mau tahu?" Nyi Malini menarik tangan Abay untuk bangun duduk.
Abay tak hanya bangun duduk, tetapi tangannya segera melingkari pinggang Nyi Malini.
Wajah keduanya pun berdekatan. Abay dapat mencium wangi Nyi Malini yang aneh. Ada harum bunga dan juga bau amis tipis. Tetapi dia tak peduli, karena dengan berdekatan seperti ini ada kebebasan baginya menatap wajah cantik menggiurkan Nyi Malini.
Abay senang menatap mata Nyi Malini yang bening dan tajam. Dia suka melihat bibir Nyi Malini yang tipis di atas dan sedikit tebal di bawah, merah merekah menggoda seperti buah apel dan siap untuk segera disantap.
"Bedanya itu...."
Nyi Malini terkejut, karena ucapannya tertelan bibir Abay yang permisi menyerang ke arah bibirnya.
"Ih, tak sabaran!" Nyi Malini mendorong Abay.
Abay tak menyangka dirinya di dorong jatuh, hingga terbaring seperti semula. Namun selanjutnya, dia malah menyambut tubuh Nyi Malini yang jatuh ke arah tubuhnya.
Pergulatan terjadi, tetapi bukan bertarung karena ingin menang atau adanya sikap bermusuhan di antara mereka. Tidak, bukan itu. Mereka bergulat untuk saling memancing timbulnya serangan nafsu agar lebih liar lagi.
Entah berapa lama pergumulan di atas kasur itu berlangsung. Abay tak tahu, yang dia tahu saat membuka mata Nyi Malini berdiri membelakangi dirinya. Bayangan tubuh depan nan indah Nyi Malini bisa disaksikan Abay melalui bayangan cermin.
Kalau saja Abay melihat ke arah kirinya, di atas kasur itu terdapat banyak tertinggal kulit ular. Saat terjadinya hubungan terlarang, Abay yang tenggelam dalam nafsu tak menyadari, dirinya saling membelit dengan seekor ular besar bermotif kembang dengan mahkota kecil di kepala.
Abay turun dari ranjang. Keadaannya sama dengan Nyi Malini yang tak tertutup selembar kain sedikit pun.
"Cukup, berhenti di sana!" Nyi Malini putar tubuhnya.
Abay tak membantah.
"Kamu boleh pulang!"
"Tapi Nyi, aku tak mau pulang. Aku mau di sini bersamamu. Menjadi suamimu!" rayu Abay.
"Baru saja kamu menjadi suamiku. Tetapi belum waktunya kamu tinggal di sini bersamaku. Pulang dan terima hadiahku di rumahmu!"
"Aku tak mau pulang!' Abay melangkah maju.
"Apa kamu benar tak mau pulang?" tanya Nyi Malini.
Abay mengangguk, tetapi kakinya terus melangkah.
"Baik, kalau begitu kamu harus mati dulu!"
Abay menjerit, karena ada serangkum angin menerpa tubuhnya, membuatnya melayang serupa daun kering ditiup angin.
*
Abay merasakan hawa dingin dan basah di pipinya. Saat dia membuka mata, mendadak dia meloncat bangun dan berlari seperti orang kesetanan.
Ternyata hawa dingin dan basah itu berasal dari lidah ular yang menjilati pipi kiri Abay. Ular besar bersisik hitam sebesar betis.
Tetapi jalanan gelap dan Abay beberapa kali jatuh tersungkur, ada kalanya kakinya tersandung akar dan kadang menendang batu. Namun jiwanya lebih penting dari rasa sakit yang dideritanya saat ini.
Abay takut ular itu mengejar dirinya. Saking takut mati digigit ular, dia lupa membawa ikatan kayu bakar yang telah dia kumpulkan. Dia juga terlupa pada satu hal, jika sore sebelumnya bertemu dengan ular yang membawanya masuk ke dunia lain, kerajaan ular yang dipimpin Nyi Malini atas suruhan Ratu Agung.
Siapa Ratu Agung itu, Abay tak tahu.
Abay telah sampai di rumahnya yang berada di dekat batas hutan dan terpencil. Tanpa perlu mengucap salam, dia menerjang masuk ke dalam rumahnya yang gelap.
Bersandar pintu yang tertutup, Abay menarik napas dalam-dalam. Dia coba tenangkan hatinya dan juga membangkitkan tenaganya, yang telah banyak terbuang kala melarikan diri tadi.
Keanehan terjadi, rumah Abay yang gelap mendadak terang. Lampu minyak menyala sendiri tanpa disentuh tangan si pemilik rumah.
Abay menjerit, namun dia cepat menutup mulut karena terdengar suara memanggil namanya.
Kaki Abay bergerak ke arah kamarnya, kamar yang telah bersuhu dingin karena hanya dia seorang yang menjadi penghuninya. Endah telah pergi dari rumahnya bersama Dina, bayi mungil yang lucu. Meski Dina bukan anak kandungnya.
Abay berdiri bengong di depan pintu kamar. Telinganya dengan jelas mendengar suara memanggil namanya, berasal dari dalam kamar. Tetapi tak ada seseorang, bahkan bayangan pun tak terlihat.
Namun di atas kasur, Abay melihat ada kotak kecil. Cepat dia memburu dan mengambil kotak yang berukir ular.
"Kotak apa ini? Apa dari Nyi Malini?" tanya Abay pada dirinya sendiri.
Karena penasaran ingin tahu apa isi di dalam kotak, Abay membuka kotak dan menemukan sebuah pil sebesar biji kelengkeng berwarna merah dan mengeluarkan bau harum yang segar.
Dengan hanya mencium wanginya pil, Abay rasakan tubuhnya menjadi segar. Di bawah pil terlihat ada kertas terlipat.
Abay acuhkan sejenak pil merah. Dia ambil kertas yang dia tebak sebuah surat. Kotak ditutupnya, lalu ditaruh di kasur lagi. Setelah itu lipatan kertas pun dibuka.
Suamiku. Aku berikan obat penambah tenaga dan juga berkhasiat mengusir racun agar kamu bisa berusia panjang. Seharusnya aku tak berikan padamu, biar saja kamu mati cepat dan menjadi budak di kerajaan ku. Tetapi kamu suami pertamaku, meski bukan yang terakhir.
Selain itu, aku terangkan padamu. Aku akan datang lagi di saat bulan purnama di kamarmu. Ketika waktu itu datang, kita bisa lampiaskan rasa rindu dan hasrat sepuasnya. Aku pun tak akan mengecewakan dirimu, percayalah!
Hanya saja aku beritahu padamu. Aku bisa berikan kamu kekayaan berlimpah, asal kamu berikan aku tumbal yaitu istrimu. Tetapi karena kamu manusia pertama yang bersekutu denganku, aku berikan pengecualian. Kamu tetap bisa dapat harta dariku, tetapi tak sebanyak jika kamu berikan tumbal.
PIlih mana yang kamu suka.
Tetapi aku sarankan padamu, beri aku tumbal sebagai bukti cintamu padaku si istri rahasia yang akan selalu menjagamu.
Surat tak bernama, tetapi Abay tahu Nyi Malini yang menulis.
Teringat Nyi Malini, Abay tersenyum puas. Terbayang wajah cantik dan lekuk tubuh indah Nyi Malini.
Kotak kembali dibuka, Abay pun tanpa ragu menelan pil merah yang dihadiahkan Nyi Malini padanya.
Namun ketika pil memasuki perutnya, Abay menjerit dan jatuh ke lantai dengan tubuh meringkuk seperti ular.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Katrisnani Dilaningtyas
Eps yang menggairahkan. 😁
2022-06-17
1
Adinda
wah kayaknya nyi malini bucin sama abay hehe
2022-06-13
1