Abay merasakan tubuhnya tak bisa dia kontrol dan seperti kena jerat sepasang mata ular yang baru saja bicara tadi.
Buktinya, tanpa bisa dicegah kakinya melangkah maju ke arah semak-semak yang membuka jalan sendiri, mempermudah dirinya melihat ada lubang di bawah batu.
Ular itu merayap masuk ke dalam lubang.
Abay meragu, dia tak merasa yakin tubuhnya yang terbilang cukup kekar itu bisa muat memasuki lubang yang hanya muat untuk satu kakinya saja.
Tetapi mendadak Abay merasakan ada yang menarik kakinya dan menyeretnya masuk ke dalam lubang.
Abay menjerit dan berusaha melihat apa yang membelit pergelangan kaki kanannya. Ternyata ekor dari ular dan ketika dia merasa tubuhnya akan membentur kerasnya batu, dia menutup matanya.
"Buka matamu!"
Bisikan lembut mengalun di telinga Abay.
Abay membuka matanya dan dia kaget, dirinya telah berada di sebuah kamar batu yang terbilang luas. Dia berada di dunia lain.
"Siapa kamu? Di mana aku? Tempat apa ini?" tanya Abay beruntun.
"Aku ya aku! Apa kamu tak melihat betapa cantiknya aku? Kamu juga pria aneh, punya mata apa tak bisa melihat di mana kamu saat ini berada? Tempat ini ya bukan tempatmu, tapi tempat kami!"
Abay bengong. Bukan keterangan yang didapat, malah dirinya semakin bingung. Wajahnya pun berubah-ubah warnanya
"Hihihi, kasihan wajahmu lucu! Baiklah, aku terangkan diriku. Namaku Garini. Aku pelayan di tempat ini, oh juga aku ular yang kamu temui tadi." Garini menatap Abay.
"Ular? Kamu ular? Ah, kamu tentu bohong! Buktinya kamu sangat cantik, seperti bidadari!" Abay tak percaya.
"Hihihi, tunggu sampai kamu bertemu dengan Nyi Malini, pasti matamu melompat keluar!" Pipi Garini bersemu merah.
"Nyi Malini siapa?" tanya Abay tertarik.
"Dia itu Ratu kami. Peri ular yang bisa berikan kamu kekayaan secara mudah. Bukannya kamu mau kaya kan? Karena itu, aku mengundang dirimu masuk. Tetapi...." Ketika berhenti bicara, mata Garini menyorot merah.
Hati Abay bergidik, tubuhnya gemetar.
"Kami tak akan memaksa dirimu untuk mengikat kontrak dan perjanjian dengan keuntungan kekayaan untukmu. Hanya saja, jika kamu menolak, maka aku yang lancang mengajak dirimu ke mari akan mati. Karena itu sebelum aku mati, ya aku butuh teman perjalanan. Kamu paham kan maksudku?" tanya Garini tegas.
Abay menelan ludahnya. Dia tak menyangka, kehadiran dirinya yang dipaksa masuk, malah akan membuat jiwanya lenyap.
"Ini salahku. Seharusnya aku biarkan kamu datang sendiri dan memohon bertemu Nyi Malini, lalu melakukan ritual untuk mengadakan kontak agar keinginan cepat kaya yang menjadi impianmu terpenuhi. Jika kamu suka dengan syaratnya, kamu bisa lanjut. Jika tidak pun tak masalah. Hanya saja, kami baru pindah ke bukit ini. Belum ada orang yang menjadi perantara. Sekarang, karena aku yang mengajakmu masuk... maka ada tiga pilihan untukmu!" tutur Garini.
"Apa pilihan itu?" tanya Abay tanpa pikir panjang.
"Hihihi, tunggu dulu! Tak perlu terburu-buru!"
"Kenapa?" tanya Abay heran.
"Badanmu bau! Di situ ada kolam air, mandi dan bersihkan tubuhmu. Aku akan bicara sambil menemanimu mandi." Garini menunjuk ke arah belakang Abay.
Abay menengok ke belakang. Di balik kasur yang tergantung dan terikat tali akar, ada sebuah kolam air berbentuk kotak. Kolam yang tak terlalu besar dan sepertinya hanya cukup untuk satu orang berendam.
"Ayo, buka bajumu!" perintah Garini.
"Di depanmu?' Wajah Abay memerah.
Garini tertawa, lalu dia gerakan tangannya seperti merenggut sesuatu di udara.
Abay menjerit, lalu dia berlari terbirit-birit ke arah kolam. Karena baju di tubuhnya mendadak hancur berkeping-keping.
Garini terkekeh geli. Dia berjalan pelan menuju ke kolam, di mana Abay telah masuk ke dalamnya.
Di dalam kolam, Abay merasakan betapa segar dan wanginya air kolam. Lalu dia menengok ke arah Garini yang mendatangi. Cepat dia benamkan tubuhnya, tetapi tak bisa. Karena dalamnya kolam tak seberapa dan untuk bisa menyembunyikan seluruh tubuhnya, dia harus menekuk lebih rapat lagi. Padahal dia duduk di dalam kolam dengan dengkul tertekuk.
"Tiga pilihan itu, kamu bisa menawar syarat yang diberikan Nyi Malini dan kamu bisa memiliki emas yang dapat menjadikan dirimu kaya dan ini pilihan pertama. Berikutnya, kamu bisa menolak dengan mengorbankan diriku dan juga dirimu sendiri, aih aku pikir kamu tak akan sejahat itu membuat aku mati dengan tubuh dan wajah secantik ini. Aku masih terlalu muda untuk mati!" Garini berjongkok di depan Abay di pinggir kolam.
Tangan Garini masuk ke dalam kolam dan sengaja membelai betis Abay.
Abay gemetar tubuhnya. Dia merasakan nafsunya bangkit karena sentuhan lembut jemari Garini. Tetapi dia mencoba bertahan.
"Pilihan yang ketiga apa?" tanya Abay untuk mengusir nafsunya yang sudah mulai bangkit.
"Oh, yang terakhir itu... kamu jadi juru kunci dan mencari orang untuk mau bersekutu dengan Nyi Malini. Tetapi kamu tak akan dapat apa-apa, kecuali kebaikan orang yang kamu bawa saja! Hanya saja, kamu tak bisa bikin perjanjian dengan mereka. Setahuku, menjadi juru kunci untuk kami itu hidupnya akan miskin. Rugi, bukan?" Garini tersenyum manis.
"Ya, sangat rugi! Tapi...." Abay merinding karena sentuhan jemari Garini belum mau berhenti. Kini pundaknya kanannya yang jadi sasaran.
"Tapi apa?"
"Kamu bilang, kalian baru pindah. Memangnya di tempat yang lama kenapa?" tanya Abay.
"Oh, Nyi Malini baru saja dilepas oleh Ratu kami yang paling agung dan besar. Ratu yang tak hanya menguasai laut, tetapi daratan di sekitarnya. Nyi Malini diberikan kekuasaan penuh untuk mendirikan kerajaannya sendiri dan tentunya tetap berada di pengawasan Ratu agung kami itu!" terang Garini tanpa ditutupi.
"Siapa Ratu paling agung kalian itu?" tanya Abay.
"Garini, apa tamu pertama untukku sudah siap?"
"Nah, dengar itu! Nyi Malini sudah memanggil dan menunggu dirimu!" Garini mencubit pipi Abay.
Abay juga mendengar, suara yang bertanya tentang keadaannya itu terdengar sungguh merdu. Tetapi dia tak melihat siapa yang bicara, karena di dalam kamar hanya ada dirinya dan Garini.
"Ayo, sudahi mandi mu. Pakai baju di atas kasur dan temui Nyi Malini. Tetapi ingat, jiwaku ada di tanganmu dan sebaliknya!" Garini lantas pergi. Tetapi bukan berjalan dengan kakinya.
Abay kaget karena dia melihat Garini merayap dengan ekornya yang besar.
Bergidik hati Abay. Tetapi dia bingung bagaimana harus mengambil keputusan. Menerima syarat Nyi Malini akan buat dia kaya sesuai keinginan hatinya dan mempermudah dirinya menemui Dina. Menolak tawaran, dia akan berkorban dua nyawa, nyawanya dan Garini. Memilih yang terakhir menjadi juru kunci, dia akan tetap hidup miskin.
Abay belum bisa mengambil keputusan, tetapi dia harus segera keluar dari dalam kolam dan memakai baju, karena air kolam mendadak mulai panas suhunya dan bau sedikit busuk tercium.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Elisanoor
Bacanya sambil ngebayangin, kya sinet nya genta buana jaman dulu di indosiar, hhaaa
2023-09-22
0
Katrisnani Dilaningtyas
Kereen
2022-06-17
2
💎hart👑
masih nyimak
2022-06-15
1