Rodi pulang dengan langkah lesu. Meski dia membawa satu tas berisi uang dan emas yang didapat dari Nyi Malini melalui tangan Garini, tetap saja dia tak gembira.
Dijebak. Rodi merasa dirinya telah masuk ke dalam jebakan Abay, Ki Jabaya dan siluman ular. Kata Abay dan Ki Jabaya tak akan ada tumbal, pun sama kata Garini yang menjadi istri rahasianya. Tetapi....
Garini menambahkan, boleh tak ada tumbal. Hanya saja Rodi tak dapat apa-apa dan malam ini harus mati, sebab telah menolak kebaikan Nyi Malini dan melupakan pelayanan Garini yang super liar sebagai istri.
Rodi tak menampik, dia merasakan puncak kenikmatan berkali-kali bersama Garini. Dia tak sadar, semua itu karena pengaruh obat yang bercampur darah kobra yang dia minum.
Kalau tak ada bantuan itu, mana mungkin tubuh Rodi mampu berkali-kali.
"Pulang dan bawa harta yang telah aku berikan itu. Tunggu petunjuk selanjutnya dariku akan waktu terbaik memberikan tumbal. Jika di rumahmu tak ada kamar kosong, kamu bisa menyewa kamar hotel untuk pertemuan kita. Itu jauh lebih baik bagimu!" ucap Garini.
Dengan ucapan Garini itu, Rodi telah menyetujui untuk memberikan tumbal bagi Garini.
Anehnya, saat Rodi keluar dari dalam kamar, dia tak temukan adanya Ki Jabaya.
*
Sebelumnya.
Di waktu sore hari, di mana Rodi sedang bertemu Ki Jabaya, terjadi peristiwa yang lain yang menyangkut Santi dan Berri.
Uli yang mendapat tugas dari Nyi Malini diam-diam membuntuti Berri mulai dari rumah. Berbekal foto yang diberikan Abay, bahkan ditambah alamat rumah yang dibisiki Abay, dengan mudah Uli menemukan Berri.
Meski Berri pergi dari rumah menaiki motor dan dipacu kencang, bukan soal bagi Uli untuk mengekor di belakangnya.
Dengan tubuhnya yang tak bisa terlihat, Uli terus mengikuti Berri yang sama sekali tak merasa sedang diikuti.
Waktu Berri berhenti di area parkir hotel Bintang, Uli juga berhenti di balik pohon besar yang tumbuh di area parkir motor.
Uli tak hanya berhenti, tetapi dia merayap ke arah kaki Berri yang belum turun dari motor. Ya, dia telah berubah menjadi seekor ular kecil, kurus dan panjang. Seperti ular pohon dengan warna hijau terangnya, terlihat layaknya ular tak beracun. Tetapi itu salah. Dia ada menyimpan racun dan itu khusus diberikan untuk Berri.
Berri masih asyik menata dan menyisir rambutnya melalui kaca spion motor. Sebab itu dia tak melihat ketika ular wujud dari Uli datang mendekat.
Sampai Berri mengaduh kecil karena kakinya seperti disengat jarum.
"Eh, ular kurang ajar!" maki Berri begitu menengok ke bawah.
Entah karena bentakan Berri atau memang Uli sengaja kabur, ular pohon jelmaan Uli itu kabur menjauh dari Berri.
"Oh, untung bukan ular berbisa. Cuma ular kadut saja yang menggigit!" Berri menaikan celananya sebatas betis dan melihat ada dua lubang kecil bekas taring ular.
Karena merasa yakin gigitan ular tak memilik bisa racun, Berri pun bergegas berjalan masuk ke lobi hotel.
Ketika itulah, Uli yang sudah berada di balik pohon berjalan keluar. Wujud Uli kembali berubah, kini dia menjadi seorang wanita serupa Santi.
"Berri!" panggil Uli.
Berri yang baru menaiki anak tangga menuju teras hotel pun berhenti, dia menengok ke belakang dan tersenyum menyaksikan Santi berjalan mendekatinya.
"Kamu kok sudah datang?" tanya Berri sambil tangan kirinya terkembang ke samping.
Uli yang berpura-pura sebagai Santi itu paham akan maksud Berri, dengan cepat dia jatuhkan tubuhnya ke dalam rangkulan Berri. Tangan kuat Berri melingkari pinggangnya.
"Karena rindu ini begitu berat untuk ditahan. Aih, aku mencintaimu Berri!" bisik Uli genit merayu.
"Hahaha, sama dong! Tahu begini, aku jemput saja kamu di rumah!" Berri mencium kepala Santi.
"Ih, nggak sabaran! Malu kan dilihat orang!" Uli merajuk.
"Ah, masa! Buktinya kalau di kamar hotel, kamu tak malu memperlihatkan tubuhmu padaku! Aku kan orang dan juga bukan suamimu!" sahut Berri dengan nada sedikit menghina dan mengejek.
Sebenarnya dalam hati, Berri tak peduli lagi dengan Santi yang telah jadi istri orang. Tetapi dia mau meladeni Santi itu karena diberikan peran sebagai suami pengganti, pria yang tak perlu bertanggung jawab meski Santi hamil nanti. Intinya, dia hanya ingin kepuasan belaka, pemenuhan hawa nafsu jahatnya dan Santi bisa berikan itu. Bahkan dia tak perlu keluar modal sama sekali, karena semua ditanggung Santi, tak jarang saat pulang isi kantongnya penuh.
"Itu beda dong, Sayang! Ya, sudah pesan kamar hotel dulu, yuk!" ajak Uli.
"Yuk!" Berri pun melangkah dengan tangan tak lepas dari pinggang Uli yang disangkanya Santi.
Saat di lobi hotel, mereka berpisah. Berri menuju meja resepsionis hotel, sedangkan Uli duduk menunggu.
Tak lebih dari sepuluh menit, Berri telah menerima kunci hotel. Lalu dia menarik bangun Uli dari duduknya. Lalu keduanya berjalan berangkulan mesra menuju lift hotel.
Tak seberapa lama, Berri dan Uli telah sampai di kamar hotel yang telah dibayar sewanya. Sebelum anak kunci berbentuk kartu digunakan, Berri mencium pipi Uli terlebih dahulu. Bagi Berri, Uli itu Santi.
Begitu pintu terbuka, bukan Berri yang mendorong Uli masuk kamar, tetapi Uli yang hampir membuat Berri jatuh terjerembab ke depan. Dorongan Uli sangat kuat.
Lalu pintu tertutup.
"Wah, kamu habis makan apa Santi? Besar amat tenaganya!" tanya Berri dengan nada memuji.
"Hihihi, obat kuat. Biar bisa sampai malam bersamamu!" kekeh Uli.
"Mari, mari sini!" Berri tertawa. Tetapi tawanya berhenti cepat.
Gantian tawa menggidikan Uli yang terdengar, sementara Berri dengan wajah pucat dan ketakutan berjalan mundur ke belakang.
"Kamu... kamu... bukan... Santi!" gagap Berri.
"Siapa bilang aku Santi! Aku Uli dan berikan aku kepuasan!" ejek Uli dengan wajah aslinya.
Berri tak hanya merasa takut, dia pun merasa jijik karena Uli di depannya itu tampil dengan bentuk yang menyeramkan.
Tubuh Uli sepenuhnya bersisik warna hijau pucat. Ujung rambutnya yang panjang berbentuk kepala ular-ular kecil, seperti ular pohon yang dilihat Berri di area parkir motor. Lalu bau tubuhnya amis dan busuk. Yang menjijikan, saat Uli membuka mulut ada kepala ular muncul seakan kepala ular itu lidah bagi Uli.
"Mari, temani aku!" Uli berjalan mendekat.
"Aku tak mau!" Berri menggeleng.
Tetapi mendadak, Berri merasakan di kakinya yang terdapat bekas luka gigitan ular berdenyut kencang. Hawa panas muncul dari lukanya, lalu menyebar naik ke atas dan membakar aliran darahnya.
Tubuh Berri bergetar, jantungnya memompa lebih cepat, matanya memerah bersamaan dengan perubahan warna kulit wajahnya.
Mendadak Berri meloncat ke arah Uli. Dia tak lagi merasa takut dan jijik, karena yang dia rasakan nafsunya harus bisa disalurkan.
Tanpa banyak bicara, Berri mengangkat tubuh Uli. Tetapi dia tak bisa, karena Uli memilih di lantai saja.
Tubuh Berri terbelit badan ular Uli. Napasnya memburu cepat sambil membalas cumbuan Uli. Begitu teriakannya terdengar panjang, saat itu pula jiwanya amblas.
Uli tak mau bekerja terlalu lama, dia ingin secepatnya menghabiskan Berri. Saat dia pergi, tubuh Berri terbujur kaku dengan warna hijau keracunan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Elisanoor
ih rame sumpah 😅
2023-09-22
0
Adinda
lanjuuut yaaa
2022-06-17
1
Adinda
hiii kematian yang mengerikan
2022-06-17
1