Santi yang masih merasakan sakit akibat kebrutalan Abay di atas ranjang, pun kaget dan tak mengerti akan arti ucapan Abay.
Namun ketika matanya menangkap Abay mengambil anak kunci, lalu menutup pintu kamar dan dikunci dari luar. Santi dengan menahan sakit berlari ke arah pintu.
Santi tak peduli tubuhnya tak berbaju. Yang dia peduli, mengapa pintu dikunci dari luar? Apa Abay bermaksud mengurungnya seperti burung?
"Abay, buka pintu!" Santi menggedor pintu.
"Hahaha, untuk apa? Agar kamu bertemu dengan Berri yang lain? Enak, saja! Kamu itu istriku dan hanya aku yang boleh menyentuh dirimu. Tetapi...."
"Tetapi apa?" teriak Santi.
"Tetapi aku sudah muak denganmu. Malam ini terakhir kalinya aku lahap tubuhmu. Mulai saat ini, aku tak butuh lagi dirimu. Hehehe, karena itu aku suruh Ibumu membawa Dina ke rumahnya. Supaya Dina tak mendengar jerit kematianmu!" jawab Abay yang memang sengaja tak langsung pergi dari depan pintu.
"Apa maksudmu? Setelah kamu memaksaku layaknya penjahat, apa kamu mau membunuh diriku?" gusar Santi dan dia mulai takut.
"Kamu salah besar!"
"Apanya yang salah? Bukannya kamu tadi bilang aku akan menjerit?" tanya Santi.
"Ya, kamu akan menjerit ketika bertemu dengan dia yang akan mengambil jiwamu. Tetapi aku bukan pembunuh, aku hanya ingin menumbalkan jiwamu. Selain itu, aku juga berniat baik bagimu. Kamu bisa berkumpul dengan Berri di alam yang lain!"
Santi terperanjat. Dia kaget karena Abay bisa tahu Berri telah berpindah alam. Padahal dia tak bercerita ke Abay. Dia ingin kisah pilu cinta dan nafsunya bersama Berri mengendap dalam hatinya seorang. Tetapi Abay sudah tahu.
"Kenapa, apa kamu kaget kenapa aku tahu Berri sudah mati?" tanya Abay dari balik pintu.
"Ya, kenapa kamu bisa tahu?" Santi balikan pertanyaan Abay.
"Hehehe, karena aku meminta tolong Nyi Malini untuk lenyapkan pria tak tahu diri itu! Tak boleh ada pria lain yang seenak hatinya menyentuh dan menggauli istriku. Tetapi aku boleh-boleh saja bersama wanita lain!" Abay tertawa. Dia tak perlu takut suara tawanya terdengar tetangga.
Karena tengah malam ini, hujan kembali turun dan sangat lebat diiring gelegar petir sesekali.
"Kamu jahat! Kembalikan jiwa Berri!" Santi malah mengurusi masalah Berri.
"Mana bisa? Tetapi sudahlah, menjerit saja dengan lengking yang merdu. Coba kamu lihat di belakangmu!" seru Abay.
Santi memutar tubuhnya. Dia kaget dan heran. Tahu-tahu di pinggir ranjang telah duduk sosok cantik berwajah dingin. Dia sempat melihat bibir si cantik nan misterius itu bergerak-gerak.
"Hehehe, aku ikhlas Nyi... ambil saja jiwanya sebagai tumbalku! Tetapi jangan lupa, aku minta kekayaan yang banyak!" sahut Abay.
Santi menebak, bibir yang bergerak itu sepertinya sedang bicara dengan Abay. Dia tak salah, karena hanya Abay yang mampu mendengar ucapan si wanita berwajah dingin yang duduk di tepi ranjang.
Tetapi dengan mendengar ucapan Abay, Santi menebak kalau suaminya itu mempunyai perjanjian dengan si wanita berwajah dingin.
Dalam hatinya, Santi merasa persoalan ini bersangkutan dengan pesugihan, karena ada kata tumbal yah dia dengar dari mulut Abay.
"Siapa kamu?" tanya Santi.
"Nyi Malini dan aku Ratu bagimu wahai budak baruku. Nah, pergilah ke kerajaanku!"
Begitu selesai berkata, Nyi Malini berdiri dan ulurkan tangan kirinya ke depan.
Santi menjerit. Dia tak bisa berlari kabur karena dari tangan kiri Nyi Malini itu terbang keluar lima ekor ular sebesar lengan orang dewasa.
Kelima ekor ular itu membelit tubuh Santi, menggigit dan menaruh racunnya ke dalam tubuh Santi.
Santi hanya bisa menjerit dan terus menjerit. Sampai akhirnya dia berhenti ketika kedua bibirnya ditutup dengan gigitan ular.
Jeritan Santi berhenti, tetapi tawa Abay malah kencang terdengar.
Tanpa merasa kehilangan Santi, Abay dengan tenangnya berjalan ke arah dapur membuat segelas kopi dan memasak mie instan.
Selang beberapa waktu, Abay yang tidur di karpet depan layar televisi pun terbangun. Ketika melirik ke jam dinding, waktu subuh sudah tiba. Sayup-sayup telinganya mendengar azan baru saja berakhir dikumandangkan.
Abay pun melangkah ke kamar mandi. Bukan untuk mengambil wudhu, tetapi dia hanya ingin membuang air kecil saja. Setelahnya dia berjalan ke kamarnya.
Pintu kamar yang terkunci kini sudah bisa dibuka. Abay dorong pintu kamar, lalu melirik ke arah Santi yang telah terbujur kaku dengan tubuh membiru. Bagi penglihatan Abay, kematian Santi terlihat normal-normal saja. Tetapi sesungguhnya kematian Santi mengerikan, karena ada banyak bekas lubang gigitan ular bersarang di tubuhnya.
Abay tersenyum puas. Karena kematian Santi tak akan diketahui orang, kecuali ada yang bisa melihat keanehan yang menyelubungi kematian Santi.
Abay percaya, tak banyak orang pintar dan ahli yang bisa menebak Santi itu dikorbankan dan menjadi tumbal bagi Nyi Malini. Tetapi jika dia bertemu dengan orang pintar itu, dia pun tak perlu merasa takut, karena dia punya Nyi Malini sebagai pendukung dirinya.
Senyum Abay semakin lebar, ketika dia melihat di atas kasur bertumpuk uang yang banyak.
Abay melangkah mengambil kopernya yang berada di atas lemari. Setelah koper diturunkan dan dibuka, tumpukan uang pun dimasukan ke dalam koper begitu saja, tanpa ada niat menghitung berapa jumlahnya. Tetapi dia percaya jumlahnya sangat banyak dan terbilang ratusan juta.
Setelah seluruh uang dimasukkan ke dalam koper, baru Abay ambil baju tidur Santi yang dia lepaskan paksa dan dilempar ke lantai.
Kemudian Abay menghampiri Santi yang tergeletak kaku bersandar tembok di dekat pintu kamar. Dia menatap sejenak wajah Santi.
Teringat kejadian sebelumnya, di mana Abay dengan memaksa menyuruh Santi melayani dirinya di atas ranjang. Tetapi Santi menolak dengan alasan tidak mood, hatinya sedang kacau. Hanya saja mana sanggup Santi menahan kekuatan Abay yang telah diliputi hawa nafsu itu.
Apalagi kekuatan Abay dibantu Nyi Malini. Santi hanya bisa menangis ketika dengan buasnya Abay membolak-balikan tubuhnya. Berpacu dengan napas memburu, wajah yang menyeramkan dengan sorot mata liar.
Ketika semuanya usai, Abay melihat Santi menangis kesakitan. Tetapi dia tak peduli, bagaimanapun Santi itu istrinya dan dia tak mau mendengar kata penolakan dari Santi.
Selama ini baru pertama kalinya Santi menolak. Walau di luar sana Santi ada main dengan Berri, tetapi dia tak melupakan tugasnya sebagai seorang istri yang baik pada Abay. Hanya saja Santi baru kehilangan Berri, hingga dia menolak dan berakhir dengan pemaksaan Abay yang brutal dan kasar.
Abay menggeleng, dia lupakan kenangan sebelumnya. Lalu dia pun berjongkok untuk memakaikan baju ke tubuh Santi. Jelas dia tak mau ada orang yang melihat tubuh mulus Santi, meski istrinya itu sudah meninggal dunia.
Tubuh Santi pun dipindahkan ke atas kasur oleh Abay. Setelahnya, dia mengambil obat tetes mata dan diteteskan ke matanya. Berikutnya, dia lari keluar rumah.
"Toloooong!" teriak Abay.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Adinda
kalau saja santi ga selingkuh
2022-06-21
1
💎hart👑
drama dia🙄
2022-06-21
1