Endah berjalan mundur, lalu berbalik badan dan berlari masuk ke kamar. Rasa kagumnya pada sosok Nyi Malini telah usai.
Kematian Entis.
Perubahan raut wajah cantik Nyi Malini yang tak dikenalnya, menjadi wajah yang dipenuhi sisik ular dan lidah dua cabang menjulur keluar.
Dua alasan itu membuat Endah berpikir untuk sembunyi di dalam kamar. Tetapi waktu pintu mau dikunci, mendadak terdengar suara berisik seperti derap kaki kuda berlari cepat.
Di luar kamar, Nyi Malini angkat tangan kanannya sejajar bahu. Telapak tangan terarah ke pintu kamar. Dia hentakan pelan tangannya.
Timbul angin berwarna hitam yang perlahan berubah menjadi tiga ular yang saling membelit dan terbang menerjang pintu.
Pintu kena didobrak.
Endah yang berada di balik pintu mengalami celaka. Tubuhnya terlontar ke belakang dan berhenti ketika punggung menghantam tembok.
Baru saja tubuh Endah merosot jatuh, Nyi Malini telah berada di depannya.
"Jangan bunuh aku!" pinta Endah sambil menatap Nyi Malini, lalu melirik ke arah kiri pada Dina yang anehnya tetap tertidur lelap di atas kasur.
Nyi Malini tersenyum kejam, lalu dia membuka mulutnya. Dari dalam mulutnya, merayap keluar seekor ular hitam kecil yang terbang meloncat ke tubuh Endah.
Endah menjerit. Ular hitam itu menggigit lehernya. Dia ingin menarik ular, tetapi tak ada yang bisa ditariknya. Entah apa yang terjadi, ular hitam yang dilihatnya itu mendadak hilang dan tak bisa dipegang. Padahal ular itu masih menempel di leher.
Endah mana tahu, dia bukan bertemu manusia. Ular yang menyerang dan menggigit lehernya pun bukan yang asli.
Tak berapa lama tubuh Endah kelojotan. Jiwanya amblas bersamaan dengan kulit tubuhnya berubah menghitam. Racun ular menyebar cepat, bercampur dengan darahnya dan memaksa jantungnya berhenti berdenyut.
Menyaksikan Endah telah mati, Nyi Malini berjalan mendekati ranjang. Tangannya seperti sedang mengangkat sesuatu dan hasilnya, tubuh mungil Dina melayang ke arahnya.
Saat Uma datang, saat itu pula Nyi Malini keluar dari dalam kamar menggendong Dina di tangannya.
"Kita pergi!" ajak Nyi Malini pada Uma.
*
Ular itu merayap menaiki dinding rumah, lalu berhenti di depan jendela kamar.
Sepasang mata ular tertuju pada sosok pria yang terbaring di ranjang. Keadaan di dalam kamar dapat terlihat jelas, karena jendela kaca tampak polos, tirai tak diturunkan. Mungkin penghuni kamar lupa.
Mendadak, kepala ular bergerak ke arah kaca jendela. Seakan ingin menghancurkan kaca dengan kepalanya. Tetapi tidak, ular yang memiliki sisik hijau itu malah menembus kaca.
Terdengar bunyi jatuhnya ular. Namun pria yang ternyata Idang adanya, sama sekali tak mendengar dan masih terus keluarkan suara ngoroknya.
Ular hijau merayap ke arah pembaringan. Setelah mendekati ranjang, ular berhenti dan berdiri tegak. Ujung ekor ular menjadi tumpuan. Aneh. Tetapi belum berakhir, sebab ular tersebut perlahan berubah menjadi wujud manusia yang cantik.
Garini.
Ular hijau itu menjelma menjadi Garini dan dia datang demi tugas yang diberikan Nyi Malini.
"Kematianmu tiba! Sayang sekali, kamu yang ada di luar garis harus ikut mati!" desis Garini.
Selesai Garini bicara, jiwa Idang pun mendekati detik-detik pelepasan dari tubuh kasarnya.
Garini menjulurkan tangan kirinya ke arah wajah Idang. Dia menatap tajam ke arah lima jarinya yang panjang, yang menjadi tambah panjang seperti karet melar.
Tetapi bukan jari Garini yang memajang. Namun lima ular kecil. Ya, jarinya telah berubah menjadi lima ekor ular kecil yang tanpa ampun menyerang Idang.
Dua ekor ular menyerang mata Idang. Satu ekor menggigit ubun-ubun Idang. Lalu mulut Idang dikunci dengan gigitan salah satu ular. Ular terakhir menancapkan taringnya di tenggorokan Idang.
Idang mati tanpa bisa menjerit. Kematian yang membuat perut terasa mual saat melihat apa yang terjadi pada jasadnya.
Dari luka di kepala Idang merembes keluar cairan otak. Sepasang mata Idang hilang dimakan dua ekor ular, hingga dia mati tanpa mempunyai mata. Bibirnya tebal bekas gigitan ular. Terakhir luka di tenggorokan membuat darah hitam mengalir keluar.
Garini tersenyum puas. Tugas telah selesai dan saatnya kembali pulang. Dia pun berjalan ke arah jendela kamar.
Kalau saja Idang masih hidup dan mampu melihat, mungkin dia akan segera menerkam Garini, karena lenggak-lenggok Garini kala berjalan begitu menggoda dan membangkitkan gairah nafsu.
Garini tak langsung keluar dari kamar. Dia berdiri di depan jendela dan menatap ke arah langit.
"Entah, berapa banyak tugas seperti ini akan datang lagi padaku! Tetapi apa aku mampu menolak?" Garini menghela napas, lalu dia menengok ke arah Idang yang mati tanpa mampu berteriak maupun membuka mata.
Saat ini di tubuh Idang terjadi perubahan. Kepalanya membesar seperti balon diisi udara. Tetapi anehnya tubuhnya mengecil, hingga tersisa tulang dan kulit yang menempel. Kematian yang mengerikan.
"Aku tak bisa berkata aku menyesal, tetapi Kematianmu ini sia-sia. Kalau saja kamu pintar menjaga mulut, kamu tak mungkin mati malam ini!"
Selepas Garini berucap, dia pun menerobos jendela kaca dengan tubuh ularnya. Dengan cepat ular hijau jelmaan Garini meluncur pulang, lalu menghilang di balik kegelapan.
*
Suara tangis menyadarkan Abay dari lelapnya. Begitu dia membuka mata dan mencari siapa yang menangis dengan matanya, dia menjerit senang.
"Dina." Abay bergegas bangkit duduk, lalu dia menggendong Dina yang tertidur beralaskan rumput yang berembun.
"Pa... pa...." Dina mengangkat kedua tangannya. Kode minta digendong.
Dina yang telah berusia setahun lebih itu tampak senang, karena dia melihat seseorang yang dia kenal.
Abay menggendong Dina. Dia pun segera menciumi pipi Dina yang dirindukannya. Anak yang bukan darah dagingnya itu telah mengisi hatinya yang terdalam.
Sayangnya, setelah Endah membawa pergi Dina dan memilih tinggal di rumah Entis, Abay harus menyimpan rasa rindu. Karena Abay dilarang bertemu dan bermain dengan Dina.
Pagi ini, di bawah hangatnya sinar matahari yang belum lama terbit. Abay telah bertemu dengan Dina.
"Hahaha, aku sudah dapat Dina!" tawa Abay senang.
Rasa senang Abay bertambah, ketika matanya terbentur dengan tumpukan emas dan uang di dekat Dina tidur.
Ternyata tumpukan emas dan uang itu beralaskan kain hitam.
Abay turunkan Dina dari gendongannya. Dia bergegas mengikat kain untuk membungkus emas dan uang. Saat selesai, dia temukan selembar surat dengan sebaris tulisan belaka.
'Nanti malam, aku akan menemuinya!'
Surat tanpa nama, tetapi itu tak penting bagi Abay. Karena dia telah tahu siapa pengirim surat itu.
Buntalan kain hitam pun disimpan Abay di dalam plastik kresek yang ditemuinya. Sebenarnya plastik itu berisi sampah bekas nasi bungkus. Tetapi saat ini dipakai untuk menyimpan buntalan kain.
Dengan menggendong Dina dan menjinjing kresek plastik, Abay pun berlalu menuju jalan raya yang tak seberapa jauh dari tempatnya terbangun tadi.
Telinga Abay telah mendengar suara mesin mobil melintas. Dalam hatinya, dia berterima kasih pada Nyi Malini yang telah membantu dirinya, membawa pergi dia dan Dina menjauh dari rumah mereka.
Rumah yang tak akan pernah mau Abay datangi lagi. Sebab dia sedang menatap masa depannya di kota Jakarta.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
💎hart👑
ngeri-ngeri sedep nih 👍👍
2022-06-19
2
💎hart👑
😱😱😱
2022-06-19
1
Katrisnani Dilaningtyas
💕💕💕
2022-06-17
1