Di kamar terdepan, Ki Jabaya alias Abay menerima kehadiran Rodi yang duduk dengan sikap gelisah.
"Tenang saja, tak perlu takut!" Ki Jabaya tersenyum.
"Aku tak takut, cuma merasa apa ini benar atau tidak!" jawab Rodi dan dia menatap Ki Jabaya.
Rodi mengawasi Ki Jabaya yang wajahnya terlihat kaku dengan jenggot kambing dua warna hitam dan putih. Tetapi dia merasa curiga dengan sorot mata Ki Jabaya.
"Tentu saja benar. Apa Abay tak bilang, aku bisa bantu kesulitan ekonomi tanpa harus memberikan tumbal?"
"Ya, dia bilang itu. Tetapi apa Ki Jabaya ini Abay sendiri?"
Untung Abay memakai topeng. Jadi wajah kagetnya tak terlihat Rodi. Karena itu di mata Rodi, dia terlihat tenang-tenang saja.
Ki Jabaya alias Abay pun tersenyum.
"Apa aku benar Bang Abay?" desak Rodi.
"Hahaha, aku adalah aku. Abay ya Abay!" Ki Jabaya tak mengaku.
"Tetapi sorot mata kalian sama!"
"Oh, kamu bukan orang pertama yang bilang seperti itu!" Ki Jabaya cepat membantah. Tetapi dalam hatinya, dia mengakui kalau Rodi sangat cermat dan teliti.
"Seperti itu. Berarti aku salah menebak, maaf!"
"Ya, tak masalah."
Rodi lalu membungkam, tetapi matanya berkeliling melihat isi kamar. Saat ini dia duduk bersila di depan Ki Jabaya terpisah meja kecil yang penuh barang di atasnya.
Di atas meja tak hanya terdapat patung ular dari emas, tetapi juga ada tiga mangkok dengan dua mangkok berisi cairan merah pekat, satunya terlihat kosong. Lalu ada juga jarum emas di atas selembar kain putih.
Selain meja, di kamar juga terdapat kasur lantai dengan seprai putih cukup untuk satu orang. Sisanya tak ada lagi, hanya terlihat kain hitam yang menutupi hampir seluruh ruangan kamar. Tetapi kain hitam itu tergantung setengah saja, masih terlihat sebagian tembok kamar yang dicat warna putih.
"Mari kita mulai!"
"Mulai apa?" tanya Rodi.
"Ritual memanggil Nyi Malini."
"Siapa Nyi Malini itu?' Rodi bertanya lagi.
"Dia yang akan memberikanmu kekayaan. Dia juga yang akan memilihkan istri untukmu!"
"Tapi aku sudah punya istri!" sahut Rodi.
"Ini istri yang lain. Istri rahasia bagimu."
"Tunggu, Abay bilang...."
"Apa yang dia bilang?" tanya Ki Jabaya cepat.
"Aku boleh memilih, sekali meminta kekayaan atau mau selamanya."
"Oh, ya... aku lupa beri keterangan itu!" Ki Jabaya membenarkan.
"Apa keuntungan jika aku memilih pertolongan yang cukup sekali itu dan apa kerugiannya?" tanya Rodi.
"Keuntungannya, kamu hanya bisa minta sekali dan tak ada kerugian apapun! Aku sarankan, kamu minta yang selamanya saja. Karena tak akan merugi dirimu!"
"Kenapa bisa seperti itu?" Rodi mau tahu.
"Aku tegaskan, tak ada tumbal!" jawab Ki Jabaya, tetapi isi hatinya berkata lain. "Hehehe, tetapi kalau Nyi Malini yang minta itu bukan salahku. Tak ada tumbal itu hanya perkataan bohongku belaka!"
Tentu saja Rodi tak mendengar isi hati Ki Jabaya.
"Jadi tak perlu ragu. Kamu cukup minum saja isi dua mangkok ini dan kucurkan sedikit darah ke dalam mangkok kosong." Ki Jabaya geser dua mangkok berisi cairan merah ke dekat Rodi.
"Cairan apa ini?" tanya Rodi.
"Darah ular kobra. Bagus untuk kesehatanmu dan juga ini syaratnya. Aku percaya kamu bukan orang yang penakut? Sayang sekali, kalau kamu tolak hal ini, kamu tak akan bisa dapat uang mudah. Kamu sudah ada di tengah jalan, hanya seorang penakut saja yang kembali pulang!" seru Ki Jabaya memprovokasi Rodi dengan penekanan kata penakut.
Rodi pria yang besar di jalan. Dia tentu saja tak merasa takut kalau hanya disuruh meminum darah ular.
Tanpa ragu, kedua mangkok berisi darah ular kobra itu diminum Rodi. Tetapi dia tak tahu, di dalam mangkok sudah diberikan obat.
"Nah, kucurkan tiga tetes darahmu!" Ki Jabaya ambil jarum emas dan berikan ke Rodi.
Tanpa rasa takut, Rodi tusuk jarinya dengan ujung jarum yang tajam. Tiga tetes darah pun dikucurkan ke dalam mangkok kosong.
"Bagus. Sekarang kamu tidur di sana dan tunggu kehadiran Nyi Malini berserta istri rahasiamu. Saat itulah, kamu bisa meminta pada Nyi Malini." Ki Jabaya berdiri.
Rodi juga ikut berdiri, tetapi saat dia berdiri rasanya kamar dilanda gempa. Tubuhnya bergoyang dan kepalanya terasa pusing. Tetapi anehnya, napasnya memburu dengan wajah memerah.
Ki Jabaya tertawa kecil, lalu keluar dari dalam kamar. Pintu dikunci dari luar.
Rodi pun pergi menuju ke kasur. Dia baringkan tubuhnya. Tetapi dia sama sekali tak bisa tidur, karena tubuhnya terasa sangat panas. Tanpa dia sadari, seluruh pakaian pun telah terlepas.
"Ah, panas! Aku mau... aku mau...." desis Rodi.
Mendadak, kedua mata Rodi terbelalak. Di depannya muncul dua wanita cantik. Satu wanita memakai mahkota dengan gaun sutra hitam yang tipis, hingga lekuk tubuh terpampang nyata. Satu lagi seorang wanita yang tersipu malu-malu.
"Garini, temui suamimu!"
Garini, si wanita yang tersipu malu itu menjerit kecil karena Nyi Malini mendorong dirinya jatuh ke dalam pelukan Rodi.
Rodi tertawa terbahak-bahak, lalu tanpa merasa malu dia ciumi wajah Garini.
Nyi Malini lalu berjalan dan duduk di tempat Ki Jabaya duduk tadi. Dia saksikan pergulatan Rodi dan Garini tanpa rasa jijik dan malu.
Tetapi Nyi Malini tak lama-lama menonton. Setelah dia mengisi mangkok kosong yang berisi darah Rodi, dia pun pergi. Darah Rodi pun bercampur dengan darah Nyi Malini di dalam mangkok kosong itu.
Rodi yang terbuai kehangatan tubuh Garini sama sekali tak menyangka, bukan manusia yang bersamanya. Tetapi ular yang membelit tubuhnya dan yang balas menciumi dirinya.
Namun ketika semuanya usai, Rodi yang kelelahan kembali melihat Garini sebagai wanita nan cantik jelita.
Rodi terbaring lemah di atas kasur. Dia tak tahu berapa lama waktu yang telah dihabiskan untuk melayani dan dilayani Garini. Tetapi yang dia rasakan, pengalaman bersama Garini ini sangat nikmat dan berbeda jauh saat dia bersama istri tercintanya.
Dalam hatinya, Rodi telah memutuskan kalau dia mau selamanya bersama Garini.
Garini sendiri masih terlihat bugar. Di bawah tatapan mata Rodi, dia berjalan ke arah meja mengambil mangkok berisi campuran darah Rodi dan Nyi Malini.
Lalu Garini kembali dan menyuruh Rodi bangun duduk.
"Minumlah!" Garini sodorkan mangkok.
Rodi tak lagi bertanya, dia minum habis cairan di dalam mangkok. Kemudian, dia lempar mangkok itu dan menarik tubuh Garini. Tenaganya telah kembali dan dia mau sekali lagi bertukar keringat dengan Garini.
"Sudah, Sayang!" Garini mendorong pergi tubuh Rodi.
"Oh, sudah jam berapa ini?" tanya Rodi.
"Yang pasti sudah malam. Apa kamu tak dengar suara binatang malam?" tanya Garini.
Rodi mendengar. Telinganya menangkap suara tokek yang kencang.
"Sekarang dengarkan!" Garini memasang wajah kaku. Kecantikan paras dan manis senyumnya menghilang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Isnaaja
obat apa ya?
2025-02-17
0
Adinda
rodi pengen nambah🤣
2022-06-17
2
Katrisnani Dilaningtyas
Semangat Thor 👍
2022-06-17
1