Rumah dengan cat warna biru laut itu berukuran kecil. Tetapi sudah cukup bagi Abay dan Dina.
Saat itu waktu ashar baru saja datang. Abay dan Dina telah tiba di Jakarta. Truk yang ditumpangi menurunkan Abay dan Dina di pinggiran ibukota sebelah timur.
Karena tak tahu arah dan tujuan, Abay membawa Dina berjalan tak tentu arah. Dia baru berhenti ketika melihat ada sebuah rumah mungil yang diberi pengumuman dikontrakkan.
Abay berpikir dia butuh tempat tinggal. Tak mungkin dia dan Dina tinggal di jalan. Apalagi dia punya emas dan uang, masalah biaya sewa kontrakan bukan masalah.
Ternyata pemilik rumah yang disewakan itu tepat berada di sebelah. Tanpa tawar menawar, Abay setuju dengan harga sewa setahun. Kunci rumah diberikan, tetapi timbul masalah lain.
Tak ada barang yang dibawa Abay seperti kasur, lemari pakaian dan lainnya. Dia dan Dina pun tak membawa pakaian ganti.
"Bu Ima, aku minta tolong boleh kan?" tanya Abay.
"Tolong apa ya Kang Abay?" tanya Ima perempuan berusia setengah abad yang juga pemilik dari rumah.
"Aku mau titip Dina. Mau belanja barang yang dibutuhkan! Mumpung belum terlalu malam."
"Oh, boleh. Bawa sini Kang! Biar nanti Dina dimandikan dan pakai baju cucuku dulu!"
"Terima kasih ya, Bu!" Abay berikan Dina ke tangan Ima.
"Kita kan harus saling membantu Kang. Apalagi Kang Abay juga sudah membantu dengan menyewa rumah ini. Tetapi maaf ya, Kang... aku tak bisa mengurangi harga uang sewa karena lagi butuh uang! Sejujurnya, hati ini terenyuh mendengar cerita Kang Abay!" Ima menatap kasihan Abay.
Sebelumnya Abay berkata bohong pada Ima. Dia karang cerita, kalau dirinya dan Dina itu diusir dari rumah di kampung. Tak boleh bawa barang sedikit pun. Beruntung diijinkan bawa uang dan perhiasan sebagai ongkos jalan.
Karena itu Abay putuskan membawa Dina ke kota besar saja. Syukur-syukur kehidupan masa depan akan menjadi masa kebaikan dan kejayaan, hingga menjadi kaya raya. Dia juga bercerita, kalau Dina sudah tak punya ibu lagi.
Sebab cerita itulah Ima ijinkan rumahnya disewa dan dihuni Abay dan Dina. Apalagi dilihatnya Dina tak takut dengan Abay. Jadi kecurigaan Abay penculik itu tak beralasan.
Di sisi lain, kalau Abay penculik bayi mana mungkin mau tinggal di pemukiman padat. Satu lagi, Abay mempunyai bukti foto dirinya dengan Dina.
Foto itu dibuat di saat Dina ulang tahun pertama yang lalu dicetak dan disimpan Abay selama ini. Peristiwa itu terjadi sebelum Endah putuskan meninggalkan Abay.
Abay pun dengan tenang berjalan pergi membeli barang-barang untuk memenuhi rumahnya yang baru.
*
Malam telah tiba.
Suara kentongan di tiang listrik terdengar satu kali. Tetapi telinga Abay yang tidur memeluk Dina mendengar ada yang memanggil namanya berkali-kali.
Abay terbangun. Dia melihat Dina sejenak, lalu turun dari ranjang.
Dengan langkah sepelan mungkin dan tak menimbulkan suara yang berpotensi membuat Dina terbangun, Abay telah berada di balik pintu.
Pintu dibuka, lalu Abay keluar dari kamar. Dengan hati-hati pintu pun ditutup. Setelahnya langkah kaki pun mengarah ke kamar sebelah.
Meski rumah yang disewa Abay mungil, namun memilik tiga kamar. Dua kamar bersebelahan dengan ukuran sama besar, kamar terakhir berada di belakang di dekat dapur dan lebih kecil luasnya.
Barang yang dibeli Abay untuk mengisi rumah belum dibilang lengkap, masih ada beberapa yang belum sempat dibelinya. Tetapi dia telah meminta tolong pada Ima untuk dibelikan besok.
Tetapi Abay tak lupa membeli ranjang yang lain. Satu ranjang untuk dia tidur bersama Dina, satu lagi ranjang untuknya bertemu Nyi Malini secara rahasia.
Begitu pintu kamar kedua terbuka, Abay melihat Nyi Malini tidur menyamping dengan satu kaki terangkat menekuk di atas kasur.
Walau ini bukan pertemuan yang pertama. Tetap saja Abay menelan ludah melihat betapa mulusnya kaki Nyi Malini. Belum lagi lekuk tubuh Nyi Malini yang terlihat jelas akibat pakaian transparan yang dipakai.
Ingin rasanya Abay segera melompat ke atas kasur. Tetapi dia melihat kode tangan Nyi Malini yang menunjuk ke arah lantai.
"Berlutut!"
Abay tak membantah.
Suasana mendadak hening dan sepi. Kecuali sepasang mata tajam Nyi Malini yang bentrok dengan mata menyorot patuh Abay yang tersaji di kamar.
Suara gemericik terdengar. Nyi Malini bergerak berganti posisi. Dari tidur menyamping, kini duduk di tepi ranjang.
Abay melihat betapa anggunnya Nyi Malini, selain itu juga terlihat sangat seksi menggoda, karena posisi duduk Nyi Malini itu terkesan menantang.
"Abay, aku telah penuhi janjiku padamu. Kamu tahu kan?" tanya Nyi Malini membuka percakapan.
"Meski aku tak melihat, tapi aku percaya Nyi telah membalaskan dendam hatiku pada Idang dan Endah!" jawab Abay tanpa ragu.
"Hihihi, kamu benar! Aku suruh Garini menjadi algojo bagi Idang. Sementara aku sendiri menjadi iblis maut bagi istrimu dan lelaki tua di rumah yang sama."
"Oh, apa Pak Entis meninggal?" tanya Abay kaget setengah mati.
"Tentu saja! Jadi aku telah menerima tumbal dan memberikan jalan pulang bagi dua nyawa yang tak ada kaitannya dengan perjanjian cinta kita dan pengabdian dirimu. Hanya saja, aku memberikan pengecualian, jika kamu merasa ada musuh dan ingin menghukumnya, aku siap sedia. Kamu tahu kenapa?"
"Ya, karena aku manusia pertama bagimu!" seru Abay yakin.
"Kamu betul! Malam ini mari kita berbicara. Duduk sini!" Nyi Malini tepuk kasur di sebelah kirinya.
Abay bangkit dari berlutut, lalu berjalan ke arah yang diperintahkan Nyi Malini. Baru saja dia duduk, tangan Nyi Malini seperti ular yang membelit pinggangnya.
Ada aroma yang merangsang masuk ke lubang hidung Abay, karena tubuh Nyi Malini telah menempel padanya.
"Yang mau aku bicarakan padamu itu...."
"Apa Nyi?" tanya Abay tak sabar.
"Aku membutuhkan tumbal lagi darimu!"
"Bukannya aku sudah berikan Endah, Nyi?" tanya Abay kaget.
"Mana cukup Sayang! Kamu telah berikan aku kenikmatan mendapatkan tumbal. Jadi aku bisa punya budak manusia di kerajaanku. Kalau hanya Endah seorang, mana sanggup dia bekerja untuk melayani diriku dan anak buahku. Karena itu aku meminta tumbal lagi darimu!'
"Tapi...."
"Tak ada kata tapi!" bentak Nyi Malini sambil jauhkan tubuhnya dari Abay.
Mata Nyi Malini melotot besar. Hawa amarahnya berkobar.
Melihat kemarahan Nyi Malini, hati Abay dipenuhi rasa takut yang sangat hebat.
"Aku memberikan dua pilihan padamu. Berikan aku tumbal atau dirimu mati dikerubuti ular yang banyak saat ini juga!" Nyi Malini menunjuk ke arah lantai kamar.
Dalam penglihatan Abay, lantai kamar merekah dan keluar ular yang jumlahnya tak bisa dihitung. Di dalam kamar terbentuk piramida ular.
Keringat dingin Abay mengucur deras.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Elisanoor
Nah kan, setan ga bkl ada puas nya,Jgn pernah bersekutu dengan setan
2023-09-22
0
Katrisnani Dilaningtyas
Lanjut
2022-06-17
1
Adinda
di tunggu lanjutannya
2022-06-13
1