Napas Nyi Malini dan Abay sama memburu. Wajah mereka pun memerah, seakan seluruh darah mengalir hanya ke area muka mereka saja.
Mereka telah dikuasai nafsu. Tetapi waktu Nyi Malini mengajak lebih, Abay cepat meminta waktu sejenak.
"Apa lagi Sayang?" Nyi Malini terlihat tak suka, karena Abay meminta dirinya menahan nafsu yang sudah naik ke ubun-ubun.
"Kamu belum bilang, bisa atau tidaknya!" bisik Abay.
"Membawa Dina, anakmu itu?" tanya Nyi Malini.
Abay membenarkan.
"Aku akan atur!" jawab Nyi Malini singkat.
Kali ini Abay biarkan Nyi Malini menjatuhkan dirinya ke lantai ruang tamu gubuknya. Tak seperti kemarin di mana mereka memadu kasih di kamar, kini mereka bergelut di ruang tamu tanpa alas busa kasur.
Kadang Abay berada di atas, lalu berpindah di bawah. Sampai akhirnya Abay biarkan Nyi Malini yang mendominasi, di mana kesadaran Abay mulai hilang, dia tak melihat betapa bayangan ular besar sedang melibat dirinya tergambar di dinding ruang tamu.
Hampir dua jam berlalu, Abay pun keok dan kalah. Dia terlalu lelah dan letih, sementara Nyi Malini masih bisa terduduk di sampingnya.
Nyi Malini melirik sekilas pada Abay yang tertidur lelap, lalu dia mendesis dan menunggu.
Desis dengan tekanan nada rendah itu ternyata cara Nyi Malini memanggil anak buahnya. Tampak sepasang ular masuk ke dalam rumah dari arah pintu yang terbuka dengan sendirinya.
Kedua tangan Nyi Malini terangkat untuk membetulkan rambutnya. Kalau saja Abay masih terbangun, melihat cara Nyi Malini membereskan rambutnya bisa jadi malah Abay akan timbul lagi nafsunya.
Keindahan wanita itu tampak pada saat mengangkat kedua tangan untuk membetulkan rambut. Saat itu lekuk tubuh akan terlihat menantang. Itu yang terjadi saat ini pada Nyi Malini yang sedang berwujud manusia.
Warna kulit Nyi Malini yang putih bersih, pangkal lengannya yang tak berbulu, lalu keadaan tubuhnya yang sedang polos, menambah daya tariknya bagi pria yang kebetulan dapat menyaksikan saat ini.
Tetapi saat ini yang berada di depan Nyi Malini anak buahnya, sepasang ular yang jika berganti rupa menjadi manusia, maka akan seperti dirinya. Seluruh anak buahnya itu kebanyakan ular betina. Ada yang jantan, namun tak tinggal di dalam istana dan tak berjumlah banyak.
Sepasang ular yang baru masuk perlahan pun berubah rupa. Tampak sepasang wanita muda cantik jelita. Namun bergaris muka dingin, licik dan kejam.
Kedua anak buah Nyi Malini itu Garini yang telah dikenal Abay, lalu ada Uma yang terlihat lebih kurus dan tinggi dibanding Garini.
"Garini, Uma... dengar perintahku!"
"Kami siap, Nyi!" jawab Garini dan Uma berbarengan.
"Tugasmu itu ikut denganku!" Nyi Malini tunjuk Uma.
"Baik, Nyi!" Uma menjawab tegas.
"Untukmu, habisi pria yang bernama Idang. Kamu sudah tahu kan?" tanya Nyi Malini.
"Sudah, Nyi!" Garini mengangguk.
"Kamu boleh pergi terlebih dahulu!" Nyi Malini menunjuk ke pintu.
Dengan melangkah mundur, Garini berlalu dari hadapan Nyi Malini. Baru setelah dia melewati pintu, dia berbalik dan merubah wujudnya menjadi seekor ular berbisa.
Di balik kegelapan, tubuh ular Garini pun menghilang.
"Uma, panggil beberapa ular jantan dan serahkan tugas untuk membawa Abay pergi dari sini!"
"Dibawa ke mana Nyi?"
"Taruh saja dia di pohon di dekat jalan raya, agar dia bisa pergi ke kota besar! Setelah usahaku dan dirimu berhasil, kita akan temui dia!"
"Baik, Nyi!" Uma pun undurkan diri.
"Tunggu!"
"Ada apa lagi Nyi?" tanya Uma.
"Kamu temui aku di rumah Endah mantan istri dari Abay. Apa kamu tahu rumahnya?" tanya Nyi Malini.
"Dengan mencium jejak Nyi, tentu aku bisa sampai di sana!"
"Nah, pergilah!" Nyi Malini lambaikan tangan.
Uma pun mengubah wujudnya menjadi ular, lalu merayap pergi ke arah hutan.
Nyi Malini pun pergi setelah mengecup lembut kening Abay. Dengan tubuh ularnya yang lain lagi, dia lantas meluncur ke arah rumah Endah. Kali ini dia menggunakan wujud ular besar sebesar batang pohon.
Tak lama Nyi Malini pergi, Uma telah datang. Dia merayap paling depan, sementara di belakangnya mengikuti empat ekor ular besar.
Hanya dengan kode kepalanya, para ular itu bergerak maju ke arah Abay. Lalu saat berada di dekat Abay, mereka pun berganti rupa menjadi manusia berjenis laki-laki. Tubuh mereka manusia, tetapi kaki mereka masih berbentuk ular.
Dengan kaki tangan dipegangi keempat manusia ular itu, Abay pun dibawa pergi ke tempat yang telah ditentukan Nyi Malini.
Setelahnya, Uma pun bergegas menemui Nyi Malini yang telah berada di rumah Endah.
Begitu Uma sampai, dia melihat pintu rumah Endah dalam keadaan roboh, sepertinya diterjang Nyi Malini yang memaksa masuk ke rumah.
Uma berganti rupa, dengan langkah kakinya yang jenjang dia berjalan masuk dan melihat seorang pria tua terbaring di lantai ruang tamu dengan tulang rusuk patah yang melesak ke dalam.
Lalu keadaan ruang tamu yang berantakan tak luput dari mata Uma. Tetapi dia tak peduli, karena dia datang untuk menemui Nyi Malini.
Waktu Uma mau bergerak, dia melihat Nyi Malini keluar dari dalam salah satu kamar sambil menggendong bayi yang tertidur pulas.
"Bawa ini dan ikuti aku!" Nyi Malini melempar bayi digendongnya.
Bayi itu Dina adanya.
Uma dengan sigap menangkap bayi itu. Dia sejenak menatap wajah Dina yang tampak jelita dan percaya, saat Dina besar nanti bakal membuat banyak hati pemuda bolak-balik merindu.
Nyi Malini melangkah pergi disusul Uma. Kepergian dua jin ular itu dari rumah Endah tak hanya meninggalkan dua mayat, tetapi juga membawa pergi Dina.
Sebelumnya.
Nyi Malini yang telah sampai di rumah Endah, sama sekali tak mau mengubah wujud ular besarnya. Bahkan dia sepertinya sengaja memakai bentuk yang akan membuat manusia yang melihat mati berdiri. Ular yang begitu besar yang sekali buka mulut bisa menelan manusia dewasa lebih dari satu orang.
Pintu rumah Endah diterjang begitu saja oleh kepala ular Nyi Malini.
Entis yang kala itu berada di dalam kamar, melompat bangun dan berlari keluar untuk melihat apa yang terjadi. Bunyi jatuhnya pintu rumah dengan tembok yang berguguran membuatnya curiga.
Tetapi Entis harus membayar mahal rasa ingin tahunya itu. Ketika itu dia berdiri dengan mata melotot kaget, seekor ular besar mulai memasuki rumahnya. Hingga akhirnya dia yang sedang dilanda rasa terkejut itu, tanpa sempat menghindar dan berteriak telah kena sundulan kepala ular Nyi Malini.
Entis roboh dengan tulang rusuk patah melesak ke dalam.
Endah ikut terbangun. Dengan mata kepala, dia melihat detik Entis terhajar keras dan jatuh. Ketika dia mau berteriak minta tolong, ular besar itu mendadak hilang dan berganti seorang wanita cantik.
"Siapa kamu?" tanya Endah yang lupa berteriak, saking kesengsem melihat pesona Nyi Malini.
"Hihihi," tawa Nyi Malini dingin dan penuh hawa membunuh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Katrisnani Dilaningtyas
Mantap nih NYI Malini
2022-06-17
1
💎hart👑
asli bucin ya NYI Malini 😁
2022-06-16
1
Adinda
nyi malini sayang juga sama ubay. pake cium kening segala😁
2022-06-13
1