"Bapak kenapa minta maaf?" Dodi menyorot heran.
"Ya, tak ada alasan khusus. Cuma kan kemarin Bapak sempat menyayangkan dirimu. Kenapa tak menyimpan uang sendiri, eh malah kamu titip ke Ibu? Tak perlu jawab!" Rodi cepat mencegah Dodi membuka mulut.
Dodi membungkam dan tak jadi membantah.
"Kamu sebentar lagi akan menjadi pria dewasa, akan berubah menjadi kepala rumah tangga. Meski nanti kamu akan punya keluarga sendiri, Bapak harap kamu juga menjaga Ibu dan Widi. Nah, mau kan kamu maafkan Bapak dan turuti pesan?"
Dodi memasang wajah heran. Tetapi demi dilihatnya keseriusan air muka Rodi, dia pun tak bisa berpikir jernih lagi. Akhirnya, dia pun mengangguk.
Rodi pun berdiri dan memberi kode Dodi untuk berdiri. Lalu dia memeluk anak pertamanya itu.
Dalam hati Dodi merasa heran. Tetapi dia tak kuasa menolak pelukan Rodi. Dia pun tak punya pikiran untuk mendorong tubuh ayahnya itu. Yang ada, dia malah merasa usapan Rodi di punggungnya mempunyai banyak arti. Hanya saja dia belum bisa menangkap pesan dari sentuhan tangan Rodi di tubuh bagian belakangnya itu.
Tanpa bicara lagi, Rodi berjalan keluar dari kamar Dodi. Setibanya dia di luar, dia dapati di meja ruang tamu sudah tersedia kopi untuknya. Meski suhu kopi masih panas, dia teguk juga sedikit setelah ditiupnya sejenak.
Dengan membawa gelas kopi, Rodi berjalan ke arah kamar Widi. Sekilas dia melihat Dodi sudah tenggelam lagi dalam permainan gamenya.
Pintu kamar utama sudah tertutup, Rodi menebak istrinya sudah beranjak tidur. Turunnya hujan memang paling enak dibawa tidur.
Rodi menaruh gelas kopi di lemari pajangan setinggi pinggang yang berada tak jauh dari pintu kamar Widi. Lalu dia mengetuk daun pintu dan menunggu jawaban Widi.
Tak ada suara.
Tangan Rodi pun menurunkan gagang pintu dan mendorong. Widi ternyata sudah tidur memeluk boneka beruang merah muda berukuran cukup besar.
"Sudah tidur. Semoga mimpi indah ya, Nak!" pelan-pelan Rodi tutup kembali pintu kamar Widi.
Lalu Rodi bergerak ke arah lemari pajangan, yang di dalamnya lebih banyak aneka macam barang pecah belah, dibanding keramik atau benda apapun yang bisa dipajang. Tetapi dari empat pintu lemari pajangan, ada satu pintu yang berisi aneka macam buku, baik buku tulis maupun bacaan dan tak ketinggalan majalah.
Namun yang dicari Rodi itu buku tulis dan sekotak pulpen harga murahan yang juga berada di dalam lemari.
Selembar kertas ditarik lepas, sebuah pulpen dikeluarkan dari kotaknya. Lalu Rodi berdiri.
Rodi buka penutup pulpen dan menarik lepas karet kecil penutup ujung pulpen, tempat di mana tinta akan mengalir keluar.
Dengan cepat Rodi menulis sebaris kalimat di selembar kertas. Setelahnya, dia letakan pulpen menindih kertas.
"Di kamar mandi apa di sini saja?" Rodi bicara dengan dirinya sendiri.
Kakinya pun bergerak menuju kamar mandi. Tetapi dia berhenti sejenak. Dia menatap ke arah pintu kamarnya, menghela napas dan setelah dirasa cukup, dia pun kembali lanjutkan perjalanannya menuju kamar mandi.
Setibanya di dalam kamar mandi, Rodi sekedar menutup pintu. Dia sama sekali tak mengunci, karena dia bukan berniat untuk mandi. Buktinya baju dan celananya masih melekat di tubuh.
Hanya saja tangan kanannya bergerak mengambil sesuatu dari kantong celana belakang. Kini di telapak tangannya telah ada sebuah benda kecil terbungkus kertas dengan gambar alat cukur. Tadi dia sempat ke warung dan membeli benda yang berada di tangannya itu.
Bungkus pun dibuka. Tampak benda yang terbuat dari bilah besi yang dibentuk tipis itu memantulkan sinar lampu.
"Selamat tinggal semua. Maafkan Bapak!"
Tiga puluh menit kemudian, Widi terjaga dari tidurnya karena desakan isi perutnya yang minta dikeluarkan. Dia kebelet untuk buang air kecil.
Ketika pintu kamar terbuka, mata Widi menumbuk gelas kopi di atas lemari pajangan.
"Ih, Bapak mah kebiasaan. Bekas minum kopi, gelasnya ditaruh sembarangan!" Widi mendekat dengan maksud mengambil gelas kopi dan membawanya ke dapur.
Tetapi baru saja jemari lentik Widi menyentuh badan gelas, dia tertarik pada selembar kertas dengan tulisan tangan Rodi.
"Ibu, Dodi dan Widi... maafkan Bapak. Semoga hidup kalian baik-baik saja. Selamat tinggal!" Widi membaca lirih.
Perasaan Widi terguncang. Kertas pun tanpa sadar terlepas dari tangannya. Lalu dia berteriak.
"Bapaaak!"
Teriakan Widi sangat kencang. Hujan yang sudah mendekati masa berhentinya, membuat suara Widi dapat terdengar nyata.
"Berisik, ngapain teriak panggil Bapak?" tanya Dodi yang keluar lebih dulu.
"Bang, Bapak mana?" tanya Widi dengan nada takut dan gelisah.
"Di kamar lah. Ini sudah jam berapa coba?" Dodi terlihat masih mengantuk. Baru lima belas menit lalu dia bisa tertidur.
"Bapak kalian tak ada di kamar? Kenapa?"
Widi dan Dodi menengok ke arah ibu mereka yang berjalan keluar dari kamar.
"Ibu... Bapak tinggalkan surat dan suratnya... suratnya...." Widi tak bisa melanjutkan ucapannya, karena kakinya terasa lemas. Beruntung dia masih bisa memegang pinggiran lemari pajangan.
Mata Dodi melihat ke arah kertas yang berada di lantai. Kertas yang jatuh dari tangan Widi. Cepat dia memburu, membungkuk dan mengambil kertas. Dibacanya cepat tulisan yang tergores di badan kertas.
"Ah, apa mungkin Bapak bunuh diri?" tanya Dodi entah pada siapa.
"Cepat, kamar mandi!"
Dodi dapat merasakan kepanikan di nada suara ibunya itu. Dia berlari ke arah kamar mandi. Tetapi begitu sampai di kamar mandi, dia meragu. Tangannya yang telah terulur untuk mendorong pintu tertahan. Di belakangnya telah hadir ibunya dan Widi.
"Cepat, buka!"
"Tapi, Bu!" Dodi menengok ke belakang.
"Dodi, buka!"
"Bang, cepat buka... siapa tahu nyawa Bapak masih bisa diselamatkan!" Widi mendukung ucapan ibunya.
Dodi pun tak bisa berlama-lama lagi. Dia dorong pintu kamar mandi.
Terdengar tiga teriakan memilukan hati. Rodi ditemukan duduk bersandar tembok kamar mandi dengan kedua kaki terbujur lurus. Pergelangan tangan kirinya dipenuhi darah, di mana cairan warna merah itu membentuk garis menuju lubang air.
Dari wajahnya yang pucat dan sedikit berwarna biru, dipastikan Rodi telah meninggal dunia. Kematian yang tak diduga-duga ini sungguh membuat hati istri dan kedua anaknya bertanya-tanya. Masalah apa yang membuat Rodi nekat menghabisi jiwanya.
"Eh, ada ular!" teriak Widi sambil berjalan mundur.
Dari arah belakang tubuh Rodi tampak jelas terlihat seekor ular, yang merayap dari pinggang ke wajah Rodi. Lalu bagaimana caranya, ular sebesar jari kelingking berwarna putih itu bisa membuka mulut Rodi. Karena ular itu dengan tenangnya memasuki mulut Rodi.
*
Waktu tengah malam hampir tiba.
Di dalam kamar, di atas kasur Santi tampak menangis. Dia kaget karena diperlakukan kasar oleh Abay. Padahal dia sudah menolak untuk melayani Abay, karena hatinya sedang dirundung duka, teringat kematian mengerikan Berri.
"Hahaha, selamat tinggal Santi!" Abay keluar kamar dengan baju berada di pundak kirinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Elisanoor
Jadi Rodi mengorbankan diri nya sendiri, kasian .
2023-09-22
1
Adinda
kasian juga rodi
2022-06-21
1
💎hart👑
penyesalan tiada arti rodi jiwa sudah tergadaikan
2022-06-21
1