Nuansa putih kembali menyelimuti tanah. Salju-salju turun beberapa binatang berbulu tebal masih mencari mangsa mereka. Aku menatap binatang-binatang itu dengan pandangan takjub pemandangan yang kedua kalinya aku lihat ini.
Kini mantel dengan bulu tebal membungkus seluruh tubuhku. Dalam kantung mantel itu kutemukan uang yang sudah tak berlaku. Aku menatap uang itu dan menaruh kembali di kantung. Asap putih keluar dari hidung dan mulut jika mengembus napas.
"Jadi seperti perokok," gumamku terkikik geli.
Merasa tubuh ringanku, aku pastikan jika diriku kurang gizi. Walau banyak buah yang kukonsumsi tapi jika tanpa sumber protein yang benar, aku pasti jadi orang lemah nantinya.
"Aku bisa apa?" keluhku.
"Di sini aku hanya bersama para serigala dan Zeus jadi ketuanya," aku bermonolog.
Aku kembali masuk ke dalam gua. Zeus melarangku untuk berlatih ketika musim dingin tiba.
"My Lord!"
Binatang besar itu masuk ketika aku tengah membakar ketela. Menatap matanya dengan gelisah dan penuh harap.
"Katakan My Lord," pintanya.
"Aku butuh nutrisi yang benar Zeus. Jika begini, aku tak bisa tumbuh sempurna dan pasti menjadi lemah," ujarku.
"Aku tau maksudmu My Lord," sahut binatang itu.
"Apa aku bisa pelihara ayam, bebek agar bisa kuambil telurnya dan kujual ke kota dekat sini?" tanyaku.
Zeus tampak berpikir lama. Aku yakin ia hanya membolehkan aku memelihara ayam dan bebek.
"Baiklah My Lord, kau boleh ke kota terdekat dan menjual hasil kebun dan peternakan," ujar binatang besar itu.
"Benarkah?" Zeus sepertinya mengangguk.
"Tapi, aku mengawasimu dari jauh My Lord!"
Aku mengangguk antusias dan berlari memeluk leher besar Zeus.
"Thanks Zeus. Percaya lah padaku, bukankah hanya kau yang kumiliki sekarang?" ujarku meyakinkannya.
Zeus hanya diam. Seekor kera membawa satu tundun pisang setengah matang pada Zeus dan langsung berlari menjauh.
"Bawa ini sebagai pengganti ketela itu My Lord!" titahnya.
Aku membawa satu tundun pisang ke pojok ruang dekat perapian.
"Aku pergi My Lord. Jangan keluar dengan alasan apapun!' pintanya sekaligus pamit.
"Baik Zeus!" aku menurut.
Tak lama kepergian Zeus, kembali kutorehkan tinta pada buku tulis peninggalan Ben. Menulis semua kisah yang kulewati berikut tanggalnya.
"Aku akan berdagang setelah ini!" tulisku.
Entah berapa lama aku menulis, tiba-tiba api nyaris padam akibat angin bertiup kencang dan masuk ke dalam. Aku sedikit terkejut karena tiba-tiba tempatku berubah temaram.
Aku memilih menarik ransel besar Ben, bermaksud menutup pintu gua. Tiba-tiba kutemukan papan kayu tinggi.
"Apa ini pintunya?" tanyaku pada diri sendiri.
Lalu dengan susah payah, aku menyeret benda segi empat itu untuk menutup mulut gua dan pas. Aku menahannya dengan ransel besar milik Ben.
"Berhasil!" seruku girang.
Aku melihat sekeliling. Ada pengait dari akar yang sepertinya dibuat oleh pria yang pernah menyinggahi tempat ini.
"Kenapa aku baru melihatnya sekarang?" gumamku lagi.
Setelah mengikatnya sedemikian rupa. Pintu itu kokoh menutup mulut gua. Aku sedikit tenang, walau tempatku aman dan tak ada binatang buas yang nyasar masuk. Terkadang aku suka terbangun tengah malam karena merasa seperti ada yang masuk.
"Dengan mulut gua tertutup, semua jadi aman," ujarku lega.
Aku kembali ke alas tidurku yang hangat. Ben telah menulis kata-kata "Tidak ada yang tidak mungkin selama manusia mau berusaha," aku mengangguk setuju.
"Aku akan berusaha melewati semua Ben. Untuk seperti dirimu, melindungi hutan dan dekat dengan alam!" tukasku pada diri sendiri.
Suara riuh angin mulai terdengar. Aku tidak lagi takut mendengarnya. Perlahan merebahkan badan dan tak lama aku tertidur.
Selama nyaris tiga bulan aku berada di gua hingga musim dingin usai. Bosan dan lelah pasti aku rasakan. Menatap tulisan yang tadi kubuat.
"Apa yang kau lakukan di sini Ben? Tidak mungkin kau hanya tidur dan mengamati!"
Aku kembali ke mulut gua. Angin kencang tak lagi terdengar, tapi rasa dingin langsung menusuk tulang ketika menarik ransel milik Ben itu. Ku keluarkan semua isinya.
"Ah ... kamera lama!" seruku senang.
Setelah kurasa kosong, aku kembali menyusun barang-barang Ben itu. Ternyata ada banyak buku. pantas tas ini berat! pikirku.
Aku membaca tulisan pria yang pernah tinggal di tempat ini. Begitu rapi dan semua tercatat secara rinci. Bahkan di antara selipan kertas aku menemukan foto hewan-hewan yang hilir mudik di luar mulut gua dengan membawa makanan. Semua gambar banyak yang hitam putih dan sebagian berwarna.
"Bagusan hitam putih, lebih klasik!' pujiku.
Ternyata Ben menjadi seorang pengamat di sini, ia menulis berapa lama kelinci hamil, rusa dan berbagai tanaman yang bisa dimakan dan cukup untuk karbohidrat manusia yang justru lebih sehat dibanding dimasak ala modern.
"Ah ... lagi-lagi tulisanmu berguna bagiku Ben. Aku tak perlu repot menjual apapun ke kota terdekat. Aku tinggal mencari semua yang kau tulis di sini, bahkan kau juga mencatat lokasinya di mana,"
Usai menata kembali semua pakaian dan buku milik Ben ke dalam ranselnya. Aku kembali mengganjal pintu dengan ransel itu agar tak terbuka oleh angin kencang. Musim dingin tinggal dua minggu lagi. Aku belum kuat jika harus keluar walau memakai mantel tebal. Kembali ku rebahkan diri dan memejamkan mata. Sudah cukup yang kuketahui hari ini dan aku banyak belajar dari Ben.
Musim dingin usai. Salju masih menutupi tanah dan padang rumput. Binatang-binatang mulai hilir mudik mencari buruan mereka, Aku memilih membuat kandang untuk berternak ayam hutan. Mencari banyak ranting kayu. Melalui buku panduan yang Ben buat, dulu ia juga memelihara ayam yang ia bawa ke sini untuk diambil telurnya.
Aku mengikat dan menyatukan batang demi batang ranting pohon. Sebisa yang aku bisa, setelah jadi aku sungguh kecewa dengan hasil akhir yang tak sesuai harapan.
"Ck!' aku berdecak kesal.
Entah berapa lama aku membuat kandang ayam. Akhirnya tempat hunian hewan itu jadi. Mengambil banyak jerami dan kumasukkan saja ke sana, walau aku keluarkan lagi.
"Kata Ben harus dikeringkan dulu!"
Aku menebar jerami atau ilalang yang aku cabut dengan tangan dan pisau Ben. Salju masih turun, aku menghela napas dan kembali masuk ke dalam gua, menutup pintunya sedikit kesal lalu duduk di alas empuk yang biasa aku tidur selama ini.
"Aaahh!" teriakku kesal.
Telapak tanganku memerah dan lecet bahkan ada yang menghitam karena merekatkan ranting pohon tadi.
"Hiks ... sulit Ben ... kau melakukan itu ketika usiamu sudah dua puluh tahun ... hiks!" aku bermonolog.
"Aku sembilan tahun!' lanjutku mengeluh.
"My Lord ... kenapa kau tutup pintunya!"
Aku segera berlari dan membuka pintu. Kupeluk erat hewan yang memanggilku tadi.
"Zeus ... aku lelah Zeus ... aku lelah!"
"Tenanglah My Lord ... kau tidak apa-apa, menurutku kau hebat!"
Aku menatapnya. Binatang itu mendorongku ke dalam. Aku duduk di atas alas empuk peninggalan Ben.
"Kau hebat karena sudah seperti Ben, dulu kata ayahku, ada pria masuk hutan mencoba hidup tapi pria itu selalu pulang pergi dan tak betah lama. Aku rasa Ben tak sehebat apa yang ditulisnya,"
"Kau tau tentang Ben?"
"Ayahku seorang penjelajah hutan My Lord. Tentu tau siapa saja manusia yang masuk hutannya," jawab binatang itu.
Aku menghela napas panjang. Zeus memintaku untuk kembali berbaring. Ia ikut tidur dan menaruh kepalanya dekat denganku. Aku pun terpejam dan mulai terlelap.
bersambung.
next?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Desilia Chisfia Lina
ini seperti tarsan cuma dia diasuh seorang srigala
2022-06-06
2