Pagi ini aku merasa begitu semangat. Entah kenapa semenjak bayang-bayang ayah dan ibuku muncul, aku merasa jika aku akan tau siapa diriku sebentar lagi.
"Uugghh! Bau sekali!"
Aku nyaris menutup hidung ketika mencium aroma tubuhku. Tidak mengingat semuanya, membuatku jadi seperti benar-benar orang gua.
"My Lord!"
"Pagi Zeus. Tidak adakah pakaian lain?" tanyaku pada hewan paling besar di sini.
Zeus itu tingginya melebihi tinggiku, aku pikir dia adalah seekor serigala raksasa yang pernah ada di dunia.
"Sebentar lagi aku pasti tumbuh besar, tidak mungkin aku telanjang seperti kalian kan?" ujarku lagi.
"Kami tidak telanjang," sahutnya.
"Oh ... pastinya, kau punya bulu di sekujur tubuhmu. Apa kau pikir aku punya bulu seperti dirimu nanti?" sindirku sinis.
Zeus tampak diam saja. Aku mendengkus kesal. Dari pada tak berbuat apapun. Aku mulai memiliki rencana sendiri.
"Kau mau apa My Lord!"
Zeus seperti tak setuju dengan apa yang kulakukan hari ini. Aku menatap malas binatang itu. Matanya memerah menahan amarah, dari tatapannya meminta aku menurutinya.
"Ck ... baiklah!" sahutku akhirnya sedikit takut.
'Bisa dimakan aku kalau tak menurutinya!' gumamku dalam hati sambil bergidik.
Kini aku kembali disuruh berlari. Entah apa maksudnya, tapi kuturuti saja.
Jika kemarin aku memforsir tenagaku di awal. Kali ini aku tak melakukannya, semua kulakukan secara bertahap.
"Loncati semua rintangan My Lord!"
Zeus mengejarku. Aku kini mulai ketakutan setengah mati. Dari berlari pelan, kini makin cepat. Tadinya hanya Zeus yang mengejar lambat laun serigala-serigala lain ikut mengejar.
"Zeus ... apa kau ingin membunuhku!?" teriakku bertanya.
Napasku mulai sesak. Mata pun berkunang-kunang. Aku ingat aku belum sarapan bahkan minum sedikitpun.
"Larilah My Lord!"
"Sial!" umpatku sambil terengah.
Tiba-tiba semua serigala menyalak garang. Aku makin dilanda ketakutan. Sekuat mungkin aku berlari dan melompati semua rintangan. Serigala-serigala itu dengan mudah menghindari semua rintangan. Aku mulai berpikir keras untuk memberinya perlawanan hingga mereka berhenti mengejarku.
"Ah ... itu dia!" seruku dalam hati.
Kini, aku berlari sambil memberikan penyerangan terhadap kawanan serigala. Entah itu dari dahan yang aku tarik dan tiba-tiba aku lepaskan. Berlari berputar dan mengecoh mereka hingga lemparan batu yang kuarahkan pada kumpulan serigala yang mengejarku.
"Hosh ... hosh ... hosh!"
Aku terengah, mataku masih buram dan tak melihat apa kawanan itu masih mengejarku atau tidak.
Perlahan, aku hentikan lariku dan menatap ke arah belakang sambil berjalan mundur. Aku tersenyum dengan dada naik turun. Tak satu pun serigala mengejarku. Aku mulai kegirangan dan lalu berputar ke arah sebenarnya hingga ....
"Aduh!" aku menabrak sesuatu dan membuatku terjatuh.
Ketika mengangkat kepala, sosok berbulu itu menatapku dengan pandangan entah. Aku hanya menggaruk kepala.
"Kenapa Zeus? Apa aku tak bisa memberikan perlawanan dalam pelarianku?" tanyaku datar.
Aku berdiri dan menepuk bokongku. Masih menetralkan degup jantung yang menggila dan napas yang terengah-engah.
"Aku tentu tak mau mati konyol dengan hanya berlari saja!" jelasku tanpa bersalah.
Aku kembali ke sungai membuka kembali semua baju yang mulai kotor dan bau. Aku bahkan jijik untuk memakainya lagi. Tapi, karena tak ada lagi pakaian yang dikenakan, aku hanya bisa pasrah.
Duduk terdiam sambil menatap langi yang tampak bersih dari kumpulan awan. Perlahan mencoba kembali mengingat dua bayangan yang kemarin datang dan tersenyum.
"Apakah kalian ayah dan ibuku?"
Aku usap air yang tiba-tiba meleleh dari sudut mata. Entah apa yang kurasakan sekarang, begitu sakit dan debaran yang berbeda.
"Apa ini namanya rindu?" tanyaku.
'Ayah ... hiks ... ibu ... hiks ... hiks ... huuuu ... uuu ... hiks ... hiks!"
Aku tak tahan untuk meluapkan emosi dan menangis sejadi-jadinya.
"Ayah ... huuuu ... uuu ... aku siapa!" teriakku kencang.
"Huuuu ... uuuu ... ibu .... ibu ... ibu ... huuu ... huuu ... hiks ... hiks ... ibu!"
Dan aku pun tak tau apa lagi yang terjadi, karena semua tiba-tiba gelap.
Entah berapa lama aku memejamkan mata. Kepala dan kelopak mataku terasa berat. Berusaha membukanya perlahan dan satu titik cahaya berubah menjadi banyak titik dan kini pandanganku mulai sempurna.
"Uugghh!"
Menatap sekeliling. Dinding batu yang sama, pelita yang sama.
"Tempat yang sama," gumamku.
"Grrrr!"
Aku menatap tatapan kelam yang menggeram padaku.
"Apa Zeus?" tanyaku malas.
"Manusia lemah!"
Aku berdecih, berusaha bangkit dan berdiri. Ternyata aku kembali memakai baju yang sama.
"Kau mau kemana!?" teriak Zeus marah.
"Bukankah aku manusia lemah!" teriakku. "Aku mau pulang! Aku yakin di luar sana ayah ibuku pasti mencariku!"
"Aku tak peduli dengan kehormatan kalian ... aku tak peduli dengan semua keamanan hutan ... aku tak peduli!" teriakku lagi.
Kali ini aku biarkan tetesan air mata mengalir di pipi. Aku sudah menyerah, aku lelah dan aku lapar.
Kulangkahkan kakiku keluar gua batu yang sudah seminggu ini aku tempati. Hari ternyata gelap, bertanda hari sudah malam.
"My Lord!"
Tak kupedulikan panggilan binatang berkaki empat itu. Tujuanku hanya satu, pergi dari kawanan yang tak berhati ini.
"My Lord, kembali!"
"Persetan!" teriakku tak peduli.
Kulangkahkan kaki entah ke mana, pikirku hanya satu yakni pergi sejauh-jauhnya.
"My Lord ... jangan pergi!"
Aku berhenti, menggelengkan kepala dan melanjutkan langkah.
"Aku mohon My Lord, jangan pergi ...."
Suara besar dan garang itu seperti putus asa. Aku menatap kumpulan hewan berbulu itu memandangku dengan segudang harapan besar. Mereka seperti menggantungkan masa depan mereka padaku.
"My Lord ... jangan pergi ... aku mohon,"
Suara Zeus begitu lirih dan penuh permohonan terdengar di telingaku. Air mataku tetap mengalir. Perlahan aku bersimpuh dan duduk lalu memeluk lututku.
"Hiks ... hiks!"
Aku tak kuat dan mulai menangis. Entah bagaimana, aku merasa sosok berbulu ada di dekatku.
"My Lord ...."
"Huuuu ... uuu ... hiks ... hiks ... hiks ... huaaaa ... aaaa ... Zeus ... aku merindukan ayahku Zeus ... huuuu ... uuuu ... aku merindukan ibuku ...!!"
Kupeluk hewan besar itu dan menangis kencang. Malam itu begitu sunyi dan menusuk hati, aku terus menangis dan memanggil ayah dan ibuku.
"Ayah ... aku ingin pulang ayah ... huuuu ... hiks ... hiks ... ibu ... ibu. huuuu ... uuu!!"
"My Lord ... tenanglah,"
Perlahan tangisku mereda. Aku tergugu dan mulai lelah. Sadar, dengan keadaan.
"Aku terikat di sini ... kemana aku kembali Zeus?" tanyaku masih sesenggukan.
"Hingga sekarang aku tak tahu siapa diriku bahkan namaku saja aku tidak ingat ... hiks!"
"My Lord ...."
"Zeus ...," aku menatap binatang bermata merah itu.
"Aku masih punya ayah kan?"
Zeus seperti mengangguk lemah.
"Aku punya ibu?" dia pun seperti mengangguk.
"Kembalilah ke dalam My Lord, malam sudah mulai dingin,"
Binatang itu menyurukkan kepalanya ke perutku. Perlahan, tubuhku sudah berada di atas tubuhnya, kupeluk erat leher besar Zeus dan merasakan kehangatan di sana.
"I still don't remember who I am Zeus"
Perlahan mataku pun memejam dan terlelap.
bersambung.
next?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
kutubuku
🤧🤧🤧
2022-06-02
2
Anita Barus
sedih juga ya ...
2022-05-28
2
Raihansri
sedih bacanya🥺😭
2022-05-27
2