Dua hari setelah kejadian itu. Zeus sepertinya lebih lembut dari sebelumnya. Aku pun lebih banyak diam dan mengikuti semua pelatihan yang entah untuk apa. Sudah dua minggu aku berlatih dengan berlari. Aku mulai terbiasa berlari bahkan kecepatan lariku stabil dari awal hingga akhir. Aku mulai bisa mengelola napas dan ritme jantungku.
Ketika sampai di gua, Zeus sudah ada di sana. Di atas alas tidur ada beberapa pakaian dan celana bahkan **********.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan ini?" tanyaku ingin tahu.
Zeus tak menjawab dan pergi dari sana begitu saja.
"Zeus!" panggilku.
Aku menggendikkan bahu tak peduli. Menatap dengan senang baju-baju itu.
"Akhirnya aku punya baju lain," monologku.
Pagi hari aku sudah bersiap. Zeus tak mengajakku berlatih, tapi menuju paling dalam hutan.
Mataku liar menatap pohon-pohon besar dan rindang. Burung-burung melompat ke sana kemari. Beberapa diantaranya membuat sarang yang hangat. Sebentar lagi musim dingin tiba, semua hewan berburu dan mengumpulkan buruan mereka.
"Ini lah yang harus kau jaga My Lord!"
Aku hanya mengedarkan pandangan melihat keindahan ini. Benar kata Zeus, aku harus menjaga kelestarian ini.
"Pohon ini sudah berusia lebih dari tiga abad, My Lord,"
Aku menatap sebatang pohon besar dan tinggi. Akar-akar yang bergelantungan mengingatkan ku pada sebuah film.
"Aakhh!" aku memijat kepalaku yang tiba-tiba melintas sebuah memori.
"My Lord?"
"Aku seperti mengingat sesuatu Zeus," ujarku.
"Kita kembali My Lord!"
Zeus mengajakku kembali ke pinggiran hutan. Aku melihat banyaknya kawanan serigala yang mengiring.
"Zeus ... mereka siapa? Kok sepertinya beda dengan kawananmu?" tanyaku.
"Mereka adalah kelompok lain My Lord," jawaban Zeus membuatku mengerutkan kening.
"Zeus memang ada berapa kelompok serigala, selain kau pasti ada ketuanya kan? Apa mereka juga memiliki tuan mereka sendiri seperti aku?" cecarku.
Zeus hanya diam, lalu ia tampak berlari meninggalkan aku. Tentu saja hal itu membuatku mengejarnya. Semakin lama lari binatang itu semakin kencang. Aku harus fokus pada arah larinya dan mempercepat kakiku.
"Zeus tunggu!' teriakku.
Aku nyaris kehilangan binatang besar itu. Kali ini aku tak peduli dengan apa yang kuinjak. Aku memilih melihat arah lari Zeus dibanding memperhatikan jalan yang kulalui.
Entah berapa lama aku mengejarnya, bahkan ada dahan yang tak bisa aku lompati dan terpaksa aku merangkak melewatinya. Hal itu membuatku kembali kehilangan Zeus.
Aku berusaha mencari jejak kakinya, mengendusi bau Zeus. Entah berapa lama aku mencari jejak binatang itu dan kini sampai di tempatku sendiri.
"Akhirnya!' ujarku lega.
"Kau berhasil My Lord!" aku menoleh dan tak menyahut perkataan binatang yang bulunya jauh lebih gelap di antara semuanya.
Aku memilih berjalan menuju sungai biasa. Kembali menangkap ikan dan membakarnya. Zeus tak banyak bicara begitu juga aku.
Usai makan, aku memilih pergi ke sebuah dataran lebih tinggi dengan hamparan rumput-rumput tebal dan lembut. Bintang bertaburan di atas, pijar Aurora berwarna tembaga dan ungu menandakan sebuah musim besar akan datang. Kubaringkan tubuh dengan melipat tangan di belakang kepala.
"My Lord!"
Aku hanya diam tak menyahuti panggilan Zeus. Aku lelah dan tak ingin mendengar apapun.
"Selama ini aku menurutimu Zeus. Tapi, aku merasa di sini aku bukanlah tuanmu seperti yang kau katakan, tapi aku merasa jadi budak yang harus menuruti semua perintah!"
"My Lord!"
"Apa yang kau harapkan dari anak usia delapan tahun Zeus. Tenagaku? Bahkan kau jauh lebih kuat dari aku. Otakku? Bahkan aku merasa kau jauh lebih pintar dari aku Zeus!"
"My Lord!"
"Hentikan sebutan itu Zeus!" bentakku kesal.
"Setiap hari hanya maumu yang kudengar Zeus ... tapi kau tak mau mendengarkan apa mauku!" teriakku mulai.
"Bahkan kau tak berusaha untuk mengingat apapun Zeus?"
"Lalu bagaimana aku bisa melindungimu dan semuanya, katakan Zeus ... katakan!"
Zeus hanya menatapku. Perlahan ia mendekatiku, napasnya yang panas menerpa wajahku.
"Aku akan menceritakan sebuah kejadian luar biasa sebelum ini My Lord. Maukah kau mendengarkannya?"
Aku menetapnya dengan dalam. Sebuah pengharapan besar di sana. Aku kembali merebahkan tubuhku dan menjadikan tangan sebagai bantal.
"Ceritakan lah aku akan mendengarkan," ujarku sambil menatap ribuan bintang.
Zeus mulai bercerita. Sebuah cerita tentang kesalahan besar yang percaya pada seorang manusia baik menurut mereka.
"Para ketua terdahulu bilang jika mereka datang membawa seekor sapi dan sengaja dilepas dengan melukai hewan itu,"
Kini aku memiringkan tubuh dan menopang kepala dengan tangan. Binatang itu duduk di sebelahku dengan kepala mendongak ke atas.
"Jadi kalian mengira manusia itu baik karena selama musim dingin memberi kalian makan?" tanyaku.
"Ya, sayangnya. Kebaikanya memiliki rencana terselubung," jawab binatang besar itu.
"Lalu apa niatnya terlaksana?"
"Ya, mereka berhasil membunuh Xeyla, rusa tercantik di hutan. Bahkan manusia itu berhadapan langsung dengan penguasa rimba, Zimba!"
"Zimba?!"
Aku merinding menyebut namanya. Begitu kuat performa binatang penguasa itu. Hingga hanya menyebut namanya saja aku seperti hendak ditelannya.
"Bhuma ketua paling kuat di antara kami harus mati karena tertembak. Lalu kami memecah menjadi empat kelompok, tapi hanya dua saja yang memiliki ketua," jelas Zeus.
Binatang besar itu berdiri. Bulan begitu bulat dan terang di langit. Zeus melolong di sana hingga dua kali. Aku berdiri di sisi binatang itu.
Terlihat jelas di bawah sana mata-mata sama dengan Zeus menatapku. Mereka saling bersahutan, seakan berkomunikasi satu dengan lainnya.
"Istirahatlah My Lord. Kita akan berlatih lagi besok. Zimba memperbolehkan kau berburu babi hutan dan makan besar untuk persiapan musim dingin," titah binatang itu.
Aku memilih menurut. Tentu saja, memang aku bisa apa, selain menurutinya. Masih banyak rahasia yang ditutupi oleh Zeus dan aku seperti belum layak untuk tau semuanya.
Ketika di dalam gua. Aku merebahkan tubuhku di sana. Mulai berpikir dengan semua apa yang Zeus hendak ungkapkan sebenarnya.
"Apa maksudnya adalah dia belum seratus persen percaya padaku?"
"Bukan, sepertinya bukan itu yang hendak ia katakan," ujarku bermonolog.
"Zeus mengatakan jika tidak semua manusia jahat dan merusak. Dengan melatihku, membuktikan jika manusia bisa diajak kerja sama!" pikiranku terbuka dan tercerahkan.
Zeus ingin semua kalangan hutan percaya, ada manusia yang bisa melindungi kelestarian hutan. Aku dilatih untuk kuat agar bisa melindunginya.
"Tapi, jika hanya melindungi tanpa adanya pengetahuan, bagaimana?" tanyaku lagi.
Otakku tak mampu berpikir banyak. Kejadian hari ini membuatku lelah terlebih, aku sempat marah pada ketua kawanan serigala ini.
"Selama ini aku hanya bersama Zeus. Lalu mana serigala yang awal bersamaku?"
Tiba-tiba aku mengingat sosok serigala yang pertama aku temui. Serigala itu tak ada di kawanan ini.
"Besok, akan kutanya ke mana dia pada Zeus!"
Aku merebahkan badan. Perlahan memejamkan mata dan aku pun terlelap.
Bersambung.
next?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Anita Barus
nggak melulu kisah itu tentang cinta dan asmara tapi ada cerita lain yang sangat menyentuh jiwa
2022-11-14
2
Desilia Chisfia Lina
lanjut
2022-05-29
3
Raihansri
lanjuut kak...
2022-05-28
2