Hari ini aku kembali berlatih. Tangan-tanganku mulai cepat dan memiliki gerak reflek tinggi. Zeus mulai melatih instingku dengan kondisi alam. Jadi aku bisa membedakan musim yang akan berganti nantinya.
"Terkadang alam memberi signal lewat bunyinya sendiri My Lord!" ujar Zeus ketika aku tengah melihat aliran sungai yang begitu tenang.
"Air begitu tenang Zeus, tapi kenapa tidak ada ikan?" tanyaku.
"Berarti itu tanda bahaya My Lord. Di bawah sana pasti ada arus deras," jawab binatang itu.
Aku mengangguk tanda mengerti lalu menghela napas panjang.
"Hari ini aku tak makan ikan," keluhku.
"Ikut aku My Lord!"
Zeus berdiri dan berjalan, aku pun mengikutinya. Kami mulai berlari saling mengejar satu dengan lainnya. Tentu kaki kecilku tak mampu mengimbangi larinya. Kurasa kami berlari cukup jauh dan ini adalah jalur baru. Di sana ada air terjun kecil dan ikan salmon melompat ke atas seakan ingin menentang arus.
"Ikan!" seruku.
"Graoor!" aku tiba-tiba terdiam.
"Zeus ... itu suara apa?" tanyaku lirih.
"Graoor!" suara itu makin keras.
Zeus tiba-tiba menyalak kuat. Dua binatang saling mengerang dan mengeluarkan suara paling keras. Aku membalik tubuhku, seekor beruang hitam besar tampak berdiri dengan mengaung kan suara keras begitu juga Zeus. Tiba-tiba aku berteriak.
"Haaa!" dua binatang terdiam.
Keduanya menoleh menatapku. Aku merentangkan tanganku. Kembali aku berteriak pada beruang hitam itu. Binatang itu langsung menurunkan kaki dan memandangiku.
"Pergi!" teriakku mengusirnya.
Binatang itu pun berlalu dan menoleh ke belakang. Aku terus menatapnya, entah kenapa tiba-tiba hatiku iba. Ikan salmon merupakan makanan binatang itu. Mungkin ia merasa aku merebut miliknya.
"Jika kau mau, kita bisa mengambilnya bersama tanpa saling mengganggu!" teriakku.
Binatang itu menoleh, sepertinya ingin memastikan kesungguhan ku.
"My Lord!" peringat Zeus.
"Kau bilang aku harus mempercayai jika aku adalah manusia yang tidak akan mengganggu apa yang menjadi milik semua hewan hutan kan Zeus?"
"My Lord!"
"Binatang menyerang karena merasa manusia mengancamnya, mereka menyerang karena manusia merasa semua hewan itu bisa dilatih," jawabku.
"Aku yakin Boop tak akan menyerangku!" tekanku yakin.
"Boop?" Zeus seperti bertanya padaku.
"Ya, aku memberi nama dia Boop!"
Aku kembali ke air terjun di sana, banyak sekali ikan melompat. Tiba-tiba di sisiku beruang itu berdiri. Ia juga menangkap ikan-ikan yang melompat. Tentu Boop dengan mudah menangkapnya. Sedang aku nyaris saja terpeleset jika beruang yang kuberi nama Boop itu tak menahanku.
Tiga ekor ikan ada di tanganku, semua itu hasil tangkapan Boop.
"Terima kasih Boop!" teriakku ketika hewan itu menjauh.
Zeus menatapku begitu dalam. Aku hanya mengendikkan bahu dan berjalan membawa ikan-ikan itu. Kakiku sedikit pincang karena nyaris terpeleset tadi, sepertinya sedikit terkilir.
"Naik ke punggungku My Lord!"
"Tidak Zeus. Kakiku harus kuat berjalan sejauh apapun itu," tolakku.
"Tapi aku memaksa!"
Binatang itu menyerukkan kepalanya ke bawah dan kini aku sudah berada di punggungnya. Hewan itu berjalan perlahan, aku melihat kawanan serigala yang bukan dari kawanan Zeus. Aku melambaikan tangan.
"Jika kalian mau berburu ke arah tenggara tempat jebakan itu berada!" teriakku.
"Tapi hati-hatilah, jangan sampai kalian kena jebakan juga!" lanjutku memperingati.
Serigala-serigala itu mulai berlari menuju arah yang kutunjuk. Waktu memang sangat cepat berlalu, sore sudah menjelang. Bertanda para hewan mulai pulang ke kandang.
"My Lord, apa kau tak takut manusia datang ke mari karena melihat jebakannya malah mendapati bangkai binatang yang nyaris habis dimakan?"
"Tidak, mereka malah akan takut memasang jebakan lebih banyak," jawabku.
"Manusia itu licik My Lord, mereka akan berusaha menangkap siapa yang memakan binatang yang masuk perangkap mereka," terang binatang besar ini.
"Aku tau. Tapi mereka tak pernah memasang perangkap baru, manusia itu akan semakin penasaran, ada binatang yang terjerat malah habis dimakan binatang lain," sahutku.
Entah berapa lama aku menaiki punggung Zeus. Gua tempatku tinggal sudah terlihat. Zeus mempercepat langkahnya, aku pun turun ketika binatang itu merendahkan tubuhnya.
"Thanks Zeus!"
Aku hendak masuk ke dalam gua. Tiba-tiba terdengar suara serigala menyalak keras. Zeus membubarkan mereka.
"Guk, guk, guk, guk!!!"
Semakin lama semakin banyak serigala seperti panik dan cemas. Mereka dan Zeus saling berkomunikasi lewat gonggongan. Aku yang tak mengerti meletakkan ikan-ikan yang kubawa ke tanah.
"Zeus ada apa?" tanyaku penasaran.
Zeus tak menjawab. Ia terus ikut menyenggrang marah pada salah satu serigala yang hendak mendekatiku. Bahkan tak segan Zeus membanting mereka dengan keras hingga terkaing-kaing.
"Zeus ada apa?!" teriakku lagi makin penasaran.
Tak biasa-biasanya Zeus seperti ini pada kawanan lain. Binatang besar itu seperti menolak keinginan mereka untuk mendekatiku. Aku mulai berpikir, di sini instingku harus bekerja, aku mencoba memahami kegelisahan para binatang berkaki empat itu. Melihat tatapannya yang seperti memohon pada Zeus. Aku menduga jika sesuatu terjadi pada salah satu di antara kawanan itu.
Aku menoleh pada jalur menuju jalan perangkap. Di mana banyak pohon diberi tanda. Aku menduga jika salah satu kawanan mereka terkena oleh jebakan yang dibuat manusia.
Aku segera menuju jalan itu walau terpincang. Zeus menghalangiku.
"My Lord!"
Tatapan merah dan marah kembali kudapat. Ia seperti akan menerkamku jika aku meneruskan langkah.
"Sesuatu terjadi di sana Zeus!" teriakku. "Dan mereka butuh bantuanku!"
"Kembali My Lord!" sebuah perintah tegas keluar dari mulut binatang itu.
"Tidak!" tolakku, "aku harus menolongnya!"
Aku melewati binatang berbulu paling gelap diantara semuanya. Walau tak segelap bulu Zoor tapi tubuh Zeus jauh lebih besar dibanding rivalnya itu.
"My Lord!"
Kali ini tiba-tiba tubuhku terangkat. Zeus mencengkram celanaku dengan gigi-giginya dan membawaku ke dalam gua.
semua serigala mulai menyalak. Mereka menyerang Zeus tiba-tiba. Aku terhempas begitu saja ke tanah dengan kerasnya.
"Aarrghh!" teriakku kesakitan.
Zeus makin marah pada kawanan yang tiba-tiba terdiam melihatku terhempas. Ia menyerang salah satu kawanan paling besar. Binatang itu mulai membanting binatang-binatang itu satu persatu. Semua terkaing-kaing.
"Berhenti!" teriakku.
Zeus nyaris merobek perut salah satu kawanan yang menyerangnya. Semua binatang berhenti termasuk Zeus.
"Tolong berhenti!" pintaku sambil mengernyit kesakitan.
Aku berdiri dan menatap kawanan yang terluka akibat serangan Zeus.
"Katakan sebenarnya apa yang terjadi?"
"My Lord ... Zoor terkena perangkap!" salah satu binatang itu akhirnya bersuara.
Aku cukup terkejut dan menatap Zeus yang hanya berdiri di sana. Pertikaian ini harus ada jalan tengahnya. Zeus sepertinya ingin kelompoknya menjadi kuat karena adanya diriku.
"Aku akan menolong Zoor, Zeus!' terangku.
Aku melangkah ke menuju jalur itu. Dengan langkah terpincang dan tubuh sakit tak terkira. Sepanjang berjalan aku merintih menahan sakit. Sama pada semua binatang yang juga terpincang. Zeus mengikutiku.
Di sana Zoor tampak berbaring tak berdaya. Aku langsung iba dan mendekatinya, ia langsung seperti mau berdiri.
"Jangan bergerak Zoor, aku akan melepas jerat yang mengikat kakimu!"
bersambung.
Zoor mau nggak ditolong ya?
next?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
ꪶꫝNOVI HI
lanjut thor
2022-06-02
2
kutubuku
lanjutt
2022-06-02
1
Desilia Chisfia Lina
kalau zoor ngak mau di tolong berarti dia bodoh
2022-06-02
2