POV pemeran utama.
Aku menatap padang luas, di sana berdiri kumpulan serigala. Mereka menatapku seakan-akan menuntut sesuatu.
"My Lord!" seru mereka yang membuatku kaget setengah mati.
"Kami menggantungkan harapan padamu, tolong jangan kecewakan kami!' seru mereka lagi.
Angin terasa menyapu wajahku, begitu lembut dan syahdu, kembali menatap mungkin ratusan serigala yang seperti membungkuk hormat padaku.
"Kenapa aku? Aku hanya manusia biasa, bahkan usiaku masih delapan tahun!"
Aku memang tak bisa apa-apa. Bahkan aku juga tak tau siapa sebenarnya diriku sekarang.
"My Lord, kami percaya jika tidak semua manusia berhati culas. Kami percaya jika My Lord adalah salah satu manusia tak culas itu!"
"My Lord, kembalikan kedudukan kami di dalam hutan. Kukuhkan diri yang mulia sebagai junjungan yang melindungi seluruh lapisan hutan!"
"Zeus ... apa kau serius aku bisa mengembalikan kehormatan kalian?" tanyaku.
"Benar My Lord. Kau adalah manusia pilihan itu!" Zeus menjawab pertanyaanku.
Aku menatap dua tanganku, entah berasal dari mana seluruh kekuatan itu mulai aku rasakan sekarang.
"Kita mulai pelatihan sekarang!" Zeus mengomando seluruh serigala.
"Lari kejar dia My Lord!" titahnya padaku.
Aku berlari mengejar salah satu serigala. Kakiku yang baru saja merasakan betapa kerasnya tanah yang kupijak membuatku meringis menahan sakit.
"Jangan menangis dan manja!" bentak Zeus murka.
Aku menahan semuanya. Mencoba lebih fokus, dan terus berlari.
Perlahan namun pasti, kecepatan lariku mulai menurun. Napasku terasa sesak, dada serasa mau meledak. Aku tak bisa mengendalikan semuanya. Perlahan pandanganku buram.
"Lari terus My Lord ... lari!"
Aku masih mendengar teriakan Zeus. Angin mulai menipis, dadaku mulai sesak, kakiku terasa mau terlepas.
"Jangan pedulikan rasa sakit, tapi pedulikan jika semua hutan hancur di tangan manusia sepertimu!'
Lagi-lagi Zeus meneriaki aku. Perlahan, aku merasakan tenaga lain yang bangkit dari dalam sana. Entah kekuatan dari mana, kakiku terus berlari menerjang apapun yang ada, entah itu semak belukar, ranting kering atau batu kerikil yang tajam.
"Ayah ... ibu?"
Aku seperti melihat sosok ayah ibuku. Bayangan-bayangan dua orang yang sepertinya aku kenal, mulai tersenyum padaku seperti memberi semangat.
Aku mengejar dua sosok yang sepertinya menjauh. Kakiku tak lagi merasa sakit. Aku memaksakan diri hingga tiba-tiba semua gelap dan aku tak sadarkan diri.
Entah berapa lama aku terbangun. Merasakan kakiku kebas, dan seluruh tubuhku remuk seperti habis dipukuli.
"Uuhhh!" rintihku sakit.
Perlahan semua cahaya masuk dan aku bisa melihat semuanya dengan jelas.
"My Lord kau telah sadar?" aku menoleh asal suara.
Sebuah ruangan seperti gua. Entah dari mana para binatang itu menyiapkan semuanya. Dari alas tidur yang empuk, bantal bulu angsa dan cawan-cawan kuningan itu. Bau harum seperti aroma therapy menenangkan pikiranku.
"Apa yang terjadi padaku?" tanyaku.
"My Lord pingsan setelah berlari selama tiga jam," aku menatap Zeus tak percaya jawabannya.
"Jangan bercanda Zeus!" sanggahku menggeleng.
"Lihat kakimu My Lord!" pintanya.
Aku menurunkan pandanganku ke bawah. Kakiku diperban, dan seperti mulai kesemutan. Ada beberapa titik merah dan sepertinya membengkak.
"Coba gerakan, My Lord!'
Aku menggerakkan kakiku sesuai permintaan Zeus.
"Uughh sakit!" keluhku.
"Kaki My Lord banyak luka dan tertusuk duri. My Lord memforsir tenaga," aku mengangguk setuju.
"My Lord sudah tak sadarkan diri selama tiga hari!"
"Apa?" pekikku tak percaya laporannya.
"Benar My Lord. Sekarang mungkin sebaiknya anda beristirahat!"
Aku menatap Zeus yang seperti berjalan sambil membungkuk. Suasana mulai tenang dan tak sepanas ketika Zeus ada di sini.
Lagi-lagi buah-buahan segar berada di sisi kiriku. Aku hanya menghela napas panjang, berpikir dari mana semua tenaga jika hanya makan buah.
"Ck ... mereka kan serigala, masa iya bisa memasak daging yang mereka konsumsi!" dumalku pada diri sendiri.
Aku mencoba menggerakkan badan dan duduk di dinding gua yang datar. Mengambil salah satu buah dan memakannya.
Setelah merasa kenyang. Aku kembali merebahkan tubuhku. Perlahan mencoba mengingat semuanya sebelum aku diculik oleh hewan buas berkaki empat ini.
"Jika memang aku ditakdirkan untuk melindungi seluruh lapisan hutan. Maka akan kulakukan," monologku.
Perlahan mataku pun mulai memejam.
Entah berapa lama aku tertidur, ketika bangun semua rasa sakit ditubuhku mulai hilang.
"My Lord sudah waktunya kembali berlatih!"
"Zeus ... kau memaksaku terus berlatih tapi kau tak memperdulikan asupanku!" keluhku lagi.
"My Lord, kau bisa berburu?"
"Aku pelindung hutan, kenapa kau suruh malah berburu?!" tanyaku sengit.
"My Lord, kami tidak tau kebutuhan manusia, jadi mestinya My Lord sendiri yang mengusahakannya!"
Aku berdecak. Usiaku delapan tahun. Memang apa tauku! Aku benar-benar kesal sendiri.
"Kalau begitu aku coba untuk berkebun!"
"Apa itu?"
"Ya seperti menanam umbi-umbian atau berladang menanam gandum misalnya!" sahutku walau aku tak tau bagaimana melakukannya.
Aku pun berdiri, semua bebat di kaki hilang, bahkan tidak lagi bengkak.
"Bagaimana kau mengobati lukaku?" tanyaku bingung.
Zeus hanya diam. Sepertinya aku memang tak perlu tau akan hal itu, seperti semua barang yang aku tempati di gua ini.
"Apa di sini ada sungai?" tanyaku lagi.
"Ada di ujung sana, My Lord!"
Aku menunjuk arahnya. Seekor serigala menyalak di sebaliknya. Aku pun mengikuti serigala yang memanduku ke sungai. Di sana aku berenang dan membersihkan diri dengan tubuh telanjang.
Betapa segarnya. Walau aku merasa kurang dan tubuhku tidak wangi. Seingatku, jika habis mandi itu wangi.
"Eh, ada ikan!" seruku girang.
Aku perlahan mengendap dengan ancang-ancang ingin menangkap. Lalu.
"Hap! Ah ... sial!' umpatku kesal.
Aku mulai berpikir bagaimana jika aku menjaringnya dengan bajuku.
Tiba-tiba ide itu terlintas begitu saja di benakku. Lalu dengan segara aku ambil bajuku. Persetan, aku tinggal mengeringkannya lagi.
"Nah, itu kumpulan ikan!" seruku kembali girang dalam hati.
Dengan perlahan, aku mulai membentangkan bajuku dan berusaha menangkap ikan.
"Hahaha ... aku berhasil!' teriakku girang ketika dua ekor ikan berhasil kutangkap.
Aku kembali ke kawanan serigala dengan bertelanjang dada. Menumpuk ranting kering yang telah kukumpulkan tadi.
"Sekarang bagaimana bikin api?" tanyaku.
Aku menatap Zeus meminta pertolongannya. Hewan itu hanya menatapku. Aku berpikir keras.
"Ah di dalam kan ada api!" seruku.
Aku ke dalam mengambil pelita dan membawanya perlahan dan menutupnya sedemikian rupa agar angin tak bertiup dan memandamkannya.
Kucoba membakar belukar kering, dan berhasil. Api menyala besar.
"Ah ... manis!" seruku ketika memakan ikan yang kutangkap.
Seperti ada yang kurang, tapi perutku yang lapar tak perduli rasa. Dua ekor ikan habis aku makan.
Pluk! Sesuatu dilempar ke ara kobaran api. Aku melihat sebuah ubi, lalu menatap siapa yang melempar ubi itu ke dalam.
Zeus hanya menatapku datar. Aku pun tersenyum.
"Thanks Zeus!"
Lalu dengan kayu, aku membolak-balik ubi itu. Lalu menyingkirkannya dari sana.
"Panas!" pekikku ketika membelahnya.
Lalu setelah sedikit hangat, satu buah ubi bakar itu masuk ke dalam perutku.
"Kalau begitu, aku akan buat busur dan anak panah besok!" seruku girang.
bersambung.
next?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Desilia Chisfia Lina
thor ini sebenarnya siapa sih
2022-05-26
3
Ocha Lanuru
thor makan nya apa seh????
kq novel nya bgs² ....
rata² yg ku bc psti alurnya bgs ...
2022-05-26
1
kutubuku
lanjuttt
2022-05-26
1