Hari terus berganti, sudah nyaris satu bulan aku berlatih. Kini waktu sudah masuk musim dingin. Zeus bilang akan ada badai salju. Dia binatang tentu dia tau musim dan badai apa yang akan terjadi di masa akan datang.
"Semua makanan dan minuman telah dipersiapkan My Lord!"
Aku menatap banyaknya buah-buahan di sudut gua. Kemarin aku berhasil membunuh satu ekor babi dan memotong-motongnya. Sayang, tadi beberapa heyna mencurinya dan daging itu sudah habis tak tersisa.
"Aku ingin berburu satu kali lagi Zeus!"
"Tidak ada lagi hewan yang keluar My Lord!"
Jawaban Zeus membuat aku menghela napas panjang. Sampai dua hingga tiga bulan mendatang, makananku hanya buah.
"Apa aku tak bisa ke kota dekat sini dan membeli beberapa makanan?" tanyaku..
"Beli dengan apa My Lord?" pertanyaan Zeus membuatku makin lemas.
"Apa kau tau di mana rumahku? Di sana pasti ada barang yang bisa ditukar dengan makanan?!" ujarku.
Zeus berdiri dan keluar gua. Mata merahnya menatap padaku.
"Selamat istirahat My Lord!"
Hewan itu pun pergi. Kekesalanku memuncak. Sebegitu tak percayakah hewan itu pada manusia.
"Kamu nggak percaya tapi kau menggantungkan hidupmu pada anak delapan tahun!" teriakku.
Aku mencoba keluar dari ruangan batu itu. Baru saja menyembulkan kepalaku, nuansa putih sudah mulai menyelimuti seluruh dataran. Bahkan pucuk pohon juga tertutup salju.
Pintu gua sedikit unik. Agak sedikit menyerong dan menuju pintu gua aku harus berbelok hingga angin dari luar tak langsung masuk ke dalam jadi aku tak khawatir jika badai salju menerpa.
"Ck ... binatang sialan. Dia meninggalkan aku!" runtukku kesal.
Kembali ke dalam gua. Dari suasana dingin menjadi hangat. Perapian besar telah dinyalakan.
"Membosankan!" lagi-lagi aku bersungut.
Duduk di alas tidur yang begitu nyaman. Kurebahkan badan, menyelimuti seluruh tubuh dengan selimut tebal. Entah dari mana Zeus mendapatkan ini. Aku yakin, ada manusia lain yang bekerja sama dengan binatang itu.
"Jika tidak, dari mana semua barang-barang ini?!" tanyaku dalam hati.
"Kenapa bukan orang itu saja yang menjadi manusia pilihan?" racauku lagi-lagi bermonolog.
Perlahan aku memejamkan mata. Berusaha menutup mata. Dua wajah dengan senyum yang sama lagi-lagi muncul di ingatanku.
"Sam ...."
Aku mengerjap dan terkejut mendengar suara itu. Melihat sekeliling. Riuh bunyi udara di luar begitu terdengar jelas.
"Mungkin itu suara angin," gumamku.
Kembali memejamkan mata. Satu kilas memori kembali datang kali ini sebuah benda yang menayangkan sesuatu.
"Kucing mengejar tikus? Kucing yang selalu sial karena tikus yang pintar?"
Musik terdengar lalu tayangan itu kembali muncul. Aku ingat aku tertawa melihat bagaimana kesialan kucing yang tiba-tiba terlindas truk tapi tak mati, tubuhnya hanya gepeng. Atau kucing yang meledak jadi abu, atau terbentur sesuatu dan tubuhnya retak lalu pecah satu persatu.
"Hahaha!" tawaku tiba-tiba hingga membuatku kaget sendiri.
"Apa jangan-jangan aku sudah gila?" tanyaku mulai takut.
"Zeus!" panggilku.
"Zeus!" kembali aku memanggil binatang itu dengan keras.
Satu menit, dua menit. Kupastikan binatang itu tak datang. Hanya bunyi gemuruh angin dari luar bertanda badai datang.
"Zeus ... aku takut," cicitku.
Aku meringkuk dan memeluk lutut. Menenggelamkan wajah pada lekukan lutut.
Lagi-lagi bayang-bayang itu muncul. Senyum seorang pria yang begitu hangat, tatapan bangga ia layangkan padaku.
"Come here son!" ujarnya lalu merentangkan tangan.
Aku berlari dan ia mengangkat ku tinggi-tinggi, aku begitu tertawa lepas.
"Dad ... turunkan aku!" pekikku kegirangan.
"Dad?" tiba-tiba aku menghentikan lintasan memory.
"Daddy!" panggilku.
Suara gemuruh makin kencang, kali ini disertai suara petir menyambar. Sepertinya badai ini begitu dahsyat. Bahkan aku mendengar suara ranting pohon yang berbenturan satu dengan lainnya.
"Zeus ... aku benar-benar takut ... hiks!"
Kali ini aku selimuti seluruh tubuh dan berusaha untuk tak mengingat kembali memori yang melintas.
"Jangan berpikir ... jangan berpikir!"
Tapi bayangan itu melintas lagi. Kali ini lebih parah. Sebuah kecupan hangat diberikan pada pria dan wanita yang sama.
"We love you son!" ujar sang pria.
"I love you too all," sahutku.
"Mom, maukah memelukku hingga tertidur?"
"Tentu sayang," ujar wanita itu.
Aku ingat sekali semua peristiwa itu. Pelukannya yang hangat. Pandangan penuh kebanggaan dan tatapan tegas ketika aku melakukan kesalahan.
"Mom ... dad?"
Ingatan itu lenyap ketika aku sadar. Kubuka kain yang menyelimuti. Suasana masih sama. Angin kencang meniup terkadang petir menggelegar terdengar. Bunyi dahan pohon yang patah. Sepertinya, ada salah satu dahan kena sambaran petir itu.
Perutku yang lapar membuatku memutuskan memakan salah satu buah yang ada di sudut gua. Dua buah apel masuk dalam perutku. Terasa belum kenyang, aku memutuskan membakar dua buah ketela. Kini barulah perutku kenyang.
Berlari-lari kecil di tempat agar suhu tubuhku sedikit panas. Terasa lelah, aku meminum sedikit air dan kembali merebahkan diri. Lagi-lagi lintasan memory kembali datang di ingatanku.
"Ini perkenalkan putraku, Sam ... Samuel Patrick Lockhart," ujar pria yang menatapku bangga.
"Halo Sam, panggil aku Uncle Nick!" ujar pria itu memperkenalkan diri.
Aku hanya mengangguk. Menatap cermin besar di sana. Pakaian formal dengan bahan sutra terbaik kukenakan warnanya senada dengan pria yang selalu memujaku di setiap pembicaraannya.
"Tidak, aku tak akan menambah putra lain, karena tak ingin ada perebutan kekuasaan nantinya!" ujar pria itu tegas lalu menatapku dan memberikan keyakinan, jika aku adalah satu-satunya.
Satu hidangan mewah tersedia di meja makan. Bebek panggang. Irisan daging domba yang dimasak menjadi steak lembut. Belum lagi kudapan seperti puding, es krim dan buah strawberry.
"Biar daddy potongkan daging-daging itu son!" ujar pria itu lalu memotong daging di piringku.
"Kau terlalu memanjakannya Tuan Lockhart," ujar pria yang bernama Nick tadi.
Hal itu membuatku sedikit kesal. Jika memang dia iri, kenapa tak jadi anak-anak saja!
"Kau iri Nick!" sambar pria yang kuyakini adalah ayahku.
Aku tersenyum padanya. Ia tetap menatapku penuh kebanggaan. Di sana pria bernama Nick itu hanya tertawa.
"Menikahlah dan punya anak. Kau akan tau bagaimana rasanya menjadi seorang ayah," ujar ayahku lalu kembali menatapku.
"Ya ... ya ... ya ... kau bisa saja menyindir seorang single sepertiku Tuan Lockhart," kekehnya.
Ayahku menggandengku dan mengajak pulang. Entah bagaimana aku sudah berada di sebuah hunian mewah tiga lantai. Mobil-mobil berjejer dengan warna mengkilat dengan banyak pria berpakaian serba hitam membungkuk hormat padaku juga ayah.
"Selamat datang tuan!"
"Sayang kalian sudah pulang?' sebuah suara lembut terdengar dari dapur. Seorang wanita cantik menyambut kami berdua. Ayah langsung memeluk dan mencium bibirnya dengan cepat hingga rona merah langsung terlihat.
"Ah ... cantik sekali," pujiku.
"Baby, kau juga tampan putraku," sahutnya memujiku balik.
Wajahku ia belai dengan tangannya yang sehalus sutra bahkan wanginya begitu membuatku tenang. Wanita itu memelukku hangat.
"Mommy ... i miss you so much," gumamku lirih tanpa sadar.
Aku membuka mata. Masih di tempat yang sama, tak ada lagi riuh suara angin dan petir terdengar tanda badai sudah berhenti.
"I'm still alone ... but now i know my name ... my name is Sam ... Samuel Patrick Lockhart!"
bersambung.
next?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Anita Barus
keren
2022-11-15
1
Raihansri
boleh saran gak kak...kata2 aku(samuel patrick lockhart) di ganti pakai nama aja biar bacanya gak begitu kaku🙂
2022-05-30
3
Desilia Chisfia Lina
lanjut thor
2022-05-29
2