Aku memandang hamparan hijau di depanku, banyak hewan berlarian ke sana kemari sambil kembali berburu makanan. Musim dingin agak sedikit panjang tahun ini. Aku keluar gua setelah membersihkan sisa-sisa salju di depan pintu gua.
"Mana Zeus, tidak seperti biasanya dia belum datang?" gumamku heran.
Bahkan kawanan binatang yang biasanya selalu melihatku dari kejauhan, tak tampak satu pun batang hidungnya. Aku pun acuh, sebaiknya melatih diri dan kembali berburu. Kali ini aku tau bagaimana cara memasak jauh lebih enak. Di hutan pasti banyak pohon-pohon bumbu yang tumbuh, seperti jahe, lada atau apa pun itu. Ingatanku tentang pelajaran membuatku makin pintar. Satu hal yang aku belum tau, di mana rumahku berada.
Berjalan mengitari pinggir hutan. Berusaha mengingat bentuk dan baunya. Aku menemukan pohon tomat, paprika, jahe yang tumbuh liar di pinggiran hutan.
"Jika mengingat apa yang kupakai dan kupelajari sepertinya aku anak orang kaya, aku belajar tentang management dan pengaturan bahkan pengolahan tanah juga pertanian," monologku.
Mencabut beberapa pohon bumbu hingga akarnya. Yang belum kutemukan adalah pohon yang sudah membuat makanan jadi asin selain membubuhkan garam.
Setelah menemukan apa yang kucari. Aku kembali ke tempat di mana aku tinggal. Mencari lahan sedikit luas dan mengambil batu tajam untuk melubangi tanah dengan jarak.
"Semoga itu tumbuh dan aku tak perlu jauh-jauh pergi," gumamku.
"My Lord!"
"Sial kau Zeus!" teriakku kaget setengah mati.
Kutatap mata merah yang memandangku entah. Aku tak peduli. Otakku kini mulai bisa berpikir apa yang harus kulakukan.
"Apa yang kau lakukan My Lord?"
"Bertahan hidup," jawabku tak mau menggubris binatang itu.
Aku lewati saja Zeus. Mengolah bumbu yang aku ambil dan menjadikannya bubuk. Zeus terus memandangiku tanpa lagi bertanya apa yang kulakukan.
"My Lord, kita harus berlatih!" ujarnya dengan embusan napas keras.
Aku terus menumbuki jahe hingga halus. Terus dan terus.
"My Lord kita harus ...."
"Cukup Zeus!" teriakku.
"Aku ini manusia pilihan kan?" tanyaku dengan berkacak pinggang.
Dadaku naik turun karena begitu marah pada binatang ini.
"Aku tau dan sadar jika kau binatang. Makanya kau tak peduli, karena anggapanmu aku sama denganmu!" kembali aku berteriak.
"Kau tak peduli apa aku sudah makan atau belum pagi ini, apa aku baik-baik saja setelah badai tiga hari kemarin. Apa aku terpenuhi kebutuhannya ...."
"Kau baik-baik My Lord!" sambar binatang itu.
Aku ternganga. Sungguh, apa memang aku terlalu bodoh agar binatang ini sedikit memiliki empati terhadapku. Perutku sudah panas tiga hari lalu karena terlalu banyak makan buah dan umbi-umbian. Aku belum mengeluarkan kotoran yang mestinya keluar dari perutku ini. Bahkan aku menahan air seniku sendiri agar tak membuat kotor tempat tinggalku.
"Aku manusia Zeus!"
"Ya, aku tau itu My Lord!" sahut binatang itu membuatku makin geram..
"Manusia bukan sepertimu yang bisa buang air seni di sembarang tempat atau buang air besar di manapun ia bisa!" teriakku.
"Lihat perutku!" tunjukku pada bagian tubuh yang mulai membuncit dan keras.
"Selama nyaris tiga bulan aku tak buang apapun kotoran dari perut atau kantung kemih, dan kau bilang aku tak apa-apa?" desisku bertanya.
Zeus diam. Aku melempar batu yang kugenggam dan langsung masuk ke dalam tanah tanpa aku sadari.
Aku pergi dari hadapan binatang besar itu. Beberapa kawanan mulai terlihat, sebagian mulai saling mengejar satu sama lain bahkan tak lama ada perkelahian.
Aku mencari buah yang bisa membuang semua kotoran di perutku ini.
"My Lord kita harus ...."
"Diam kau Zeus! Kau tau apa yang kurasakan sekarang? Perutku panas! Namun jika kau mau aku mati cepat. Baik ... aku menurut!"
Lalu aku berlari tanpa diminta oleh binatang kejam itu. Aku tak peduli dengan rasa sakit yang mulai melilit perutku. Aku terus berlari, menganggap semua seperti di film. Para tokohnya tak buang air seni dan pup. Aku terus berlari hingga keringat dingin keluar, seluruh tubuhku gemetar tiba-tiba. Aku tak pedulikan diri. Jika memang aku mati maka mati lah, dan bisa langsung bertemu ayah dan ibuku di akhirat.
"My Lord!" panggilan Zeus tak aku pedulikan.
Aku terus berlari hingga terengah-engah.
"Hos ... hos ... hos ...!!"
"My Lord!"
"Huek!?!" aku muntah tiba-tiba dan menghentikan lariku.
"My Lord!"
"Huek!" aku terus muntah dan mengeluarkan semua apa yang ada di perut.
"Hah ... hah ... hah!!" napasku tak beraturan.
Zeus mendekatiku dan menempelkan wajahnya di pipiku.
"My Lord, ayo istirahat," ajaknya.
"Tidak, kau ingin aku mati kan? Maka kau akan dapatkan mayatku, lalu kau bisa memakannya bersama kawan-kawanmu!" tolakku.
Ku coba berdiri walau mata berkunang, perutku sangat sakit melilit.
"Uughh!" erangku tertahan
"My Lord, cukup ... aku mengerti ... aku mohon," pinta binatang itu menghadangku.
"Aku mohon ... berhenti,"
Wajah Zeus hendak menempel pada wajahku. Aku langsung berpaling dengan mata sudah menganak sungai.
"My Lord," panggilnya.
Perutku makin melilit dan sakit, aku menekan bagian tubuhku itu agar rasa sakit sedikit berkurang.
"My Lord," panggilnya.
"Aku perlu ke toilet!"
Aku berlari, salah satu serigala menyalak seakan memberitahu untuk mengikutinya, aku pun berlari menuju arah yang ia tunjuk. Di sebuah muara dengan arus deras. Di sana aku keluarkan semua isi kotoran di perutku. Perutku lega, walau masih terasa melilit. Ketika keluar aku pun langsung tak sadarkan diri.
"Uuhhh!" aku menggeliat.
Mataku mengerjap, kesadaranku mulai penuh. Masih di tempat yang sama. Aku hanya menghela napas panjang. Mencoba bangkit tapi perutku masih terasa kram.
"Aarrghh!" erangku kesakitan.
"My Lord,"
Aku menatap pada binatang yang suaranya menjadi sangat lembut padaku. Kutautkan alisku menjadi satu karena heran dengan nadanya.
"Apa yang kau rasakan sekarang, My Lord?" aku menghela napas.
"Perutku masih kram," jawabku jujur.
"My Lord, maafkan aku ...," ujar hewan itu lalu seperti membungkuk menyembah.
"Sudah lah Zeus, kau binatang. Tentu kau memang tak memiliki empati terlebih aku manusia," sahutku dengan tatapan menerawang.
"Tidak My Lord. Aku salah di sini, terlalu memaksamu,"
Aku hanya diam tanpa menatapnya. Hingga ketika napas panasnya menerpa wajahku.
"My Lord ... Samuel Patrick Lockhart," panggilnya.
Aku langsung menatap matanya yang tak lagi merah. Ia mengenaliku tapi selama ini dia diam.
"Kau ... tau namaku?" mataku mulai terasa berat, satu tetes air menetes di sana.
"Selama ini kau tau dan kau diam Zeus!" teriakku.
"My Lord," panggilnya lagi dengan nada pelan.
"Pergilah Zeus. Biarkan aku sendiri," usirku.
"My Lord,"
"Pergi ...."
Aku tak mau melihatnya, wajahku masih menatap dinding batu yang mendadak dingin. Kepala Zeus menyuruk di dadaku.
"My Lord," panggilnya lagi.
"Aku benar-benar tak bisa kehilanganmu, kau adalah masa depan kami My Lord," ujarnya penuh dengan permohonan.
bersambung.
next?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
mei
menganak sungai
2022-09-23
1
kutubuku
sam anak sultan ternyata🧐
2022-06-02
1
Desilia Chisfia Lina
oh gitu y flasback samuel
2022-05-30
2