Pagi hari aku bangun dengan tubuh segar. Hidup terbiasa menjadi orang gua, membuatku jauh lebih nyaman. Kini menjelang musim dingin kedua aku lewati.
Langit berwarna perak tanda musim dingin akan tiba. Beberapa binatang mulai berburu dan menimbun buruan mereka. Aku tentu kembali ke arah di mana para warga memasang jebakan perangkat di sana.
Aku kembali berlatih dengan semua tanda. Hari masih terlalu pagi untuk mendapat binatang yang terjebak jerat.
"Tumben Zeus tak datang?" tanyaku sedikit bingung.
Setelah mengamati. Aku kembali ke jalur biasa melatih kaki dan tangan. Sebelum berlatih, aku melakukan pemanasan terlebih dahulu agar otot-ototku terbiasa dan tidak cedera. Lima menit pemanasan, aku mulai berlari kecil, lambat laun lariku makin cepat, kali ini aku beberapa kali melompat menghindari dahan atau akar kayu yang mencuat ke permukaan tanah.
Ketika berlari aku juga dikawal oleh beberapa serigala yang biasa mengikutiku. Kali ini aku mencoba trik baru yang melintas di pemikiranku yakni salto.
Kutambah kecepatan lariku dan mulai merentangkan tangan ke atas. Lalu memutar ke bawah dan mengangkat kaki dan berputar-putar beberapa kali lalu.
"Hup!" dua kaki selamat menjejak tanah.
Kepalaku sedikit pusing akibat sepuluh salto kulakukan. Tak kuhiraukan apa yang terjadi, aku terus berlatih diri.
Usai berlari dan melompat. Kali ini aku mencoba pada pelatihan yang pernah diajarkan Zeus. Baru saja hendak mengambil ancang-ancang. Tiba-tiba Zoor datang dengan pandangan berkilat-kilat.
"Halo Sam!" sapanya..
Aku terdiam. Binatang itu seperti hendak menerkamku dari depan. Kali ini, aku memposisikan diri dengan tubuh condong ke depan dan tatapan fokus pada Zoor.
"Mana Zeus Sam. Apa dia meninggalkanmu karena bosan, sungguh kau sangat buruk dalam berlatih Sam!" sindir binatang itu sambil terus mengintaiku.
Aku tatap tak bergeming, menatap terus mata merah Zoor yang mulai gelisah. Binatang itu memutariku. Aku hanya mengikuti pergerakannya tanpa memutuskan tatapanku. Sungguh mata ini sudah terasa pedih dan perih, bahkan mulai berair.
'Tahan Sam ... tahan!' gumamku semangat dalam hati.
Zoor yang melihatku tak bergeming dan terus mengikutinya. Membuatnya memutuskan tatapan, hal itu kupergunakan dengan baik dengan mengedipkan mata berkali-kali lalu kembali fokus pada matanya yang lagi-lagi menatapku.
"Kenapa kau tak menjawab Sam, mana Zues. Apa karena kau terlalu lama bersama binatang bodoh itu kau jadi ikutan bodoh?!" lagi-lagi ia menghina Zeus sekaligus menghinaku.
Aku terus mengawasinya. Zoor sepertinya sudah kalah denganku.
"Sayang, kau memilih hewan yang salah untuk menjadi pembimbing Sam! Andai kau kemarin memilihku, kau sudah menguasai seluruh hutan ini," ujarnya lalu pergi begitu saja.
Aku bernapas normal. Mengelus dada dan mengusap mataku yang sedari tadi perih karena adu tatapan dengan binatang yang tentu memiliki indera berbeda dengan manusia.
Usai meredakan jantung yang tadi sempat berdetak cepat karena kedatangan Zoor. Aku kembali memanaskan diri. Kali ini aku memanjat pohon sedikit besar.
Di dahan paling tinggi, aku melihat kejauhan rumah-rumah berjejer begitu kecil dan samar. Entah berapa jauh itu dari hutan ini. Aku duduk di dahan besar dan bersandar sambil menatap cerobong asap yang mengepul tanda pemilik rumah tengah menyalakan tungku perapian.
Kembali dua wajah terlintas di mata dengan senyum penuh kebanggaan.
"I'm so proud of you my son!" ujar sang pria bangga.
"I love you dear," ujar sang ibu penuh ketulusan.
"I Miss you mom, dad," gumamku.
Air mata kembali mengalir. Sungguh aku merindukan dekapan hangat dan ciuman penuh kasih sayang yang mereka berikan. Aku merindukan masakan ibuku yang pastinya lezat, aku merindukan tatapan bangga ayahku.
"Aku pasti kembali mom, dad ... tunggu aku di sana," gumamku.
"My Lord!"
Sebuah panggilan dari suara yang aku kenali. Suara yang juga aku rindukan. Aku bergegas turun, hingga karena tak terlalu berhati-hati, aku terpeleset dan jatuh.
"Zeus!" teriakku ketakutan.
Buk! Empuk dan kasar.
"Zeus!" aku sudah berada di punggungnya.
"My Lord!"
Binatang itu berjalan pelan. Aku memeluk lehernya erat. Mendengar deru jantungnya yang seperti memburu waktu.
"Kau merindukan kedua orang tuamu, My Lord?" tanyanya.
Aku hanya mengangguk kencang, pelukanku pada lehernya makin erat.
"Tapi aku juga merindukanmu, Zues," ungkap ku.
Binatang itu hanya melompat ringan, ia seperti berjalan dan membiarkan diriku memeluknya erat. Aku tak berselera melihat pemandangan. Bayangan sebuah keluarga berkumpul membuatku makin merindukan kedua orang tuaku.
"Aku tadi bertemu Zoor, Zues," laporku.
"Benarkah?" aku mengangguk kuat.
"Dia bilang, aku salah memilihmu jadi pembimbingnya,"
"Lalu My Lord,"
"Aku diam dan hanya mengikuti pergerakan dan menatapnya tajam Zues. Aku tak mengatakan apa pun," jawabku.
"Lalu apa dia marah?" tanya binatang itu.
"Tidak, dia malah seperti panik sendiri lalu pergi," jawabku.
Tiba-tiba Zues mengencangkan laju larinya. Aku memekik tertahan karena dia melompat begitu tinggi dan menukik turun ke bawah.
"Zeus geli!" seruku.
"Kita sudah sampai My Lord!" ujarnya.
"Aku mau ke tempat jerat itu Zues, sebentar lagi musim dingin," pintaku.
Hari lekas sekali sore. Aku sepertinya terlalu lama duduk di atas pohon dan menikmati pemandangan rumah yang seperti jauh dari hutan letaknya. Ingin ku bertanya pada Zeus, tapi pasti binatang itu tak akan menjawabnya.
"Ah, ada babi hutan!" seruku senang.
Babi itu sudah mati dan nyaris jadi santapan heyna. Binatang licik itu sering datang ke sini menunggu binatang-binatang lain terjerat dan ketika mati mereka akan langsung memangsanya. Zeus dan kawanannya mengusir para heyna hingga menjauh dari bangkai binatang yang masih segar itu.
Setelah kukuliti, aku memotong-motongnya jadi beberapa bagian. Pisau yang ditinggalkan Ben ini benar-benar tajam. Bahkan tulang mampu dibelah jika mengayunnya dengan benar.
"Ini bagianku!" ujarku mengambil satu paha babi dan memanggulnya.
Zeus dan kawanan lain tampak langsing memakan bagian mereka. Aku biarkan saja dan terus berjalan menuju gua. Tak ada satu heyna yang menyerangku karena mereka fokus pada daging yang lebih besar yang di makan oleh kawanan serigala.
Usai mengasapi paha babi, aku kembali keluar gua untuk mandi. Kali ini, aku menemukan sabun di antara selipan baju Ben.
"Sudah tidak wangi dan kemungkinan sudah kadaluwarsa," ujarku bergumam.
Namun, aku mencoba menggosok di area kaki saja, tidak lagi berbusa. Aku melemparnya begitu saja ke lumpur dan membiarkan benda itu tenggelam.
Mandi selesai, baju telah kucuci dan kukeringkan. Berkat ingatanku, aku bisa membuat jemuran yang terbuat dari akar kecil yang kuikat di antara kayu yang kubuat sebagai pancang.
Merebahkan diri di atas alas empuk yang Ben tinggalkan, mencoba memejamkan mata dan aku terlelap.
bersambung.
next?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Anita Barus
lanjut. Thor semangat
2022-06-06
3
ꪶꫝNOVI HI
lanjut
2022-06-05
2
Desilia Chisfia Lina
zeus memang yang along hebat
2022-06-05
3