Waktu terus berjalan. Pelatihanku makin banyak dan membuatku makin tangguh, kini aku bisa menahan dingin. Walau awalnya aku langsung tak sadarkan diri kerena kena hipotermia. Ketika sadar aku mendapati Zeus tidur bersamaku. Rupanya binatang besar itu menghangatkanku.
"My Lord," panggilnya.
"Zeus," sahutku.
Kepalaku sedikit berkunang. Aku hampir saja tersungkur jika Zeus tak segera menahan laju tubuhku.
"Sudah berapa lama aku tertidur?" tanyaku.
"Satu minggu My Lord!"
Jawaban Zeus menyadarkanku kenapa aku bisa pusing begini. Rupanya perutku kosong dan tak ada air masuk dalam tubuhku. Aku nyaris mengalami dehidrasi.
Aku ke ruangan sebelah di mana air segar itu berada, aku meneguknya puas. Setelah berasa sedikit lumayan. Tercium aroma ketela manis yang dibakar. Aku segera kembali ke tempat pembaringan. Aku bisa melihat Zeus dengan giginya mengayun tongkat kayu kecil dan mengeluarkan ketela.
"Biar aku Zeus," ujarku lalu segera mengeluarkan ketela..
Usai memakannya aku merasa enakan. Aku menatap binatang berbulu itu lagi.
"Aku butuh madu, di mana aku bisa dapat madu?" tanyaku.
Zeus membawaku ke luar. Menatap sekeliling, entah berapa musim kulewati bersama Zeus di sini. Tapi, aku merasa tubuhku sudah tinggi.
"Mari kita bertemu Boop My Lord," ajaknya lalu menyurukkan kepalanya ke bawah dan mengangkatku naik ke punggungnya.
Binatang itu berjalan dan aku menikmati pemandangan yang ada. Beberapa hewan mengintip seakan menyapa, tapi takut dengan keberadaan hewan yang kutunggangi.
"Hai!" sapaku sambil melambai pada binatang-binatang itu.
Zeus menoleh pada mereka dan semuanya berlarian. Hal itu membuatku berdecak kesal. Kami berjalan cukup lama, hingga sampai pada hutan sedikit dalam. Aku baru menyadari jalur ini yang berbeda.
"Ini adalah daerah kekuasaan Boop My Lord!" ujarnya.
Aku turun ketika Zeus menurunkan tubuhnya. Kini giliranku yang begitu terpesona dengan pemandangan sekitar, banyak gua sempit dan curam. Aku melihat lebah berterbangan tak jauh dari sana dan langsung kuikuti.
"Hati-hati My Lord!" peringat Zeus.
Sebuah pohon tinggi, di sana para kumbang mengitari sarang mereka. Aku yakin di sanalah madu berada.
"Boop!" panggilku.
"Boop kau ada di sini?" teriakku masih dengan pandangan ke arah sarang madu.
"Boop!"
"Ggrraauur!"
Aku menoleh. Seekor beruang coklat, bukan Boop yang berwarna hitam. Zeus menyalak kuat dan menakuti beruang itu.
"Ggrraauur!" beruang itu ikut menggaung keras pada Zeus.
"Aku mau madu!" teriakku pada beruang itu.
"Ggrraauur!" teriak beruang itu.
"Aku mau madu!" teriakku.
"Grroorr!"
Sebuah suara lain dari arah kiri. Tampak Boop berlari ke arah kami bertiga. Beruang coklat itu seperti takut dan mulai menyingkir dan pergi dari sana.
"Groour!" sahut Boop.
"Boop aku mau madu," ujarku.
Binatang itu lalu duduk dan menatapku. Aku hanya setinggi perutnya. Boop pun berjalan dengan empat kakinya dan menuju gua. Lalu keluar dan menaruh sepotong sarang madu di tanah.
Aku bergegas mengambil lalu memakannya.
"Ah enak!" ujarku.
Sarang madu itu habis kumakan.
"Thanks Boop ini enak sekali!" ujarku dengan wajah gembira.
Aku melambaikan tangan pada binatang itu. Tenagaku seakan pulih setelah memakan madu. Aku kembali menaiki punggung Zeus.
Kembali memeluk leher besar binatang itu. Aku berbisik dan mengucap terima padanya.
"Terima kasih untuk selalu melindungiku, Zeus,"
Zeus tak menanggapi. Ia berlari kecil. Aku menegakkan tubuh dan menikmati angin yang menerpa wajahku. Tiba-tiba Zeus melompat dan membuatku terpekik kaget.
"Zeus!"
"Geli!" teriakku ketika Zeus menukik turun ke bawah.
Sampai di gua, Zeus menurunkanku.
"Apa kita berlatih hari ini?" tanyaku.
Zeus menggeleng.
"Istirahatlah My Lord," binatang itu pergi dari hadapanku.
Aku masuk dan kembali tidur. Esok hari, Zeus mendatangiku kali ini aku harus pergi ke sebuah tebing yang curam. Ada jalan setapak menuju ke atas tebing itu.
Zeus mendahuluiku hingga pertengahan tebing yang cukup datar. Binatang itu menatapku seakan memintaku untuk mulai.
Dengan gegas aku mulai menapaki jalan, sesekali tergelincir bahkan merosot ke bawah lagi.
Zeus masih setia menatapku. Aku sudah nyaris putus asa, sudah kesekian kali tergelincir bahkan kini alas kakiku mulai sobek.
"Sepertinya aku harus mengikuti jalur yang dipakai Zeus!" gumamku.
Aku mulai menapaki jalur yang dilewati Zeus.
"Aku berhasil!" teriakku ketika menyangka sudah sampai pada tempat Zeus.
"My Lord?!" aku menoleh, rupanya masih satu tingkat lagi.
"Perasaan kau tadi di sini?" gumamku bingung.
Aku kembali menapaki jalan. Merasa sudah sampai aku langsung tersenyum, tapi binatang itu masih ada di atasku.
"Aku yakin kau curang Zeus!" tuduhku kesal.
Hingga pada tepat aku mendapati Zeus tak kusangka kami ada dipuncak tebing.
"Zeus?!" panggilku takjub.
"My Lord!"
"Kita benar-benar ada di puncak tebing?"
"Benar My Lord!" jawab binatang itu.
Aku menatapnya penuh pandangan tak percaya. Rupanya Zeus mengajariku secara perlahan agar aku tak terasa berat menjalaninya.
"Sekarang kita terjun bebas My Lord!" ajak binatang itu tiba-tiba aku sudah ada di punggungnya.
"Zeus!" teriakku lagi ketika binatang itu melompat.
Aku merasa kupu-kupu terbang menari di perutku. Sangat geli dan menggelitik. Dengan sigap kupeluk erat leher Zeus. Merasakan deru napas binatang itu. Degup jantungnya dan hangat. Walau bulu Zeus kasar, tapi tak menyakitiku.
"Zeus, aku seperti bergantung hidup padamu," ujarku lirih.
Zeus memelankan laju larinya. Semenjak pertemuan dengan Zoor entah berapa lama lalu, aku sudah tak ingat. Aku tak lagi menjumpai binatang berbulu lebih gelap dari Zeus itu. Tapi, kawanan Zeus makin bertambah banyak dan mulai mengikuti arahan dari binatang yang kutunggangi ini.
"Apa kau tak lelah mengasuhku Zeus?" tanyaku.
Zeus berhenti, aku menegakkan tubuh mengira sudah ada di gua tempat tinggalku.
Sebuah hamparan hijau dengan banyak bunga warna-warni. Aku menatap takjub.
"Turunlah My Lord!" aku pun turun dari punggung Zeus.
"Indah sekali Zeus!"
Binatang itu menyalak dan berlari dengan menyundul hingga aku terjatuh.
"Zeus!" protesku.
Binatang itu menyalak dan menjulurkan lidah juga menggoyang ekornya. Rupanya Zeus mengajakku bermain. Aku berlari mengejarnya dan tertawa lepas. Kami berlarian.
"Zeus tangkap ini!" teriakku lalu melempar sepotong ranting panjang ke arahnya.
Dengan mudah binatang itu menangkap dan memberinya padaku. Aku mengelus kepalanya. Karena lelah, aku mulai merebahkan diri, hari mulai beranjak sore, langit sedikit memerah bertanda musim gugur segera tiba.
"Ayo kembali My Lord, angin sudah mulai kencang!" titah binatang itu.
Aku kembali naik punggungnya. Waktu terus berjalan entah berapa musim kulewati, seingatku, empat musim sudah terlewat, berarti sudah satu tahun aku sudah berada di hutan ini.
"Zeus, apakah aku bisa kembali pada orang tuaku?" tanyaku tanpa maksud.
Zeus menurunkanku, ternyata sudah sampai pada gua tempatku tinggal selama ini.
Kami saling bertatapan. Matanya menyorot tajam padaku. Entah keberanian dari mana, dulu aku takut, sekarang tidak lagi. Aku menantang tatapannya.
"Istirahatlah My Lord, waktu yang akan menjawab semuanya nanti," ujar binatang itu menjawab pertanyaanku.
Zeus berlalu. Beberapa binatang hilir mudik lewat depan gua.
"Jika aku bisa memotret mereka, pasti akan jadi foto yang luar biasa," gumamku lalu masuk dalam gua.
bersambung.
next?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
ꪶꫝNOVI HI
rindu..
2022-06-04
3
@༄𝑓𝑠𝑝⍟MAYA
tentu dia rindu
2022-06-04
1
Desilia Chisfia Lina
kasihan anak itu dia pasti rindu orang tuanya
2022-06-04
2