Di sebuah hutan belantara, tempat di mana semua hewan liar hidup dengan gerombolannya. Hutan tersebut dipimpin oleh seekor singa. Singa ditakuti oleh semua mahkluk hutan karena hidup bergerombol.
Para singa betina suka sekali hidup berkerumun bahkan saling menyusui, walau itu bukan anak mereka. Itulah yang membedakan singa dengan yang lainnya.
Begitu banyaknya singa jantan, namun mereka tak pernah menggugat satu dengan lainnya, kecuali berebut betina. Sedang kekuasaan diambil oleh singa paling besar di antara mereka. Singa dengan bulu paling gelap dan surai paling lebat. Singa itu bernama Zimba.
Zimba yang memimpin semua kalangan hewan, ia lah yang menempatkan letak dan gerombolan hewan-hewan. Walau rantai makanan tetap berjalan dan menempatkan mereka di peringkat paling atas. Hukum rimba tetaplah berjalan seusai dengan kekuatan hewannya. Bahkan tak jarang binatang paling buas bisa mati dengan gerombolan domba atau kijang bertanduk.
“Paduka, ada gerombolan manusia memasuki wilayah hutan!”
Seekor singa yang ukurannya lebih kecil memberi laporan. Tubuhnya membungkuk hormat pada sesembahan hutan. Zimba menatap Goor dengan pandangan tajam dan menusuk.
Zimba sangat takut jika manusia masuk lebih dalam dan merusak keseimbangan hutan.
“Halau mereka dengan cara apa pun!” titahnya tegas.
“Mereka membawa senjata api dan membawa kumpulan anjing untuk menyusuri hutan!” adu Goor lagi.
“Goor!’
“Baik paduka!”
Goor pun pergi dan memberitahu kawanan agar menghalau rombongan manusia agar tidak masuk hutan lebih dalam lagi. Zimba menghela napas panasnya.
“Moksa!’ panggilnya.
Sosok hewan melata datang menghampiri.
“Paduka!” sahut Moksa dengan desis dan derit yang menakutkan.
“Cari tahu siapa yang membawa masuk mereka ke hutan!” titahnya. “Bantu mereka menghalau manusia masuk ke sini!”
“Baik paduka!’
Moksa melesat meninggalkan Zimba. Hewan besar itu merebahkan tubuhnya mengawasi di daerah paling tinggi.
Tatapannya yang tajam dan sangat mahir memindai semua pergerakan mahkluk hutan. Hewan besar itu makin gelisah ketika melihat pergerakan manusia mulai memasuki kawasan kelinci. Zimba berdiri, angin mengembus surainya yang panjang, hewan itu begitu gagah.
Lalu dengan aumannya yang keras dan besar, mampu membuat semua penghuni hutan takut dan bersembunyi di tempat paling aman.
“Astaga ... singa!” teriak salah satu manusia.
Para anjing menyalak dan hendak lari dan melepaskan diri dari kekangan manusia. Hewan-hewan itu juga takut akan auman sang raja rimba.
“Aku sampai merinding. Apa kita hentikan saja perburuan ini?” tanya salah satu manusia sambil bergidik takut.
“Kita sudah sejauh ini. Mana mungkin kita kembali!” seru salah seorang yang nampaknya pemimpin rombongan pemburu.
“Tapi dari tadi kita tak mendapatkan apapun. Bahkan anjing-anjing ini juga mulai takut!” sela salah seorang lagi.
“Kita sudah satu jam berputar di hutan ini!” lanjutnya.
Goerge pimpinan pemburu tampak berpikir panjang. Anjing-anjing tak mau lagi berlari lebih dalam untuk masuk. Ia sangat yakin jika para penghuni hutan bersembunyi di tempat paling dalam hutan. dengan kesal ia melepaskan tembakan ke arah pohon berharap mengenai sasaran, apapun itu.
Dor! Hanya daun-daun yang berguguran karena letusan. Namun harapannya kosong. Tak satupun hewan keluar karena terkejut. George marah luar biasa.
“Tidak mungkin hutan ini sepi penghuni!” teriaknya.
“Hari mulai gelap. Sebaiknya kita kembali, sebelum kita tersesat dan kehilangan jalan pulang. Para anjing tak mampu mengingat jalan jika kita memaksa!” ujar salah seorang memberi saran.
George terpaksa mengikuti semua rekannya. Ia kalah suara dan mereka akan marah jika George memaksakan kehendak. Sepuluh laki-laki akhirnya bergerak keluar hutan dengan laras panjang mereka. Para anjing nampak senang, karena mereka akhirnya pulang dan bisa tidur di rumah hangat.
Sepasang mata dan lidah menjulur, tampak mengamati pergerakan manusia. Desisan dan derit seekor ular yang sangat menakutkan, nampak tenang dan lega. Tubuh melata itu melesat meninggalkan tempat di mana ia mengamati situasi. Sedang di bukit tempat di mana Zimba berada tampak masih setia mengamati.
Angin menerpa surainya hingga melambai-lambai. Matanya masih menatap gerombolan manusia yang bergerak keluar hutan. sang raja rimba mengembuskan napas lega.
Di dalam hutan, ada beberapa kumpulan serigala hidup berdampingan dengan makhluk lainnya. Semua rukun dan memang rantai makanan tetap berjalan seperti biasanya. Hingga ada beberapa kumpulan yang masuk pemukiman manusia. Lalu di antara mereka menjadi peliharaan. Dari sanalah masalah mulai timbul.
Serigala memang tidak sama dengan anjing. Tapi serigala akan menjadi jinak pada tuan yang memberinya makanan. Terlebih sang tuan membebaskan serigala tetap dalam hutan. namun ketika makan tiba, serigala-serigala itu akan kembali pada tuannya.
Hal ini membuat George memiliki ide brilian. Ia akan menggunakan para serigala untuk membawa mereka masuk lebih dalam ke hutan. Pria itu yakin jika serigala memiliki ingatan kuat untuk masuk ke dalam hutan. Pria itu makin mencari tahu fakta tentang kawanan serigala.
“Ah, serigala akan kembali pada kawanannya atau pemimpinnya. Mereka memiliki sistem hierarki yang tinggi dan hanya mematuhi satu serigala paling tinggi kekuasaannya,” ia bermonolog.
“Tapi suara singa dalam hutan itu?” George sempat ragu.
“Hanya satu auman saja mampu menggetarkan seluruh tubuhku!” lanjutnya dengan suara takjub.
George mengangkat tangannya, di sana bulu-bulu halus berdiri.
“Bahkan hanya mengingatnya saja. Aku sudah merinding ketakutan!”
George termenung. Ia duduk di kursi malas. Istri dan dua anaknya sudah tidur dari tadi. Musim gugur sebentar lagi akan usai. Musim dingin sudah mulai terasa. Bahkan setiap pria itu menghela napasnya, ada asap tipis keluar dari mulut atau hidungnya.
“Apa menunggu hingga musim semi tiba?” ujarnya lagi bermonolog.
“Ah, ya. Para makhluk hutan tentu paling tahu cuaca, mereka sudah mengumpulkan makanan dari musim semi untuk menghadapi musim dingin datang!” serunya berasumsi.
Keinginannya berburu dan ingin mengalahkan penghuni hutan yang paling berkuasa di sana. julukan “The best Hunter” membuatnya gelap mata. Ia sudah membunuh setidaknya delapan singa dan sepuluh beruang dengan senjatanya.
“Akan kubunuh, hewan yang paling berkuasa di sana. binatang itu harus tahu, jika manusia lah yang paling tinggi kedudukannya!” ujarnya sambil menyeringai sadis.
“Siapapun kau ... manusia adalah mata rantai makanan paling tinggi!” ujarnya penuh keangkuhan.
“Sayang ... sedang apa kau berlama-lama di luar, hari mulai dingin?” sosok cantik keluar dengan balutan selimut tebal.
George menoleh. Dari tatapan licik berubah menjadi lembut dan penuh cinta. Sang istri menyampirkan selimutnya ke tubuh sang suami. Kini keduanya dalam balutan selimut. Dua wajah saling dekat, bahkan hidung keduanya saling bersinggungan. Embusan panas yang keluar dari mulut keduanya menyapu wajah masing-masing. George mengecup cepat bibir sang istri.
“Nanti kau sakit,” lanjut wanita itu dengan nada khawatir.
“Ayo kita masuk sayang,”ajak pria tersenyum dengan suara serak.
Keduanya pun masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. Lampu di matikan semua penghuni di desa tersebut sudah terlelap dalam mimpi mereka. George membawa tubuh sang istri dalam penyatuan panas dan cumbuan yang membuat keduanya menggelepar penuh nikmat. George benar-benar bernapsu. Idenya membuat pria itu bergairah untuk bercinta dengan panas bersama istrinya.
bersambung
next?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Love cerita kk
2023-06-07
1
Novy
Lanjut ka semakin seru ceritanya 🤗
2022-05-23
4
ꪶꫝNOVI HI
lanjut
2022-05-22
3