Kiev Orlando Riches berdiri diantar ayah dan ibunya. Gerard dan Anamaria begitu gemetar ketika melihat tatapan Zoor yang akan memburu siapa saja yang berbuat salah. Hanya Kiev saja yang begitu tenang menghadapi kawanan serigala itu.
"Aku akan melatihnya. Tergantung kecerdasan dan ketangkasannya, apa ia berhasil dalam semua pelatihan ini atau pulang dengan tangan kosong!" jelas Zoor begitu tegas.
"Aku boleh pulang jika aku rindu pada orang tuaku kan?" tanya Kiev.
"Jika kau berat berlatih, silahkan pergi!" ujar Zoor tegas.
Kiev yang manja dan serba ada. Tentu akan kesulitan jika harus berlatih keras dan melakukan semuanya sendiri. Kiev ingin mundur, tapi sang ayah menahannya.
"Dad ...."
"Jika kau ingin besar dan kuat. Kau harus melewati semuanya!" ujar pria itu tegas.
"Lepas semua atribut kekayaanmu, kau bukan siapa-siapa sekarang. Jika kau menolak kami tak kehilangan apapun, tapi kau lah yang menyesal!" sahut Zoor mulai berang.
Kawanan serigala itu mulai memasang mode menyerang. Mereka hendak mengusir tiga manusia itu.
"Kiev!" titah Anamaria.
"Kau akan memiliki segalanya jika kau mau melewati ini semua sayang," ujar sang ibu.
Kiev yang haus kekuasaan dan pemujaan. Akhirnya melepas semua jas juga segala aksesoris mahalnya. Anak laki-laki berusia sepuluh tahun itu akhirnya mau ikut kawanan serigala. Anamaria menangis ketika putranya hilang dari pandangannya.
Kemunculan sang junjungan dari kelompok Zoor membuat beberapa serigala antusias termasuk Zeus. Tetapi begitu melihat Kiev, keraguan merasuki Zeus. Serigala itu memilih mengamati dari jauh.
"Yang mulia, apa dia benar-benar orangnya?" tanya salah satu serigala.
"Bukan, bukan dia ... aku merasa kehancuran ketika melihat sorot mata anak itu," jawab sang ketua kawanan.
Siapa sangka pelatihan Kiev berlangsung. Anak laki-laki itu kini berubah menjadi remaja berusia tiga belas tahun, dengan cepat dan mudah ia bisa menguasai semua pelatihan. Begitu tangguhnya Kiev membuat para serigala yang berdiri terpisah mulai masuk ke kelompok Zoor.
Hingga ketika suatu hari. Zimba mengaum dalam kawanan membuat kawanan serigala ketakutan.
"Sang junjungan telah tiba! Dia bercirikan anak usia delapan tahun dengan rambut keemasan dan mata abu-abunya!"
Singa besar itu pergi. Semua terkejut mendengar ciri-ciri sang junjungan yang dikatakan Zimba. Mereka menatap Zoor. Kiev mengepal tangan erat. Ia tak terima jika ternyata bukan dia lah yang menjadi penguasa.
"Lalu untuk apa aku di sini?!" teriaknya murka.
"Kau adalah pelindung semua kawanan hutan Kiev, kau adalah pion yang membendung semua kekuatan dari luar. Kau bagian penting dari sang junjungan!" seru Goor kini.
"Tidak!" teriak Kiev tak terima.
"Tenanglah Kiev!" seru Zoor marah.
"Diam kau! Kau yang mengatakan aku adalah raja semesta ini! Kau membohongiku!" teriak Kiev.
"Tapi kau adalah juga bagian penting dari semua perlindungan!" teriak Zoor juga.
Kiev terdiam. Ia tetap tak terima gelar The Lord harus ia dapatkan. Remaja itu akhirnya keluar hutan secara diam-diam dan meminta bantuan ayahnya untuk mencari tau siapa sang junjungan sebenarnya.
LIMA TAHUN KEMUDIAN.
Sebuah mansion mewah kini digaris polisi. Pembantaian besar-besaran terjadi. Semua terbunuh dengan cara mengenaskan.
Sosok perwira polisi berpangkat Kompol tengah mengamati lokasi. Darah berceceran dan mayat yang bergelimpangan.
"Komandan, kami menemukan bulu-bulu binatang!" lapor salah satu polisi.
Satu buntal bulu kasar ditaruh dalam plastik, pria itu menggeleng. Selama belasan tahun ia menjadi polisi sekaligus seorang detektif, baru kali ini ada yang begitu ceroboh meninggalkan barang bukti palsu.
"Komandan Tuan Lockhart dan istrinya hidup, tapi dalam kondisi parah!"
"Panggil ambulance segera!" titahnya.
Polisi itu segera melakukan perintah komandannya. Sementara pria bernama Edward Snowden ke lantai dua di mana pasangan suami istri itu ditemukan.
Kondisi Stevanus Lockhart sangat parah dengan luka menganga di tangan dan kakinya, sedang sang istri terluka bagian perut hingga menyembul ususnya. Begitu mengerikan jika melihatnya. Edward melihat benda yang tergenggam di tangan Stevanus. Sebuah jam tangan merek terkenal.
"Ambil ini sebagai barang bukti. Dan bantal itu juga!" titah pria itu.
"Komandan, ketua datang!" lapor salah satu petugas.
Pria itu pun turun. Di lantai satu sosok tubuh tegap berdiri mengamati lukisan yang terkoyak seperti habis dicakar.
"Hormat komandan!" seru Edward memberi hormat dengan mengangkat tangan ke pelipisnya.
Pria bernama Stewart itu membalas hormat anak buahnya. Edward menatap apa yang dipandangi komandannya dari tadi.
"Apa yang kau pikirkan Edward?" tanya pria itu.
"Manusia pelakunya komandan!" jawab pria itu yakin.
"Kenapa kau bisa menyimpulkan begitu?" tanya Stewart.
"Jika Serigala yang melakukannya, semua ini akan hancur komandan!" jelas Edward tegas.
Stewart mengangguk setuju. Bahkan ia melihat banyak peluru yang dilepaskan untuk membunuh para pengawal di luar.
"Kasus ini rumit. Mereka mendorong kita jika pembantaian ini dilakukan oleh binatang buas. Tapi binatang tak mungkin sedetail ini membunuh semuanya. Mereka bergerak secara bersamaan dalam senyap dan membunuh semuanya," jelas Edward lagi.
"Lapor komandan!" seru salah satu perwira.
"Katakan!" titah Stewart.
"Ada lima golongan darah berbeda di lokasi kamar Tuan Lockhart!" lapor perwira itu.
Edward dan Stewart saling pandang. Mereka mengangguk saja. Stewart melirik ke sudut ruang sebuah kilauan dari benda yang memantul cahaya.
"Coba kau lihat apa di sudut ruang itu!" titahnya.
Perwira itu pun melihat apa yang ditunjuk oleh komandannya.
"Sebuah cakaran dari besi tuan!" serunya.
"Tuan, putra dari Tuan Lockhart menghilang!"
Semua pun terkejut mendengarnya. Mereka melihat kamar putra tunggal dari pemimpin perusahaan terkenal dan terkaya di sana. Samuel Lockhart. Masih rapi dan seperti tak disentuh sama sekali. Hanya jendela yang terbuka lebar. Edward menunduk dan meraba sebuah tanda kaki.
"Ini benar-benar serigala!" ujarnya.
"Tapi tak mungkin hanya putranya yang dibawa lari sedang yang lain dibunuh!" seru Stewart emosi.
"Bukan ... bukan seperti itu!" sahut Edward mulai berpikir.
"Apa maksudmu?!"
"Kita dibuat berpikir seperti itu. Tapi, bukan itu kejadiannya!" ujar Edward lagi.
"Apa yang kau pikirkan Edward, jangan membuatku pusing!' teriak Stewart kesal.
"Ada sesuatu yang lain terjadi. Aku yakin itu, tapi aku pasti mendapatkan jawabannya!" ujar Edward makin memusingkan Stewart.
Sedang di tempat lain, sosok pemuda tampak mengamuk sejadi-jadinya. Ia gagal menumpas yang akan menjegalnya menjadi penguasa.
"Bodoh ... kalian bodoh!" makinya pada semua anak buahnya yang tewas.
Mereka membantai kawanan serigala tapi kekuatan Zoor memang sulit dikalahkan.
"Kau yang terlalu bernapsu Kiev!" seru Zoor dengan tertatih.
Beberapa serigala juga banyak yang mati akibat dibunuh oleh anak buah Kiev.
“Kau .. yang terburu napsu ... Kiev. Aku sudah memperingatimu ... sebelumnya,” ujar ketua serigala dengan nada terputus-putus.
"Diam!" teriak Kiev.
Kiev berlari keluar hutan. Ia kehabisan senjata dan Zoor tidak mengejarnya, ia pun terluka parah. Beberapa serigala membantu ketua mereka. Ramalan sang penguasa rimba benar adanya. Kini mereka hanya menanti jika manusia yang diambil oleh kelompok Zeus benar-benar manusia pilihan.
bersambung.
next?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Desilia Chisfia Lina
dasar manusia serakah
2022-05-25
0
@༄𝑓𝑠𝑝⍟MAYA
ketahuan serakahnya
2022-05-25
1