Pagi menjelang. Suara burung terdengar. Aku menggeliat dari alas empuk.
"Segarnya!"
Aku merenggangkan otot-otot. Menggerakkan kaki.
"Sudah tak bengkak lagi," gumamku.
Aku pun keluar dari gua tempatku selama ini tinggal. Beberapa hewan muncul dengan berani mendekatiku. Seperti rusa betina yang menatapku
"Hai," sapaku.
Rusa itu menggoyangkan ekor dan kepalanya lalu berlari menjauh ketika aku mencoba menyentuhnya.
Aku tertawa dan mengejarnya. Beberapa hewan terlihat ikut saling mengejar, ternyata mereka menggiringku ke sungai, semua menceburkan diri dan berenang begitu juga aku.
"Selamat pagi hutan!" teriakku.
Kicauan burung bersautan seakan menyahuti sapaku. Aku berenang mengitari sungai. Beberapa ikan kutangkap.
"My Lord!"
Semua binatang akhirnya mengakhiri mandi mereka dan lari masuk ke dalam hutan ketika Zeus datang.
"Kau mengganggu saja Zeus!" ketusku.
Aku menatap hewan yang tadi bermain di sungai bersamaku. Mereka menatap sebentar dan kemudian menghilang di antara pepohonan.
"My Lord!"
Aku hanya melewati sosok besar berkaki empat itu. Dari ransel aku menemukan pisau jadi aku bisa menyisik ikan yang kutangkap. Sesuai pengetahuanku. Dengan panas matahari menggunakan batu datar aku memasak ikan dengan teknik yang berbeda.
"Ah matang!" ujarku senang.
Usai makan, pakaian ku sudah kering di badan.
"My Lord, mestinya kau membuka semua bajumu. Nanti kau sakit," ujar binatang itu bernada khawatir.
Aku begitu terkejut mendengar nada yang ia utarakan.
"Kau mengkhawatirkan ku Zeus?"
"Karena kau adalah harapan kami My Lord," jawabnya.
Aku langsung memeluknya. Embusan panas aku rasakan di punggung.
"Aku tak memiliki siapapun selain kau Zeus,"
"Kau memiliki hutan ini My Lord!"
"Zeus," aku memeluk erat binatang itu.
"Ayo My Lord, kita harus latihan!" ajak binatang itu.
Tak ada nada perintah di sana. Zeus benar-benar berubah setelah aku sakit kemarin. Aku mengangguk setuju. Kali ini aku juga akan menurut pada binatang itu.
Kali ini aku berlatih menguatkan kedua lenganku. Aku disuruh bergayut pada akar-akar yang menjuntai.
"Aku jadi Tarzan!" teriakku.
"Auwouwooo!"
Krak!
"Zeus!" teriakku ternyata dahan sudah lapuk, aku terjatuh.
"My Lord!"
Aku hanya memejamkan mata.
Buk! Tak ada rasa sakit yang kurasakan. Kubuka mata dan menatap satu pandangan merah di sana.
"Zoor!" panggil Zeus pada binatang yang menolongku.
"Zeus dia siapa?" tanyaku terus menatap binatang yang sama namun bulunya jauh lebih gelap. Ada luka di sebelah matanya. Binatang itu hanya berlalu begitu saja setelah aku turun dari punggungnya.
"Zeus?"
"Dialah Zoor, My Lord!"
"Zoor?"
"Mari kita kembali ke kediamanmu My Lord. Akan aku ceritakan siapa dia!"
Aku menurut. Binatang besar itu mengangkatku kepunggungnya. Dia pun berlari kencang.
"Pegangan yang kuat My Lord, karena kita akan melompati beberapa dahan pohon tinggi!"
Aku memeluk erat leher Zeus yang besar. Angin menerpa wajahku ketika binatang itu melompati beberapa dahan pohon.
"Zeus ... kencang sekali!"
"Pegangan yang kuat My Lord, ini jauh lebih tinggi!" teriak binatang itu.
Aku memegang erat leher yang sebenernya tak bisa aku peluk itu. Zeus benar-benar besar.
"Zeus!"
Aku merasakan tubuh ini terangkat tinggi-tinggi dan tiba-tiba perutku terasa tergelitik ketika turun dari ketinggian.
Aku melihat beberapa serigala ikut berlarian di sisi kiri. Zeus masih berlari kencang dan melompati beberapa dahan.
"Masih jauhkah Zeus?" tanyaku.
"Sebentar lagi My Lord!"
Memang hanya sekitar lima menit kamipun sampai di gua tempat ku tinggal selama ini.
Aku pun turun. Beberapa serigala mulai membubarkan diri, aku melihat Zeus seperti memberi perintah pada semua kawanannya untuk menyingkir.
"Kenapa kau menyuruh mereka pergi, Zeus?" tanyaku.
"Tidak apa-apa My Lord. Mereka nantinya hanya menjadi pesuruhmu!"
Aku hanya diam dan mengangguk. Aku dan Zeus masuk ke dalam gua.
"Duduklah My Lord!" aku duduk di pinggir alas tidur empuk itu.
"Siapa Zoor, Zeus?" tanyaku.
Binatang itu seperti menghela napas panjang. Zeus akhirnya menceritakan siapa itu Zoor.
"Zoor adalah sepupu langsung dari pemimpin kami sebelumnya Bhuma. Kawanannya jauh lebih banyak dibanding diriku," jawab Zeus.
"Oh, dia yang menemukan pemimpin sebelumnya itu yang membantai nyaris seluruh kawanannya?"
"Benar My Lord,"
Aku mengangguk tanda mengerti.
"Lalu luka di matanya?" tanyaku kemudian.
"Dia mau melukai pemimpin hutan, Zimba!"
"Astaga, setiap kau menyebut nama itu aku merinding Zeus!" seruku.
Bulu-bulu di tangan dan tengkuk berdiri, aku menunjukkannya pada Zeus.
"Dia memang raja kami My Lord!"
"Bahkan kekuatan kami tak sebanding dengan anak buah sang raja rimba yakni Goor!"
"Goor?"
"Goor adalah seekor singa jantan," jawab binatang besar itu.
"Apakah suatu hari aku akan bertemu dengan sang penguasa rimba, Zeus?" tanyaku lagi menerawang.
"Suatu saat kau akan bertemu dengan Zimba My Lord!"
Binatang itu pun pergi setelah bercerita banyak. Zeus benar-benar berubah. Ia jauh lebih bersahabat denganku.
Aku kembali ke luar gua. Langit berwarna merah tembaga. Beberapa binatang tampak mulai pulang ke kandang dengan membawa buruan mereka.
"Sepertinya aku harus berburu juga. Kemarin babi hutan mulai merusak tanaman yang kutanam," gumamku.
"Ah kenapa tidak ke tempat kemarin di mana banyak perangkap berada!" seruku senang.
Aku ingat jalan menuju lokasi itu. Banyak tanda yang dibuat banyak orang itu. Beberapa serigala mengikutiku. Binatang-binatang itu terkadang saling menyalak satu dengan lainnya.
"Hai ... apa kalian punya nama?" tanyaku.
Binatang itu hanya menyalak saja. Sepertinya mereka tak bisa bicara manusia, semua binatang itu hanya mengerti bahasa manusia.
Benar saja, satu rusa, dua heyna dan tiga babi hutan terjerat di perangkap. Aku membuka perangkap pada rusa.
"Aku tak mau membuka perengkapmu heyna! Kau binatang paling licik yang aku temui!" ujarku pada binatang itu.
Tiga babi hutan memberontak di perangkap. Aku membiarkannya hingga tiga babi itu mati kelelahan.
"Periksa dia, apa sudah mati?" titahku pada beberapa serigala.
Beberapa hewan mendekati dan coba mengendus. Salah satu babi masih bergerak.
"Gigit lehernya hingga putus urat!" teriakku.
Grap! Salah satu serigala melaksanakan perintahku. Terdengar suara babi menguik, binatang itu mulai tegang dan mati.
Dua heyna menangis melolong, karena tak tega akhirnya aku meloloskan mereka dari jerat. Para serigala mengusirnya dan menjauh dariku yang mulai menguliti babi yang sudah mati.
"Aku hanya mengambil sebagian. Kalian bagilah rata!" ujarku.
Kuambil satu paha babi yang telah bersih dari kulit dan pergi dari sana.
Sampai di depan gua. Zoor ada di sana. Kuhentikan langkah dan kami saling bertatapan.
"Mau apa kau ke sini Zoor?"
Binatang itu diam, lalu bergerak membuka jalan untukku lewat.
"Di jalur sana ada dua babi lagi masuk perangkap. Kau bisa membawa kawananmu dan memakannya!" ujarku memberitahu.
Hewan itu pun pergi dari sana ke arah jalan yang kutunjuk. Kuhela napas, dan masuk ke dalam gua, aku harus mengolah daging yang kubawa ini segera agar tidak busuk begitu saja.
bersambung.
next?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
kutubuku
lanjutt
2022-06-02
1
Anita Barus
lanjut lah
2022-06-02
2
@༄𝑓𝑠𝑝⍟MAYA
next dong
2022-06-01
2