Aku sampai pada tempat di mana Zoor berada. Kakinya terjerat oleh besi yang nyaris mematahkan kakinya. Binatang berbulu hitam itu mencoba berdiri. Aku langsung melarangnya.
"Jangan bergerak Zoor, kakimu akan benar-benar patah!"
Tatapan matanya yang merah membuat kau sedikit ragu untuk mendekat. Zeus tampak sedikit gelisah, aku bisa merasakan embusan napasnya yang panas di tengkukku.
"Tenanglah Zeus, aku akan mendekatinya," ujarku.
Para serigala kawanan Zoor tampak begitu khawatir. Mereka berlarian ke sana kemari. Aku mendekati kaki Zoor dan di sana ada luka cukup dalam karena tepat di gerigi tajam. Dengan sekuat tenaga kutekan dua pedal agar terbuka dan "Klik" jerat itu terbuka. Zoor langsung lolos dan lari dengan terpincang.
"Ggrrrr!!"
Binatang itu mengerang padaku. Aku hanya menatapnya polos, sedang Zeus langsung menghadang jarak pandang rivalnya itu.
"Pergi Zoor!" usir Zeus.
Para kawanan dari kelompok Zoor mulai mengajak ketuanya pergi. Zoor kembali menatapku dengan mata merahnya, lalu pergi begitu saja dengan kaki terpincang-pincang.
"Ternyata, manusia membuat jebakan baru," ujarku saat melihat tempat di mana Zoor tertangkap jerat binatang.
Kuambil benda mengerikan itu dan melemparnya jauh ke dalam hutan sana. Aku kembali berjalan tertatih. Zeus kembali menyurukkan kepalanya dan mengangkatku.
"Zeus!"
"Kakimu terluka My Lord!"
"Aku tak mau latihanmu tertunda lagi, ini sudah terlalu lama," lanjutnya.
"Tapi aku baru delapan tahun, memangnya aku bisa apa Zeus?" tanyaku.
Gua tempatku tinggal sudah dekat. Zeus merendahkan tubuhnya agar aku bisa turun.
"Istirahat lah My Lord!" titah binatang itu.
Aku mengangguk, lalu masuk ke dalam gua. Kembali mengompres kakiku agar tak bengkak.
"Ssshhh!" ringisku menahan sakit karena aku memijit kakiku.
"Hiks ... hiks ... Zeus ini sakit sekali!" keluhku.
Hingga akhirnya aku membiarkan saja dan memilih berbaring. Perlahan kupejamkan mata dan terlelap. Ikan hasil tangkapan Boop sudah hilang, kemungkinan dicuri oleh binatang lain atau serigala kawanan Zeus.
"Lapar," keluhku lagi.
Aku memilih mengambil buah-buahan yang tersedia lalu memakannya. Merasa kenyang. Aku pun kembali merebahkan tubuhku dan tak lama aku terlelap.
Pagi hari aku sudah lebih baik. Kakiku tak lagi sakit, aku bisa melompat-lompat hari ini.
"Selamat pagi hutan!" teriakku.
Kali ini aku ingin membersihkan diri di aliran sungai seperti biasanya. Memakai baju baru yang kutemukan di ransel milik Ben.
"Siapa pun kau, aku berterima kasih atas peninggalanmu. Aku juga mencuci baju yang kemarin aku pakai.
Usai menangkap beberapa ikan, aku mengolahnya. Kini kentang bakar menjadi sumber karbohidratku. Jadi aku memakannya dengan lahap. Perutku tak lagi sakit, kemarin sore sudah kukeluarkan isinya.
"Kau sudah sarapan My Lord?"
Aku tak lagi terkejut akan kedatangan ketua binatang itu. Aku sudah bisa mengenali baunya dari jarak satu meter.
"Ya, Zeus. Latihan apa kita hari ini?" tanyaku tanpa melihatnya.
"Seperti kemarin My Lord!"
"Oh ya, mana serigala yang pertama menemuiku?" tanyaku. "Kenapa aku tak lagi melihatnya?"
"Dia ada tugas lain My Lord!" jawab Zeus.
Aku hanya mengangguk saja. Kini kami mulai berlarian. Aku bisa menangkap jika apa yang tengah aku dan Zeus perbuat ada yang mengamati.
"Zeus, kenapa seperti ada yang melihat kita?" tanyaku setengah berbisik.
"Abaikan dia My Lord. Latih kembali tangan dan kecepatanmu," ujar Zeus memintaku mengabaikan apa yang ku rasa.
Kini aku mulai belajar memanjat pohon-pohon besar. Aku harus mengukur kekuatan kaki juga genggamanku.
Sepasang mata merah masih setia mengamati kami hingga akhir latihan. Zeus kembali mengangkatku di bahunya. Aku kembali menunggangi Zeus.
"Zeus!"
Seekor binatang yang aku kenali. Zeus menghentikan langkahnya dan menatap sang rival datar.
"Apa!"
"Kau percaya jika dia adalah yang akan membawa kita kembali ke hutan?" tanyanya.
"Ya, sesuai mimpi dan firasat. Bukankah junjunganmu yang menghabisi keluarganya?"
Pertanyaan Zeus membuatku terkejut. Aku terdiam sesaat dan mendengarkan apa lagi cerita yang keluar dari mulut dua hewan ini.
"Serahkan dia padaku, aku yang berhak melatihnya!" ujar Zoor penuh kesombongan.
Aku dapat merasakan betapa binatang itu sangat arogan dan tak akan mengenal kasih sayang, seperti awal Zeus melatihku.
"Kau tak memiliki hak itu Zoor. Kau tau itu, bahkan kau membiarkan Kiev membantai keluarga My Lord!" tolak Zeus.
"Kau akan lebih kuat jika berlatih denganku Sam!" seru Zoor.
"Kau tau namaku?" tanyaku sambil menautkan alis.
"Ya, aku tau namamu, bahkan nama kedua orang tuamu!" ujar binatang itu penuh rencana.
"Ikut denganku Sam. Kau akan jauh lebih kuat dari apa yang bisa kau bayangkan!" rayunya.
"Tidak!" tolakku tegas.
"Bagaimana bisa aku ikut hewan yang telah melatih manusia dan menghabisi keluargaku?" tanyaku tak percaya.
"Enyahlah Zoor. Obati kakimu yang luka itu, agar tak membusuk dan akhirnya kau tak memiliki kaki!" titahku penuh penekanan.
"Sam!" teriak binatang itu.
"Aku adalah sang junjungan Zoor. Kau kira aku ikut Zeus karena dia memanggilku dengan sebutan My Lord?" aku menggeleng, "kau salah Zoor."
"Aku ikut dia karena aku yakin dia lebih baik dari padamu!"
Zeus beranjak. Zoor hanya diam saja di sana sambil menatap kami yang berjalan melewatinya begitu saja.
"Sam ... kau pasti menyesal nantinya!" ujarnya menyayangkan sikapku.
"Tidak Zoor, aku yakin aku benar!" jawabku tenang.
"My Lord, pegangan yang kuat, kita akan berlari lagi seperti kemarin!" titah Zeus.
Aku memegangi leher besar hewan itu. Perlahan ayunan kaki Zeus makin cepat. Lompatannya juga makin tinggi. Aku menutup mata sambil berteriak kencang ketika Zeus mendaratkan kakinya setelah melompat tinggi.
"Zeus! Di perutku geli!"
"Pegang yang kuat My Lord, ini jauh lebih tinggi!" kupengang erat leher Zeus.
Tak lama, aku seperti terbang, bahkan aku melihat burung huming bird mengepakkan sayapnya begitu cepat. Burung kecil itu berwarna biru. Lagi-lagi aku merasakan geli yang luar biasa ketika tubuh Zeus menukik ke bawah.
"Zeus ... geli!" teriakku lagi sambil tertawa.
"Tegaklah My Lord, kali ini kau bisa merasakan betapa kencang angin menerpa wajahmu!" pinta binatang itu.
"Tidak Zeus. Aku lebih suka seperti ini!" teriakku. "Jauh lebih hangat!"
Zeus akhirnya memelankan laju larinya. Aku masih setia memeluk leher besarnya.
"Kita sudah sampai My Lord!" ujarnya.
Aku bisa merasakan deru napasnya yang terengah-engah. Aku turun setelah ia merendahkan tubuhnya. Ketika aku melangkah masuk, Zeus memanggilku.
"My Lord!" aku menoleh.
"Terima kasih telah memilihku," aku tersenyum.
"Aku memilihmu karena merasa hanya kau yang kumiliki Zeus," sahutku.
"Terima kasih sekali lagi My Lord!" ujarnya lalu membungkuk hormat padaku.
Aku berlari dan memeluknya. Wajahnya yang besar menempel pada wajahku.
"Jangan tinggalkan aku Zeus. Aku percayakan diriku padamu," ucapku lirih.
"My Lord ...,"
bersambung.
next?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
ꪶꫝAaliyah Salsabilaꪶꫝ
Saling mempercayakan diri masing2, itu sikap yg baik&hebat dari keduanya 👌🏻👌🏻👍🏻👍🏻👍🏻
2023-05-30
1
Desilia Chisfia Lina
eh sama sebenarnya anak siapa dan kenapa dia bisa berada di hutan 🤔
2022-06-03
3
@༄𝑓𝑠𝑝⍟MAYA
next lah
2022-06-03
2