Anak yang dibanggakan

Pak, Bu, Nur ingin meneruskan SMA di desa sebelah saja, biar tidak jauh seperti teman-teman." Pinta Nur pada suatu hari saat Ia baru lulus dari SMP.

"Kamu tidak usah meneruskan sekolahmu, lulus SMP saja itu sudah untung di Desa ini , kamu tuh cuma perempuan, gak bakal jadi apa-apa, entar larinya ya ke dapur juga, SMA itu banyak biayanya, cukup Abang mu saja yang sekolah tinggi, Sampai jadi sarjana, Dia kan laki-laki, Dia adalah harapan dan masa depan serta harga diri keluarga kita " Ucapan Pak Munif itu laksana anak panah yang melesat dari busurnya lalu menusuk ke ulu hati Nur Saat itu.

"Maaf ya nduk, kami tidak punya cukup biaya untuk sekolahmu jika melanjutkan ke SMA, semua nya karna biaya nya terfokus untuk biaya kuliah Abangmu, Aku harap kamu mengerti ya Nduk !" Ucapan Bu Halimah lebih lembut pada Nur dari pada ucapan Bapaknya.

"Saya mengerti kok, dari dulu saya sangat faham dan sudah terbiasa mengalah demi Abang serts selalu diperlakukan tidak adil oleh Bapak , seolah Aku hanya anak tiri, bahkan lebih dari anak tiri, Aku merasa tidak punya hak untuk apapun sebagai anak" batin Nur.

"Asal Bapak dan Ibu mengijinkan, Aku akan membiayai sendiri sekolahku, Aku kan berprestasi, Aku dapat beasiswa, jadi tidak perlu membayar uang spp, Nur hanya butuh ijin " pinta Nur sambil menahan gelora dihatinya.

"Memang nya tidak butuh biaya lainnya selain uang spp ?" Sergah Pak Munif.

"Nur akan bekerja setelah pulang sekolah, Nur akan mencari barang bekas atau rongsokan, yang akan ku jual ke Pak Jamal , juragan rongsokan di desa kita " ucap Nur penuh keyakinan.

"Baik, itu terserah kamu, pokoknya Bapak tidak bisa membiayai mu , karna biaya kuliyah abangmu sangat besar." Tambah Pak Munif.

"Terimakasih Pak " Nur segera masuk ke kamarnya, Ia menutup kemudian mengunci pintu kamarnya lalu menuntaskan tangisannya yang sedari tadi tertahan, Ia menangis sejadi-jadinya tanpa suara, karna Ia menutup wajahnya dengan bantal, agar suara nya tidak di dengar orang tuanya, dan ia menangis sekeras-keras dalam dekapa bantal.

Tangisan tanpa suara seperti itu, sudah biasa bagi Nur saat Ia mendapat perlakuan tidak adil dari orang tuanya, terutama Bapaknya. Pak Munif memang sangat membanggakan anak sulung nya karna baginya punya anak laki-laki memang suatu kebanggaan sedangkan anak perempuan hanya berguna untuk urusan dapur.

Selama Sekolah, untuk bisa membeli peralatan sekolah, Nur mencari barang bekas kemudian Ia jual ke juragan besi tua di kampungnya, sementara seragam, Ia meminta seragam bekas punya sepupunya yang sudah tak terpakai, tas sekolah nya bekas dari semasa SMP.

Dengan menaiki sepeda, Ia pergi sekolah dengan penuh semangat bersama Sri yang menjadi sahabatnya bila kesekolah. Di sekolah Ia sering di ejek oleh teman-temannya karna sering kepergok sedang memulung barang bekas, namun Nur berusaha untuk tetap tenang dan sabar dalam keadaann apapun. Ia tetap bekerja Selama sekolah, demi membiayai sekolahnya sendiri, hingga akhirnya Ia pun lulus SMA.

"Pak, Bu, besok Nur mau di wisuda, kalian hadir ya ?"pinta Nur penuh harap.

"Bapak tidak bisa, Ibu saja yang hadir!" Ucap Pak Munif, meski Bapaknya sangat pilih kasih terhadapnya, setidaknya Ibunya selalu datang memberi kasih sayang pada Nur, sehingga Ia tetap kuat.

Setelah jadi sarjana, Sofyan memutuskan bekerja di kota, awalnya, 70% gajinya Ia kirim pada orang tuanya ,sehingga Pak Munif semakin membanggakan Sofyan di depan Nur, dengan kata-kata yang mampu membuat hati Nur terluka.

"Lihat nih , Anak lelakiku telah membuatku semakin bangga padanya, tak sia-sia Aku menyekolahkan nya tinggi-tinggi, kamu lihat sekarang kan ! " Pak Munif membanggakan Anak sulung nya di depan Nur dan Istrinya, sambil mengibas-ngibaskan uang kirimannya.

Namun hal itu, tidak berlangsung lama. Sejak Sofyan punya pacar, Ia mengurangi jumlah kirimannya pada orang tuanya, hingga Ia pun akhirnya memutuskan untuk menikahi teman kantornya itu yang bernama Ratna.

"Pak, Sofyan mau menikahi Ratna, Dia anak kota, jadi Aku ingin pesta pernikahannya harus sesuai dengan standart kota, bukan seperti kebanyakan di Desa ini "

Orang tua Sofyan sebenarnya sangat bahagia mengetahui anak sulungnya itu akan menikah, tapi mereka kepikiran biaya pernikahan yang harus mengikuti setandar kota.

"Tapi kita dapat biaya dari mana untuk biaya pesta nya, pasti butuh banyak uang ?"keluh Pak Munif.

"Kita jual sawah saja Pak, nanti kalau dapat uang aplop nya siapa tahu bisa mengganti sawah itu" Sofyan memberi saran, dan akhirnya setelah sawah terjual, pernikahan pun terlaksana dengan lancar.

Setelah pesta selesai, uang amplop yang dijanjika Sofyan pun tidak pernah sampai ke Orang tuanya. Sofyan ikut Ratna di Kota dengan mengontrak Rumah, silaturahim antara Sofyan dan orangtuanya pun berjalan normal, hingga suatu hari Ibu nya jatuh sakit dan meninggal, Sofyan sudah mulai jarang pulang sekedar menjenguk Bapaknya yang kesehatannya juga mulai menurun, Sofyan dan Ratna beralasan pekerjaan mereka tidak bisa ditinggal .

Hingga Pak Munif terkena stroke yang membuat nya lumpuh dan tak berdaya selama bertahun-tahun itu pun, Sofyan sudah tidak pernah menjenguk Bapaknya, Ia selalu beralasan Sibuk dan semakin sibuk karna Sofyan sudah naik jabatan sebagai manager .

Mengenanag itu Pak Munif menangis, menyesali perlakuannaya pada Nur yang tidak adil dan menganggap anak perempuan itu tidak ada guna nya, kini justru Nur lah yang setia merawat dan menjaga nya di saat sakit tak berdaya seperti itu, sedangkan anak yang di banggakan nya malah melupakan nya, bahkan untuk beli pampres nya saja serta membiayai semua kebutuhannya, Nur yang membiayai dari menjahit, hingga Nur pun tidak mau menikah demi untuk menjaga dan merawat nya.

Tak terasa, air matanya membasahi wajah nya yang sudah berkerut di makan usia serta kondisi tubuh yang bertahun-tahun meringkuk di kamarnya.

"Nak Baim, Bapak mohon , jaga Nur, sayangi Dia, karna selam ini Aku selalu berlaku tidak adil pada nya , Aku slalu bersikap meremehkan anak permpuan dan membanggakan anak laki-laki , tapi pada akhirnya, justru anak yang kuperlakukan tidak adil itulah yang setia merawatku tanpa mengeluh, dosaku pada nya tak menghalangi baktinya pada ku" Pak Munif menyeka air mata nya.

"Aku serahkan Dia padamu, Aku titipkan Dia padamu, jangan buat Dia menangis lagi seperti Aku yang membuat nya menangis selama ini" ucapnya lagi dengan nafas mulai berat dan seperti sedang merasa kesakitan.

"Pak pak...Pak Munif.. ?" Baim panik.

Nur yang mendengar Baim panik, langsung berhambur ke kamar Pak munif.

"Pak, Bapak , Bapak kenapa Pak?"

"Nur, untuk yang terakhir kalinya, hubungi abang mu, dan maafkan Bapak yang selama ini selalu bersikap tidak adil padamu, maafkan Bapak nak, la ilaha illallah muhammadar rasulullah "suara Pak Munif parau.

"Pakkkk... !! "Nur menangis...

"Innalillahi wainnailaihi rojiun " ucap Baim , sementara Nur terus menangis. Tanpa di suruh, Baim mencoba menghubungi kakak Iparnya melalui ponsel milik Nur layarnya di penuhi dengan retakan halus.

"Assalamualaikum , bang, Saya suaminya Nur, Saya hanya mau menyampaikan, bisakah abang kesini jenguk Bapak !"

"Waalaikumsalam, owh...Nur rupanya sudah menikah, hmmm kayak nya saya masih belum bisa kesana, nunggu lebaran saja sekalian , sekarang Aku masih sibuk, sampaikan salam pada Bapak ya" ucap Sofyan tanpa rasa bersalah.

"Jadi masih sibuk ya Bang, meski bertemu untuk yang terakhir kalinya, sebelum beliau di kebumikan ?"

"Apa maksudmu? Bapak sudah meninggal?"

"Iya, baru saja, dan Dia menyebut nama abang sebelum menghembuskan nafas terakhirnya "

Sofyan kangsung menutup sambungan telfonnya, dan menangis.

Terpopuler

Comments

Yuyun Haryanto

Yuyun Haryanto

sprt saya tdk kuliah krn cewek. yg dikuliahin anak cow. sampai sekarang pun ayah saya lbh membanggakan anak cow. pdhl anak cow itu yg sering melukai org tua nya. dan saya lah yg sll mengalah. mengerti ttg perasaan orang tua

2022-07-23

1

🎤🎶 Erick Erlangga 🎶🎧

🎤🎶 Erick Erlangga 🎶🎧

ku menangis membayangkan

2022-06-17

0

Devi Sihotang Sihotang

Devi Sihotang Sihotang

semangat thour" hai para readers bagus loh kisah cerita novel ini, menggambar kan kisah2 hidup kita dlm nyata... lanjut thour...

2022-05-29

3

lihat semua
Episodes
1 Mendadak Nikah
2 Nikah dulu, kenalan kemudian
3 Tidur beralaskan tikar
4 Pesan Bapak
5 Anak Singkong
6 Pedas level 20
7 Ambisi Nadia
8 Mbah dukun
9 Anak yang dibanggakan
10 Anak Durhaka
11 Memulai dari nol
12 Restu Ibu
13 Saat Nur cemburu
14 Ujian dan godaan
15 Janda yang meresahkan
16 Cinta tanpa restu
17 Ibu tetap memaafkan
18 Rizki tak terduga
19 Ada apa denganmu?
20 Sensitifnya Nur
21 Dua menantu
22 Zahira
23 Uang tak Berkah
24 Akhirnya pulang
25 Nadia berulah
26 Bertemu Mantan
27 kelurga Harmonis
28 Syarat dari Nadia
29 Dinner
30 Kegelisahan Nur
31 Anugrah ditengah Musibah
32 Hati yang tersakiti
33 Cakaran Alexa
34 Terimakasih Aisyah
35 Viral
36 Serasa Asing
37 Duka keluarga Hanum
38 Rindu Ayah
39 Musafir cinta
40 perenungan diri
41 Asal usul yang di pertanyakan
42 Tukang sayur
43 Terungkapnya kebenaran
44 Dikejar dosa
45 Sebuah pengakuan
46 Demam
47 obrolan pagi
48 Katahuan
49 Sigap bertindak
50 Nadia diserang
51 Maafkan Aku !
52 Kejutan untuk Baim
53 cinta untuk Nadia
54 Resepsi Anggun dan Dava.
55 Kehilangan
56 Nadia di culik
57 Kenangan mantan
58 kehilangan
59 kekuatan baru untuk Nur
60 Dinner
61 Dinner 2
62 kepercayaan yang terkikis
63 bukan anak kandung
64 penyesalan Burhan
65 cerai
66 cerai
67 kedatangan Ranti
68 saling menyalahkan
69 karyawati Baru
70 sesal
71 terjebak
72 bukti
73 Dilema Aisyah
74 Terjebak dalam badai
75 Takkan mendua
76 Makan malam dirumah mertua
77 Sakit Bu Hanum
78 Teror
79 Sang Arjuna
80 Di Talak
81 penyelamatan Baim.
82 Dendam dan amarah
83 permintaan terakhir Cintya
84 Lelah bertahan
85 kehadiran Ibu kandung
86 Aku Lelah bertahan ,Mas !
87 Gaun untuk Ranti
88 pacar bayaran
89 kegagalan Gladis
90 Gladis tertangkap.
91 Maukah menikah denganku ?
Episodes

Updated 91 Episodes

1
Mendadak Nikah
2
Nikah dulu, kenalan kemudian
3
Tidur beralaskan tikar
4
Pesan Bapak
5
Anak Singkong
6
Pedas level 20
7
Ambisi Nadia
8
Mbah dukun
9
Anak yang dibanggakan
10
Anak Durhaka
11
Memulai dari nol
12
Restu Ibu
13
Saat Nur cemburu
14
Ujian dan godaan
15
Janda yang meresahkan
16
Cinta tanpa restu
17
Ibu tetap memaafkan
18
Rizki tak terduga
19
Ada apa denganmu?
20
Sensitifnya Nur
21
Dua menantu
22
Zahira
23
Uang tak Berkah
24
Akhirnya pulang
25
Nadia berulah
26
Bertemu Mantan
27
kelurga Harmonis
28
Syarat dari Nadia
29
Dinner
30
Kegelisahan Nur
31
Anugrah ditengah Musibah
32
Hati yang tersakiti
33
Cakaran Alexa
34
Terimakasih Aisyah
35
Viral
36
Serasa Asing
37
Duka keluarga Hanum
38
Rindu Ayah
39
Musafir cinta
40
perenungan diri
41
Asal usul yang di pertanyakan
42
Tukang sayur
43
Terungkapnya kebenaran
44
Dikejar dosa
45
Sebuah pengakuan
46
Demam
47
obrolan pagi
48
Katahuan
49
Sigap bertindak
50
Nadia diserang
51
Maafkan Aku !
52
Kejutan untuk Baim
53
cinta untuk Nadia
54
Resepsi Anggun dan Dava.
55
Kehilangan
56
Nadia di culik
57
Kenangan mantan
58
kehilangan
59
kekuatan baru untuk Nur
60
Dinner
61
Dinner 2
62
kepercayaan yang terkikis
63
bukan anak kandung
64
penyesalan Burhan
65
cerai
66
cerai
67
kedatangan Ranti
68
saling menyalahkan
69
karyawati Baru
70
sesal
71
terjebak
72
bukti
73
Dilema Aisyah
74
Terjebak dalam badai
75
Takkan mendua
76
Makan malam dirumah mertua
77
Sakit Bu Hanum
78
Teror
79
Sang Arjuna
80
Di Talak
81
penyelamatan Baim.
82
Dendam dan amarah
83
permintaan terakhir Cintya
84
Lelah bertahan
85
kehadiran Ibu kandung
86
Aku Lelah bertahan ,Mas !
87
Gaun untuk Ranti
88
pacar bayaran
89
kegagalan Gladis
90
Gladis tertangkap.
91
Maukah menikah denganku ?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!