"Bunda kenapa sih, kok pertanyaan nya gitu?"Baim merasa kebingungan.
"Aku kan nanya yang sebenar nya, jujur padaku, Apakah Aku tidak cantik lagi di matamu, sehingga Kamu mau berpaling dariku dan mencari yang lebih muda?" Pertanyaan Nur masih belum difahami oleh Baim, apalagi Nur bertanya tapi tidak mau memandang suaminya, malah membelakanginya.
'Ternyata begini sifat asli perempuan, kalau bertanya tidak langsung pada intinya, muter-muter di tempat kayak komedi puter, tapi, laki-laki di tuntut mengerti, wahai perempuan, kami laki-laki ini cuma manusia biasa, bukan peramal, yang tahu maksud seseorang tanpa mengucapkannya' ucap Baim dalam hatinya.
"Yang mau berpaling itu siapa sih Bun, coba ngomong yang jelas gitu, Aku gak ngerti" Baim memutar tubuh istrinya perlahan lalu membujuknya untuk bicara to the point.
"Tadi pagi katanya Kamu pergi sama Novi, dan baru pulang tadi kan ? kemudian barusan Kamu juga telfonan sama seseorang, tapi langsung di matikan saat Aku samperin" nada suara Nur agak meninggi, mata nya pun mulai mengembun, sementara Baim hanya tersenyum, ternyata istrinya sedang cemburu.
"Aku tahu, Usia kita berbeda jauh, Aku sudah tua, maka nya kamu jalan sama Novi, yang lebih muda dari Aku, tapi mengapa harus Novi, Novi kan anak nya Bu Anita, orang yang berjasa membantu kita" Imbuh nya lagi.
'Duh, makhluk bernama perempuan itu ternyata memang unik kalau sedang cemburu, pikiran dan prasangka nya seringkali tak terkontrol' batin Baim berguman lagi.
"Kalau bukan Novi, berarti Rara boleh dong !" Baim semakin menggoda Istrinya.
"Huhh...dasar laki-laki , semua sama aja , kamu jahat !" Nur mulai marah, Ia memukul-mukul suaminya dengan bantal.
"Ampun...ampun, Aku cuma bercanda Bun...!" Ucap Baim terkekeh.
"Ternyata Istriku kalau lagi cemburu lucu juga ya, bicara muter kayak komedi puter" imbuhnya lagi dengan tawa renyah nya.
"Kamu yang tidak tahu diri, Istri lagi hamil, bingung yang mau cari ganti !" Nur masih memukul-mukul Suaminya.
"Coba Bunda diam dulu, Biarkan Aku bicara, dan dengarkan dengan kejernihan pikiran" Akhirnya Nur berhenti memukuli suaminya.
"Ambil nafas panjang dan hembuskan ! Dengarkan baik-baik." Perintah Baim, Nur pun menurut.
"Mengenai Aku yang pergi sama Novi tadi,
Sebenarnya Novi melarangku untuk cerita sama Bunda atau Bu Anita, tapi ini karna Bunda Suudzon, Ayah terpaksa deh cerita"
"Tuh kan!" Nur merajuk lagi.
"Dengerkan dulu ! Ayah mau cerita dari awal
(Beberapa jam sebelum nya,)
"Mas, Boleh Aku minta tolong !" Novi menghampiriku saat Aku mau beli Nasi campur.
"Iya Nov, minta tolong apa?"
"Tapi jangan bilang sama Mama ataupun Mbak Nur ya?"pintanya.
"Iya, memang nya minta tolong Apa sih?" Tanyaku heran.
"Anterin Aku ke Kantor polisi, Aku ingin menemui Deni, bagaimanapun juga, Dia masih suamiku, meski kami menikah di bawah tangan" ucap Novi.
"Aku tidak berani, Aku takut Bu Anita marah padaku!"
"Aku mohon Mas, tolong Aku !"Novi memohon - mohon padaku.
"Hmmm...kalau begitu baik lah, Aku mau sarapan dulu, sekarang ikut Aku ke warteg dulu, nanti Kamu tunggu disana, Aku mau ngasih sarapan dulu buat istriku"
"Baik Mas !"ucapnya senang.
Singkat cerita, kami pun sampai di kantor polisi, disana Novi langsung menemui Deni.
"Novi, maafkan Aku yang telah membuat anak kita celaka, Aku menyesal, sekarang Aku lepaskan kamu, kau bukan Istriku lagi, kau berhak bahagia, maafkan Aku !" Suara Deni parau, tangisan sesalnya membuatku terbawa suasana, dan Aku yang duduk di sebelah Novi seolah menjadi saksi perceraian mereka.
"Aku sudah memaafkan mu. Sebenarnya masih ada sedikit rasa cinta dihati ini, namun Aku sudah berjanji untuk tidak lagi durhaka pada Mamaku, sebab hanya Mama yang ku punya, setelah Aku kehilangan calon anak kita"Novi menghentikan ucapan nya karna terganggu oleh tangisan nya.
"semoga semua yang terjadi pada kita bisa menjadi pelajaran bagi ku dan bagimu di kehidupan mendatang. Maaf, jika selama ini Aku belum bisa menjadi istri yang terbaik untukmu" Novi pun semakin menangis
"Aku yang tidak bisa menjadi suami yang baik, untukmu. sekarang, pergilah ! Aku tidak mau tambah merasa berdosa padamu" ucap Deni yang sudah tidak bisa menahan tangis nya, saat Deni mau kembali ke tempatnya, Novi memanggilnya.
"Deniii" Novi langsung memeluknya dengan erat, seolah tidak ingin melepasnya, karna bagaimanapun juga mereka pernah menghabiskan waktu bersama.
"Pergilah, Aku memang pantas mendapatkan hukuman ini, karna Aku telah menghilangkan nyawa darah dagingku sendiri "Deni mengusir Novi dengan tangisan.
Aku pun terharu melihat Dua Insan yang saling menuntaskan prasaannya masing-masing itu, seperti sedang menonton drama korea kesukaan Bunda.
Kemudian Novi bertanya padaku, setelah kami keluar dari Lapas.
"Apakah keputusanku benar Mas ?"
"Iya, ternyata kamu sekarang bisa lebih berpikir dewasa, sebab kamu masih memikirkan Ibumu daripada membela egomu ataupun cintamu, bukan berarti membela cinta itu salah, hanya saja cintamu selama ini salah tempat.
Dewasa bukan faktor umur, tapi dimana kita bisa memilih yang terbaik untuk kita dan orang disekitar kita, bukan hanya berpikir tentang kita saja.
Dan lebih dari itu, Jangan sampai kita menyakiti hati orang tua kita, sebab kita lah cinta sejati mereka, doa mereka sngat mustajab bagi kita, Jangan pernah sia siakan orang tua kita, kali ini keputusanmu benar"Akupun menasehatinya, seolah-olah Aku ini orang bijak.
'Sengaja Aku cerita panjang lebar dan detail pada Nur, agar bisa menyeimbangkan pertanyaannya tadi yang muter-muter tidak jelas' suara hati Baim bersorak.
Nur tampak terdiam, namun Dia masih bertanya lagi.
"Terus yang nelfon tadi siapa ? Tadi Ayah telfonan sama siapa kok langsung dimatikan pas ada datang?" Nur masih belum puas.
"Tadi Aku ditelfon Ibuku, beliau mimpi, katanya Aku ngurung burung merpati, kata Ibu, itu pertanda, kalau istriku sedang hamil, terus beliau nanya, apakah istriku hamil ? Aku jawab Iya Bu istriku memang sedang hamil, terus beliau sangat bahagia, namun telfonnya terpaksa Ibu matikan karna tiba-tiba Ayah datang katanya.
Bagaimana ? sudah bisa menerima penjelasan suamimu dengan hati dan pikiran yang jernih ?"tanya Baim.
"Hmmm, Iya deh, kalau begitu, maafkan Bunda yang telah Suudzon sama Ayah !" Guman Nur malu-malu.
"Tadi aja kalau marah panggil Aku kamu bukan Ayah." sergah Baim.
"Ya sudah, kalau begitu Bunda gak jadi minta maafnya" Nur mulai marah lagi.
"Iya deh...Ayah maafkan, Ayah juga minta maaf ya sayang, sudah bikin kamu sensi dan Suudzon gini, oh iya, nasiku tadi sudah mateng belum, ?"
"Sudah sih, tapi rasanya kayak gimana gitu, emang di bilas gak, tadi nyucinya?" Tanya Nur heran.
"Gak sih cuma di kasih air lalu dibuang sampai 2 kali" terang Baim merasa tak ada yang salah.
"Pantas saja, rasa nya aneh !"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Jumiati Jumi
jangan sempet sampai suami selingkuh nur....
2022-06-18
0
🎤🎶 Erick Erlangga 🎶🎧
lanjut
2022-06-17
0
mulia
ceritanya bagus Thor ..lanjutkan
2022-06-07
0