"Iya Om. Saya gak akan mengikuti kelakuan buruk Gara lagi. Saya belum mau punya anak Om," jawab Leon menyudutkan Gara.
"Leon, kau apaan? Kau tak ingat dengan wanita mabuk yang menghampirimu malam itu?" ucap Gara mengingatkan
***
"Wanita siapa?" tanya Papa Sony yang mendengar bisik-bisik laki-laki tampan itu.
"Ini lo pa.. Wanita..-" lagi-lagi ucapan Gara terputus karena di sela oleh Leon.
"Oh, itu Om, wanita mabuk yang datang ke bar setiap malam dan selalu mengganggu saya," jawab Leon berbohong.
"Cih.. Sok cover kau," ejek Gara menaikkan satu bibirnya.
"Diam kau," bentak Leon melihat Gara dengan sudut matanya.
"Sudah.. Sudah.. Gara, Leon, sama papa juga, kebetulan kalian semua pada ngumpul. Mama bikin baru saja memasak bubur kacang ijo. Kalian mau?" tawar mama Lena kepada tiga laki-lagi tampan itu.
"Papa mau," jawab Papa Sony mengangkat jari telunjuknya.
"Leon juga mau dong Tante," jawab Leon cengengesan.
"Celametan banget sih kau Leon," canda Gara.
"Biarin wlee," balas Leon mencibir.
"Ch.. Gara juga mau ma," jawab Gara melihat kepada sang mama.
"Ya sudah, kalo gitu ke meja makan yuk," ajak Mama Lena.
.
.
"Ma, Gara baru saja membeli rumah yang di jual dekat dengan rumah ini," ucap Gara membuka suara.
"Oh ya? kamu akan tinggal di sana Gara?" tanya Papa Sony lalu meniup bubur kacang ijo nya.
"Nggak pa. Gara beli buat Airin. Gara gak mau melihat Airin dan calon anak Gara tinggal di ruko kecil dan sempit seperti itu," ucap Gara menjelaskan tujuannya membeli rumah tersebut.
"Apa kau sudah menemui Airin?" tanya Mama Lena.
"Sudah ma. Setelah beberapa persyaratan yang di berikan Airin, Airin akhirnya mau pindah ke rumah yang Gara baru saja beli," jelas Gara.
"Persyaratan apa?" tanya Papa Sony penasaran.
"Persyaratannya yaitu, Airin gak mau menikah dengan Gara. Dan masih ada beberapa syarat lainnya," jelas Gara Emanuel.
"Ya sudah tidak apa-apa. Perempuan itu akan luluh dengan sendirinya jika kita sebagai laki-laki selalu memberikan perhatian walaupun itu hanya perhatian kecil. Sama seperti papa memperjuangkan mama mu dulu," ucap Papa Sony memberi semangat.
"Memangnya papa dulu berjuang apa buat dapatin mama?" tanya Gara penasaran.
"Seperti yang kau tau, kakek mu yang seorang Jendral itu, dulunya sangat selektif untuk mencari calon suami dan calon istri buat anak-anaknya. Semua Tante mu suaminya adalah abdi negara. Sedangkan papa?, papa hanya orang biasa yang sudah mencoba mendaftar jadi polisi namun tidak lulus. Kemudian Kakek mu tidak merestui hubungan papa sama mamamu. Tapi papamu yang gagah ini tidak putus asa. Papa terus memepet kakek mu agar beliau mau merestui hubungan papa sama mama mu. Berkali-kali papa dihukum menghitung jumlah anak pagar yang mengitari ke sekeliling rumah kakek mu di Surabaya sana, karena papa ketahuan menemui mama mu di jendela kamarnya. Tapi papa tetap tak mau menyerah. Karena kakek mu terus melihat kegigihan papa, akhirnya beliau memberikan papa satu kesempatan untuk menjadi menantunya dengan catatan papa harus sukses dalam waktu satu tahun. Jika papa sukses, barulah papa boleh menikahi mamamu yang cantik ini. Dan akhirnya, karena kegigihan papa, akhirnya dalam satu tahun papa mampu membeli rumah dan satu unit mobil sebagai mas kawin pernikahan kami," ucap Papa Sony mengingat kembali perjuangan dirinya saat berusaha menggapai restu dari kakeknya Gara.
"Waww.. Papa hebat sekali. Gara juga akan mengikuti jejak papa. Gara tak akan pernah menyerah mendapatkan Airin. Demi anak tang ada di kandungan Airin, apapun yang terjadi Gara akan berjuang terus," jawab Gara terasa terinspirasi oleh cerita sang papa.
"Bagus. Papa akan selalu mendukungmu Gara," jawab Papa Sony lalu menyuap bubur ke dalam mulutnya.
.
.
Sekembalinya dari rumah kedua orang tuanya, Gara dan Leon langsung menuju ke toko bunga milik Airin.
Gara yang sebelumnya sudah menyuruh beberapa orang untuk menjaga toko bunga tersebut kini masih setia berdiri membaur seperti pelanggan lainnya yang duduk di kedai kopi sebelah toko Airin.
Gara yang sudah berpenampilan seperti laki-laki itu, kini berjalan dengan senyum mengambang memasuki toko bunga milik Airin.
"Airin," panggil Gara saat melihat Airin tengah mengemas bunga milik pelanggannya.
"Ada apa?" jawab Airin ketus.
"Ayo kita pulang sekarang," ajak Gara yang gemes dengan sikap Airin.
"Kau tak lihat aku lagi kerja," jawab Airin masih saja judes.
"Ya baiklah, aku akan menunggumu," ucap Gara mengalah.
Tiga puluh menit kemudian, Airin akhirnya selesai melayani semua pelanggan toko bunganya.
Selama itu juga Gara selalu memperhatikan Airin dengan senyuman yang tak pernah pudar dari wajahnya.
"Hey apa kau mau tetap disini?" ucap Airin membuyarkan lamunan dan senyuman Gara.
"Ehh. Kau telah selesai. Maaf tadi aku melamun," jawab Gara tersenyum.
"Kulihat sedari tadi kau memperhatikanku terus. Jangan bilang jika kau melamun kan hal-hal kotor tentangku," ucap Airin mencoba memperingati Gara.
"Hehe. Kau tau saja aku melamun mu. Aku hanya berkhayal kita akan menikah lalu hidup bersama membesarkan si kembar sampai tua nanti. Dan si kembar memberi kita cucu yang akan menemani indahnya hari tua kita," ucap Gara menceritakan khayalannya kepada Airin.
"Jangan mimpi. Aku sudah jatuh cinta pada seorang laki-laki. Jadi buang jauh-jauh khayalan tak bermutu mu itu," jawab Airin membuat Gara sangat-sangat sakit hati.
"Apa? Kau mencintai laki-laki lain?" tanya Gara meradang memastikan apa yang baru saja ia dengar.
"Ya.. Memangnya kenapa? Tak boleh?" tanya Airin menaikkan satu alisnya.
"Ya gak boleh lah. Lagian kau sedang hamil. Kembar tiga lagi. Bisa-bisanya laki-laki itu mau denganmu. Pasti dia hanya mau memanfaatkan mu," ucap Gara tak mencoba mengompori Airin.
"Memang kenapa kalau aku hamil kembar tiga. Laki-laki itu saja mau menerima aku apa adanya. Lagian apa urusannya dengan mu ha Nyonya Amara?," ucap Airin sewot.
"Jangan panggil aku Nyonya Amara lagi. Dan semua itu jelas ada urusannya denganku. Kau tau yang sedang kau kandung itu anakku. Darah daging ku," ucap Gara panas.
"Kau dengar ya Tuan Gara, kau memang berhak atas anak ini, tapi kau perlu ingat, kau sama sekali tidak berhak atas diriku. Mau aku dekat dengan siapapun, itu bukan urusanmu. Kau paham?!" ucap Airin menaik turun kan kedua alisnya.
"Tidak. Pokoknya tidak boleh. Secara tidak langsung, dengan adanya si kembar, berarti kau sudah membuat ikatan hubungan denganku sampai kapanpun itu. Jadi menikah atau tidaknya kita nanti, kau tetap tidak boleh berhubungan dengan laki-laki manapun selain aku. Ini semua demi kebaikan si kembar," ucap Gara yang sudah sangat cemburu.
"Kau egois," ucap Airin kesal.
"Bodo amat," jawab Gara membimbing tangan Airin keluar dari toko bunga tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 194 Episodes
Comments
elf
sabaku no gaara... adl tokoh idolaku d anime naruto.... sikapnya sangat dingin... n dsni,,, gara kau sangat gokil... aq ttp suka
2022-11-01
1
Nur Evida
mas Amara cemburu 🤭
2022-10-24
1
Chintya
gara lucu iyah kaya anak kecil yg ga di kasih mainan🤭🤭
2022-06-22
0