"Tampan-tampan tapi bodoh," ucap petugas tersebut menatap kepergian Leon.
***
Leon sadar dari tadi ponselnya selalu berdering. Tapi karena ia sedang fokus menyetir, Leon memilih tak mengangkat panggilannya.
Saat Leon memasuki mobil, ponsel pintarnya itu kembali berdering.
"Halo," jawab Leon dengan suara lemas.
"Halo Leon, darimana saja kau? Kenapa kau meninggalkanku di bar sendirian," tanya Gara kesal yang saat ini masih di atas taksi menuju apartemennya.
" Maaf Gara, aku baru saja dari rumah sakit," jawab Leon singkat.
"Rumah sakit? Siapa yang sakit? Kenapa kau tak menelpon atau meninggalkan pesan untukku?" tanya Gara khawatir.
"Bukan aku yang sakit. Aku berencana mau melakukan tes DNA, tapi sayang dokternya sudah tidak ada," jawab Leon membuat Gara sangat-sangat penasaran.
"Tes DNA? tes DNA apa? Kau meragukan kedua orang tua mu? Atau jangan-jangan ada seseorang yang datang, lali mengatakan jika kau adalah anak kandungnya?" tanya Gara dengan berbagai dugaan.
"Sudahlah, kau ini banyak bicara. Nanti setelah sampai di rumah aku akan menceritakannya padamu. Aku yakin, kau akan terkejut dan shock sepertiku," jawab Leon sembari menghidupkan mesin mobilnya.
"Ya sudah, kalau begitu cepatlah pulang. Aku akan menunggumu," jawab Gara kemudian mematikan panggilannya.
Tiga puluh menit kemudian, Leon akhirnya sampai di apartemen Dengan langkah gontai dia segera masuk menuju lantai unitnya. Sesampainya di dalam, ternyata Gara sudah menunggunya dengan sebatang rokok yang terselib di di antara jari-jarinya yang panjang.
"Kau kenapa lama sekali?" tanya Gara sedikit kesal. Sudah dua batang rokok ia habiskan, namun Leon tak kunjung datang.
"Lama apaan? Kau saja baru sampai," jawab Leon tak mau kalah.
"Kenapa kau bicaranya pakai urat?Kau tau?, sudah dua batang rokok aku habiskan demi menunggumu," balas Gara yang tak terima di bentak Leon.
"Siapa suruh kau menungguku," jawab Leon rolls eyes.
"Kau ini. Aku ingin tau masalah DNA itu," ucap Gara terus terang.
"Hahah, kau saja kepo jadi manusia," jawab Leon menertawai Gara yang juga kepo seperti dirinya.
"Aku ketularan kepo darimu," balas Gara rolls eyes.
Akhirnya Leon menceritakan semuanya kepada Gara. Dan benar, betapa terkejutnya Gara saat mendengar curhatan dari sahabatnya itu.
"Jadi kau sudah memiliki anak?" tanya Gara tak percaya.
"Kata perempuan itu iya. Tapi aku masih tak percaya," jawab Leon menaikkan bahunya.
"Coba kau ingat, siapa wanita yang benar-benar mencintaimu selama ini, dan kau pernah melakukan itu dengannya.
"Aku sama sekali tidak bisa mengingatnya. Begitu banyak wanita yang aku tiduri, dan begitu banyak juga wanita yang mencintaiku Gara. Aku bingung harus memikirkannya," ucap Leon frustasi.
"Haha, makanya, kau jangan celap-celup sana sini," ejek Gara menghembuskan asap rokok dari hidungnya.
"Aku? Celap-celup sana-sini? Lalu kau apa Gara?" tanya Leon membalikkan ucapan Gara.
"Aku.. Aku kan selalu memakai pengaman buat juniorku. Jadi aku aman," jawab Gara membela diri.
"Aman dari mana? Kau lihat si Airin? Perutnya sudah buncit karena tabungan yang kau berikan kepadanya," skakmat Leon membuat Gara tak dapat menjawab apa-apa lagi.
"Sudahlah, kurasa nasib kita hampir sama. Besok aku akan menemanimu untuk melakukan tes DNA. oke," ucap Gara yang kalah debat dengan Leon yang sedang mumet.
"Ok, baiklah. Aku mau mandi dulu. Jangan sekali-kali kau masuk ke kamar mandi saat aku mandi," jawab Leon berjalan meninggalkan Gara.
"Kau pikir aku nafsu denganmu?" teriak Gara kesal.
"Kau belum mencoba goyangan dan kekuatan juniorku," balas Leon berhenti di depan pintu kamar mandi, lalu melihat Gara sekilas.
"Najis. Kau pikir aku lekong? Amit-amit. Aku masih doyan dengan dada dan paha. Dan tak lupa, dengan ************ wanita juga," ucap Gara membayangkan ************ Airin.
"Jangan menghayal kau, aku juga tidak doyan batangan," balas Leon kemudian masuk ke kamar mandi.
Keesokan harinya, kedua sahabat tampan itu melakukan aktifitasnya seperti biasa. Di jam istirahat kantor, Gara dan Leon, memutuskan untuk mengunjungi klinik khusus untuk melakukan tes DNA dan berencana akan melakukan tes di klinik tersebut.
"Ada yang bisa kami bantu Pak?" tanya salah seorang petugas klinik tersebut.
"Saya mau melakukan tes DNA, apa bisa?" tanya Leon berwibawa.
"Bi.. Bisa Pak. Boleh kami minta sampel tesnya?" tanya petugas tersebut menatap Leon yang cool.
"Ini," jawab Leon singkat sembari memberikan amplop putih kepada petugas tersebut.
"Baik, boleh kami minta rambut Bapak juga?" tanya petugas tersebut.
"Boleh, ini rambut saya," memberikan sebuah plastik yang berisi beberapa helai rambutnya yang sempat ia ambil waktu akan ke rumah sakit malam itu.
"Baik, kalau begitu silahkan isi formulir ini ya Pak," suruh petugas tersebut.
"Kapan hasilnya akan keluar?" tanya Gara penasaran.
"Biasanya dua sampai tiga Minggu Pak," jawab petugas tersebut ramah.
"Kenapa selama itu? Apakah bisa di percepat?" tanya Leon selesai dengan formulirnya.
"Nanti silahkan Bapak tanyakan saja pada dokternya," jawab petugas tersebut.
Tak lama kemudian, di panggil lah Leon untuk ke ruangan dokter tersebut.
Gara dan Leon bergegas untuk masuk menuju ruangan sang dokter.
Di dalam ruangan itu, dokter menjelaskan semua tentang DNA, dan berapa lama waktu yang mereka butuhkan.
"Apa bisa di percepat Dok?" tanya Leon sudah tidak sabar dengan hasilnya.
"Kami akan usahakan secepatnya. Nanti jika hasilnya sudah keluar, saya akan menghubungi anda kembali," jawab Dokter tersebut.
"Baiklah, kalau begitu saya akan menunggunya," jawab Leon pasrah.
"Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu," pamit Gara dan juga Leon.
.
.
"Selamat siang Airin," ucap seseorang yang ternyata adalah Mama Lena, mamanya Gara.
Wanita paruh baya itu tampak menenteng beberapa kantong plastik yang lumayan banyak.
"Selamat siang Bu. Ibu belanja banyak?" tanya Airin basa basi.
"Iya Airin. Ini Ibu belikan untukmu. Diterima ya," jawab Mama Lena membuat Airin kaget.
"Buat saya? Ibu tidak usah. Saya tidak mau merepotkan Ibu," jawab Airin sungkan.
"Siapa yang bilang merepotkan? Akan lebih merepotkan jika kamu tak mau menerima semua ini," jawab Mama Lena.
"Tapi Bu," ucap Airin.
"Tidak usah pakai tapi-taoian. Kamu tau? Selama ini saya kesepian. Suami dan anak saya sibuk bekerja setiap harinya. Saya bosan berkumpul dengan ibu-obu sosialita saya. Makanya saya kesini karena saya sudah menganggap kamu sebagai anak perempuan saya," ucap Mama Lena mengusap kepala Airin.
Mendapat perlakuan dari Mama Lena, membuat Airin tak kuasa menahan air matanya. Ia serasa kembali memilik orang yang perduli dengan dirinya.
"Makasih Bu.. Makasih," ucap Airin memeluk erat Mama Lena.
"Sama-sama sayang. sudah, hapus air matamu. Makan dulu yuk," ucap Mama Lena mengajak Airin makan di luar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 194 Episodes
Comments
Lilisdayanti
astaga sampai2 sakit mulut qu nyengir terus 🤣🤣🤣 Sahabat luxcnut 🤭🤭
2022-11-18
0
Vivian
ngakak brutal pliss😭☝️🤣
2022-10-31
1
Kila Barokah
lanjud
2022-06-15
0