Gara merupakan anak yang sangat sopan dan takut sekali kepada kedua orang tuanya. Terutama papanya.
***
"Papa kecewa sama kamu Gara," ucap Papa Sony membuat Gara makin tertunduk.
"Maafkan Gara pa. Gara janji akan mempertanggung jawabkan perbuatan Gara. Gara mohon pa, jangan benci Gara," balas Gara memohon.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang? Kamu akan apakan wanita itu? Kapan kamu akan menikahinya?" tanya Papa Sony serius.
"Gara akan mengambil hatinya dulu pa, Gara takut jika Airin kabur lagi sehabis bertemu dengan Gara," jawab Gara kemudian meminum susunya.
"Baiklah, papa tunggu kabar baik darimu. Gara ingat, jangan sekali-kali merusak kehidupan orang. Jika kamu berbuat salah, maka perbaiki salahmu," ucap Papa Sony mengingatkan putranya lalu bangkit untuk berangkat ke kantor.
"Papa mau ngantor? Bukannya papa baru saja pulang dari luar negri?" tanya Gara.
"Papa hanya ada meeting sebentar, setelah itu pulang kembali," jawab Papa Sony.
.
.
Pada siang harinya, Mama Lena menepati janjinya kepada Gara. Wanita paruh baya yang masih saja tetap cantik itu kini tengah berada di depan toko bunga milik Airin.
Mama Lena menarik nafas dalam lalu menghembuskanmya pelan sebelum masuk ke dalam toko bunga tersebut.
"Permisi Bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita hamil yang masih tetap cantik alami tanpa riasan.
'Jadi ini wanita yang dihamili Gara? Cantik dan juga ramah sekali,' batin Mama Lena yang kagum melihat kecantikan dan kesopanan Airin.
"Bu? Maaf?" ucap Airin lagi sambil melambaikan tangannya didepan wajah Mama Lena.
"Eh iya maaf, itu, saya mau mencari bunga mawar putih, tapi sebelumnya apa saya boleh melihat-lihat dahulu? Siapa tau saya tertarik sama bunga lainnya," jawab Mama Lena tersenyum.
"Oh boleh. Kalau begitu mari saya temani Ibu," tawar Airin ramah.
"Apa kau tidak lelah?" tanya Mama Lena mulai mendekati Airin.
"Tidak ko Bu, saya sudah terbiasa seperti ini," jawab Airin masih tetap tersenyum.
"Kau hebat sekali. Kenalkan nama saya Lena. Siapa namamu?" tanya Mama Lena mengulurkan tangannya.
"Saya Airin Maharani. Panggil saja Airin," jawab Airin membalas uluran tangan Mama Lena.
"Nama yang cantik. Oh ya, kau hamil berapa bulan?" tanya Mama Lena kembali sambil mengelilingi toko bunga Airin.
"Makasih Bu. Ibu juga cantik sekali. Usia kehamilan saya sekarang jalan lima bulan Tante," jawab Airin mengusap perut buncitnya.
"Oo lima bulan ya. Terus dimana suamimu?" Tanya Mama Lena keceplosan.
"Saya.. Saya tidak mempunyai suami Bu," jawab Airin menundukkan kepalanya karena malu.
"Maaf, saya tidak tau," ujar Mama Lena segera. Ia takut Airin bisa tidak nyaman dekat dengannya.
"Tidak apa-apa kok Bu. Ibu tidak perlu meminta maaf," balas Airin tersenyum.
"Kamu baik sekali. Kamu disini merantau atau....-", tanya Mama Lena yang langsung di jawab oleh Airin.
"Saya disini merantau Bu. Kedua orang tua saya ada di kampung," jawab Airin sedih.
"Kamu kenapa sedih? Kamu rindu ya sama orang tuamu," tanya Bu Lena.
"Iya Bu. Saya merindukan mereka. Tapi saya tidak diizinkan lagi untuk pulang ke kampung halaman saya. Kedua orang tua saya juga kecewa sama saya karena saya hamil di luar nikah. Padahal saya melakukan semua itu demi biaya operasi Ayah saya," ucap Airin tanpa sadar meneteskan air matanya.
"Maksud kamu.. Kamu menjual kesucian mu kepada laki-laki hidung belang begitu?" tanya Mama Lena shock.
"I..Iya Bu. Maaf ya Bu, saya jadi curhat. Jujur sebelumnya saya tidak pernah cerita aib saya kepada siapapun selain Ibu. Saya mohon jangan menyebarkannya kepada siapapun ya Bu. Saya takut, mereka tidak mau lagi membeli bunga di toko saya," ucap Airin yang sadar jika ia telah bercerita banyak kepada Mama Lena.
"Iya.. Tidak apa-apa. Kamu bisa cerita apa saja sama saya. Anggap saja saya ini temanmu,* jawab Mama Lena memegang tangan Airin.
"Makasih Bu," jawab Airin.
"Oh ya Airin, kamu kan sekarang hamil. Terus apa kamu tau siapa laki-laki yang menghamili mu?" tanya Mama Lena memancing Airin.
"Saya tidak mengenalnya Bu, tapi saya tau dia setiap hari ke bar tempat saya bekerja sebelumnya. Yang saya tau, dia termasuk laki-laki hidung belang yang sering bergonta-ganti pasangan di bar itu," jelas Airin tanpa ia sadari, dirinya telah membongkar rahasia Gara, anak Mama Lena.
'Ternyata kelakuanmu di luar sana seperti itu.! Pantas saja kamu selalu susah jika diminta untuk tidur di rumah. Awas saja anak itu nanti,' batin Mama Lena yang kesal karena mengetahui perilaku liar putranya.
"Terus kenapa kamu tidak meminta pertanggung jawaban kepadanya? Dengan begitu, anak yang kamu kandung jelas siapa bapaknya," usul Mama Lena membuat Airiin menundukkan kepalanya.
"Saya takut Bu, jika saya meminta pertanggung jawabannya, takutnya dia gak terima. Soalnya di antara kami tidak ada perjanjian tanggung jawab jika saya hamil. Andaikan dia mau bertanggung jawab, pastilah itu karena terpaksa, bukan karena cinta. Kita semua sama-sama tau jika berumah tangga itu bukanlah hal yang main-main. Takutnya saya atau dia bisa makan hati karena keterpaksaan masing-masing dari kami. Jadi biarlah saya yang menanggung beban ini Bu," jelas Airin menitikkan air matanya kembali.
"Kalo misalkan dia mau tanggung jawab dengan senang hati gimana? Apa kamu mau?" tanya Mama Lena yang salut dengan Airin.
"Jujur saya gak mau Bu," jawab Airin membuat Mama Lena semakin heran.
"Loh, kenapa Airin?" tanya Mama Lena menaikkan satu alisnya.
"Dia itu laki-laki hidung belang. Saya pasti akan makan hati saat hidup dengannya nanti. Dan lagi, sepertinya saya tidak pantas dengannya. Dia kaya dan saya miskin Bu," jawab Airin terus terang.
Melihat kepolosan dan ketegaran Airin, Mama Lena semakin salut dengan Airin. Ia rela menjual kesuciannya demi membiayai biaya pengobatan bapaknya.
'Setelah saya mengetahui semuanya dari kamu, bahkan saya merasa anak saya Gara tidak pantas untukmu Airin. Kamu itu terlalu baik untuk bajingan seperti Gara. Tapi dengan keadaanmu yang sedang hamil cucu saya, rasanya berat juga jika saya merelakan laki-laki lain sebagai pengganti Gara untuk Ayah dari anak tersebut. Saya janji akan membuat Gara berubah, supaya kamu mau menerimanya sebagai pendamping mu Airin,' batin Mama Lala memegang dan menggenggam tangan Airin.
"Bu? Ibu kenapa melamun?" ucap Airin menyadarkan Mama Lena dari lamunannya.
"Ahh. Maaf Airin. Saya hanya takjub denganmu. Kalau begitu saya boleh minta nomor ponselmu Airin, biar saya lebih gampang untuk memesan bunga disini. Selain itu, agar kamu bisa cerita apa pun masalahmu kepada saya," jelas Mama Lena mengeluarkan ponsel ya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 194 Episodes
Comments
Lilisdayanti
aqu baru baca ada CEO minum susu 🤣🤣🤣🤣🤣selain seketaris HAN 🤣🤣👍
2022-11-18
0
Vivian
habis mewek malah dibikin ngakak wkwk😭🤣🤣🙏
hayooolo gara🤣
2022-10-31
0
Nindy
2022-10-26
0