Mendapat tatapan tajam dari Gara, Leon hanya tersenyum kecut dan segera memalingkan wajahnya.
"Ya sudah, kalau begitu terima kasih ya bu. Kalau begitu sekalian kami berdua pamit," ucap Gara kepada pemilik kosannya.
***
"Baik. Hati-hati," jawab ibu kos tersebut kepada Gara dan juga Leon.
.
.
Sesampainya di mobil, Leon yang merasa perasaannya tidak enak akhirnya kena semprot oleh sahabatnya Gara.
"Leon," panggil Gara dingin.
"Hehe.. Iya, kenapa?" jawab Leon kikuk.
"Kau tau kan dimana kampung halamannya Airin. Jangan bilang kau tidak mengetahuinya," ucap Gara dingin.
"Hehe.. Itu.. Itu nanti saya bakal cari tau. Soalnya kemarenkan waktunya cuma tiga puluh menit, jadi gak keburu juga gitu," alasan Leon agar tidak dimarahi oleh Gara.
"Huh... Sudahlah. Lupakan," balas Gara rolls eyes.
.
.
"Halo Bu. Ayah gimana? Bagaimana dengan operasinya" ucap Airin sedang menelepon ibunya.
"Ayah sudah lebih baik nak. Kamu lagi apa?" tanya sang Ibu kepada Airin.
"Ini Airin lagi di atas bus mau pulang kampung Bu," jawab Airin membuat ibunya kaget.
"Pulang kampung? Apa kamu tidak bekerja lagi sayang?" tanya Ibu penasaran.
"Tidak Bu, Airin mau menemani ibu dan Ayah dikampung saja. Kebetulan Airin ada sedikit uang buat kita membuka usaha kecil-kecilan," jawab Airin dengan tatapan keluar kaca bus yang ia tumpangi.
Enam jam kemudian akhirnya Airin telah sampai di kampung halamannya.
Sedangkan Gara seperti biasa. Ia tengah duduk celingak-celinguk mencari keberadaan Airin di bar milik Yuta yang menjadi langganannya.
"Kau mencari keberadaan Airin?" tanya seorang laki-laki yang berjalan ke arahnya dan juga Leon.
Seketika itu juga, Gara dan Leon memutar kepalanya ke asal suara tersebut.
"Yuta?" ucap Gara spontan saat melihat siapa yang ada dihadapannya saat ini.
"Ya, saya Yuta. Apa kabar Gara?" jawab Yuta mengulurkan tangannya kepada Gara.
"Baik.. Baik.. Kau sendiri? Buat apa kau disini?" tanya Gara yang juga membalas uluran tangan Yuta.
"Saya baik..," jawab Yuta tersenyum lalu ucapamnya terputus oleh Leon.
"Gar, Yuta ini pemilik bar ini," bisik Leon di telinga Gara.
"Oh.. Kau pemilik bar ini?" tanya Gara memastikan ucapan Leon.
Ya, aku pemilik bar ini. Apa kau mencari keberadaan Airin?" tanya Yuta sekali lagi.
"Ya, aku mencarinya. Apa kau melihatnya?" jawab Gara kembali bertanya.
"Airi sudah tak bekerja disini lagi. Dia baru saja mengundurkan diri tadi pagi," jawab Yuta dengan sebatang rokoknya.
"Apa? Mengundurkan diri?" tanya Gara memastikan pendengarannya.
"Ya, mengundurkan diri," jawab Yuta duduk di hadapan Gara.
"Apa kau tau dimana keberadaannya?" tanya Gara mencari informasi dari Yuta.
"Lihat saja di kosannya," jawab Yuta cepat.
"Sudah, kami sudah dari kosannya tadi, tapi pemilik kosan mengatakan ia sudah tidak ngekos lagi di sana," jelas Gara dengan sebatang rokoknya.
"Oh ya? Apa mungkin dia kembali ke kampungnya?" ucap Yuta menaikkan satu alisnya.
"Ya kau benar. Tadi pemilik kos bilang jika dia pulang kampung. Apa kau tau kampung halamannya?" tanya Gara berharap banyak kepada Yuta.
"Tau," jawab Yuta singkat lalu tersenyum.
"Dimana?" tanya Gara dan Leon serentak.
"Wawwww, kalian kompak sekali," ujar Yuta tersenyum.
Leon dan Gara saling pandang untuk sesaat kemudian fokus lagi ke Yuta untuk menunggu jawaban darinya.
"Kampung halaman Airin ada di Surabaya, kurang lebih enam atau delapan jam dari sini,. Nanti untuk alamat lengkapnya akan kuberi tahukan lewat pesan," jawab Yuta lalu meminum minumannya.
"Oke, makasih. Oh ya apa kau punya nomor ponselnya?" tanya Gara lagi.
"Punya.. Tapi kenapa kau ingin tau sekali tentangnya?" jawab Yuta penasaran.
"Ya, aku ada urusan sedikit dengannya," alasn Gara berbohong.
"Urusan apaan? Cih.. Urusan air mani iya," gumam Leon pelan.
"Leon awas kau," bisik Gara mengancam.
"Baiklah, kalau gitu nanti aku kirimkan nomornya kepadamu. Nomormu masih yang lama kan?" tanya Yuta.
"Iya, nomorku masih yang lama," jawab Gara singkat.
.
.
Beberapa Minggu berlalu sejak kejadian itu. Airin yang kini tinggal dikampung halamannya kini tengah duduk termenung di depan jendela kamarnya. Tiba-tiba ia merasakan badannya tidak enak dan beberapa saat kemudian ia mual-mual.
Hueeekk.. Hueeeekkk..
"Sepertinya aku masuk angin," gumam Airin bicara pada dirinya sendiri, lalu mengambil minyak angin di dalam laci kamarnya.
"Kamu kenapa nak?" tanya sang Ibu yang mendengar Airin mual-mual di kamarnya.
"Ini Bu, sepertinya Airin masuk angin. Airin istirahat dulu ya Bu," jawab Airin menatap Ibunya sekilas.
Ada rasa yang berbeda dalam hati sang Ibu saat melihat Airin yang masih mual-mual seperti itu.
Ia takut jika terjadi sesuatu kepada putri semata wayangnya itu.
"Ya sudah, kalau begitu kamu istirahat dulu ya nak. Siapa tau nanti badannya sudah baikan," ujar sang Ibu mengusap kepala putrinya.
"Iya Bu, makasih," balas Airin kemudian menutup matanya.
Sementara itu, Gara dan juga Leon sedang dalam perjalanan ke Surabaya dalam rangka bertemu dengan kliennya. Beberapa Minggu terakhir ini Gara sangat sibuk dengan urusan kantornya.
Kedua laki-laki tampan itu bertolak ke Surabaya menggunakan mobil pribadi milik Gara.Karena ia ingin menghabiskan waktunya di jalanan dari Jakarta ke Surabaya.
"Leon berhenti, aku ingin membeli cendol itu," ucap Gara kepada Leon yang memegang kemudi pada saat itu.
Ciiiiiiiiitttttt...
Seketika mobilnya berhenti mendadak dan lagi-lagi membuat kepala Gara terbentur ke dashboard mobilnya.
Tiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnn...
Klakson mobil belakang berbunyi panjang saat mobil yang dikendarai Gara dan juga Leon berhenti mendadak.
"Leon, kau ini bisa nyetir gak sih, setiap kali kau berhenti, kau selalu membuat kepalaku terbentur ke depan. Kau mau membuat kepalaku geger otak," bentak Gara yang kesal dengan tingkah sahabatnya itu.
"So.. Sorry Gara. Aku tidak sengaja. Aku cuma kaget kenapa kau mendadak minta dibelikan cendol. Bukannya kau tak suka makan cendol?" tanya Leon heran.
"Biarin, bukan urusanmu. Untung saja mobil di belakang tidak menabrak kita. Bisa mati kau jika itu terjadi," omel Gara sembari keluar dari mobilnya.
"Hhhhh.. Tumben-tumbenan mau makan cendol. Mana cendol jalanan lagi. Apa jangan-jangan dia ngidam ya?? Tapi masak iya ngidam. Dia kan beluuuummmmm.... Astagaaaaa...," ucap Leon berhenti saat bicara pada dirinya sendiri.
Ia melihat ke arah Gara yang sedang asik makan cendol di tepi jalan dengan nikmatnya.
Beberapa saat kemudian, Gara yang anti makan makanan pinggir jalan kembali masuk ke dalam mobilnya dengan mood yang lebih bagus.
"Gara," panggil Leon saat Gara sedang memasang seat belt nya.
"Hmmmm," jawab Gara singkat.
"Kamu ngidam ya?" tanya Leon santai.
Mendengar pertanyaan Leon, seketika Gara melihat Leon dan membelalakkan matanya.
"Kau bicara apa?" tanya Gara menjawab pertanyaan Leon.
"Ya aku bicara itu. Apa kau mengidam? Tidak biasa-biasanya kau makan makanan pinggir jalan. Apalagi itu cendol, makanan yang paling tidak kau sukai. Tapi tadi aku lihat kau memakannya dengannya dengan nikmat dan lahap," jelas Leon santai namun fokus mengemudi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 194 Episodes
Comments
Lilisdayanti
wahhh kecebong si gara sudah tumbuh,,semoga kembar,, 🤭🤭 kasih si gara ngidam yg aneh2 thur 🤭
2022-11-18
0
Nur Evida
bikin gara ngidamnya apek lemes thor
2022-10-24
1
Eni Trisnawati Mmhe Winvan
iyalah kalo wanitanya hamil ea dah pasti lelaki juga turut ngidam
2022-06-24
0