Setelah di tinggal Liona menikah dengan pamannya sendiri, Gara menjadi laki-laki yang haus akan wanita. Gara juga terkenal tidak memiliki hati dan perasaan kepada wanita manapun tak terkecuali kepada Airin waktu saat pertama kali dia menginginkan Airin dulu.
***
Namun seiring berjalannya waktu, sepertinya sikap angkuh dan kejam Gara mulai berangsur-angsur menghilang.
"Hidup bersamaku?" ucap Airin menautkan kedua alisnya.
"Ya," jawab Gara dengan senyuman dan tatapan imutnya berkedip-kedip.
"Dengar ya Tuan atau Nyonya Amara, jangankan hidup dan menua bersamamu. Untuk menjadi sekedar teman saja aku tidak akan sudi," ucap Airin tersenyum smirk.
"Hay, aku ini laki-laki tulen. Jangan panggil aku Nyonya Amara lagi. Aku ini Gara. Gara Emanuel," ucap Gara membuat Airin kaget.
"Gara.. Gara Emanuel?" ucap Airin menutup mulutnya tak percaya.
"Ya.. Aku Gara Emanuel. Kenapa? Kau mengenalku sebelumnya?" tanya Gara penuh selidik.
"Ti.. Tidak. Aku tidak mengenalmu sebelumnya. Sudah, sebaiknya kau pulang. Aku mau istirahat," usir Airin yang masih kaget dengan nama Gara Emanuel.
"Aku sudah hilang, kau tak boleh tinggal dan tidur di ruko sempit ini lagi. Aku gak rela, calon buah hatiku tinggal di tempat seperti ini," jawab Gara.
"Terserah," balas Airin rolls eyes.
"Aku akan pergi dulu sebentar untuk membeli rumah untukmu. Kau jangan kemana-mana. Ingat, jangan pernah berpikir untuk kabur karena apa? Karena kemanapun kau kabur, aku pasti akan bisa menemukanmu," ucap Gara sebelum meninggalkan Airin di toko miliknya.
"Hai Nyonya Gara kau kembali juga akhirnya. Kau tak lihat, aku sudah berlumut menunggumu disini," umpat Leon yang sedari tadi menunggu Gara di dalam mobil.
"Oh iya maaf. Aku melupakanmu. Sekarang ayo kita ke rumah utama. Aku pernah melihat rumah di jual tak jauh dari rumah kedua orang tuaku itu. Dan jangan panggil aku nyonya, atau aku akan melaporkan semua sifat buruk mu kepada kedua orang tuamu," ancam dan perintah Gara tanpa rasa bersalah.
"Kau bukannya minta maaf, malah langsung memerintah ku dan mengancam ku. Aku tidak mau. Kau sendiri saja yang bawa mobilnya ke sana. Aku ngantuk mau tidur," protes Leon lalu keluar dari pintu kemudi dan secara tiba-tiba membuka pintu sebelah kemudi tempat Gara duduk.
"Kau mau ngapain?" tanya Gara kaget.
"Ya duduk lah. Kau pindah ke sana," ucap Leon mendorong Gara ke kursi kemudi.
"Kau.. Harusnya aku yang marah karena kau menelpon ku saat aku berbicara dengan Airin. Gara-gara kau, penyamaran ku jadi terbongkar," jelas Gara yang kini sudah berada di kursi kemudi dengan kesal.
"Bodo amat," jawab Leon memejamkan matanya.
"Sial," umpat Gara kesal lalu melajukan mobilnya menuju rumah kedua orang tuanya.
Empat puluh menit kemudian, Gara akhirnya sampai di rumah yang akan dijual oleh pemiliknya itu. Rumah minimalis yang mewah, yang letaknya tak jauh dari rumah kedua orang tuanya.
"Saya akan transfer uangnya sekarang ya Pak," ucap Gara menekan nominal harga rumah yang akan dibelinya untuk Airin.
"Baik, dan ini sertifikat dan kunci rumahnya," ucap Bapak-bapak penjual rumah tersebut.
"Makasih," jawab Gara mengambil sertifikat tersebut dan memberikannya kepada Leon.
"Saya akan segera mengurus pembalikan nama yang ada di sertifikat ini besok," ucap Leon yang mengerti maksud Gara.
"Bagus," jawab Gara.
Setelah jual beli rumahnya selesai, Gara mampir sebentar ke rumah kedua orang tuanya untuk memberikan kabar gembira kepada Papa dan Mama nya.
"Gara, kau beli rumah itu untuk orang tuamu kah?" tanya Leon penasaran.
"Tidak," jawab Gara menggeleng.
"Lalu?" tanya Leon lagi.
"Aku membelinya untuk Airin dan juga buah hati kami," jelas Gara membuat Leon mengerutkan keningnya.
"O iya, apakah dia sudah mau menerimamu?" tanya Leon benar-benar penasaran.
"Boro-boro," jawab Gara santai.
"Lalu kenapa kau membeli rumah untuknya?" tanya Leon lagi.
Akhirnya Gara menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dan juga Airin dengan rinci kepada Leon. Termasuk bayi kembar yang dikandung Airin.
Leon pun turut senang, karena sedikit demi sedikit Gara sudah mulai berubah dilihat dari raut wajahnya saat bercerita tentang Airin.
"Apa? Airin hamil anak kembar tiga?" ucap Leon tak percaya.
"Ya.. Kau tak percaya?" jawab Gara tersenyum bahagia. Senyuman yang sudah lama hilang dari diri seorang Gara Emanuel.
"Entahlah.. Aku harus percaya atau tidak," jawab Leon memang kurang percaya.
"Kalau kau tak percaya, silahkan saja kau tanyakan kepada mamaku nanti," ucap Gara tersenyum.
"Kalau memang itu benar, entah Airin yang sangat subur, entah kau yang terlalu rakus waktu itu. Satu kali berhubungan langsung jadi, bahkan kembar tiga lagi," seru Leon tak menyangka.
"Kau meragukan ku? Jika Airin hamil hanya dengan satu kali berhubungan dan anaknya kembar tiga, itu berarti bibit ku sangat unggul. Kenapa harus Airin?" ucap Gara tak terima dengan ucapan sahabatnya itu.
"Ya.. Ya.. Kau selalu kuat dan selalu unggul," jawab Leon mengalah. Leon tau, percuma berdebat dengan seorang Gara Emanuel yang tak pernah mau kalah sedikitpun.
"Ya dong," jawab Gara degan sangat bangga.
"Cih..," decih Leon rolls eyes.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah kedua orang tua Gara.
"Kebetulan ada papa di sini. Papa tau..--," ucapan Gara terputus karena di sela langsung oleh sang papa Sony Emanuel.
"Papa tau, pasti kamu mau memberi tahukan kepada papa kalau wanita yang bernama Airin itu hamil kembar tiga. Iya kan," ucap papanya terkekeh.
"Papa pasti tau dari mama kan," jawab Gara sedikit kesal.
"Ya dong. Terus dari siapa lagi? Bukankah anak papa satu ini terlalu sibuk dengan urusannya sendiri?" sindir papa Sony menaikkan satu alisnya.
"Ya bukannya gitu pa. Papa kan tau Gara itu sibuk di kantor. Kalau papa gak percaya, tanya aja sama Leon. Iya kan Leon," ucap Gara mengedip-ngedipkan matanya kepada Leon.
"Ah... Hmmm.. Iya Om.. Hehe," jawab Leon salah tingkah.
"Haha.. Sudahlah. Kalian ini mau membohongi papa. Papa pikir kalian tidak tau kelakuan kalian di luaran sana. Kalau tidak, bagaimana mungkin kamu bisa menghamili anak orang. Mama sudah cerita semuanya pada papa," ucap Papa Sony membuat Gara dan Leon menundukkan kepalanya.
"Kamu juga Leon. Kalau kamu mengikuti kelakuan nakal Gara, Om pastikan sebentar lagi kamu juga bakalan menghamili anak orang," ucap Papa Sony menyemprot Leon.
"Iya Om. Saya gak akan mengikuti kelakuan buruk Gara lagi. Saya belum mau punya anak Om," jawab Leon menyudutkan Gara.
"Leon, kau apaan? Kau tak ingat dengan wanita mabuk yang menghampirimu malam itu?" ucap Gara mengingatkan
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 194 Episodes
Comments
Dyah Retno
sama" sedeng nih bos Ama ank buah
2022-10-27
0
Jenna Joni
rumah yg besarnya hampir sama kaya penthouse dibilang minimaslis
2022-10-20
0
Maya Ratnasari
laaahh, beli rumah kek mo beli es Kojek ajah.
2022-10-15
1