"Maaf tuan, ini kebanyakan. Saya kembalikan sisanya kepada anda," jawab Airin lalu kembali mengemasi sisa uangnya lalu pergi meninggalkan Gara yang masih diam membeku mencerna ucapan Airin tadi.
"Ck.. Wanita yang menarik," gumam Gara berbicara pada dirinya sendiri.
***
Gara kemudian berjalan dengan santainya berjalan melewati lorong bar tersebut dan menyusul Leon yang masih setia menunggunya di meja tempat biasa mereka tempati.
"Bagaimana? Apa kau menikmatinya?" tanya Leon dengan senyuman miringnya dan tangan terlipat di dada.
"Jelas dong. Kau tau, dia adalah gadis yang menarik. Dia bahkan mengembalikan hampir dari separuh uang yang kuberi untuknya. Awalnya Aku mengira dia sama saja seperti gadis perawan pada umumnya yang rela melepas mahkotanya demi gaya hidup. Tapi si Airin ini sangat berbeda," ucap Gara sembari menghidupkan sebatang rokok.
"Oh ya?? Apa dia tidak butuh uang? Lalu kenapa dia mau menjual kesuciannya?" tanya Leon lagi penasaran.
"Entahlah, kurasa dia lagi gabut," jawab Gara bercanda.
"Haha.. Kau benar juga. Mana ada jaman sekarang cewek yang nolak dikasih uang banyak," ujar Leon sembari menghisap rokoknya.
.
.
"Gara," panggil Leon saat mereka berdua telah di mobil menuju rumah.
"Hmmm," jawab Gara malas karena sudah lelah.
"Tadi pas kau meng-unboxing gadis pelayan itu, kau tak lupakan menggunakan pengaman?" tanya Leon tiba-tiba.
Seketika itu juga Gara kaget dan langsung membuka matanya.
"Astaga," ucap Gara mengusap kasar wajahnya.
"Kenapa? Apa ada yang tertinggal?" tanya Leon mengerem mobilnya secara mendadak, sehingga kepala Gara terbentur ke dashboard mobil.
"Hey, kau kenapa berhenti mendadak Leon? Kau tak lihat kepalaku terbentur ha?" hardik Gara mempelototi Leon.
"Ya maaf. Bukannya kamu melupakan sesuatu?" ucap Leon menaikkan satu alisnya.
"Kapan saya bilang seperti itu?" balas Gara dengan rolls eyes lalu menyenderkan kepalanya kembali.
"Lalu apa yang terjadi? Kenapa kau sekaget itu ha?" tanya balik Leon.
"Kau tau Leon, saya lupa memakai pengaman untuk si junior saat meng-unboxing si Airin. Bagaimana kalau dia hamil?" ucap Gara cemas.
"Hahaha.. Kenapa kau cemas? Bagus dong jika Airin hamil," ucap Leon santai.
"Kau gila ya," ucap Gara membelototi Leon.
"Siapa yang gila. Jika Airin hamil kau akan menjadi seorang ayah. Siapa tau jika kau menjadi seorang ayah, sifat aslimu dapat kembali lagi. Aku rindu dengan Gara yang dulu," gumam Leon pelan tapi masih bisa didengar oleh Gara.
"Kau bicara apa Leon? Mau ku kirim kau ke kutub utara haa!" ujar Gara menoel kepala Leon.
"Au sakit, kau gak lihat aku lagi nyetir.
"Bodo amat," balas Gara rolls eyes.
.
.
Sedangkan ditempat lain, Airin baru saja sampai di kosan sederhana miliknya.
Ia meletakkan tasnya lalu langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang yang hanya muat satu orang itu sambil menangis sejadi-jadinya.
"Aku kotor.. Ayah, Ibu maafkan aku. Maafkan aku," ucap Airin tersedu-sedu dibawah bantalnya.
Adegan demi adegan panasnya dengan laki-laki yang tidak ia kenali itu kembali menari-nari di ingatannya.
Betapa bodohnya dia menukar kesuciannya dengan sejumlah uang yang tak sebanding dengan kehormatannya yang selama ini ia pertahankan.
Lelah menangis dan menyesali nasibnya, kini Airin telah berpindah ke alam mimpi indah yang membawanya lupa akan kenyataan hidupnya sekarang.
Ia bermimpi menjadi ratu dari seorang laki-laki bertopeng yang baik dan lembut. Laki-laki itu memperlakukan Airin sangat baik, layaknya seorang permaisuri di negri kerajaan.
Namun saat laki-laki itu membuka topengnya, Airin begitu terkejut karena laki-laki itu adalah laki-laki yang membeli kesuciannya. Seketika itu juga ia terbangun dari mimpi dan juga tidurnya.
.
.
.
Ditempat lain, Gara dan Leon memilih pulang ke apartemen daripada pulang ke rumah utama milik keluarga Gara.
"Gara kau kenapa? Apa yang sedang kau pikirkan? Kenapa wajahmu begitu kusut?" tanya Leon yang sedari tadi memperhatikan sahabat sekaligus bosnya itu.
"Leon, ku mau kau mencari tahu semua tentang pelayan itu. Tolong cari sedetail-detailnya informasi yang gadis itu miliki, dan ingat, jangan sampai ada satupun yang terlewatkan," perintah Gara kepada Leon.
"Buat apa sih Gara?" tanya Leon penasaran.
"Kau masih berpikir buat apa? Kan aku sudah bilang, benihku baru saja mendarat di rahimnya. Aku melakukan itu tanpa pengaman. Bagaimana kalau gadis itu hamil lalu menggunakan kehamilannya untuk menghancurkan reputasiku?" ucap Gara mengusap kasar wajah tampannya.
"Huhh.. Baiklah.. Silahkan tunggu tiga puluh menit, aku akan mendapatkan informasi tentang gadis itu," jawab Leon lalu keluar untuk mengambil laptopnya di dalam mobil.
Benar saja, tiga puluh menit kemudian, Leon berhasil mendapatkan semua informasi tentang Airin.
"Gara, gue berhasil nih mendapatkan semua informasi tentang pelayan itu," ujar Leon yang masih fokus dengan laptopnya.
Mendengar ucapan Leon, Gara yang sebelumnya berdiri di balkon sambil merokok segera berjalan ke arah Leon yang duduk di sofa depan TV.
"Informasi apa aja, coba saya lihat?" jawab Gara mengambil alih laptop yang ada di pangkuan Leon.
Gara pun melihat dan membaca semua informasi yang berhasil didapatkan Leon.
"Nama lengkapnya Airin Dwi Maharani, umurnya dua puluh tahun, pendidikan terakhir SMA, alamat jl. Pramuka no 12," ucap Gara membaca semua informasi yang ada di laptop tersebut.
"Gimana? Udah kan?" tanya Leon tersenyum bangga.
"Iya udah," jawab Gara singkat.
Selanjutnya Gara melihat beberapa foto Airin yang ada di akun media sosialnya.
"Cantik juga, manis," ujar Gara berbicara pada dirinya sendiri.
Ia terus melihat foto Airin dan tersenyum-senyum sendiri.
"Liatin terus, nanti suka lagi," ejek Leon berlalu ke kamar mandi.
.
.
.
Keesokan harinya, Gara dan Leon bersiap-siap untuk berangkat ke kantornya.
Sepanjang perjalanan Gara selalu memikirkan tentang Airin.
Tak tau kenapa ia menjadi selalu teringat kepada gadis kecil yang sudah menjual kesuciannya kepadanya hingga dirinya tak menyadari jika mereka telah sampai di kantornya.
"Gara ayo turun," ajak Leon menoleh ke arah Gara."
"Gara kau budeg ya? Gar.. Garaaaaaa," teriak Leon yang membuat Gara menjadi kaget.
*Gak usah tereak-tereak. Kamu pikir saya budeg apa? Lagian, kenapa kamu berhenti disini" keluh Gara kesal kepada sahabatnya itu.
"Gara.. Gara. Kau gak lihat kita sudah sampai kantor," ujar Leon menunjuk keluar jendela.
"Oh iya maaf," jawab Gara cengengesan lalu keluar dari pintu mobilnya.
Sesampainya di kantor, baru saja Gara akan masuk kedalam ruangannya, tiba-tiba ada suara seorang wanita yang begitu sangat familiar di telinganya.
"Gara," panggil wanita tersebut sambil setengah berlari kearahnya.
Sesaat Gara menghentikan langkahnya dan menoleh kearah suara tersebut.
"Kau? Mau apa kau kesini?" ucap Gara dingin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 194 Episodes
Comments
Yulia Prihatin91#SoLo#
pasti mantan pacarnya minta balikan atau mungkin jalang
2022-11-01
0
Mariana Frutty
✔️
2022-10-25
0
𝑐𝑖𝑛𝑑𝑦 𝐴𝑛𝑒𝑙𝑖𝑎
𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐧𝐣𝐢𝐫 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐢𝐭𝐮🖕
2022-10-04
0