Sepeninggal Gara, Leon hanya duduk sendirian di sofa bar tersebut ditemani dengan sebotol minuman. Tiba-tiba datang seorang wanita mabuk yang berjalan ke arahnya.
***
Wanita tersebut tak sengaja tersandung kakinya sendiri, dan jatuh ke pelukan Leon.
"Auu," ucap Leon yang berada di bawah tubuh wanita cantik itu.
.
"Upsss sorry," ujar wanita cantik tersebut. Kedua mata mereka saling bertatap-tatapan untuk sesaat. Namun beberapa saat kemudian wanita itu tiba-tiba saja ******* bibir Leon dan mempermainkannya.
Leon yang masih terperangah, hanya bisa diam saat wanita itu semakin liar dalam menciumi bibir Leon.
Namun beberapa saat kemudian, Leon akhirnya tersadar lalu mendorong tubuh wanita mabuk itu ke samping.
"Siapa kau? Kenapa kau mencium ku?" tanya Leon kepada wanita mabuk itu.
"Aku.. Aku siapa aku? Aku tidak tau siapa aku. Tapi aku tau kamu siapa," jawab wanita mabuk itu lalu terkekeh.
"Kau kenal aku?" tanya Leon penasaran.
"Ya.. Kau.. Kau Leon kan. Laki-laki yang telah begok yang meninggalkan seorang wanita yang mencintainya demi seorang pelacur. Dan akhirnya pelacur itu juga meninggalkanmu dengan laki-laki lain. Hahaha.. Dasar bodoh. Kau tau, kau adalah Ayah yang sangat bodoh di dunia ini.. Kau sangat bodoh. Kelak, saat anakmu yang sangat cantik itu tumbuh besar, dia tidak akan mau menerima mu sebagai Ayah nya," ucap wanita mabuk tersebut berhasil membuat Leon sangat-sangat penasaran.
"Apa.. Apa yang kau maksud? Wanita yang mencintaiku? Aku Ayah? Anak? Aku bahkan belum menikah. Bagaimana bisa aku punya anak. Dasar wanita mabuk. Jangan sembarang bicara kau," jawab Leon bingung.
"Hahaha.. Leon.. Leon. Tak salah aku memanggilmu bodoh. Kau memang belum menikah. Tapi kau terlalu sering bercocok tanam dengan kakakku sampai dia hamil dan melahirkan seorang putri yang cantik sekali meski dia sangat mirip dengan mu," ucap wanita mabuk tersebut.
"Hhhh kau jangan bercanda. Apa buktinya jika aku memang sudah memiliki seorang anak? Apa kau bisa menunjukkannya kepadaku?" tanya Leon mulai tertarik dengan ocehan wanita mabuk itu.
"Bukti?? O yaaa, aku punya buktinya," jawab wanita itu sembari mengambil ponsel dari dalam tasnya.
Ia kemudian menunjukkan sebuah foto anak kecil berusia satu tahun. Wajahnya mirip sekali dengan Leon. Saat melihat foto itu, Leon sangat kaget. Jantungnya berdegup kencang. Namun ia berusaha mengendalikan dirinya.
"Hhhh hanya foto? Itu bukan bukti," ucap Leon tersenyum smirk.
"Kau mau bukti yang akurat lagi?" tanya wanita mabuk tersebut.
"Ya. Jiak kau tidak memilikinya, aku tak akan mempercayainya," jawab Leon yang mulai meragukan ucapan wanita itu.
Wanita yang separuh mabuk itu kemudian kembali mengambil sesuatu dari dalam tasnya, lalu ia mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih yang tersegel.
"Ini. Ini adalah bukti yang sangat akurat untukmu," ujar wanita tersebut memberikan sebuah amplop kepada Leon.
"Apa ini?" tanya Leon penasaran sembari mengambil amplop tersebut dari tangan wanita itu.
"Itu adalah rambut dari anak yang ada di foto tadi. Kau boleh melakukan tes DNA dengan rambut itu," ucap wanita itu lalu pergi meninggalkan Leon yang masih termenung dengan amplop di tangannya.
"Oh ya, aku harap setelah hasilnya keluar, kau jangan menyesal dan jangan frustasi. Ingat, waras itu mahal," ucap wanita itu berbalik, lalu meninggalkan Leon kembali.
Antara percaya dan tidak percaya, Leon yang kini benar-benar penasaran itu langsung pergi meninggalkan Gara yang masih sibuk dengan pertempurannya di bar milik Yuta itu.
Ia langsung tancap gas menuju rumah sakit yang beroperasi dua puluh empat jam untuk segera melakukan tes DNA.
Selama dalam perjalanan, Leon mencoba mengingat-ingat kembali dengan siapa saja ia pernah melakukan hubungan badan dan mengeluarkan benihnya di dalam rahim sang wanita.
"Aaaaa sial. Terlalu banyak wanita yang ku tiduri sampai-sampai aku lupa kepada siapa saja benihku ini aku sumbangkan," teriak Leon memukul stir mobil yang ada di hadapannya.
Sementara itu, Gara yang telah selesai dengan permainannya kini sedang bersandar di ranjang yang ia gunakan untuk memuaskan nafsunya sembari menunggu wanita bayarannya selesai mandi.
Biasanya setelah bergulat, Gara lah yang harus mandi terlebih dahulu. Namun saat ini Gara terlalu lelah, di tambah saat ini ia banyak pikiran, sehingga laki-laki tampan itu tidak fokus dalam menuntaskan hajatnya.
Gara kemudian meraih ponselnya yang ada di meja tepat di sebelahnya, lalu menghubungi Leon untuk memberi tahukan jika ia akan pulang cepat. Namun beberapa kali Gara menghubungi Leon, sama sekali tak ada jawaban dari sahabatnya itu. Jangankan pesan, telpon saja tak pernah ia angkat.
"Kemana dia? Apa jangan-janga si Leon masih bermain dengan wanitanya," tanya Gara kepada dirinya sendiri.
Tak sampai lima menit kemudian, wanita bayaran Gara keluar pertanda dirinya telah selesai mandi. Tanpa sepatah kata sedikitpun, Gara langsung setengah berlari menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa percintaannya dengan wanita bayaran tersebut.
Beberapa saat kemudian, Gara yang sudah selesai mandi dan berpakaian, segera meninggalkan kamar dan juga wanita tersebut dengan sejumlah uang yang ia taruh begitu saja di atas kasur.
Gara pun menyusul Leon di tempat terakhir ia dan juga Leon tengah duduk sebelum akhirnya berpisah.
"Leon mana? Apakah selama itu?" gumam Gara penasaran.
Gara memutuskan untuk duduk lalu memesan minum sembari menunggu Leon yang di sangkanya masih bermain dengan wanita bayarannya.
Kira-kira satu jam Gara menunggu, namun Leon belum juga menunjukkan batang hidungnya.
Sudah berkali-kali Gara mencoba menghubungi Leon, namun tak ada jawaban sama sekali.
Lelah menunggu, Gara akhirnya memutuskan untuk pulang terlebih dahulu menggunakan taksi. Namun saat di parkiran yang tak jauh dari pintu masuk bar tersebut, Gara tak melihat mobilnya sama sekali.
"Anjiir, si Leon ternyata pergi. Lalu ngapain saya nungguin dia lama-lama. Awas saja kau Leon," umpat Gara saat melihat mobilnya sudah tidak ada di parkiran.
Sementara Leon yang sudah sampai di rumah sakit, segera menuju meja resepsionis guna untuk menanyakan perihal tes DNA yang akan ia lakukan.
"Maaf Pak, untuk tes DNA, Bapak bisa kembali lagi siang nanti, karena dokternya sudah pulang Pak," jelas petugas rumah sakit tersebut.
"Apa? Siang nanti? Saya gak mau. Saya maunya sekarang. Kau jangan membohongiku ya?" ucap Leon kepada petugas tersebut.
"Maaf Pak, saya tidak bohong. Dokternya sudah pulang," jawab petugas itu sekali lagi.
"Bukannya rumah sakit ini buka dua puluh empat jam? Lalu kenapa dokternya tidak ada," tanya Leon seperti orang bodoh.
"Maaf Pak, rumah sakit ini memang buka dua puluh empat jam, tapi itu untuk keadaan gawat darurat," jelas petugas tersebut.
Karena ponselnya berdering, Leon pun memutuskan untuk pergi dan sembari mengoceh tak jelas.
"Tampan-tampan tapi bodoh," ucap petugas tersebut menatap kepergian Leon
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 194 Episodes
Comments
Lilisdayanti
nah loh,, gara2 pada sengkle 🤣🤭🤭 pada buntutan kan 🤣🤣🤣🤣yakin kocak banget ceritamu thur 🤭🤭🙈
2022-11-18
1
Yulia Prihatin91#SoLo#
Leon 11_12 teryata ama gara
sama gilanya
2022-11-01
0
Henny Suryani
mudah2an airin gk brjodoh ama gara
2022-10-30
0