"Ya aku bicara itu. Apa kau mengidam? Tidak biasa-biasanya kau makan makanan pinggir jalan. Apalagi itu cendol, makanan yang paling tidak kau sukai. Tapi tadi aku lihat kau memakannya dengannya dengan nikmat dan lahap," jelas Leon santai namun fokus mengemudi.
***
"Ck.. Kau gila ya? Mana mungkin aku mengidam, sedangkan kau tau aku belum punya istri bodoh," jawab Gara geleng-geleng kepala.
"Hhhhhh.. Gara-Gara.. Kau memang belum punya istri, tapi kau ingat, kau itu telah menebar benih di rahim Airin. Apa kau lupa?" ujar Leon membuat Gara terdiam dan teringat kembali dengan Airin yang beberapa waktu ini sempat ia lupakan karena urusan kerja nya yang menumpuk.
"Kau benar Leon. Aku telah melupakan Airin karena pekerjaanku. Leon, bukankah kita akan ke Surabaya? Nanti setelah meeting, kita singgah ke alamat yang diberikan oleh Yuta," ucap Gara memberi perintah mendadak.
"Hhhhh.. Baiklah, terserah kau saja. Yang penting semua urusan pekerjaan kita beres dulu," balas Leon rolls eyes.
.
.
.
"Huhhh akhirnya selesai juga," lenguh Gara yang dari tadi sibuk dengan kliennya.
"Iya, ya udah, ayo!" ajak Leon sambil berdiri.
"Lah? Ayo kemana?" tanya Gara heran.
"Ya ke rumah si Airin lah. Masak mau pulang," jawab Leon.
"Ooo iya ya.. Hehe.. Ayo kita berangkat," balas Gara sembari berdiri dan meninggalkan lokasi meeting mereka.
.
.
Sementara Gara dan Leon sedang di perjalanan, Airin yang saat itu keluar rumah untuk membeli obat sakit kepala, tiba-tiba pingsan dipinggir jalan. Kemudian beberapa warga yang melihat lalu menolong dan membawa Airin ke rumah bidan desa tersebut.
Saat sedang diperiksa, bidan desa mengatakan jika Airin positif hamil. Dan disitulah para warga kaget dan marah kepada Airin.
Beberapa warga mendatangi rumah Airin dan memberi tahukan kehamilan Airin kepada kedua orang tuanya.
Kedua orang tua Airin juga tak kalah kaget saat mendengar ucapan warga. Setelah Airin dan keluarganya di bawa ke balai warga, para petinggi di desa memutuskan jika Airin harus pergi dari kampungnya pada saat itu juga.
Para warga dan petinggi desa tidak mau jika kampung halamannya menjadi kena sial karena kehamilan Airin yang tanpa suami tersebut.
Mendengar keputusan yang telah dibuat, kedua orang tua Airin tak dapat berbuat apa-apa. Mereka kecewa karena putri semata wayangnya ternyata hamil tanpa suami.
"Maafkan Airin Ayah, Ibu. Maafkan Airin," ucap Airin memohon maaf kepada kedua orang tuanya sekaligus pamit dari kampung halamannya.
Kedua orang tua Airin hanya diam saat putrinya itu berpamitan kepadanya. Mereka sangat kecewa dengan Airin, yang menurut penjelasan putrinya, ia menjual kesuciannya demi mengobati biaya berobat sang Ayah.
Sedih tak tak mendapat jawaban dari Ayah dan Ibunya, Airin kemudian pergi meninggalkan kampung halamannya di saksikan oleh beberapa warga yang mengantarnya tadi.
"Aku harus kemana," ucap Airin bicara pada dirinya sendiri saat gadis cantik itu di antar oleh warga menuju terminal keberangkatan bus.
Sesampainya di terminal, Airin memutuskan untuk menaiki bus tujuan Jakarta. Ia akan kembali ke ibu kota dengan sisa uang yang ia miliki dari hasil menjual kesuciannya.
Sementara itu, Gara dan juga Leon hampir tiba di kampung halaman Airin yang letaknya jauh masuk kedalam pelosok desa.
Butuh waktu empat jam dari pusat kota ke kampung halaman Airin. Setibanya di desa tersebut, beberapa warga heran melihat mobil mewah yang masuk kedalam kampungnya. Masalahnya baru kali ini ada mobil sebagus mobil Gara yang masuk ke kampung mereka.
Karena bingung, Leon memutuskan untuk bertanya kepada salah seorang warga yang kebetulan lewat di dekat mobil mereka.
"Maaf pak, saya mau bertanya. Rumahnya Airin dimana ya?" tanya Leon kepada bapak-bapak tersebut.
"Airin? Airin yang baru saja di usir warga ya?!" jawab bapak-bapak tersebut membuat Gara dan Leon kaget.
"Di usir warga? maksud bapak?" Gara balik bertanya.
"Iya, si Airin itu hamil tanpa suami, jadi sama warga disini di usir, gak boleh lagi tinggal di kampung ini. Baru tadi di antar warga ke terminal bus saat mau azan Zuhur," jelas bapak-bapak tersebut.
"Airin hamil? Bapak gak salahkan orang kan? Apa orangnya seperti ini?" ucap Gara mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto Airin kepada bapak-bapak tersebut.
"Apa orangnya seperti ini?" tanya Gara memperlihatkan layar ponselnya kepada bapak-bapak tersebut.
"Iya benar, ini emang si Airin. Kalau boleh tau kalian-kalian ini siapa nya ya?" jawab bapak-bapak itu sekaligus memberikan pertanyaan kepada Gara dam juga Leon.
"Bu.. Bukan siapa-siapa. Kami adalah rekan kerja Airin dari kota. Kalau begitu, terima kasih ya pak atas informasinya," ucap Gara lalu memberikan sejumlah uang kepada bapak-bapak tersebut.
"Wahh.. Sama-sama pak, sama-sama," jawab bapak tersebut sangat senang saat di beri beberapa lembar uang seratusan padanya.
.
.
Sementara itu, Airin tengah duduk termenung di bangku bus yang ia tumpangi menuju Jakarta.
Airin tak menyangka jika hasil dari cinta satu malamnya bersemi di rahimnya.
Hatinya sangat hancur saat kedua orang tua tempat ia bersandar sangat marah dan kecewa kepadanya.
'Apa yang harus aku lakukan? Saat ini aku sangat hancur. Ingin sekali rasanya aku mati, tapi ada sebuah nyawa yang menumpang kan hidupnya di rahimku. Aku harus apa tuhan? Harus berbuat apa untuk kedepannya,' batin Airin dengan tatapan kosong keluar jendela. Tak lupa dengan air mata yang berjatuhan di pipinya, serta tangan yang mengusap perut ratanya.
Lelah berdialog dengan dirinya sendiri, Airin pun terlelap hingga ia sampai di Jakarta.
Begitu juga dengan Gara dan juga Leon, mereka memutuskan kembali ke Jakarta karena tak menemukan keberadaan Airin.
"Leon, apa yang harus aku lakukan? Airin sedang hamil anakku. Kemana aku harus mencarinya?" tanya Gara kini sedang panik.
"Kau tenanglah Gara, biasanya kalau wanita itu hamil, dia pasti akan mencari siapa orang yang telah menghamilinya untuk meminta pertanggung jawabannya. Begitu juga dengan Airin. Aku yakin saat ini dia pasti kembali ke Jakarta untuk mencari keberadaan mu," jawab Leon mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"Benarkah? Kalau tidak bagaimana? Lagian kemana dia akan mencari ku?! Kami hanya bertemu di bar saja?!" ucap Gara sedikit cemas.
"Ya sudah, kalau begitu nanti aku akan menghubungi Yuta. Aku akan meminta bantuannya. Jika Airin kembali ke bar itu, akan ku suruh Yuta untuk memberi tahukannya kepadamu. Jadi sekarang kau tak perlu cemas lagi. Mana ada wanita yang mau hamil tanpa suami," jelas Leon panjang lebar.
"Semoga saja ucapannya mu benar Leon. Bagaimanapun juga aku harus bertanggung jawab atas bayi itu," ucap Gara frustasi.
"Apa kau akan menikahinya?" tanya Leon ingin tahu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 194 Episodes
Comments
Amilia Indriyanti
jaman Saiki Ra Ono ngonoiku
2022-11-28
0
Yulia Prihatin91#SoLo#
bukannya dirangkul tuh warga main usir aja
gak kasihàn
2022-11-01
0
Dyan Daffa
untuk typo* yg salah tolong direvisi ya kak
2022-06-29
2