'Kenapa jantungku berdetak kencang gini ya?' batin Airin.
'Aduh, jantungku pargoy lagi,' batin Gara.
***
"Oh ya mba, saya boleh gak ngelus perut mba nya. Soalnya gemes banget," pinta Gara/Mara.
"Boleh.. Elus aja," jawab Airin sedikit canggung.
Gara pun akhirnya memberanikan diri untuk mengelus perut Airin. Entah apa jadinya jika Airin mengetahui jika perempuan jadi-jadian itu adalah Gara. Laki-laki yang pernah menodainya hingga hamil anak kembar tiga sekaligus.
'Ya Allah, ini benar darah daging ku? Ternyata rasanya begini saat akan menjadi seorang ayah,' batin Gara yang mulai menitikkan air matanya.
"Mara kamu kenapa menangis?" tanya Airin bingung.
"Saya cuma terharu Airin. Saya ingin sekali bertemu dengan anak saya. Tapi istri saya, eh maksud saya suami saya sangat membenci saya, jadi saya dan anak saya dipisahkan," jawab Gara mengarang cerita.
"Oh ya? Kasihan sekali. Anakmu umur berapa?" tanya Airin kasihan.
"Umurnya baru enam bulan," jawab Gara membuat Airin terkejut.
"Berarti masih bayi dong," jawab Airin merasa iba.
"Iya. Airin makasih ya sudah izinin saya mengelus perut kamu ini," jawab Gara yang masih saja mengelus perut buncit Airin.
"Iya sama-sama," jawab Airin.
"Duh, si Gara lama banget sih," ucap Leon yang sedari tadi menunggu di dalam mobil.
"Apa telpon saja ya," tambah Leon mulai bosan.
Saat Gara sedang sibuk bercerita dengan Airin, toba-tiba ponselnya berdering.
Seperti biasa, Gara langsung mengangkat panggilan telpon itu dan langsung menjawabnya dengan kesal dan juga dengan suara laki-lakinya.
"Ada apa lagi sih Leon. Kau bisa tidak menunggu sebentar saja,"
DEG
"Suara itu," ucap Airin yang terdengar oleh Gara. Seketika itu juga Gara terdiam dan langsung menoleh ke Airin.
"Kau?" ucap Airin menutup mulutnya dan mata yang berkaca-kaca.
"Mau apa kau kesini?" tambah Airin dengan tetesan air matanya.
"Aku.. Aku..-," jawab Gara gugup.
'Sialan si Leon,' batin Gara yang mengumpati Leon karena menelpon di saat yang tidak tepat.
"Jawab, ngapain kamu disini?" bentak Airin dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Aku.. Aku cuma mau memastikan keadaan mu dan juga anak kita," jawab Gara terbata-bata.
"Anak kita? Ini bukan anak kita. Tapi anakku," jawab Airin dengan nada emosi.
"Tapi aku yang punya bibitnya. Aku berhak atas anak itu," ucap Gara membela diri.
"Kau ingat tuan? Kau hanya membeli kesucian ku, bukan rahimku," jawab Airin menunjuk kidal Gara.
"Hahahaha.. Airin.. Airin.. Kalau kau memperhitungkan jual beli, aku juga bisa," jawab Gara tertawa.
"Mak.. Maksudmu?" tanya Airin menautkan kedua alisnya.
"Kau ingat, kau hanya menjual kesucian mu padaku. Lalu kenapa kau malah menyimpan benihku? Berarti kau memang niat memiliki anak dariku kan?" ucap Gara yang langsung mendapat tamparan keras dari Airin.
"Kau jangan sembarang tuduh ya. Aku mana tahu jika aku hamil anakmu," jawab Airin kesal.
"Ya sudah, kalau begitu mari kita berdamai. Aku janji akan bertanggung jawab dengan anak yang kau kandung saat ini," usul Gara memegang tangan Airin.
"Lepaskan tanganku. Aku gak mau dan aku gak butuh pertanggung jawabanmu. Biarlah anak ini tidak pernah tau siapa Ayah kandungnya," jawab Airin sambil melepaskan tangannya dari genggaman Gara.
"Kau tidak bisa begitu dong Airin. Aku janji akan merubah semua sifat buruk ku," ucap Gara memohon.
"Maaf, aku tidak bisa. Kerja sama di antara kita sudah tidak ada lagi," jawab Airin berdiri hendak meninggalkan Gara.
"Airin tunggu, kau tidak bisa pergi begitu saja. Kau tau, aku punya banyak uang. Jika kau tidak mau berdamai denganku, maka setelah anak ini lahir, aku akan membayar pengacara untuk mengurus hak asuh anak ini. Dan akan ku pastikan kalau kau tak akan bisa lagi bertemu dengan anak-anak kita," ucap Gara mengancam dan menatap Airin dingin dengan mata elangnya.
Mendengar ancaman Gara, seketika ada rasa takut yang tiba-tiba saja muncul dalam hati Airin. Naluri seorang ibu akan takut kehilangan sang anak mulai menyelimuti pikiran dan hatinya.
Airin mencoba mempertimbangkan keinginan Gara untuk berdamai dengannya.
"Baik, aku akan mau berdamai denganmu," jawab Airin dengan mata yang berkaca-kaca. Bagaimana tidak, jika ia menolak permintaan Gara, ia takut jika Gara benar-benar mengambil hak asuh atas calon anak kembarnya. Jika ia kabur, dirinya tak tau lagi kemana dia akan pergi karena uang nya sudah tidak ada lagi untuk berpindah dari satu tempat, ke tempat lainnya.
"Kau serius?" tanya Gara senang.
"Ya aku serius. Tapi aku akan memberi beberapa syarat," ucap Airin menantang Gara.
Syarat? Syarat apa?" tanya Gara penasaran.
"Yang pertama, kita tidak akan pernah menikah. Yang kedua, kita tidak akan tinggal satu rumah, dan yang ketiga, jangan pernah menyentuh atau memegang bahkan hanya sekedar tangan," ucap Airin dengan melipat kedua tangan di dada.
"Lalu bagaimana aku akan menjumpai anak-anakku?" tanya Gara merasa syarat dari Airin tak masuk akal.
"Gampang, kau tinggal berulang saja setiap hari. Susah amat," jawab Airin cuek.
"Baiklah, tapi aku juga mempunyai syarat untukmu," ucap Gara membuat Airin membelalakkan matanya.
"Katakan," jawab Airin ketus.
"Kau harus tinggal di rumah yang telah aku sediakan. Kau tenang saja. Aku akan memenuhi semua kebutuhanmu dan juga kebutuhan calon anak kita. Aku gak mau kau sampai menolaknya," ucap Gara membujuk Airin.
"Baik. Aku akan memenuhi syarat mu," jawab Airin menatap Gara.
"Baguslah. Mulai nanti malam kau tak akan menginap di toko kecil ini lagi. Jika kau masih ingin berjualan, kau akan di antar supir setiap harinya untuk pulang pergi ke toko ini," ujar Gara dengan mata mengelilingi sekitar tempat ia berdiri
"Ya sudah, sekarang kau pulanglah. Aku mau bekerja," ucap Airin mengusir Gara lalu berdiri menghampiri pembeli yang baru saja masuk.
Bukannya pulang, Gara selalu menatap Airin lekat. Tak perduli Airin sudah berkali-kali membelalakkan matanya kepada Gara agar laki-laki tampan itu berhenti untuk menatapnya. Namun Gara masih saja nekat untuk menatap Airin lekat.
Setelah pelanggan tersebut pergi, Airin langsung menghampiri Gara dan mencubit pinggangnya sehingga membuat Gara kesakitan.
"Kenapa kau mencubit ku hmmm?" tanya Gara menggosok pinggangnya yang sakit.
"Kenapa kau dari tadi menatapku? Kau membuatku tak nyaman," jawab Airin menatap Gara kesal.
"Aku hanya membayangkan hidup dan menua bersamamu," jawab Gara menggombal. Entah sejak kapan laki-laki yang terkenal kasar dan dingin itu menjadi manis dengan perempuan.
Setelah di tinggal Liona menikah dengan pamannya sendiri, Gara menjadi laki-laki yang haus akan wanita. Gara juga terkenal tidak memiliki hati dan perasaan kepada wanita manapun tak terkecuali kepada Airin waktu saat pertama kali dia menginginkan Airin dulu.
NOTE: Maaf ya Reader jika pengetikan Author masih banyak typonya..
Maklumin aja ya, Author sempat-sempatin menulis di tengah kesibukan Author sebagai ibu rumah tangga dengan tiga bocah yang masih kecil-kecil. Di tambah lagi dengan pekerjaan rumah yang tak ada Endingnya.
Makasih sudah setia menunggu dan menanti setiap episode dari karya Author.
Jangan lupa kasih VOTE, Like, dan Komennya ya..
Terima kasih..
Salam Sayang Author NyonYa_DoReMi
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 194 Episodes
Comments
Lutvivii 432
APA SIH. GW MALU ANJERRR🙂😫
2023-06-21
1
Yulia Prihatin91#SoLo#
semangat gara
auto ngakak sendiri
2022-11-01
0
Nur Evida
tetap semangat thor🌹
2022-10-24
0