Sesampainya di kantor, baru saja Gara akan masuk kedalam ruangannya, tiba-tiba ada suara seorang wanita yang begitu sangat familiar di telinganya.
"Gara," panggil wanita tersebut sambil setengah berlari kearahnya.
Sesaat Gara menghentikan langkahnya dan menoleh kearah suara tersebut.
"Kau? Mau apa kau kesini?" tanya Gara dingin.
***
"Bisakah kau sopan sedikit. Aku ini Tante mu lo sayang," jawab Liona mengedipkan matanya.
"Terserah kau mau bilang apa. Katakan! Mau apa kau kesini?" bentak Gara dingin.
"Kenapa kau seperti ini hmmm? Dulu kau selalu lembut padaku. Mendapat bentakan seperti ini rasanya hatiku pilu sayang," lirih Liona bergelayut manja ditubuh kekar Gara.
"Liona stop. Kalau kamu tidak ada kepentingan disini, silahkan pergi. Saya mau kerja," bentak Gara mendorong Liona hingga terjerembab ke lantai, lalu dengan santai Gara melenggang masuk kedalam ruangannya.
"Awww Gara sakit," pekik Liona namun tak dihiraukan Gara.
"Rasain, emang enak wlee" ejek Leon lalu menyusul Gara ke ruangannya.
"Bajingan kau Leon," teriak Liona dengan mata yang berapi-api sembari berdiri lalu pergi meninggalkan kantor tersebut.
.
.
"Leon," panggil Gara dari bangku kebesarannya.
"Ya, ada apa," jawab Leon masih fokus dengan berkas-berkasnya.
"Tolong panggilkan semua satpam kesini," perintahnya kepada Leon.
"Satpam? Buat apa? Apa kau mau memberi mereka bonus?" tanya Leon bercanda.
"Ya, aku mau memberinya bonus dengan gaji dan tunjangan milikmu," jawab Leon santai.
"Apa? Kau jangan bercanda. Aku gak mau," ucap Leon rolls eyes.
"Ya sudah, makanya panggilkan saja semua satpam kesini," balas Gara geleng-geleng kepala melihat tingkah laku sahabatnya itu.
"Ya.. Ya baiklah," jawab Leon sambil meraih gagang telepon yang ada di atas mejanya.
Beberapa saat kemudian datang beberapa satpam menghadap ruang CEO tampan tesebut.
"Permisi pak. Apa ada yang bisa kami bantu?" ucap kepala satpam tersebut.
"Kuberi tahukan kepada kalian semua, mulai saat ini, jangan ada yang membiarkan wanita ini masuk dan menginjakkan kakinya di kantor saya ini," perintah Gara dingin sambil melihatkan foto Liona.
"Baik pak. Kami semua akan melarang wanita ini masuk dan menginjakkan kakinya di kantor ini," jawab salah satu satpam tersebut.
"Bagus. Kalau gitu kalian boleh bertugas kembali," perintah Gara penuh wibawa.
.
.
Sedangkan di kosan Airin, setelah bermimpi dengan pangeran bertopengnya, sampai saat ini ia masih bermalas-malasan di atas tempat tidurnya.
Beberapa jam saat kemudian, Airin masih saja bersantai-santai ria di atas tempat tidurnya.
Tiba-tiba ponsel miliknya berdering dan saat Airin melihat ponselnya, jelas tertulis nama Pak Yuta.
"Aduh pak Yuta lagi.. Angkat gak ya," tanya Airin pada dirinya sendiri.
Karena takut akan dimarahi, akhirnya Airin mengangkat panggilan dari Yuta.
"Ha.. Halo pak?" jawab Airin terbata-bata.
"Airin kamu dimana? Kenapa kamu tidak masuk kerja hari ini?" tanya Yuta dengan nada sedikit tinggi.
"Ma.. Maaf pak. Mulai hari ini saya tidak akan bekerja lagi di tempat bapak. Saya mohon maaf ya pak," ucap Airin dalam telepon.
"Apa? Kamu mau berhenti? Kamu yakin?" tanya Yuta memastikan.
"I.. Iya pak," jawab Airin singkat.
"O iya saya ingat, bukankah sekarang kamu sudah banyak uang dari hasil menjual kesucian mu, makanya kamu tidak mau bekerja lagi di tempat saya," ujar Yuta bicara dengan santainya. Ia sama sekali tidak menghiraukan bagaimana perasaan Airin saat mendengar kata-katanya.
"Bukankah memang ini yang bapak suka? Dan bukannya dari dulu bapak sudah berkali-kali berusaha menjual kesucian saya kepada laki-laki hidung belang?" jawab Airin dengan suara bergetar.
Awalnya Airin tidak mau melawan ucapan Yuta, tapi karena perkataan Yuta telah membuat Airin tersinggung dan sakit hati, mau tidak mau akhirnya Airin memilih untuk melawan Yuta.
"Wawww.. Seorang Airin sudah berani ya sekarang," ejek Yuta yang mulai terpancing dengan ucapan Airin.
"Kalau iya kenapa? Jangan bapak pikir saya diam berarti saya takut ya. Selama ini saya diam karena saya menghormati bapak sebagai atasan saya," balas Airin tegas, meskipun saat ini hatinya tengah sakit dan matanya telah mengeluarkan cairan beningnya.
"Ok, kamu terima saja pembalasan saya nanti," ancam Yuta kemudian mematikan panggilannya.
Setelah panggilannya berakhir, Airin pun akhirnya melepaskan semua air matanya.
Lelah menangis, Airin akhirnya memutuskan untuk mandi sebelum pergi ke kampung halamannya.
Ia sudah bertekad jika dirinya akan pulang ke kampung halamannya.
.
.
.
Sedangkan di Gara's Group, dua laki-laki tampan baru saja selesai dengan meeting terakhirnya.
"Gara, meeting kita telah selesai. Bagaimana kalau kita pulang sekarang," ujar Leon saat mereka di perjalanan ke ruangan Gara.
"Ide bagus. Tapi sebelumnya kita ke rumah Airin dulu. Saya mau memastikan jika tidak tidak hamil," jawab Gara memberi perintah.
"Ke rumah Airin? Ngapain lagi sih," ujar Leon malas.
"Ya mastiin kalo dia gak hamil lah. Gimana sih kau ini," jawab Gara kesal.
"Bukannya malas, tapi saya rasa percuma aja gitu. Lagian gak mungkin juga kan dia bakal hamil secepat ini," ucap Leon tak kalas kesal.
"Apa jangan-jangan kau suka ya sama Airin," tambah Leon tak percaya sembari mengernyitkan satu alisnya.
"Suka? Ya gak lah. Ngapain saya suka sama pelayan itu," kilah Gara yang ia sendiri tidak mengerti juga apa tujuannya ke rumah Airin.
"Jangan banyak bicara. Pokoknya sekarang kau ikut aku ke rumah Airin," perintah Gara berjalan menuju loby.
"Bukannya kau akan keruangan mu? Kenapa malah ke loby?" tanya Leon penasaran.
"Kau gak dengar, kita pergi SE KA RANG," tegas Gara memasuki lift.
Satu jam kemudian, Gara dan juga Leon sampai ke kosan Airin. Gara segera turun dan mengetuk-ngetuk pintu kosan Airin namun pintu tak kunjung dibuka oleh pemiliknya.
Sesaat kemudian, datang ibu-ibu separuh baya menanyakan maksud kedatangan dua laki-laki tampan itu.
"Maaf, anda cari siapa ya?" tanya ibu-ibu yang ternyata pemilik kosan tersebut.
"Ah, saya mencari Airin. Apa benar dia ngekos disini?" tanya Gara kepada ibu-ibu tersebut.
"Oh si Airin. Iya sebelumnya dia memang ngekos disini. Tapi baru satu jam yang lalu ia memutuskan untuk keluar. Katanya sih mau pulang kampung. Bapaknya mau operasi," jawab ibu-ibu yang ternyata adalah pemilik kosan tersebut.
"Pulang kampung?" tanya Gara memastikan sekali lagi.
"Iya pulang kampung," jawab ibu-ibu tersebut.
"Aaa kalau saya boleh tau, kampungnya dimana ya?" tanya Gara sangat-sangat penasaran.
"Maaf, kalau kampungnya saya gak tau," jawab ibu-ibu tersebut.
'Aduh, kok perasaan saya gak enak ya?' batin Leon menatap Gara yang juga di tatap Gara dengan tatapan tajamnya.
Mendapat tatapan tajam dari Gara, Leon hanya tersenyum kecut dan segera memalingkan wajahnya.
"Ya sudah, kalau begitu terima kasih ya bu. Kalau begitu sekalian kami berdua pamit," ucap Gara kepada pemilik kosannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 194 Episodes
Comments
Yulia Prihatin91#SoLo#
mulai bucin
gara
semoga gara bisa melindungi arin dari bp yuta pemilik club mlm
2022-11-01
0
epifania rendo
kasian arin
2022-10-19
0
Bundana Irpan Sareng Faizal
asli gw baca sambil nangis thor kasihan arin 😭
2022-07-28
0