Paket Misterius

"Pagi Nyonya," ucap para pelayan yang berada di dapur.

"Pagi Tante," sapa Amel sembari melemparkan senyum manisnya pada Mimi.

"Kamu rajin sekali sayang, lagi masak apa?" tanya Mimi sembari mendekat pada Amel dan melihat masakannya.

"Ini Tante, lagi masak ayam saus," ucap Amel sembari tersenyum lembut pada Mimi.

Sudah ku duga, pasti mereka memiliki hubungan, batin Mimi sangat senang.

"Wah,,, kamu tau saja makanan kesukaan Rio sayang," ucap Mimi membuat Amel terdiam di tempatnya.

"Owh, Rio suka ayam saus ya Tante? wah,,, kebetulan sekali," ucap Amel dengan senyum manisnya.

"Kamu seperti tidak tau saja sayang," ucap Mimi yang membuat Amel sedikit bingung. Amel yang tak tau mau menjawab apa hanya membalas dengan senyuman-nya.

Beberapa menit memasak, kini semua makanan sudah tertata rapi di meja makan yang cukup luas dan besar. Di sana sudah terlihat Rio dan Papa nya. Mereka berempat pun menikmati sarapan pagi nya dengan tenang dan penuh nikmat. "Hari ini kamu masuk kerja sayang?" tanya Mimi memulai percakapan di meja makan. Semua mata kini tertuju pada Rio yang masih sibuk menikmati sarapan paginya.

"Hm, iya Ma," ucap Rio sembari mengunyah makanan di mulutnya.

"Kalau kamu sayang?" tanya Mimi beralih pada Amel.

"Amel nggak tau Ma, belum punya rencana," ucap Amel sembari tersenyum simpul.

"Hm," sahut Mimi mangguk-mangguk.

"Amel mau ikut ke lestoran nggak?" tanya Rio sembari menatap Amel.

"Nggak usah, takutnya mengganggu kamu berkerja nanti," ucap Amel menolak secara halus.

"Ya sudah kalau begitu," ucap Rio yang paham dengan Amel.

Waktu semakin siang, Rio dan Papanya sudah pergi berkerja sejak beberapa jam yang lalu, kini Mimi pun akan pergi berkumpul bersama teman-teman sosialitanya. "Sayang, kamu beneran nggak mau ikut Tante?" tanya Mimi yang saat ini sudah berada di teras depan rumah nya.

"Nggak Tante, Amel di rumah saja," ucap Amel sembari menggeleng pelan.

"Baiklah sayang, kamu hati-hati di rumah ya, kalau ada apa-apa segera hubungi Tante atau Rio," ucap Mimi dengan tulusnya.

"Baik Tante, dan terimakasih," ucap Amel yang di angguki Mimi.

Mimi pun segera masuk ke dalam mobil. Amel terus saja memperhatikan mobil yang di tumpangi Mimi yang semakin lama semakin jauh hingga menghilang di telan pagar. Karena tak ada lagi keperluan di luar sana, Amel pun memutuskan untuk kembali masuk ke dalam. Sebelum memutar tubuhnya secara sempurna, sama-sama Amel melihat sebuah paket yang tiba-tiba saja terlempar ke arahnya. Amel yang penasaran langsung mendekati paket itu.

Amel mengambil kotak itu lalu membawanya masuk ke dalam kamarnya, "Paket siapa ini? kenapa tidak sopan sekali pengiriman-nya," gumam Amel sembari memperhatikan nama yang tertera di paket itu. "Eh, ini,,," Gumamnya tertahan sembari fokus melihat nama yang tertera.

Apa jangan-jangan sih gila itu sudah mengetahui keberadaan ku? siapalagi coba yang mengirim paket ini selain dia? kalau Rio,,, sepertinya tidak! batin Amel lalu bergegas membuka paket yang ia pegang.

"Apa ini?!" ucapnya sembari melihat beberapa lembar gambar wanita yang sangat tidak asing di penglihatan nya. "Sisil! ah,,, Sisil!" histeris nya membuat para pelayan yang mendengar itu segera mendekati nya.

"Nona, Nona, ada apa?" tanya Bibi dengan raut wajah yang sangat panik.

Mereka tidak boleh mengetahui nya, ini semua urusan ku, masalah ku. Jadi, biarkan lah aku saja yang menghadapi nya. Bersikap lah seolah-olah tidak terjadi apa-apa Amel! batin Amel sembari menampilkan senyum keterpaksaan nya.

"Tidak apa Bibi, saya terlalu senang mendapat surat dari sahabat saya," ucap Amel yang langsung di percayai semua nya.

"Alhamdulillah kalau begitu Non, kami kira ada apa," ucap Bibi mengeluh napas lega.

"Maaf ya bi sudah membuat kalian khawatir dan cemas," ucap Amel sembari menyentuh bahu Bibi dengan lembut.

"Iya, tidak apa-apa Non, kalau begitu Bibi pamit ke dapur dulu ya," ucap Bibi yang di angguki Amel.

Setelah Bibi pergi, Amel pun segera pergi ke kamarnya dan kembali melihat gambar dan surat yang berada di tangan nya.

Jika kau ingin sahabat kesayangan mu ini selamat, maka kembali lah ke mansion ku! jika dalam waktu dua puluh empat jam kau tidak datang ke sini, maka bersiaplah melihat jasad gadis culun ini! pesan Lavender yang tanpa sadar membuat Amel meneteskan air matanya.

Apa aku harus kembali ke rumah pria gila itu? jika aku tidak kembali, maka nyawa Sisil akan menjadi taruhan nya! bagaimana ini,,, batin Amel frustasi dengan fikiran nya sendiri.

"Huh, mau nggak mau, aku harus kembali kesana. Sebelum itu, aku harus menyimpan berkas-berkas penting-ku berada di kos," gumam Amel lalu segera bergegas pergi menuju kosnya. Setelah tiba di sana, ia memeriksa semua barang berharga nya termasuk motor, tabungan, dan data-data penting. Setelah semuanya masuk ke dalam tas, Amel pun kembali ke kediaman Rio.

Sebelum itu, Amel sudah mengabari Rio agar segera menemui nya di kediaman orang tuanya. Di sana, Amel menceritakan semuanya dan ia juga menitipkan barang berharga nya pada Rio agar sewaktu-waktu jika ia memerlukan nya ia tinggal memintanya pada Rio. Rio pun tidak keberatan dengan titipan Amel. Dia yakin dan percaya dengan semua yang Amel lakukan.

Lagian pria itu tidak akan menyakitinya, buktinya saja dia sampai memukulku hingga babak belur begini sebab cemburu dengan kedekatan ku dan Amel. Dan untuk apa dia mencari Amel jika ia tak menyukainya? aku tidak punya hak menahan Amel di sini, sebab pria itu adalah suaminya. batin Rio seakan tak rela Amel kembali kepangkuan suaminya.

"Ya sudah ya Rio, aku pergi dulu, Terimakasih dan maaf telah merepotkan mu dan keluarga. Mohon sampai kan salam ku pada Om Vino dan Tante Mimi," ucap Amel dengan wajah tak enaknya.

"Tidak apa Amel, kami senang kamu berkenan menginap di sini beberapa saat, jika nanti kamu sudah lepas dari pria itu, datanglah kemari, kami akan dengan senang hati menerima mu kembali," ucap Rio yang membuat Amel sangat tersentuh. Tanpa permisi, Amel pun memberikan pelukan selamat tinggal pada Rio. Rio tersenyum hampa menerima pelukan Amel.

Walaupun tidak bisa memiliki ku, setidaknya aku bisa merasakan pelukan mu walaupun hanya sekali ini. batin Rio sangat sedih dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

"Sampai jumpa Rio, terimakasih banyak, jangan mengkhawatirkan ku, aku akan menjaga diriku baik-baik. Tolong sampaikan salam ku pada semua orang yang mencari ku ya, dan jangan beritahu semua hal yang terjadi," bisik Amel yang tanpa melepas pelukannya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!