Lvl adalah perusahaan terbesar, terelit, terkaya, dan paling terkenal di dunia, sehingga pemilik perusahaan itu di juluki orang terkaya di dunia. Sehingga tidak ada yang berani menyinggung perusahaan Lvl, bahkan Lavender sekalipun. Tidak ada yang tau siapa yang mempunyai perusahaan raksasa itu, sebab hanya anak buah asisten saja yang selalu mewakili perusahaan jika menjalin sebuah hubungan kerja sama antar perusahaan.
Pemilik Lvl mempunyai Asisten. Asisten mempunyai Asisten lagi, dan Asisten yang lainnya, hingga terdapat tingkatan Asisten di Perusahaan Lvl. tingkatan Asisten tertinggi kedua hanya ada tiga. Tugas tiga asisten itu adalah mengumpulkan semua berkas yang paling penting dari setiap asisten bawahan dari setiap anak perusahaan di seluruh dunia untuk di serahkan kepada Dua asisten sekaligus kaki tangan CEO Lvl.
Dua asisten itu merekap semua data lalu membuat beberapa lembar berkas resmi untuk di tanda tangani oleh CEO Lvl. Dua Asisten itulah yang mempunyai kedudukan paling tinggi pertama, hingga mereka bisa langsung melihat pemilik Lvl. Banyak yang bertanya-tanya dan penasaran dengan pemilik perusahaan raksasa yang mendunia itu, sehingga pemilik Lvl di juluki singa dunia.
Setelah selesai dengan rapat penting itu, Lavender dan Luck memutuskan untuk kembali ke kediamannya. Lavender masih menampilkan raut wajah marah dan kesal atas kaburnya Amel. Semua bawahannya masih mencari keberadaan Amel hingga ke tempat kerja dan kontrakan milik Amel.
Awas saja kau gadis liar, aku akan memberi perhitungan padamu karena telah berani kabur dariku! batin Lavender sembari menatap jalan dengan tajam.
Lavender mengepalkan kedua tangannya yang ia sandarkan di pintu kaca mobil. Luck melirik sekilas Tuannya itu melalui spion depan tanpa membuka mulutnya.
Di sebuah toko bunga di pinggir jalan, terlihat Amel sedang berbincang dengan seorang pria yang tersenyum ketika berbicara dengannya. pria itu terlihat sangat akrab dan tertarik dengan Amel yang berbeda dengan gadis yang lain. "Jadi kau sudah lama membuka toko bunga di sini?" tanya Amel dengan senyum simpul di wajah cantiknya.
"Ya. Bisa di bilang begitu sih," ucap pria itu tanpa melepas senyum manisnya. Mereka berbincang cukup lama.
"Ya sudah Rio, aku mau pulang dulu, sepertinya Sisil sudah menunggu. Sampai jumpa," ucap Amel dengan binar bahagia dengan tangan yang melambai ke arah Rio.
"Ya hati-hati, ini bunga untukmu," ucap Rio memberikan sebuket bunga mawar indah dengan senyuman manis yang tulus. Siapa saja yang melihat mereka akan mengira jika mereka adalah sepasang kekasih. "Tidak usah repot-repot Rio, ini kan jualan-mu, kalau rugi gimana?" ucap Amel tidak enak hati pada Rio.
"Aku tidak akan rugi hanya karena sebuket bunga ini. Ambillah, aku tidak Terima penolakan!" ucap Rio kekeh untuk memberikan Amel sebuket bunga.
Amel menerima buket bunga itu dengan wajah yang bahagia lalu ingin berjalan pergi meninggalkan toko itu. Tak sadar Amel berteriak. "Ah tikus..." teriaknya panik sembari melompat, sehingga tubuhnya dan tubuh Rio saling berpelukan, mata mereka saling memandang. Dada Rio berdetak dan bergemuruh ketika merasakan dekapan Amel yang reflek memeluknya.
Rasa apa ini? kenapa jantungku berdetak ketika di sentuh oleh Amel. batin Rio membalas tatapan Amel.
Dari ujung jalan, terlihat Lavender menyaksikan semua yang dilakukan Amel dan Rio. Mulai dari Rio memberi Amel bunga hingga Amel reflek memeluk Rio. Lavender yang melihat kelakukan dua gender manusia itu langsung mengeraskan rahangnya. Dengan cepat, Lavender keluar dari dalam mobil hitam mewah itu lalu menarik Amel dengan paksa.
"Beraninya kau menyentuh istriku!" teriak Lavender dengan penuh amarah sembari melayangkan bogem mentah ke wajah tampan milik Rio. Rio yang tak siap pun langsung tersungkur ke aspal dengan ujung bibir yang berdarah. Luck yang melihat itu hanya menyaksikan saja tanpa mau ikut membantu Lavender.
"Ayo pulang!" bentak Lavender dengan tegas sembari mencengkram tangan Amel dengan kuat dan menarik tangan Amel secara paksa. Lavender benar-benar sangat marah, bahkan urat lehernya sudah sangat tengang.
"Lepas!" bentak Amel mencoba melepaskan pegangan tangan Lavender dari tangannya.
Rio yang melihat itu langsung emosi dan memukul pipi Lavender dengan sangat kuat. Lavender tidak terima dengan pukulan Rio. Akhirnya dua pria dewasa itupun saling memukul dan aduh jotos walaupun sebenarnya Rio bukan tandingan dan lawan seimbang bagi Lavender.
"Jangan pukul dia, cepat lepas," ucap Amel membela Rio lalu mendorong badan tegap dan kokoh itu. Lavender yang sudah termakan api cemburu pun langsung memukuli Rio hingga pria itu berbaring tak berdaya. Wajahnya sudah bonyok dan babak belur. Bahkan perbandingan wajahnya dengan wajah Lavender sangat berbeda jauh, ibarat setitik noda hitam di baju putih.
Tanpa memperdulikan Siapapun, Amel di seret paksa oleh Lavender. Tanpa menunggu Luck membuka pintu, Lavender membuka dan memasukkan Amel ke dalam kursi penumpang. Dan dengan cepat Lavender masuk, lalu duduk di sebelah Amel yang menampilkan wajah marah, bete, dan wajah datar bercampur dingin.
"Cepat ke mansion!" perintah Lavender yang terdengar menyeramkan di telinga Luck. Luck pun menganggukkan kepalanya sembari berkata, "Baik Tuan,"
Di mobil itu hening, Amel dan Lavender sama sama melihat pepohonan dan bangunan yang berlalu dari kaca mobil di sisih mereka.
Lavender menahan amarah. Dia tidak mau menghabiskan tenaganya di dalam mobil itu.
Lavender memalingkan sedikit wajahnya ke arah Amel dengan wajah yang datar, dingin dan arogan. Sungguh menyeramkan tampang yang di tampilkan Lavender. Amel yang tau Lavender memandang kearahnya, hanya berpura-pura tidak melihat dan tak peduli.
Ya Tuhan...kenapa bisa aku terjerat dengan sih pria gila ini! bagaimana bisa dia menemukan ku? sehebat apasih dia? sekaya apa dia? Huh... Kepalaku mau pecah di buatnya! Batin Amel dengan tetap memandang ke arah jendela.
Beberapa menit sudah berlalu, kini mobil yang di tumpangi Lavender dan Amel sudah sampai di kediaman Lavender. Amel menatap Mansion mewah itu dengan gigi yang di tekan. Dia benar-benar kesal dan marah pada pria yang duduk di sampingnya. Lavender keluar dari mobil tanpa menunggu Luck membuka pintu, lalu membuka pintu penumpang dan menarik Amel dengan paksa.
“Keluar” ucap Lavender dengan nada yang tegas dan marah. “cepat!” bentak Lavender dengan nada tinggi sehingga membuat para penghuni mansion heboh.
Lioren, dan Lusyia yang melihat kehadiran Amel langsung memandang tak suka. mereka memancarkan wajah yang tak bersahabat. Tidak ada yang bisa menghentikan Lavender yang menyeret Amel dengan paksa, bahkan para pelayan bergidik geri di buatnya.
Sialan wanita jal*ng ini! apa dia sudah bosan hidup. Hm,,, aku tak akan pernah membuat hidupmu tenang di rumah ini. batin Lioren seakan mengibarkan bendera permusuhan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments