Para pelayan yang berada di belakang Kepala Pelayan hanya bisa menunduk takut tanpa berani melihat Lavender. Siapa saja akan bergetar ketika melihat kemarahan Lavender. Luck yang mendengar keributan dari kamar Lavender, langsung berlari dengan cepat ke arah kamar itu. Luck sangat panik. Bukan hanya Luck, namun semua orang yang berada di mansion itu ikut panik.
"Cepat cari gadis itu!" teriak Lavender dengan penuh amarah. Semua para bawahannya sibuk dan kewalahan mencari keberadaan Amel. Lavender tidak mengijinkan anak buahnya pulang sampai mereka membawa Amel ke hadapannya. Di sini Luck lah yang paling pusing dengan kaburnya Amel.
Di sebuah kamar terlihat Lusyia mengumpat Amel habis-habisan sebab telah berani merusak dan mengganggu waktu tidurnya.
"Dasar wanita pembawa sial! kenapa sih Lavender mau menikahi dan membawa wanita itu ke mansion ini!" umpat Lusyia ketika mengingat wajah cantik milik Amel.
Awas saja kau gadis jal*ng aku akan menghabisi mu! batinnya dengan tangan yang sudah terkepal kuat.
Di kamar, Lavender terus saja marah-marah dan memaki semua bawahannya yang tidak becus. Lavender melihat cctv. Dia semakin marah ketika melihat Amel turun dari jendela kamarnya menggunakan kain yang di sambung seperti tali lalu melihat para penjaga yang sedang asik tertidur. Para bodyguard dan penjaga yang tidur langsung di pecat oleh Lavender sebab tidak bertanggung jawab dan tidak becus dalam berkerja.
"Bagaimana bisa kalian lalai begini! aku sudah menggaji kalian melebihi para pejabat! dasar tidak becus! menjaga satu gadis saja tidak bisa!" omel Lavender pada seluruh para bawahannya.
Waktu semakin pagi tetapi tidak ada pergerakan dari tubuh Amel. Gadis itu tertidur lelap di sebabkan pelariannya kemarin malam.
"Tok tok tok." terdengar suara ketukan pintu di kontrakan milik Amel.
"Hm,,, siapa sih?!" gumam Amel pelan sembari bangun dan mengucek matanya.
Dalam keadaan malas dan masih mengantuk, Amel pun membuka pintu kosnya. "Cklek." pintu terbuka dan terlihat seorang gadis berpenampilan culun di depan pintunya. "Sisil," Amel terkejut ketika melihat kedatangan sahabatnya Sisil.
"Mel kau kenapa nggak datang semalam?" tanya Sisil dengan wajah cemas sembari memegang kedua tangan Amel.
Amel mengajak sisil masuk ke dalam kontrakannya. "Ayo masuk dulu," ajak Amel sembari menarik tangan Sisil. Setelah mereka masuk, Amel pun menutup pintu dan menghidupkan lampu kamar sekaligus ruang tamunya.
"Tumben ke sini Sil?" tanya Amel penasaran dengan kedatangan Sisil.
"Ya ampun Mel, aku ke sini ya karena ingin mengunjungi mu. Nggak boleh memangnya?" tanya Sisil dengan wajah cemberut dan sebel pada Amel yang tersenyum simpul.
"Nggak lo Sil, justru aku senang kau main ke kontrakan kecilku ini," ucap Amel dengan senyum manis yang mengeluarkan sempipit-nya.
"Kau kenapa nggak datang Mel semalam?" tanya Sisil dengan penuh rasa penasaran.
Amel hanya terdiam dengan pertanyaan Sisil.
Sisil menaikan sebelah alisnya. Dia bingung melihat ekspresi yang di tampilkan Amel.
"Kau kenapa sih Mel? coba cerita," ucap Sisil sembari memegang bahu Amel dengan lembut.
"Ayolah cerita,,, janji deh aku nggak akan ngasih tau siapapun walaupun itu sih david," bujuk Sisil dengan nada yang terdengar serius.
Amel yang memang butuh tempat berkeluh kesah pun langsung menceritakan semua yang ia alami pada Sisil. Sisil yang mendengar dengan seksama sangat terkejut dengan penuturan sahabatnya itu. "Ya ampun Mel, jahat banget mereka. kita harus melaporkan mereka ke polisi!" ucap Sisil dengan serius.
"Maunya sih begitu, tapi aku tidak punya bukti untuk melapor. Aku yakin, pasti pria mesum dan gila itu sedang mencariku sebab kabur dari kediaman nya," ucap Amel dengan wajah lesu sembari menopang dagunya dengan tangan yang menyandar di meja kecil.
"Untuk sementara tinggalah di rumahku. tinggalkan kontrakan ini untuk sementara, bawah lah semua barang-barang berharga mu," ucap Sisil memberikan solusi. Amel yang memang sudah terdesak mau tak mau mengikuti apa yang di katakan Sisil kepadanya.
Di cafe, terlihat Nesya, Dini, Lolita, dan Dila sedang sibuk tertawa sembari menikmati makanan yang sudah terhidang di meja.
Tapa merasa ada beban, mereka tertawa ketika mengingat apa yang telah mereka lakukan pada Amel. "Ya ampun guys... aku nggak bisa bayangi gimana ekspresi sih gadis udik itu ketika bangun dari mimpinya," ucap Lolita dengan tawa dan wajah yang sangat bahagia.
"Apa yang lo lakukan nggak keterlaluan ya?" ucap Nesya menampilkan wajah cemas kearah Lolita.
Lolita, Dini dan Dila mengernyit heran ketika mendengar penuturan Nesya. Tidak bisanya gadis ini merasa iba kepada seseorang yang di bencinya. "Lo nggak sakit kan Nesya?!" tanya Dini dengan wajah bingung dan alis yang terangkat sebelah.
Nesya hanya menggeleng kan kepalanya dengan pelan tanpa menghilang kan wajah cemas dan datarnya. "Hm," Nesya berdehem dengan wajah yang cuek dan tak peduli. Lolita yang melihat itu sedikit jengkel melihat ketua geng mereka.
"Hello,,, dimana tampang galak dan bandel ketua kita?!" ucap Lolita dengan ekspresi malas dan centil.
"Lo kasihan sama gadis udik itu Nesy?" tanya Dini dengan wajah yang datar dan sedikit tidak suka pada sikap Nesya.
"Biasa saja kali!" ucap Nesya dengan nada tinggi yang seketika membuat Dini dan Lolita diam dan mengubah ekspresinya.
"Cieee... yang lagi ngambek," goda Dila sembari tersenyum imut.
"Dil!" bisik Lolita sembari menepuk pelan paha Dila.
Sama halnya dengan Lolita, Dini pun memberikan isyarat dengan memberikan tatapan tajam ke arah Dila.
"Salah lagi salah lagi," ambek Dila dengan bibir manyun dan wajah merajuk.
Nesya hanya memutar bola matanya malas melihat ketiga wanita di depannya. Dia sangat kesal dengan para teman-temannya yang sudah mulai berani menentang dan memojok kan dirinya. "Gue cabut dulu ya!" ucap Nesya dengan nada ketus dan wajah tak suka dengan ketiga gadis yang sedang diam mengamati pergerakannya.
"Yah dia ngambek, lo ni sih Lita!" ucap Dini menyalahkan Lolita dengan ucapan ketusnya. Lolita yang di salahkan pun menampilkan wajah memelas.
"kok aku sih,,," Lolita dan Dila tidak bisa berkutik jika beradu mulut dengan Nesya dan Dini. Nesya dan Dini sama-sama keras, judes dan jutek. Semua mahasiswa kampus itu sering mengatakan Dini dan Nesya sebelas dua belas belas.
Dini meninggalkan Lolita dan Dila lalu pergi menyusul Nesya "Yang sabar ya beb," ucap Dila yang langsung memeluk Lita. Lita hanya menganggukkan wajahnya dengan mimik wajah sedih dan bibir mewek.
🌺🌺
Di sebuah lestoran elit tepatnya di ruangan VIP, terlihat Luck dan Lavender baru saja menyelesaikan meeting pentingnya dengan cabang perusahaan Lvl. "Terima kasih atas waktunya Tuan, senang bisa berkerja sama dengan anda," ucap Lavender dengan sedikit senyum di wajahnya. Dia tidak bisa bersikap seperti biasanya kepada perusahaan Lvl walaupun hanya perusahaan cabang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments