Tetangga Julid

Setelah selesai dengan jajannya, Amel pun segera menjalankan motornya menuju ke rumahnya. "Akhirnya sampai juga di rumah," ucap Amel lalu menghempaskan tubuhnya sejenak di kasur mini kesayangan nya.

Setelah selesai dengan barangnya, Amel pun pergi ke dapur untuk mengambil piring, air dan sendok. Dengan tenang gadis itu membuka bungkus makanan dan mulai memakannya. "Enak banget," puji Amel ketika merasakan makanan yang cocok di lidahnya." Sepertinya aku harus buka usaha deh. Tabunganku sudah berapa ya?" ucapnya sembari mengambil handphone dan mengecek rekeningnya.

"Ya Allah... aku tidak menyangka kalau tabunganku sudah hampir 100 juta," gumam Amel sembari tersenyum senang. "Oya tabungan uang receh ku kan belum aku tukarkan. Besok coba aku tukarkan di bank," ucap Amel lalu mulai memasukkan sesuap makanan lagi ke mulutnya. Benar-benar bermental baja ya sih Amel, padahal baru saja dia di pecat secara tidak hormat.

🌺🌺🌺

Matahari sudah mulai menampakan wujudnya tak terasa waktu pagi sudah tiba. Hari ini Amel meminta izin kepada atasannya bahwa hari ini ia tidak masuk kerja. Di rumah yang di mana ruang tamu dan kamar menjadi satu terlihat Amel sedang sibuk memindah kan dan mengumpulkan semua tabungan uang receh nya menjadi satu.

Dengan cekatan Amel menuang ember sedang yang berisi koin ke dalam goni yang sudah ia sediakan sendari tadi. Ada beberapa ember yang berisi koin. Amel bahkan tidak menyangka jika koin yang dia punya bisa sampai sebanyak ini. Bahkan dengan susah payah dia mengangkat koin-koin itu.

"Sudah selesai," ucap amel dengan senyuman lalu menepuk telapak tangannya untuk melunturkan debu yang lengket.

Setelah selesai, terlihat dua goni sudah berada di depannya. Amel yang sudah tidak sabar menukar uang koin itu ke bank pun langsung segera membersihkan tubuhnya lalu mengenakan baju yang bersih dan rapi. "Cklek." Amel mengunci pintunya lalu mengangkat dua goni yang berisi koin di depan scoopy nya. "Berat juga ya," Amel mengeluarkan keringat ketika selesai mengangkat goni berat itu.

"Mau kemana Mel?" tanya Luna tetangga Amel.

"Ke simpang kak," ucap Amel sembari tersenyum.

Amel adalah tipikal manusia yang tidak suka berbasa-basi dan memberitahukan hal pribadinya. Tak ingin membuang waktu, Amel segera mungkin menghidupkan mesin motornya lalu segera pergi dari kontrakan nya itu.

"Mau kemana anak itu," bisik-bisik tetangga julid yang tak menyukai Amel.

"Paling jual diri," ucap tetangga julid yang ke dua.

"Di usir sama yang punya kos kali,,, coba lihat apa yang ia bawah tadi?" ucap tetangga julid tiga. "Ntah pun yang di dalam goni itu mayat anak kecil,"

Hmm... benar-benar ibu-ibu di gang ini selalu saja sibuk mencari dan membicarakan aib orang lain, tapi nggak pernah nyadar dengan aib sendiri. Gumam Luna kesal dengan tetangga yang julid.

Di parkiran depan bank terlihat Amel sedang menurunkan dua goni yang ia bawah. "Ada yang bisa saya bantu mbak," ucap salah satu satpam yang berkerja di bank itu. "Maaf sebelumnya pak, bisa nggak bapak bantu bawain goni milik saya ini ke dalam bank?saya mau menukar uang pak," ucap Amel berterus terang. "Boleh mbak boleh," ucap satpam itu sembari tersenyum.

Amel dan satpam itu masuk ke dalam bank dengan membawa goni di tangannya. Orang orang yang berada di dalam ruangan itu pada bingung dan penasaran dengan isi goni yang Amel bawah. "Maaf kak, di bank ini bisa menukar uang receh nggak mbak?" tanya Amel ketika sudah menghadap salah satu petugas bank.

"Bisa mbak bisa," ucap petugas di depannya sembari tersenyum.

Ramah-ramah banget para perkerja di sini. Batinnya senang dengan senyum simpul di wajahnya.

"Mbak," panggil salah satu petugas wanita kepada Amel.

"Iya Kak?" Sahut Amel sembari melirik ke asal suara.

"Mari ikut saya." ucap petugas itu sembari tersenyum.

Amel pun mengikuti petugas itu sembari membawa goni nya yang di bantu oleh satpam yang sama. Amel sudah berada di ruangan khusus untuk menghitung uang receh nya. Uang receh milik Amel sedikit demi sedikit di masukkan ke dalam mesin yang berfungi untuk menghitung koin.

Lumayan lama juga ya menukar uang koin. Batin Amel jenuh.

Menghitung koin milik Amel membutuhkan waktu 4 jam untuk mengetahui berapa nilai nominalnya. "Mbak," panggil petugas yang menghitung koin tadi. "Iya mbak?" ucap Amel sembari mendekati petugas itu.

"Menghitung koinnya sudah selesai. Semuanya berjumlah 150 juta mbak," ucap petugas itu dengan ramah.

"Beneran mbak 150 juta?" tanya Amel dengan wajah yang tidak percaya.

"Benar mbak," ucap petugas itu dengan senyum manisnya.

"Uangnya mau di tabung atau di ambil mbak?" Tanya petugas itu kepada Amel.

"Saya mau ambil sejuta mbak sisanya masuk tabungan saja," ucap Amel kepada petugas perempuan itu.

"Baik mbak," ucap petugas itu dengan senyum ramahnya.

"Akhirnya kelar juga. Ih ya Allah,,, aku nggak menyangka bisa punya tabungan segitu banyaknya," gumam Amel senang dengan wajah yang berseri-seri. Karena sudah selesai dengan urusannya, Amel pun segera kembali ke kontrakan kecilnya. Dengan wajah yang berseri-sering, Amel membayangkan kesuksesannya sembari mengendarai motor scoopy nya.

Di dalam kontrakan terlihat Amel sedang sibuk men searching di google. Dia sedang mencari informasi mengenai usaha yang di mana modalnya kecil tapi untungnya besar. Jangan sebut dia dengan nama Amel kalau dia tidak ingin rugi. Amel buka pelit tetapi hemat. Dia termasuk tipe orang yang berfikir sebelum bertindak. Jadi jika ingin melakukan sesuatu pasti dia berfikir dan mempertimbangkan sesuatu terlebih dahulu. "Kira-kira usaha ini bagus tidak ya?" gumam nya sembari berfikir.

Pokoknya aku tidak boleh tergesa-gesa. Tenang adalah jalan ninjaku untuk menyelesaikan segala permasalahan ku. Aku pasti bisa sukses, aku pasti bisa menggapai cita-citaku, aku pasti bisa mewujudkan mimpimu. Ingat! tidak ada yang mustahil bagi Allah. Aku harus yakin sama Allah. Andai aku menjadi orang lain pasti aku akan ngefans sama diriku sendiri. Hehehe. Mengkeren. Batin Amel dalam hati sembari tersenyum sinis memuji dirinya sendiri.

"Hm,,, usaha laundry sepertinya menjanjikan. Modalnya juga tidak terlalu besar," ucap Amel ketika membaca artikel tentang usaha laundry.

"Oke google, di mana membeli perlengkapan usaha loundry?" tanya Amel pada wak google.

"Nggak betul ni google. Aku harus cari tau," ucap Amel dengan penuh tekat dan semangat.

"Tring,,," terdengar suara panggilan masuk dari handphone kentang milik Amel.

"Hallo," sapa Amel pada penelpon.

"Mel kau masuk mata kuliah jam berapa?" tanya Melinda yang bingung sebab Amel belum datang juga ke kampus.

Terpopuler

Comments

Rama Fitria Sari

Rama Fitria Sari

hallo, salam kenal. Like dan komen sudah mendarat. mampir kembali ya di karya terbaru ku "jika masih berjodoh" Dan "akan kah kita berpisah?" Terima kasih mari saling mendukung 🙏

2023-07-22

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!