Kediaman Orang Tua Rio

"Kami sudah berhasil membawa nya Tuan," ucap salah satu pria itu pada Luck.

"Bagus! Segera bawah gadis itu ke Mansion," perintah Luck yang langsung di ikuti oleh para anak buah nya.

Di club, tepat ruang VIP, terlihat Luck menghampiri Lavender yang tengah asik menikmati minuman haramnya. Dengan cepat, Luck pun memberitahu informasi yang ia dapatkan dari anak buahnya. "Tuan, anak buah kita telah berhasil membawa Nona Sisil ke mansion," ucap Luck membuat Lavender tersenyum devil.

"Bagus! setelah itu lacak keberadaan gadis tak tau diri itu! dan kirimkan gambar sahabatnya itu padanya! biarkan dia sendiri yang mendatangi ku!" ucap Lavender yang di angguki oleh Kenzo.

Di kediaman orang tua Rio, terlihat Amel begitu canggung nya berbicara dengan Papa dan Mama Rio. Walaupun mereka kaya, namun jika di lihat dari sikap dan bahasanya, mereka adalah orang yang sangat baik dan rendah hati sama persis seperti Rio. "Tante senang sekali jika kamu tinggal di sini sayang,,, Tante jadi mempunyai teman cerita deh," ucap Mimi dengan senyum bahagia nya.

"Hm, Mama," ucap Rio tersenyum malu sebab merasa tak enak dengan Amel.

Amel yang mendengar itu hanya tersenyum malu sekaligus senang sebab bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga yang selama ini tidak pernah ia dapatkan lagi. Setelah pembicaraan singkat itu, Amel pun di antara salah satu pelayan ke kamar tamu. Di dalam sana ia terlihat berbaring sembari menatap langit-langit kamar.

Bagaimana dengan hari esok? aku pasti tidak akan tenang menjalani hari-hari ku sebab pria gila nan mesum itu! bahkan aku tidak bisa berkerja ataupun kuliah untuk sementara. Sayang sekali jika nanti beasiswa ku di cabut! batin Amel terlihat sangat lemah di sana. Jika di perbolehkan, rasanya Amel ingin berteriak sekencang-kencangnya sembari menghancurkan semua yang berada di sekitar nya. Namu sayang beribu sayang, dia tak bisa melakukan semua itu.

Ibu,,, aku sangat merindukanmu, batin Amel dengan mata yang mulai terpejam dan masuk ke dunia mimpi nya.

Di kamar Rio, terlihat Mimi sibuk mengintrogasi Rio. Banyak sekali pertanyaan yang wanita paru baya itu layangkan pada anak kedua nya itu. "Sayang, jadi apa kamu dan Amel menjalin hubungan?" tanya Mimi dengan senyum kepo-nya.

"Maaf apa-apaan sih, kami nggak memiliki hubungan, kami hanya berteman ma dan sebagai teman Rio ingin sedikit bermanfaat bagi Amel dengan cara membawanya ke rumah ini," jelas Rio yang di angguki Mimi dengan senyum ragu-nya. "Terserah Mama deh jika nggak percaya sama Rio," ucap Rio lalu menutup matanya agar Mimi tidak bertanya lebih jauh lagi padanya.

"Iya Mama percaya deh, ya sudah, Mama ke kamar dulu ya," ucap Mimi dengan senyum ragu-nya

Percaya apanya, dari senyum mama saja Rio sudah tau jika Mama masih tidak percaya dan menganggap Rio dan Amel memiliki hubungan spesial. batin Rio sedikit jengkel dengan mamanya lalu tak lama segera menepiskan fikiran jelek itu.

Di kediaman Lavender, tepat nya di salah satu kamar tamu, terlihat Sisil mulai membuka matanya dengan tubuh terikat dan mulut yang di lakban. "Dimana aku?" gumam nya sembari mengendarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.

"Cklek," suara pintu di buka membuat Sisil mengalihkan pandangannya. Ketika hendak bergerak, Sisil memandang tubuh nya yang terikat. Saat itu juga kepanikannya kembali keluar. Sedangkan pria yang baru saja masuk tersenyum smirk melihat usaha wanita culun itu.

"Apa kau menginginkan sesuatu?" tanya Luck yang saat ini baru pulang bersama Lavender. Karena tak bisa menjawab, Sisil pun menganggukkan kepalanya dengan cepat dengan tatapan penuh harap. Luck terkekeh melihat ekspresi gadis culun itu. Dengan cepat, iapun menarik lakban di mulut Sisil dengan kasar.

"Aw,,," aduh-nya merasakan mulutnya panas. "Apa yang kalian inginkan, dan dimana ini?" tanya Sisil dengan tatapan kesal sekali takut.

"Kau tidak perlu tau dimana ini, jika kau ingin segera lepas, maka tunggulah sahabat kesayangan mu itu!" ketus Luck tepat di depan wajah Sisil. Setelah mengatakan itu, Luck pun segera keluar dan menutup pintu kamar itu kembali.

Kini Luck pun menemui Lavender di kamarnya. "Tuan," panggil Luck pada Lavender yang terlihat baru membersihkan tubuhnya.

"Hm," dehemnya sembari mengambil handphone kecil untuk mengeringkan rambutnya.

"Kami sudah mengetahui keberadaan Nona Amel Tuan," ucap Luck yang membuat Lavender menghentikan kegiatan nya. Pria itu tersenyum senang mendengar informasi itu.

"Bagus! apa kalian sudah melakukan apa yang aku katakan?" tanya Lavender sembari berdiri di depan cermin dengan perasaan sok tampan nya.

"Sudah Tuan, dan tak lama lagi gambar itu akan sampai ke tangan Nona Amel," ucap Luck yang mendapatkan anggukan kecil dari Lavender.

"Bagaimana kalian bisa menemukan nya secepat ini?" tanya Lavender ingin tahu.

"Kami melacak keberadaan Nona Amel melalui jaringan telepon Tuan. Kebetulan beberapa waktu lalu Nona Amel menghubungi Nona Sisil yang saat itu sudah berada bersama kita," ucap Luck yang lagi-lagi membuat seorang Lavender merasa puas.

"Kerja bagus! berikan semua orang bonus, dan Ambillah bonus milikmu!" perintah Lavender yang di turutin Luck.

"Baik Tuan," ucap Luck lalu segera pergi menyelesaikan tugas nya dan meninggalkan Lavender sendiri di kamarnya.

Hhhhhh, kau sangat lucu sayang, sudah ku katakan bukan jika kau tidak akan pernah lepas dari ku! mau dimana pun kau berada, aku akan mencari mu walaupun ke lubang semut sekalipun! batin Lavender yang berdiri di jendela kamarnya sembari memperhatikan pemandangan di luar.

Setelah puas memandang ke luar jendela, Lavender pun masuk ke ruang ganti dan mengganti bathroom nya dengan pakaian tidur. Karena merasa senang, Lavender pun masuk ke alam mimpinya dengan tenang. Wajahnya terlihat tenang dan berseri-seri sebab sebentar lagi Istri pembangkang nya akan kembali kepangkuan nya.

Waktu telah berlalu, mata hari mulai menampakkan wujudnya. Sayup-sayup Amel mendengar suara kicauan burung yang berterbangan di sekitar kamarnya. Dengan perasaan nyaman dan tenang, Amel pun bangkit dari tidurnya lalu masuk ke kamar mandi. Setelah menyelesaikan kegiatan nya, Amel pun segera turun ke dapur untuk membantu para pelayan menyiapkan makanan. Rasanya ia merasa tak enak jika makan tidur saja di rumah itu tanpa melakukan sesuatu untuk Tuan rumah.

"Selamat pagi," sapa Mimi yang harus saja tiba di dapur. Ia tersenyum melihat kerajinan Amel di sana.

Benar-benar menantu idaman, aku yakin Rio pasti sangat menyukai gadis ini. Bukan hanya rajin, tetapi seperti nya dia juga baik dan tulus. batin Mimi tanpa melepaskan pandangannya pada Amel.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!