Gangguan Di Jalan

"Mel ini makan." ucap David sembari memberikan sebungkus nasi dan sebotol air dingin.

"Makasih ya David, Sisil." ucap Amel dengan nada biasa saja.

Walaupun hidupnya banyak cobaan dan celaan, Amel tetap menjalani hidupnya seperti orang-orang pada umumnya. Biarpun banyak yang membencinya, tetapi itu tidak membuatnya sedih dan jatuh. Amel sangat mencintai dirinya sendiri, sehingga dia memilih fokus pada dirinya dan orang-orang tulus yang selalu ada bersamanya.

"Mel kau tau, tadi di kantin sih Beca, Popi dan yang lainnya sibuk menghibahkan kau Mel. Mereka berkata buruk tentangmu," ucap Sisil dengan mulut ember nya. Sisil merupakan gadis yang pintar, cuma satu kelemahannya yaitu tidak bisa menjaga ucapannya, alias mulut ember.

"Sil." tegur David pada sisil yang bermulut ember.

"Biasalah fans," ucap Amel dengan santai dan datar. Wajah Amel tidak ada senyum-senyum nya. Begitulah wajah sehari-harinya yang selalu ia perlihatkan pada banyak orang. "Aku sebentar lagi mau pulang, kalian nggak papa kan?." ucap Amel pada David dan Sisil.

"Cepat banget Mel. Emang tugas kamu sudah selesai?" ucap David yang seakan tidak rela Amel pulang lebih cepat. Tanpa Amel sadari, David adalah salah satu pengagum rahasianya. David sudah lama menyukai Amel. Namun ia tidak mau mengungkapkan nya.

"Biasalah Dav, sesuai perjanjian, kalau aku hanya berkerja separuh waktu saja." ucap Amel sembari mulai membereskan meja kerjanya dan menata tugasnya yang akan dia antar ke lantai paling atas. "Enak banget kau ya Mel," ucap Sisil dengan wajah sedikit sedih dan cemburu sebab amel selalu pulang lebih dulu.

Kau nggak tau rasanya jadi aku Sil makanya dengan mudah kau bilang enak jadi aku. Seandainya kehidupan kita di balik, aku yakin, kau pasti bunuh diri. Batin Amel sembari melihat ke arah kaki Sisil dan David.

"Sudahlah Sil, besok kan kita bertemu lagi. Nanti kalau sudah pulang jangan lupa istirahat ya." ucap Amel dengan penuh perhatian sembari mengelus bahu Sisil.

"Iya bestie in syaa Allah," ucap Sisil sembari terkekeh.

"Kok in syaa Allah? harus dong." ucap Amel sembari tersenyum ke arah Sisil.

Setelah percakapan singkat itu, David dan Sisil kembali mengerjakan tugasnya sedangkan Amel segera berjalan dan naik ke lantai atas untuk mengantar berkas yang sudah ia kerjakan.

Amel pun berjalan dengan tangan yang menenteng tasnya dan tak lupa ia membekap berkas-berkas yang ia kerjakan di dadanya. Amel pergi menuju lantai paling atas yaitu ruangan bosnya. "Tok tok tok." Amel sudah berada di lantai paling atas.

Amel melirik arlojinya sembari menunggu respon dari dalam. "Masuk," terdengar perintah dari dalam.

Amel yang sudah di izinkan untuk masuk pun langsung bergegas berjalan ke dalam ruangan itu. "Siang Tuan," sapa Amel seperti biasanya.

"Siang Amel." ucap Pria tua yang tak lain ialah pemilik perusahaan itu.

"Ini tugas yang Tuan berikan sudah selesai." ucap Amel sembari mendekat ke meja bosnya itu.

"Sini." ucap Pria tua itu sembari menepuk mejanya seakan menyuruh Amel meletakkan berkas yang ia bawah di atas meja.

Dengan segera Amel meletakkan berkas- berkas itu atas meja yang lumayan besar. Pria tua itu mengambil berkas yang di letakkan Amel, lalu mulai melihat dan mengecek hasil kerja Amel. Bos Amel mengambil kaca mata minusnya lalu memakainya. Bos Amel mangguk-mangguk sembari tetap fokus pada berkas yang berada di depannya. "Kenapa masih di sini?" tanya bosnya sambil menurunkan sedikit kaca mata minusnya ketika melihat Amel masih berdiri di depan mejanya.

"Tuan tidak bilang dari tadi." ucap Amel dengan nada santainya.

"Hm, ya sudah cepat pulang sana," perintah Pria tua itu lalu kembali fokus ke berkas yang ia pegang.

Amel yang sudah di izinkan untuk pulang pun langsung segera bergegas pergi ke kampus. Kebetulan Amel mengambil kuliah sore. Dengan motor Scoopy nya, Amel mulai membelah jalan menuju universitas ternama dan terkenal di negaranya. Amel termasuk anak yang pintar sehingga dia bisa mendapatkan full beasiswa di Universitas di kotanya.

"Bensinnya sudah mau habis, isi dulu kali ya." Gumam Amel pelan sembari menuju pertamina terdekat. Amel adalah gadis yang hemat sehingga dia tidak pernah membeli bensin botolan karena menurutnya dia akan rugi, sebab bensin di pertamina dan bensin di botol sangat bedah jauh isinya. Itulah sebabnya Amel selalu menyempatkan diri untuk mengisi bensin di pertamina.

Jika Amel membeli bensin botolan, itupun karena sudah sangat terpaksa. Hidup di kota apalagi sebatang kara membuat Amel sangat hemat dan giat berkerja keras karena sebenarnya Amel bukan hanya memenuhi perutnya saja tetapi ia juga suka mengisi perut anak yatim, perut pengemis, perut gelandangan dan perut orang gila.

Tidak ada yang tau kebaikan yang ada di diri Amel. Orang hanya tau Amel adalah gadis kasar, gadis nggak jelas, gadis sombong dan gadis nggak benar. Banyak sekali fikiran-fikiran negatif terhadap diri Amel tapi hal itu tidak masuk ke dalam hatinya. Amel sangat kuat batin dan mentalnya. Setelah mengisi bensinnya Amel langsung melajukan motornya ke arah kampus yang sudah tidak jauh lagi.

"Tin..." Tiba-tiba saja terdengar klakson mobil yang sangat berisik dari arah belakang nya. Mobil itupun mencoba mensejajarkan posisi nya dengan kereta yang di naikin Amel.

"Sret..." Pintu kaca mobil bagian tengah terbuka dan terlihat seorang gadis berparas cantik dan putih melihat ke arah Amel sembari tersenyum sinis.

"Masih zaman naik motor? naik mobil dong biar nggak kepanasan!" ucap Nesya dari dalam mobil itu sembari tertawa.

"Dia mana mungkin mampu membeli mobil seperti ini! kalaupun mampu, pasti dari sugar daddy nya. Hhhhh," tawa dua gadis di dalam mobil itu. Siapa lagi kalau bukan Nesya dan Dini.

Nesya dan Dini ialah salah satu pembenci Amel. Mereka selalu mencoba mencari cara agar Amel menderita dan keluar dari kampus.

Bahkan Nesya dan Dini mempunyai geng yang bernama beauty girl yang cukup terkenal dan di segani di kampus itu. Amel yang mendengar ledekan Nesya dan Dini terhadapnya hanya memutar bola matanya dengan malas.

"Tin." Amel menaiki kecepatan motornya dan meninggalkan mobil mewah yang di tumpangi dua gadis cantik itu.

"Sial dia tidak bergeming!" umpat Nesya sembari melihat motor Amel yang semakin lama semakin menjauh

"Sudahlah Nesya ngapain kita membahas gadis dekil itu," ucap sini sembari memoleskan bedak tipis di pipinya.

Di parkiran kampus terlihat Amel sedang meletakkan helmnya di jok motornya. Tak lupa gadis itu mengunci setang dan menghidupkan alarmnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!