Kabur Untuk Yang Kedua Kalinya

Lusyia memperhatikan Lioren yang berada di sebelahnya. "Cih!" decit Lusyia pada Lioren dengan wajah garang dan tak bersahabat.

"Dasar nenek lampir gila!" ucap Lioren mengumpat Lusyia sembari berlalu pergi.

"Apa kau bilang!" bentak Lusyia tak terima dengan julukan yang di berikan oleh Lioren padanya.

Lioren hanya memberikan senyum jahatnya sembari berlalu pergi tanpa membalas ucapan Lusyia.

“Wanita sial*n!” umpat Lucyia dengan wajah kesal dan rahang yang mengeras.

Dikamar Lavender menghempaskan tubuh Amel dengan kasar. "Aw," Aduh Amel kesakitan dengan tangannya yang memerah sebab genggaman kuat Lavender.

"Dasar wanita murah*n beraninya kau Berselingkuh dan kabur dariku!" Bentak Lavender penuh amarah dengan wajah yang memerah, rahang pria itu mengeras, urat lehernya menegang, matanya menghunus tajam menatap Amel.

"Beraninya kau membentak ku! apa masalahmu!" Bentak Amel kembali dengan emosi yang sama. Lavender yang di bentak pun tambah mengeraskan rahangnya lalu Memegang rahang Amel dengan kasar. membuat Amel meringis di buatnya.

Dengan sigap pria tampan dan kejam itu mencium buah cery Amel dengan paksa dan beringas. “Hm,” Amel terus memberontak dan mendorong dada bidang milik Lavender. Lavender yang mendapat penolakan pun semakin marah. Api kecemburuan di dalam dadanya semakin membesar. Tanpa memberi ampun, Lavender mencium Amel tanpa mengizinkan Amel mengambil nafas. “Huh,,, huh,,, huh.” Amel menghirup nafas dengan rakus. Dadanya sangat sesak sebab kekurangan oksigen.

”Apa kau bilang?! Apa masalahku? Hhhhh... kau lupa ya sedang berhadapan dengan siapa!” ucap Lavender sembari terkekeh melihat Amel. “Slep" Lavender menarik dan mencekram lengan Amel dengan kasar. Amel yang tak siap pun langsung terbentur ke dada bidang Lavender.

Mereka saling memandang dengan mata yang sama-sama tajam. “Jangan berani bermain-main denganku, apa kau sudah tak sayang dengan nyawamu! aku tidak akan melepaskan-mu sampai kapanpun! jika kau berani kabur lagi, lihatlah apa yang akan aku lakukan!" ucap Lavender dengan nada yang menyeramkan yang seketika membuat bulu kuduk Amel berdiri.

"Lepas,,," ucap Amel tertahan sembari berusaha melepaskan genggaman Lavender di tangannya.

“Tidak akan!” ucap Lavender dengan lantang. “Apa kau mau temanmu yang bernama Sisil dan Rio itu tewas di depan matamu?” ancam Lavender dengan penuh penekanan.

Amel terdiam mendengar penuturan Lavender. “Jangan ganggu mereka!” ucap Amel dengan nada tinggi.

“Kalau begitu menurut-lah!” ucap Lavender sembari melepas cengkraman-nya. Lengan Amel memerah dan lecet sebab sangking kuatnya Lavender mencekram-nya.

“Sts,,," rintis Amel sembari memegang pergelangan lengannya yang sakit.

“Aku bisa saja berbuat lebih dari pada ini! Jadi berhati-hatilah dalam bertindak!” ucap Lavender dengan nada yang mengancam. Setelah mengatakan itu Lavender keluar lalu membanting pintu kamar itu. “Brak” orang orang yang berada di mansion itu terkejut ketika mendengar suara gebrakan yang sangat keras.

Sepertinya Tuan sangat marah. Apa Tuan sudah mulai mencintai Nona Amel? batin Luck bertanya-tanya.

Di kamar Amel menangis tersedu-sedu. Dia meratapi nasibnya yang tidak sesuai dengan harapan. Gadis kuat dan dewasa itu terlihat lemah seakan tak bertulang. Siapa saja yang melihatnya mungkin akan merasakan apa yang ia rasakan.

Di ruang kerja terlihat Lavender menghabiskan waktunya di sana. Dia masih memikirkan Amel istri ketiganya. Tidak biasanya dia merasakan hal berbeda ketika bersama Amel. Lain halnya dengan kedua istrinya yaitu Lusyia dan Lioren. Dia terlihat biasa saja kepada kedua wanita itu. Amel adalah wanita yang berbeda di matanya. Jika kedua istrinya dan semua wanita di luar sana sangat mendambakannya, maka lain halnya dengan Amel yang bahkan tidak tertarik sama sekali dengan dirinya.

Kenapa aku bisa sangat cemburu ketika melihat gadis itu berbicara dan memeluk pria brengs*k itu! Aku terlihat sangat tidak rela jika apa yang sudah menjadi milikku di sentuh oleh orang lain. Aku akan habisi gadis itu jika berani berselingkuh dariku! Geram Lavender dengan rahang yang mengeras dan gigi yang rapat.

Wajah Lavender saat ini terlihat sangat menyeramkan. Dingin, kaku, datar, arrogant, dan garang, seperti itulah penglihatan orang ketika melihat wajahnya saat ini.

“Tok tok tok," terdengar suara ketukan dari luar. Luck memasuki ruang kerja itu dengan membawa beberapa berkas. “Maaf Tuan, ini berkas yang Anda minta," ucap Luck sembari meletakkan berkas itu di atas meja kerja Lavender. Dengan tampanganya yang datar, Lavender mulai membuka dan memeriksa semua berkas-berkas itu dengan teliti.

Di lain sisi, terlihat Amel berada di sebuah taman tepat di samping mansion mewah itu. Kejadian tadi membuatnya jenuh dan kesal. Mungkin berjalan di taman sebentar membuatnya sedikit tenang dan rileks. “Bruk," terdengar suara bola menubruk ke arah kepala Amel.

“Aduh,,,” ucap Amel menahan sakit di kepalanya. Gadis itu dengan segera mengelus kepalanya lalu beralih menatap bola yang mengenainya. “Bola siapa ini?” ucap sembari mengeluarkan pandangnya ke arah tembok. Mata Amel melebar ketika melihat seorang anak kecil manjat di tembok itu.

“Kak minta bolanya," ucap anak kecil meminta tolong. Dengan cepat Amel berjalan lalu memberikan bola itu ke pemiliknya. “makasih kakak," ucap anak itu berterima kasih lalu turun dari tembok tinggi itu.

Amel yang penasaran langsung mencoba mencari tempat pijakan untuk memanjat dinding itu. Gadis itu tersenyum senang ketika melihat jalan setapak dekat mansion Lavender. “Aku nggak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku tak boleh terpancing dengan ancaman sih bed*bah itu!” ucap Amel dengan senyum devil sembari celingak- celinguk memastikan keadaan.

“Amel!” teriak seorang pria dengan nada tinggi dan marah. Pria itu melihat Amel yang sedang memanjat tembok dari balik jendela ruang kerjanya. Ya siapa lagi kalau bukan Lavender. "Beraninya dia,,," ucapnya tertahan dengan rahang yang mengeras. Dengan cepat Richardo pun memerintahkan bawahannya untuk menangkap Amel yang terlihat berusaha melompat keluar tembok mansion nya.

"Berhenti Nona," teriak para penjaga yang tengah berlari ke arah tembok.

Amel yang menolehkan wajahnya ke asal suara. Matanya melotot sempurna, dengan cepat Amel pun menjatuhkan tubuhnya ke tanah dan segera berlari mengikuti instingnya. "Sial*n! rupanya mereka melihat ku!" umpat Amel terus berlari dengan sekuat tenaga nya.

"Cepat sekali Nona berlari, ayo berpencar!" Perintah Kenan yang tak lain asisten Kenzo. Kini para bawahan Lavender pun berpecah belah guna mencari keberadaan Amel dengan cepat.

Habislah aku jika mereka sampaimenangkap ku! batin Amel yang bersembunyi di semak-semak tinggi yang berada di tanah kosong di daerah perumahan itu.

"Ayo kembali, sepertinya Nona Amel tidak berada di tempat ini," ucap dua Pria membiar Amel yang berada di semak-semak membekap mulutnya ketakutan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!