Nesya memakan makana nya sembari melirik ke arah Dini. "Mau selenggarakan party di mana Din?" tanya Nesya membuka suara.
Dini tersenyum devil dan menampilkan wajah sombongnya ke arah Nesya. "Tentu saja di club!" ucap Dini berbangga diri.
Lolita mengalihkan pandangannya ke arah Dini sambil meletakkan kompres yang baru ia pakai. "Lo harus undang semua orang yang ada di kampus ini Din!" saran Lolita sambil memperlihatkan wajah yang serius dan arrogant.
"Gue ogah banget ngundang para orang miskin itu,,, iw, nggak pantes banget mereka datang ke party gue!" ucap Dini dengan wajah jijik sembari mengibaskan rambut hitam lurusnya.
"Lo harus undang Din, biar sih gadis udik itu juga datang," ucap Nesya yang seakan satu pemikiran dengan Lolita.
Nesya menggeser tubuhnya ke arah Dini. "Emang kenapa kalau gadis dekil itu tidak Gue undang?" tanya Dini yang masih belum loading.
Terlihat wajah Dini yang kebingungan. "Ih bego!" ucap Nesya sembari metoyor kepala Dini dengan jari telunjuknya. Dini yang di toyorpun langsung berdecit sembari mengusap kepalanya yang sedikit sakit.
"Lo lola banget sih Din! Masa nggak ngerti sih!" ucap Lolita dengan tatapan kesal nan jengkelnya.
Dini lagi-lagi kesal dengan para teman-teman segengnya itu karena sendari tadi mengatakan dia lola, bego, dll. "Ntah ni sih Dini lemot banget mikirnya," ucap Dila yang ikut-ikutan.
Dini menautkan kedua alisnya ke arah dila "Emang lo tau Dil!" bentak Dini kesal kepada Dila. Dila terkekeh mendengar bertahan Dini.
"Enggak," ucap Dila tanpa merasa bersalah. "Ye,,, geblek!" nyinyir Dini pada Dila yang sok tau tapi ikut-ikutan menghakiminya. Dini, Nesya dan Lolita menatap malas ke arah Dila.
"Hehehe," Dila terkekeh dengan tatapan ketiga bestie nya.
Empat gadis itupun sibuk dengan pembahasan nya tentang party yang akan di selenggarakan oleh Dini. Di kantor tempat pengurusan surat izin membuka usaha terlihat Amel sedang menggutuki dirinya sendiri sebab telah memberikan ktp nya kepada pria yang ia tabrak.
Aku kurang hati-hati ni... bagaimana bisa aku mengurus surat izin usaha kalau KTP ku saja sama pria datar itu. Gumam Amel pelan sembari berjalan mondar-mandir di lorong gedung itu.
"Ya ampun... bahkan aku lupa meminta nomor handphone pria itu!" ucap Amel dengan kesal. dia sangat geram dengan dirinya sendiri. "Aku harus cari jalan keluar pokoknya," Gumamnya lagi sembari mengetuk dagunya dengan jari telunjuknya.
"Lihat dia seperti orang yang tidak waras," ucap salah satu gadis yang sedang berjalan dengan temannya.
"Aku rasa kita harus melaporkan gadis itu ke satpam. Bagaimana nanti dia membuat kegaduhan di tempat itu," saran teman yang satunya.
"Benar-benar," ucap teman yang ke dua.
Akhirnya tiga gadis yang sedang berjalan pun mendatangi satpam yang berada di gedung itu. "Pak," panggil salah satu perempuan yang tadi.
"Iya mbak, ada yang bisa saya bantu?" tanya satpam itu dengan wajah yang biasa saja.
"Pak saya rasa wanita di ujung sana itu sudah gila deh pak. Cepat pak usir dia sebelum dia membuat keributan di tempat ini," ucap perempuan itu memfitnah Amel.
"Benar pak. Dari tadi perempuan itu selalu mondar-mandir tidak jelas. Jangan-jangan dia pencuri yang berpura-pura gila kali," timpal teman yang satunya.
"Baiklah mbak, terima kasih atas informasi nya," ucap satpam itu yang termakan hasutan tiga gadis itu. Dengan segera satpam itupun menghampiri Amel yang sedang sibuk dengan fikiran nya. Salah satu wanita tadi tersenyum devil ketika melihat satpam sudah mulai mendekati Amel. Rupanya wanita yang tersenyum itu adalah salah satu tetangga julid Amel. Dia sedang mengurus sesuatu bersama teman-temannya di tempat itu.
Indah sekali hari ini. Batin wanita itu sembari tersenyum jenaka.
"Eh," Amel terkejut ketika ada sebuah tangan yang memegang pundaknya. Amel pun langsung membalikkan tubuhnya ke arah orang yang berada di belakangnya. "Ada apa Pak?" tanya Amel dengan wajah serius dan bingungnya.
"Silahkan anda keluar dari kawasan ini," ucap satpam itu tidak bersahabat.
"Emang kenapa kalau saya di sini pak?" tanya Amel dengan alis yang menyatu pertanda bingung.
"Sudah! cepat pergi," usir satpam itu dengan tegas.
Dari arah lain terlihat tiga gadis tertawa senang ketika melihat Amel di usir dan di dorong oleh satpam penjaga gerbang gedung itu. "Kita keterlaluan nggak sih Lin?" tanya Lola pada Line teman satu kampusnya.
"Nggak kok. Ini namanya gaya!" ucap Line dengan wajah songongnya yang tidak seberapa itu.
"Aduh,,," Aduh Amel ketika satpam itu mendorongnya hingga jatuh ke tanah.
"Santai dong pak. Nggak sopan banget!" Bentak amel yang tidak habis fikir dengan kelakuan satpam itu. "Pergi sana." ucap satpam itu mengusir Amel.
Akhirnya Amel pun memilih pergi dan mengambil motor scoopy nya yang kebetulan di parkir di luar gerbang gedung itu. Amel menjalankan scoopy nya lalu memutar ke jalan yang bisa tembus kembali ke gedung itu. Amel yang kesal dengan cepat menghentikan motornya sebentar lalu melemparkan batu yang tidak terlalu besar ke punggung satpam yang mendorongnya tadi. "Bruk," Lemparan Amel tepat sasaran. Ketika batu itu sudah sampai di punggung empuk badan pria gendut itu, Amel pun langsung menancap gasnya.
"Hey," teriak satpam itu ingin mengejar Amel namun tidak bisa disebabkan tubuhnya yang besar sehingga membuatnya kelelahan.
"Rasain tu satpam gila! Jangan mentang mentang dia kerja di situ aku takut ya. Perbuatan dia aja lebih buruk dari pada aku," Gumam Amel dengan wajah datar, judes dan mata tajam yang melihat ke arah depan.
Lola yang melihat keberanian Amel terpukau lalu memukul bahu Line dengan pelan. "Ih Line kau nggak lihat tadi?" ucap Lola sembari menunjuk ke arah di mana Amel melempar kan batu ke arah satpam. "Berani juga ya gadis itu!" ucap Lola nggak habis fikir dengan apa yang ia lihat.
"Namanya gadis gila! jadi wajar aja lah." ucap Line membalikkan tubuhnya lalu berjalan meninggalkan dua temannya.
"Lin tunggu." ucap dua temannya sembari berlari mengejar line.
"Kuat juga lemparan gadis itu. Punggung ku sampai sakit begini," ucapnya pelan sembari mengelus punggungnya yang terasa sakit.
Mungkin gadis itu tidak gila tetapi aku yang bodoh karena termakan hasutan tiga gadis aneh itu. Lain kali aku nggak boleh asal menerima laporan saja. Kalau bos tau aku bisa di pecat ni karena tidak ramah dan menuduh seseorang tanpa bukti. Batin satpam itu menyadari kesalahannya.
Hari sudah berlalu terlihat Dini dan teman- temannya sedang sibuk membagikan undangan party ke semua siswa yang mengampus di Universitas itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments