Kampus

"Ha,,, lelah juga ya." gumam Amel sembari berjalan ke arah ruang kelasnya.

"Eh lihat tu." Bisik-bisik beberapa mahasiswa.

"Hihi," beberapa mahasiswa itu terkikik secara bersamaan seakan mereka akan melakukan sesuatu pada Amel.

"Jus mu masih ada?" tanya Lolita teman segeng Nesya.

"Masih banyak ni, lo mau?" ucap Dila sembari menaikan alisnya dengan ekspresi nakalnya.

Lolita mengambil jus yang di berikan Dila padanya lalu membuka botol jus itu dan berjalan ke arah Amel yang sedang menuju ke arah mereka. "Bruk." Lolita sengaja menabrak kan tubuhnya ke tubuh Amel dan dengan segera menumpah kan jus itu di baju Amel. Amel yang sudah merasa ada sesuatu yang akan terjadi pun dengan cepat menangkap dan menjatuhkan tumpahan air itu ke tubuh Lolita.

"Hati-hati kalau jalan." ucap Amel dengan datar ketika melihat Lolita yang sudah kotor dan basah kuyup karena tumpahan jus milik Dila. Amel yang mempunyai sifat cuek dan bodoh amat pun langsung segera pergi menuju ke kelasnya tanpa membantu Lolita.

Dia sendiri kan yang sengaja menabrak ku dan mencoba usil. Jadi apa peduli ku membantu dia. Membuang waktu saja! Batin Amel dengan mata tajam dan wajah datarnya.

"Ihhh ngeselin,,," oceh Lolita sebal sembari melempar botol jus yang sudah mengotori dirinya.

"Lita lo tidak papa?" tanya Dila yang panik ketika melihat Lolita jatuh dan kotor

"Apanya yang tidak papa?! tidak lo lihat ni baju gue kotor! malah sakit lagi bokongku!" Bentak Lolita pada Dila.

"Ya sudah jangan bentak-bentak," ucap Dila dengan wajah sinis sembari membantu Lolita untuk bangkit.

"Hey beb lo kenapa?" tanya Nesya sembari berjalan cepat ke arah Lolita. Tak lupa Dini yang mengikuti jejak Nesya.

"Biasalah," ucap Lolita dengan judes kepada Nesya.

"Apa ini ulah gadis udik itu?" tanya Dini sembari memainkan kuku-kuku panjangnya yang di poles kutek.

",,," Lolita hanya mengangguk dengan wajah mewek.

"Nggak bisa di biarin ni Nesy. Kita harus balas tu sih kucel!" ucap Dini memprovokasi Nesya.

"Tenang saja beb, nanti kita beri pelajaran dia!" ucap Nesya dengan wajah nyalang dan gemes ketika melihat wajah Amel di benaknya. Dina dan Lolita mengangguk secara bersamaan.

"Mel," panggil Melinda sahabatnya. "Tumben cepat datang Mel?" tanya Melinda yang sudah duduk di sebelah Amel.

"Lagi kumat rajinnya." ucap Amel dengan wajah datar.

Amel mengambil mata kuliah yang jamnya tidak menentu. Kadang kalau Amel tidak bisa masuk mata kuliah pagi maka dia akan masuk mata kuliah siang, sore atau malam. Itulah enaknya beasiswa yang di terima Amel. Pemilik kampus meringankan para mahasiswa yang mendapatkan beasiswa Full. Jadi terkadang Amel dan Melinda tidak ketemu karena jam masuk Amel dan Melinda bisa berbeda waktu. Melinda dan yang lainnya kuliah di jam yang tetap, bedah halnya dengan Amel yang di beri keringanan oleh kampus.

Sembari menunggu dosennya masuk Amel pun sibuk dengan sosial medianya. Amel melakukan segala cara agar bisa menghasilkan uang termasuk menjual barang barang online. "Mel Lihat tas ku, cantik kan?" tanya Melinda pada Amel sembari menunjuk kan tas branded yang baru saja ia beli dari luar negeri.

"Cantik kok. Tapi kenapa beli lagi? kan tasmu sudah banyak dan masih bagus juga," ucap Amel bingung dengan kelakuan Melinda yang di bilang sangar boros.

"Ingat ya Melinda, uangmu jangan dihambur-hamburkan hari ini, besok atau hari lainnya. Mana tau besok orang tuamu kehilangan pekerjaan atau bangkrut misalnya, bukan mendoakan, cuma membilangkan saja," ucap Amel lagi dengan wajah yang serius kearah Melinda.

"Kalau ada uang jangan langsung di belanjakan tetapi di tabung, siapkan diri untuk situasi sesulit apa pun. Karena kita nggak tau kedepannya masih bisa hidup enak atau nggak, bisa makan atau nggak, punya rumah atau nggak. Jaga-jaga, jangan boros!" ucap Amel menasehati dengan nada yang lembut dan penuh kehati-hatian sebab ia tau jika Melinda adalah tipe orang yang mudah tersinggung dan over thinking.

"Iya Mel, tapi aku nggak tahan mau beli sesuatu kalau pegang uang banyak," keluh Melinda kepada Amel.

"Makanya belajar," ucap Amel dengan wajah datarnya.

"Kita hidup di zaman modern Mel apa-apa serba baru. Ya aku ikuti tren dong," ucap Melinda dengan senyuman manisnya.

"Melinda hidup ini semakin maju dan teknologi akan semakin canggih. Setiap saat pasti akan ada barang-barang baru. Kita kalau setiap saat mengikuti tren dan nafsu kita, maka kita bisa hancur Melinda. Nggak akan ada habisnya kalau selalu ikut tren dan membeli barang baru. Kenapa? karena pasti setia bulan atau setiap tahunnya pasti akan ada orang yang meluncurkan produk baru," ucap Amel lagi dengan kata-kata bijaknya.

"Belajar lah mengelola keuangan, kita sudah dewasa. Sampai kapan lagi kita berpangku terus kepada orang tua? Belajar lah mandiri Melin, dan jika orang tuamu memberikan kau uang, itu wajar sebab mereka adalah orang tuamu. Jadi saran aku coba berfikir terlebih dahulu sebelum Membelanjakan uang yang kita miliki," ucap Amel sembari tersenyum kecil.

"Iya Mel," ucap Melinda dengan wajah sendu ketika di nasehati Amel.

Tidak lama dari pembicaraan keduanya, akhirnya dosen pun masuk dan segera memulai mata kuliah di siang ini. Amel dan Melinda pun fokus mendengar kan penjelasan dari dosen mata kuliah hari ini.

Waktu terus berjalan, mata kuliah Amel sudah selesai. Gadis itu pulang ke rumahnya untuk mandi, makan dan berganti baju lalu segera mungkin pergi ke cafe tempat kerja part time nya. Dalam sebulan Amel bisa mendapatkan uang sebesar lima juta. Terkadang bisa lebih juga jika olshop Amel laris.

"Aduh,,, pegal banget tubuhku," ucap Amel sembari merenggangkan tubuhnya. "Jangan mengeluh Amel, mengeluh bisa merusak otakmu!" ucapnya menyemangati diri sendiri. Dengan semangat Amel bersiap-siap untuk pergi menuju cafe tempat kerjanya. Setelah sampai, tanpa menunggu lama Amel segera bergegas mengantar pesanan yang sudah ada di meja kasih.

"Mel antarkan juga pesanan ini ke meja nomor lima," ucap Lela teman kerja part timenya.

"Ok," ucap Amel tanpa banyak omong.

"Mbak," panggil orang yang menduduki meja nomor tiga

"Iya kak ada yang bisa saya bantu?" tanya Amel dengan hangat dan ramah.

"Kak bisa minta kotak nggak untuk bungkus makanan ini," ucap wanita yang duduk di meja nomor tiga.

"Bisa kak, sebentar ya," ucap Amel sembari tersenyum kecil. Dengan langkah cepat Amel mengambil kotak pembungkus makanan.

"Ini kan kotaknya," ucap Amel sembari menyodorkan beberapa kotak makanan kepada orang yang duduk di meja nomor tiga.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!