Penjebakan Amel

"Kami lagi di mall tante baru siap nonton," ucap Lolita asal.

"Jam berapa pulangnya?" tanya Mama Melinda.

"Ini kami mau pulang kok tante cuma Melinda nya lagi di toilet," ucap Lolita dengan ramah.

"Ya sudah kalian hati-hati ya," ucap Mama Melinda lalu mematikan sambungan teleponnya.

Lolita tersenyum jahat ketika sambungan teleponnya sudah di matikan. "Sudah siap mel?" tanya Lolita pada melinda yang baru saja keluar dari wc.

"Sudah," ucapnya sembari tersenyum.

"Melinda tadi mama lo nelpon. Maaf ya aku tadi lancang ngangkat telepon lo," ucap Melinda dengan wajah yang merasa bersalah.

"Nggak papa Lolita. Emang tadi mamaku bilang apa?" tanya Melinda yang tidak menaruh curiga sama sekali.

"Katanya kamu harus pulang. Kelihatannya mamamu sangat khawatir. Pulang gih, kasihan mamamu," ucap Lolita sok perhatian.

"Ya sudah aku panggil Amel dulu ya," ucap Melinda sembari mengambil tas dan handphone nya dari tangan Lolita.

"Amel sudah pulang di luan. Katanya sih dia lagi ada urusan," ucap Lolita berbohong.

Kok Amel tega banget sih ninggalin aku di sini! Batin Melinda kesal. Melinda tidak menyadari bahwa dia sudah termakan hasutan Lolita.

"Ya sudah kalau begitu aku pulang di luan ya. Kamu bisa nggak kirimkan salam sama Dini?" ucap Melinda sembari memegang tangan Lolita.

"Tentu saja Melinda," ucap Lolita dengan senyum mekar bak bungai bangkai.

"Ya sudah aku pulang dulu ya," pamit Melinda lalu pergi meninggalkan Lolita.

"Hati hati ya," teriak Melinda lalu tersenyum sembari memperhatikan punggung Melinda yang semakin menjauh dan menghilang.

Di meja tempat amel duduk, terlihat seorang pelayan pria menghampiri nya, pelayan itu membawa banyak minuman di nampan yang ia bawah. "Silahkan Nona," ucap pelayan itu dengan ramah sembari memberikan segelas jus berwarna oranye. Dari tempat dansa, terlihat Nesya tersenyum puas, ketika melihat pelayan yang ia bayar sudah mengantarkan jus bercampur obat tidur kepada Amel. Benar- benar tidak berhati keempat wanita itu! Mereka tidak memikirkan kesedihan, kerugian yang di dapatkan oleh orang yang mereka dzolimi.

Amel yang memang merasa haus pun, langsung meminum jus itu hingga setengah gelas. Dia tidak merasakan hal yang mencurigakan sedikitpun. Saat ini, di benaknya hanya ada minuman yang harus membasahi tenggorokannya. "Kenapa kepalaku tiba-tiba pusing begini ya?" ucap Amel dengan mata yang mulai berkunang-kunang.

Amel memegang kepalanya yang sangat sakit, bahkan pandangannya pun seakan bergoyang. Amel merasa di sekitarnya sedang mengalami gempa yang sangat dahsyat. Semuanya terlihat terguncang dan bergoyang. Mata Amel sudah mulai blur, di sebabkan efek obat tidur yang ia minum.

Tak lama Amel mengatakan itu, seketika Amel pun tertidur, disebabkan semakin banyaknya obat tidur yang di masukkan oleh Nesya.

"Ayo guys," ucap Nesya kepada tiga temannya.

Geng beauty girl dengan segera berjalan ke arah Amel yang sudah tertidur pulas. Dengan penuh kemenangan mereka mendekati posisi Amel yang sudah tidak sadarkan diri, "Berhasil," ucap Dini tersenyum puas.

"Mau kita apakan dia Nesy?" tanya Dila dengan wajah yang bingung.

Mereka memang berencana berbuat jahat kepada Amel, tetapi mereka lupa mengatur rencana selanjutnya setelah berhasil membuat Amel tak berdaya, "Biar gue saja yang urus," ucap Lolita sembari mendekat ke arah Amel.

"Guys gue nggak bisa ikut kalian terus, bagaimana kalau ada yang curiga dengan perbuatan kita," bisik Dini pada ketiga temannya.

"lo tenang saja Din, gue yang akan mengatur semuanya," ucap Lolita dengan wajah serius.

"Nesy bantuin Gue ya. Dila temenin Dini saja di sini," ucap Lolita yang di angguki Dini dan Dila.

"Ayo Nesy," ucap Lolita sembari mulai merangkul tubuh Amel.

Dua gadis itu segera mengangkat tubuh gemoy milik Amel. Dengan susah payah Nesya dan Lolita membawa Amel ke lantai atas diskotik itu, "Berat juga gadis udik ini," keluh Nesya kesal.

"Sampai rumah aku harus mandi kembang ni karena bersentuhan langsung dengan gadis udik ini!" umpat Nesya yang di angguki oleh Lolita yang merangkul Amel dengan perasaan yang sangat jijik.

Nesya dan Lolita membawa Amel ke sebuah kamar di klub itu. Setelah mereka membaringkan tubuh Amel di kasur klub itu, Nesya dan Lolita pun dengan segera keluar dari kamar itu. "Apa rencanamu Lolita? apa kau menjualnya kepada pria hidup belang?" tanya Nesya dengan wajah penasaran.

"Tidak. Aku menjualnya kepada pemilik klub ini. Dia mau membayar mahal gadis udik itu karena masih perawan," ucap Lolita tanpa rasa bersalah bahkan Nesya saja sampai tercengang dengan penuturannya.

"Lo nggak serius kan Lolita?" tanya Nesya dengan wajah yang tak percaya.

"Apa wajahku terlihat seperti wajah pembohong?" tanya Lolita balik.

Lolita menatap Nesya dengan wajah datar. Saat ini, dia benar-benar menepati ucapannya yang ingin membalas dendam pada Amel. Dia sangat kesal ketika mengingat kakinya yang di tendang Amel, bahkan saat ini rasa sakit di kakinya masih sangat terasa, itulah sebabnya dia ingin memberi pelajaran berharga untuk Amel.

"Bagaimana kalau seandainya kita masuk penjara karena hal ini?" ucap Nesya yang sedikit panik. Nesya tidak bisa membayang kan gimana nasibnya jika kelakukan yang dia dan teman-temannya lakukan bisa sampai ke tangan polisi. Memikirkan hal itu membuat wajah Nesya sedikit pucat dan berkeringat.

"Itu tidak akan terjadi," ucap Lolita dengan enteng dan percaya diri.

"Hm," angguk Nesya dengan wajah yang sedikit cemas. Merekapun dengan segera kembali ke acara party Dini. Empat gadis itu berjoget seakan-akan tidak ada yang terjadi. Dengan entengnya mereka tertawa ria, tanpa memikirkan nasib Amel.

Di sebuah ruangan VVIP di klub itu, terlihat pemilik klub menangis dan memohon kepada seorang pria tampan dan berwajah sangar nan seram. pria bermata tajam itu melihat dan menatap ke arah pemilik klub yang sedang berlutut di hadapannya.

Terlihat wajah pucat pasi pemilik klub itu ketika berhadapan langsung dengan pria penguasa di negara itu. "Maafkan saya Tuan. Tolong berikan saya waktu untuk melunasi hutang saya dan tolong jangan hancurkan tempat ini," ucap pemilik klub itu menghiba kepada pemuda yang sedang duduk santai di depannya.

"Apa yang bisa kau berikan padaku?" tanya pria dingin itu dengan pandangan yang menusuk ke arah pemilik klub itu.

"Anda bisa mengambil atau membawa gadis manapun yang ada di klub ini," ucap pemilik klub itu menawarkan semua pekerja wanitanya.

Di klub itu bukan hanya tempat berpesta dan berjoget ria saja, tetapi ada tempat khusus di dalam klub itu untuk memuaskan hasrat para pria hidung belang. Banyak sekali psk di tempat itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!