"Guys itukan sih gadis udik," tunjuk Dini pada Amel yang sedang berkerja.
"Masa sih?" tanya Dila yang tidak percaya.
"Beneran itu gadis udik," ucap Dini mencoba meyakinkan teman-temannya.
"Eh iya, itu gadis dekil," ucap Nesya sembari memandang Amel yang sedang mengelap meja.
Setiap orang mempunyai julukan sendiri untuk Amel. Berbagai bahasa jelek dan kotor mereka peruntukan untuk gadis yang tidak berdosa itu. "Ternyata dia bekerja di sini ya." ucap Lolita sembari tersenyum sinis.
"Jadi babu!" ucap dini dengan penuh penekanan yang di iringi tawa yang membuat teman-temannya juga ikut tertawa. Nesya, Dini, Lolita dan Dila saling pandang satu sama lain sembari tersenyum devil. "Pelayan," panggil Nesya pada Amel yang baru selesai mengantarkan pesanan pelanggan.
Amel yang mendengar panggilan itupun langsung menuju ke asal suara. "Ada yang bisa saya bantu mbak," ucap Amel yang berpura-pura tidak mengenal geng beauti girl.
"Gadis udik, ternyata kamu berkerja di sini ya," ledek Nesya dengan senyum sinis ke arah Amel.
"Mau pesan apa?" ucap Amel tanpa basa basi. Wajah dan mata gadis itu terlihat datar di hadapan pada teman-teman kampus nya itu.
"Oh My God! lihat gadis ini, dia masih bisa sombong saja dengan penampilan kotornya ini!" ucap Lolita menghina Amel secara terang-terangan dengan wajah menjengkelkan nya.
"Biasa,,," ucap Dila tertawa bersama Lolita.
"Bacot! mau pesan nggak!" ucap Amel dengan nada yang tidak bersahabat.
"Cepat bawah kan kami makanan yang paling mahal dan paling enak di sini!" perintah Nesya sembari mengangkat dagunya seperti seorang bangsawan yang sangat angkuh.
"Hm,,," dehem Amel sembari berlalu pergi mengambil pesanan geng beauty girl.
"Ih dasar nggak sopan!" Maki Lolita dengan wajah yang sangat kesal.
"Benar-benar babu sialan yang mengerikan." umpat Dini sembari memperhatikan punggung Amel yang semakin menjauh.
Tak berapa lama Lela sudah menyiapkan semua pesanan geng beauty girl lalu meletakkan nya nampak atas meja kasir. "Ini Mel pesanan meja no 7," ucap Lela sembari menyodorkan nampan besar yang berisikan pesanan geng Nesya. Amel hanya menganggukkan kepalanya lalu mengambil nampan besar itu lalu mengantarkan nya ke meja no 7.
"Satu,,, dua,,, tiga," ucap Nesya pelan sembari bersiap-siap untuk mengerjai Amel.
"Bruk," terdengar suara kegaduhan di meja no 7. Semua orang yang berada di cafe itu langsung mengalihkan matanya ke meja yang di duduki oleh geng beauty girl. Nesya sengaja menendang kaki kering Amel agar gadis itu terjatuh. Dan benar saja, Amel jatuh bersamaan dengan pesanan yang di pesan oleh geng beauty girl. "Hhhhh,,," keempat gadis itu mencoba menahan tawanya. Tak lupa kejadian itu mereka abadikan di smartphone mahal milik nya.
"Cepat Lolita," bisik Dini pada Lolita. Mereka sudah merancang semuanya. Hingga Lolita di perintahkan untuk berakting marah oleh Nesya, Dini dan Dila. Lolita adalah gadis yang paling lantam dan pedas mulutnya daripada tiga temannya, sebab itulah peran antagonis di jatuhkan kepadanya. "Apa-apaan ini!" Bentak Lolita yang langsung berdiri ketika melihat pesanan mereka sudah babak belur di bawah sana.
"Maaf Nona," ucap Dimas yang juga teman kerja Amel. Dimas langsung bergegas ke arah meja no 7 ketika melihat kejadian yang tak terduga itu.
"Maaf-maaf,,, lihat kerja teman kamu ini! ini sangat merugikan. Bahkan baju mewah ku kotor dan rusak disebabkan ulahnya!" bentak Lolita dengan nada tinggi.
"Cepat panggil manajer kalian!" Tiba-tiba saja Dini ikut-ikutan memerankan akting antagonis yang di perankan Lolita.
Amel hanya diam saja ketika dua gadis itu memaki dan memarahinya walaupun itu bukan murni kesalahannya. Manajer cafe itu yang mendengar keributan pun langsung menuju ke meja no 7. "Ada apa ini Nona?" tanya manajer cafe itu dengan sopan.
"Lihat kelakuan karyawan mu ini. Benar-benar tidak becus! Aku akan menuntut cafe ini karena telah merugikan aku dan teman temanku!" ucap Lolita dengan suara yang sangat menggelegar bak halilintar.
"Mohon maaf atas keteledoran karyawan saya Nona. Saya akan mengganti semua kerugian yang Nona dan teman Nona alami tetapi tolong jangan bawah masalah ini ke Kantor polisi" ucap manajer itu memohon kepada Lolita.
"Seberapa banyak uangmu makanya bisa mengganti baju mahal ku ini!" ucap Lolita nyinyir sekaligus merendahkan menejer itu.
"Tolong maafkan kami Nona," ucap manajer itu memohon.
"Baiklah kami tidak akan membawah masalah ini ke kantor polisi asalkan," ucap Lolita lalu terdiam sejenak.
"Asalkan apa Nona?" ucap menejer itu dengan mimik wajah yang sangat serius.
"Pecat pelayan ini!" ucap Lolita tanpa perasaan.
Sudah ku duga! Batin Amel menebak.
Tanpa ada yang menyadari, Nesya tersenyum kecil melihat kehancuran Amel. Amel hanya bisa pasrah dengan semua yang akan terjadi padanya.
Dengan tidak berperasaan Amel di pecat secara tidak terhormat. Bahkan Amel tidak mendapatkan uang pesangon. Akhirnya mau tak mau Amel pun pergi dari cafe itu dan pulang ke rumahnya dengan motor scoopy miliknya.
Malam yang dingin, langit yang di penuhi bintang, Amel menghirup udara dingin yang menyentuh kulitnya lalu secara perlahan menghembuskan nya. Amel sedang berada di perjalan menuju rumahnya. Gadis ini menatap jalan di depannya dengan nanar dan tegar.
Pada akhirnya takdir Allah selalu baik, walau terkadang perlu airmata tuk menerimanya. Batin Amel dalam hati sembari terus fokus melihat ke depan.
Siapa sih yang tidak sedih ketika di fitnah, di permalukan dan di pecat secara tidak hormat? apalagi tanpa adanya pesangon dari atasannya.
Mungkin rezeki ku bukan ini cafe itu lagi. Tidak apa Amel, jangan sedih dan jangan pula berputus asa. Ingat! semua makhluk sudah di jamin rezeki nya termasuk kau Amel. Batin Amel menyemangati dirinya sendiri.
"Ah,, aku harus menyenangkan diriku dulu. Mau makan ah," ucap Amel sembari tersenyum. Amel pun memutuskan untuk membeli makanan yang ia inginkan Dia mencoba melupakan dan ikhlas dengan apa yang baru saja terjadi.
Semangat Amel, ratu kan dirimu dengan caramu sendiri jangan menunggu seorang raja untuk meratu kan dirimu karena takutnya yang datang raja fir'aun pula. Batin Amel sembari melihat makanan yang ia pesan sedang di masak.
Hmm,,, harum sekali,,, nggak sabar pengen makan. Batin Amel ngiler ketika mencium aroma sedap dari makanan yang ia pesan.
"Silahkan mbak," ucap penjual itu dengan ramah.
"Iya Pak, Ini uangnya," ucap Amel sembari menyodorkan uang pas kepada bapak penjual itu. "Makasih ya Pak," ucap Amel berterima kasih kepada penjual itu.
"Sama sama mbak," ucap penjual itu dengan sangat ramah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments