Penculikan Sisil

Setelah merasa para bawahan Lavender pergi, Amel pun segera keluar dari persembunyian nya. Tak ingin berdiam diri di sana dan berakhir tertangkap, Amel pun bergegas berlari mencari bantuan. "Kenapa jauh sekali jalan besarnya sih!" kesal Amel dengan kaki yang terus berlari sembari sesekali melirik ke arah sekitarnya guna memastikan ia tak di kejar lagi.

"Tin," hampir saja Amel melompat dari tempat nya mendengar suara klakson mobil yang sangat mengagetkan itu.

Dari dalam mobil terlaris seorang pria menyipitkan matanya guna memperjelas penglihatan nya. "Itukan seperti Amel!" gumamnya ragu-ragu. Tak ingin rasa penasaran nya semakin menjadi, Rio pun mensejajarkan mobil-nya tepat di sebelah Amel. Setelah mobil-nya sudah sejajar, Rio pun membuka kaca mobil nya secara perlahan.

"Amel," panggil Rio membuat Amel yang berjalan langsung berhenti dengan tubuh yang sangat kaku. Ia takut jika seseorang yang memanggil nya adalah salah satu bagian dari Lavender.

Tahan Amel, positif thinking,,, semoga saja itu buka pria mesum itu! batin Amel lalu mencoba memberanikan dirinya untuk melihat ke asal Suara.

"Amel, ternyata benar ini kamu," ucap Rio tersenyum bahagia bisa bertemu kembali dengan Amel setelah kejadian dirinya yang bertengkar dengan Lavender.

"Rio," ucap Amel sangat bahagia melihat kehadiran Rio. "Rio, aku boleh numpang nggak?" tanya Amel langsung to the points sembari melirik kondisi di sekitarnya.

"Tentu saja, masuklah," ucap Rio yang seketika membuat Amel langsung masuk ke dalam mobilnya.

Setelah Amel masuk, Rio pun kembali menjalankan mobil-nya membela jalan. "Amel, gimana kondisi mu dan siapa Pria yang memukul itu? apa benar dia suamimu?" tanya Rio dengan mata yang sesekali melirik Amel yang terlihat berantakan.

Apa yang harus aku katakan ya, apa aku ceritakan saja semuanya? tapi, apa dia bisa di percaya? batin Amel menduga-duga.

"Kenapa diam? maaf ya jika aku ingin mengetahui privasi-mu," ucap Rio dengan senyum tak enaknya.

"Nggak Rio," ucap Amel sembari tersenyum kecil.

Cantik sekali dia jika tersenyum seperti itu, secantik apapun dia, tetapi sayang dia istri seseorang. batin Rio tersenyum hambar.

"Maaf ya Rio," ucap Amel sembari menolehkan kepalanya melihat Rio.

"Maaf untuk apa Mel?" tanya Rio masih setia menampilkan senyum manisnya.

"Maaf untuk semuanya, karena ku kau menjadi sasaran pria gila itu!" ucap Amel sembari menampilkan wajah sendunya.

"Tidak mengapa Amel, aku tidak menganggap nya masalah serius," ucap Rio dengan sangat santainya. "Tapi, benarkah pria yang waktu itu adalah suamimu?" tanya Rio dengan sangat penasaran.

"Aku pun masih bingung Rio, panjang sekali ceritanya." ucap Amel masih memperlihatkan wajah sendunya.

"Baiklah, mungkin berbicara di sini sangat tidak nyaman ya, kalau begitu bagaimana jika kita berbicara di lestoran milik ku. Sekalian kita mengisi perut," tawar Rio yang langsung di setujui Amel.

Karena sudah mendapatkan persetujuan, Rio pun membawa Amel ke lestoran milik-nya. Satu jam membela jalan, kini keduanya sudah tiba di lestoran yang di tuju. Setelah mobil terparkir rapi, kini Rio maupun Amel turun secara bersamaan dan masuk ke dalam lestoran dengan para pelayan yang menyambutnya. Seperti yang di katakan nya, Amel pun menceritakan semuanya, Ia tak mengurangi ataupun menambahkan alur cerita hidup nya beberapa hari ini.

Rio yang sudah mengetahui semuanya terlihat iba pada nasib Amel yang di jebak dan masuk ke kandang singa. "Jadi benar ya kamu sudah menikah," ucap Rio terlihat kecewa dan Amel dapat melihat kekecewaan itu.

"Maaf Rio," ucap Amel tersenyum simpul.

"Tidak apa Mel, ini semua bukan salahmu. Jahat sekali mereka menjebak-mu," kesal Rio mengepalkan kedua tangannya dengan geram.

"Tak apalah Rio, mungkin ini memang sudah takdirku," ucap Amel terlihat pasrah tapi tak rela.

"Jadi apa rencana-mu selanjutnya?" tanya Rio sembari menatap Amel dengan serius. Bukannya menjawab, Amel justru hanya menggeleng lemah seakan mengisyaratkan jika ia tak tau mau berbuat apa. "Apa kamu mau tinggal sementara waktu di kediaman orang tua ku?" tanya Rio membuat Amel langsung menegakkan wajahnya.

"Tapi,,, Apakah tidak mengapa?" tanya Amel dengan ragu-ragu sebab takut menyusahkan Rio dan kedua orang tua nya.

"Tentu saja tidak," ucap Rio dengan nada antusias nya.

"Baiklah Rio, jika kau tidak keberatan, aku mau tinggal bersama kedua orang tua mu." ucap Amel yang seketika membuat hati Rio sangat bahagia. Setelah merasa bebannya dan ketakutan nya sedikit menghilang, Amel pun menikmati makanan di depannya bersama Rio dengan di iringi obrolan ringan.

Kembali ke mansion Lavender, pria itu sekarang semakin menjadi-jadi. Semua barang yang berada di sekitar nya menjadi sasaran empuk kemarahan nya. Bahkan tak jarang semua pelayan dan bawahannya terkena umpatan dan makiannya. Jika sudah begini Lusyia dan Lioren tidak berani keluar dari kamar mereka. Mereka tidak ingin mendapat amukan dari Lavender.

"Sialan! berani sekali gadis itu menghiraukan ancaman ku!" umpat Lavender dengan rahang yang mengeras. "Baiklah jika ini kemauan mu!" ketus Lavender dengan tubuh yang menyandar di meja kerjanya.

Lihat saja, aku akan menghabisi semua orang terdekat mu! batin Lavender lalu keluar dari ruang kerjanya menuju lantai bawah.

"Cepat, tangkap sahabatnya yang bernama Sisil itu! dan kau Kenzo, ikutlah bersama ku ke club!" ucap Lavender dengan tegas.

"Baik Tuan," ucap semuanya secara bersamaan.

Luck segera mengikuti langkah Lavender yang berjalan di depannya. Setelah mereka masuk ke dalam mobil, Luck pun menjalankan mobilnya menuju tujuan nya.

"Sial!" umpat Lavender sembari menatap kesal keluar jendela.

Kembalilah Nona, jika tidak masalah besar akan terjadi. Anda akan menyesal sebab telah membangunkan amarah suami anda. batin Luck sembari melirik Lavender melalui kaca spion.

Di tempat lain, tepatnya di perusahaan tempat Sisil berkerja, para anak buah Lavender sudah siap menunggu kepulangan gadis culun yang mirip seperti boneka chucky itu. Tak beberapa lama menunggu, kini anak buah Lavender melihat Sisil yang sudah keluar dari gerbang perusahaan tempatnya bekerja, segera menjalankan mobilnya secara perlahan mendekati gadis itu.

Sisil yang tidak tau jika seseorang telah mengintai pun hanya menganggap mobil di depannya adalah taksi online yang sedang menunggu orderan. "Eh, kenapa mereka?" gumam Sisil bingung melihat beberapa pria jas hitam keluar dari dalam mobil dan menghampiri nya.

"Apa yang kalian lakukan, siapa kalian?" tanya nya mulai panik dan ketakutan melihat para pria menyeramkan itu memaksa nya untuk masuk ke dalam mobil. "Lepaskan aku!" berontak Sisil ketika sudah berada di dalam mobil.

Karena tak ingin mengambil resiko, salah satu bawahan Lavender pun membekap hidung dan mulut Sisil menggunakan sapu tangan yang sudah di campur obat bius.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!