Episode 17 - Kastel Naupaktos

Perjalanan panjang telah ditempuh Hengki dan juga Roderick. Kini mereka sudah tiba di tujuan utamanya di Wilayah Attica yaitu Kastel yang bernama Kastel Naupaktos tempat di mana Doux Nasos berada.

Meski luas wilayah Doux Nasos ini jauh lebih kecil dibanding luas wilayah kekuasaan Doux Zeno. Akan tetapi arsitektur dari Kastel Naupaktos bisa dibilang jauh lebih megah dan mewah.

Setibanya di depan gerbang. Mereka disambut oleh banyaknya patung kuda yang dibangun di atas gerbang masuk tersebut.

Namun tetap saja, meski memiliki arsitektur yang sangat megah, jumlah tentara yang ada di Kastel Naupaktos ini jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan yang ada di Kastel Iraklio yang terletak di Chandax.

"Kenapa kastel ini jauh lebih megah jika dibandingkan dengan kastel tempatmu tinggal. Bukankah harusnya terbalik yah?" tanya Hengki kepada Roderick yang sedang berada di dalam bersama sekumpulan kambing.

Meski ia sangat terkesima dengan kemegahan Kastel Naupaktos. Akan tetapi terbesit dalam benaknya bertanya mengapa kastel ini justru malah lebih megah dibanding dengan Kastel Iraklio.

"Tuanku Zeno selalu memakai hartanya sebagian untuk membantu rakyatnya terlebih dahulu. Sedangkan Doux di wilayah ini justru sering memprioritaskan uangnya untuk merenovasi kastelnya secara terus menerus," jawab Roderick.

Setelah mendengar penjelasannya, Hengki lantas kehilangan kekagumannya terhadap Kastel Naupaktos ini.

Seperti biasa setibanya di depan pintu gerbang. Kereta kuda yang hendak masuk pasti dihadang terlebih dahulu oleh penjaga gerbang.

Salah satu penjaga perlahan menghampiri mereka. Meski Chandax dan Attica berada dalam satu kerajaan yang sama, namun seragam militer mereka memiliki keunikannya tersendiri. Dan yang paling mencolok adalah lambang yang terletak pada pelindung kepala, sepertinya lambang itu adalah logo dari Wilayah masing-masing.

Chandax memiliki Logo yang bercorak gelombang air, sedangkan Attica bercorak kapal laut.

"Ada keperluan apa kalian?" tanya si penjaga kepada sang pemilik kambing dan juga Hengki.

"Kami datang sebagai tamu," jawab Hengki.

"Apa?"

Si penjaga lantas mengeluarkan ekspresi yang tidak enak dipandang, ia berpikir tidak mungkin orang jelata yang membawa kambing bersamanya ini adalah tamu sang doux.

"Saya bilang kita adalah tamu, kenapa orang tuli sepertimu bisa lolos jadi tentara!?"

Tak enak hati dipandang seperti itu, Hengki lalu mengutarakan kekesalannya dengan mengejek tentara yang sedang mengeceknya itu.

"Hebat juga kau..."

Mendengar ejekannya itu, si penjaga kemudian membuang mukanya sesaat dan bilang 'hebat juga kau' dengan nada mengancam.

"Ya, kalau begitu biarkan kami masuk," ucap Hengki.

BRAKK!!

Si penjaga lantas marah dan mengeluarkan emosinya dengan menendang roda kereta kuda tersebut.

"Beraninya kau berbicara tidak sopan seperti itu, Jelata sialan!"  bentak si Penjaga.

Mendengar kata 'Jelata' keluar dari mulutnya, Sang pemilik kambing merasa sangat kesal, sambil merasa gugup ia berusaha melirik si penjaga dengan mata yang tajam.

"jelata? Kita di sini untuk mengantarkan pesan, bangsat!"

Ketika diperlakukan seperti itu, Hengki lantas membalas dengan membentak balik kepada si penjaga tersebut.

Dan sekarang si penjaga itu tampaknya mulai ingin melakukan kekerasan fisik kepada Hengki. ia berusaha untuk mencengkeram kerah baju milik Hengki. Namun sebelum tangannya menggapai Hengki, Roderick lantas menyela lalu berkata, "Ini adalah stempel surat dari Wilayah Chandax, kita datang kesini benar-benar atas perintah Doux Zeno."

Melihat stempel yang disodorkan Roderick adalah stempel asli, yang kaget tak hanya si penjaga tapi sang pemilik kambing juga ikut terkejut. Ia tidak tahu kalau orang yang meminta tumpangannya selama ini ternyata adalah bangsawan dari Wilayah seberang.

"Mengapa anda malah menaiki kereta kotor ini?"

Bukannya meminta maaf atas perbuatannya yang semena-mena, si penjaga itu justru malah bertanya kepada Roderick.

"Kita sengaja menaiki kereta ini, biar perjalanannya menjadi lebih aman saja," ucap Roderick.

"Haha... kalian cukup cerdik rupanya, aku yang tentara saja bahkan tidak ke pikiran untuk menaiki kereta kotor seperti ini," ledeknya.

"Haha... yang lucu itu kau. 'Kepikiran?' Memangnya kau punya otak untuk berpikir?"

Hengki sangat geram karena orang yang mengeceknya ini bukannya meminta maaf tapi justru malah mengatakan sesuatu yang menyakiti hati sang pemilik kambing.

"Jaga ucapanmu sialan!" bentak si penjaga.

Melihat ada kereta yang dicek sangat lama sekali, dari kejauhan seseorang dengan pakaian yang sangat glamor menghampiri kereta itu.

"Umm... Bau sekali, ada apa ini? kenapa kau sangat lama sekali mengeceknya?"

Ketika sudah dekat, Ia lantas menutup hidungnya dengan jubah yang ia pakai dan bertanya mengapa lama sekali penjaga ini mengeceknya.

"Maafkan saya tuan muda, mereka adalah utusan yang membawa surat dari Wilayah Chandax. Tetapi salah satu dari mereka terus-menerus menghina saya dari tadi," ucap si penjaga.

Menghina apanya go***k\, ucap Hengki dalam hatinya.

"Josh, sudah lama kita tidak bertemu."

Setelah melihat ada orang yang menghampiri kereta, Roderick lantas mengeluarkan kepala dan langsung menyapanya.

"Tuan Roderick, Apa itu anda? Apakah anda datang kesini karena Doux Zeno mengiyakan permintaan ayahku?"

Dengan riang gembira pemuda bernama Josh ini menghampiri kereta itu dengan lebih dekat dan tak lupa menutupi hidungnya.

"Sudah lama kita tidak bertemu. Ya, aku datang kesini karena Doux Zeno menyetujui untuk membantu Wilayah Attica melawan para pemberontak, ia berjanji akan mengerahkan 20 ribu pasukan ke wilayah ini. Detailnya mungkin bisa dilihat disuratnya nanti." jawab Roderick setelah turun dari kereta untuk menghampiri Josh.

Mendengar kabar bahwa pasukan pertolongan akan dikerahkan ke wilayahnya, Josh merasa sangat senang. Ia langsung menggenggam tangan Roderick sambil berkata, "Saya sangat senang sekali mendengar kabar tersebut. Bantuan dari wilayah anda pasti sangat berdampak sekali bagi pertahan kami, apalagi pasukan yang ada di Wilayah Chandax dan Chania kebanyakan sudah teruji langsung ketika menghadapi para penjarah dulu."

"Semoga saja sesuai harapanmu," ucap Roderick.

Melihat Roderick dan Josh berbincang ria. Di belakang Hengki lantas ikut turun dan mendekati Roderick. Sementara si penjaga yang mengeceknya tadi tiba-tiba pergi tanpa sepatah kata pun, ia kembali ke pos jaganya lagi.

"Siapa dia? apa dia muridmu juga tuan?"

Melihat Hengki mendekat, Josh lalu menanyai siapa Hengki kepada Roderick.

"Namanya Hengki, dia bukan muridku, dia hanya menemaniku saja," ucap Roderick sambil menunjuk Hengki.

"Haha... aku sudah menduganya, mana mungkin orang kurus sepertinya menjadi murid anda," ucap Josh.

Mendengar omongannya yang tampak jelas meledeknya. Ia meresponnya dengan menggelengkan kepala sambil berkata dalam benaknya, Ada masalah apa sama orang-orang yang ada di sini? Apa mereka semua punya penyakit psikologis yah?

"Tapi meski begitu, anak muda ini tidak bisa diremehkan begitu saja. Mungkin aku tidak akan menjadikannya murid karena dia sudah memiliki bakat yang sangat bagus."

Roderick membantah perkataannya kalau ia tidak mendidik Hengki karena fisiknya yang biasa-biasa saja, ia justru menilai kalau Hengki tidak perlu di kasih didikan olehnya, karena Hengki punya bakatnya tersendiri.

"Eh... maaf jika aku sudah berkata berlebihan, aku tidak menyangka anda akan membelanya seperti itu guru," ucap Josh.

Mendengar dirinya terus menjadi bahan ejekannya, Hengki kemudian menatap jeli ke arah Josh. Harus diakui memang Josh memiliki postur yang jauh lebih bagus jika dibandingkan dengan Hengki, padahal mereka memiliki rentang usia yang tidak begitu jauh.

"Kalau begitu mari kita masuk ke dalam, lebih cepat akan lebih baik," ucap Josh.

Dari tadi yang bikin lama kau bodoh.

Hengki sebenarnya ingin sekali membalas semua ejekan yang dilontarkan oleh Josh kepada dirinya, namun saat ini ia sedang tidak mau merusak suasana nostalgia yang tengah terjadi antara Roderick dan murid lamanya itu.

"Baiklah tapi tunggu sebentar, aku mau membayar uang tumpangannya terlebih dahulu."

Sebelum memasuki kastel, Roderick kembali ke belakang terlebih dahulu untuk membayar uang transportasinya.

Ketika membayarnya, sang pemilik kambing terkejut, ia bilang, "Maaf, saya tidak bisa menerima uang sebanyak ini tuan."

Roderick dengan santai memberikan 1 keping emas kepadanya. Hal ini jelas membuatnya sangat terkejut karena 1 kepang emas itu bisa membeli 8 sampai 9 ekor kambing. Itu pun bahkan kambing dengan kondisi yang sangat sehat dan gemuk.

"Sudah terima saja, anggap saja ini uang sebagai tanda pertemanan kita, saya cukup senang mengobrol dengan kamu malam tadi, sangat jarang sekali di usia yang sudah ini punya teman bicara." ucap Roderick.

Mendengar perkataannya, si pemilik kambing tak kuasa untuk menahan rasa harunya, ia menggenggam erat tangan Roderick dan berkata, "Panggil saya Sam, Te-terima kasih, Terima kasih banyak."

"Terima kasih kembali. Saya Roderick, panggil saja Roderick. Semoga kita bertemu lagi dilain waktu," jawab Roderick.

Setelah itu, tak lama kemudian Sam pergi menjauh dari kastel untuk kembali ke rumahnya. Roderick berharap uang yang diberikannya tadi bisa dipakai untuk mengubah hidupnya.

Kenapa guru memberikan uang sebanyak itu kepadanya? Sepertinya aku harus merekomendasikan guru untuk pergi ke tempat Mia agar guru bisa memakai uangnya dengan lebih bijak.

Lagi dan lagi, Josh memikirkan sesuatu yang sangat tidak masuk akal.

"Mari guru, Ayahku pasti akan senang ketika tahu Doux Zeno menyetujui permintaannya," ucap Josh.

"Iya," jawab Roderick.

Terpopuler

Comments

Ray

Ray

Roderick orang yg berwibawa dan bisa melegenda karena kedermawanannya kepada rakyat jelata ya Thor🤔?
Semakin rame ceritanya Thor 👍😘

2022-08-07

3

jeruk_asem

jeruk_asem

ok

2022-08-02

3

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 - Rutinitas
2 Episode 2 - Mimpi Yang Membingungkan
3 Episode 3 - Setelah Sekian Lama
4 Episode 4 - Bobs. Kendalikan Emosimu
5 Episode 5 - Ksatria Sejati
6 Episode 6 - Namaku Hengki Tantama
7 Episode 7 - Prediksi Masa Depan
8 Episode 8 - Tampan Tetapi Kejam
9 Episode 9 - Soto Ayam
10 Episode 10 - Keceriaan Yang Telah Kembali
11 Episode 11 - Masih Di sini
12 Episode 12 - Surat Permohonan
13 Episode 13 - Keramaian
14 Episode 14 - Sang Mata Elang
15 Episode 15 - Penghakiman Yang Tidak Sempurna
16 Episode 16 - Janji Sang Terdahulu
17 Episode 17 - Kastel Naupaktos
18 Episode 18 - Reuni Singkat 2 Legenda
19 Episode 19 - Persiapan Berlayar
20 Daftar Wilayah
21 Episode 20 - Tak Tahu Diri
22 Episode 21 - Mobilisasi Pasukan
23 Episode 22 - Yang Tersisa
24 Episode 23 - Persiapan
25 Episode 24 - 2 Panglima Pemula
26 Episode 25 - Thriller
27 Episode 26 - Avis
28 Episode 27 - Gelombang I
29 Episode 28 - Benedict
30 Episode 29 - Sebelum Memulai Kembali
31 Episode 30 - Kublai Khan + Pengumuman
32 Episode 31 - Antara Pesimis & Optimis
33 Episode 32 - Permulaan Gelombang II
34 Episode 33 - Bidik & Lepaskan
35 Episode 34 - Who Is Really Being Threatened?
36 Episode 35 - Hutan Membara
37 Episode 36 - Nullum Consilium est Perfectum
38 Episode 37 - Darah
39 Episode 38 - Kemenangan Benedict
40 Episode 39 - Awal Kisah Untuk Hengki
41 Episode 40 - Tersanjung
42 Episode 40.1 - Kenangan Buruk
43 Episode 41 - Berlebihan
44 Episode 41.1 - Gambaran Stabia
45 Episode 41.2 - Curahan Hati Ajax
46 Episode 42 - Mindset
47 Episode 43 - Tanda Awal Perubahan
48 Episode 44 - Elliot Lascaris
49 Episode 44.1 - William Artemis
50 Episode 44.2 - Awal Mahakarya
51 Episode 45 - New Journey Begins
52 Episode 45.1 - Kemarahan Ajax
53 Episode 45.2 - Ajax, Pasukannya dan Dendam Rakyat Stabia (1)
54 Episode 46 - Jan, Pasukannya dan Dendam Kapten Alfred (2)
55 Episode 46.1 - Jan, German dan Dendamnya Masing-Masing (1)
56 Episode 46.2 - Jan, German dan Dendamnya Masing-Masing (2)
57 Episode 47 - Situasi Terkini Di Tempat Lain
58 Episode 47.1 - Jan, Mimpinya & Penyelamatan Hengki
59 Episode 47.2 - Hengki, Kesempatan & Tekad Jan
60 Episode 48 - Kesedihan Dan Kesenangan
61 Episode 48.1 - Belum Usai
62 Episode 48.2 - Dilema William
63 Episode 49 - Percikan Awal
64 Episode 49.1 - Hari Pertama Setelah Tumbangnya German
65 Episode 49.2 - Pendekatan Dengan Jan
66 Episode 50 - Semuanya Butuh Pertolongan
67 Episode 50.1 - Beringas
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Episode 1 - Rutinitas
2
Episode 2 - Mimpi Yang Membingungkan
3
Episode 3 - Setelah Sekian Lama
4
Episode 4 - Bobs. Kendalikan Emosimu
5
Episode 5 - Ksatria Sejati
6
Episode 6 - Namaku Hengki Tantama
7
Episode 7 - Prediksi Masa Depan
8
Episode 8 - Tampan Tetapi Kejam
9
Episode 9 - Soto Ayam
10
Episode 10 - Keceriaan Yang Telah Kembali
11
Episode 11 - Masih Di sini
12
Episode 12 - Surat Permohonan
13
Episode 13 - Keramaian
14
Episode 14 - Sang Mata Elang
15
Episode 15 - Penghakiman Yang Tidak Sempurna
16
Episode 16 - Janji Sang Terdahulu
17
Episode 17 - Kastel Naupaktos
18
Episode 18 - Reuni Singkat 2 Legenda
19
Episode 19 - Persiapan Berlayar
20
Daftar Wilayah
21
Episode 20 - Tak Tahu Diri
22
Episode 21 - Mobilisasi Pasukan
23
Episode 22 - Yang Tersisa
24
Episode 23 - Persiapan
25
Episode 24 - 2 Panglima Pemula
26
Episode 25 - Thriller
27
Episode 26 - Avis
28
Episode 27 - Gelombang I
29
Episode 28 - Benedict
30
Episode 29 - Sebelum Memulai Kembali
31
Episode 30 - Kublai Khan + Pengumuman
32
Episode 31 - Antara Pesimis & Optimis
33
Episode 32 - Permulaan Gelombang II
34
Episode 33 - Bidik & Lepaskan
35
Episode 34 - Who Is Really Being Threatened?
36
Episode 35 - Hutan Membara
37
Episode 36 - Nullum Consilium est Perfectum
38
Episode 37 - Darah
39
Episode 38 - Kemenangan Benedict
40
Episode 39 - Awal Kisah Untuk Hengki
41
Episode 40 - Tersanjung
42
Episode 40.1 - Kenangan Buruk
43
Episode 41 - Berlebihan
44
Episode 41.1 - Gambaran Stabia
45
Episode 41.2 - Curahan Hati Ajax
46
Episode 42 - Mindset
47
Episode 43 - Tanda Awal Perubahan
48
Episode 44 - Elliot Lascaris
49
Episode 44.1 - William Artemis
50
Episode 44.2 - Awal Mahakarya
51
Episode 45 - New Journey Begins
52
Episode 45.1 - Kemarahan Ajax
53
Episode 45.2 - Ajax, Pasukannya dan Dendam Rakyat Stabia (1)
54
Episode 46 - Jan, Pasukannya dan Dendam Kapten Alfred (2)
55
Episode 46.1 - Jan, German dan Dendamnya Masing-Masing (1)
56
Episode 46.2 - Jan, German dan Dendamnya Masing-Masing (2)
57
Episode 47 - Situasi Terkini Di Tempat Lain
58
Episode 47.1 - Jan, Mimpinya & Penyelamatan Hengki
59
Episode 47.2 - Hengki, Kesempatan & Tekad Jan
60
Episode 48 - Kesedihan Dan Kesenangan
61
Episode 48.1 - Belum Usai
62
Episode 48.2 - Dilema William
63
Episode 49 - Percikan Awal
64
Episode 49.1 - Hari Pertama Setelah Tumbangnya German
65
Episode 49.2 - Pendekatan Dengan Jan
66
Episode 50 - Semuanya Butuh Pertolongan
67
Episode 50.1 - Beringas

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!