Stabia, Wilayah yang tadinya sangat ramai karena menjadi salah satu gerbang masuk Kerajaan Socotre kini sudah luluh lantah. Kehidupan di sini telah berubah, para bangsawan yang congkak telah dibinasakan, namun hal itu justru malah mengorbankan kehidupan banyak rakyat jelata. Akibat kekosongan kepemimpinan, seluruh rakyat hidup dengan masa depan yang tidak pasti. Banyak dari mereka hidup menggelandang di sisi jalan karena rumahnya sudah habis dibakar.
Kini Wilayah Stabia dipegang oleh kelompok pemberontak yang mereka namai Perfectum Iudicium dengan memiliki filosofi Penghakiman yang Sempurna.
Kastel Stabia yang tadinya indah karena memiliki taman yang begitu hijau dan luas kini sudah menjadi gersang. Kolam yang dipenuhi ikan hias sudah kering terkuras.
Kelompok Iudicium tampak sedang patroli mengitari kastel, takut tiba-tiba pasukan kerajaan menyerangnya.
Kelompok ini memiliki ciri khas pada atribut perangnya, mereka tampak mengenakan jubah compang camping berwarna merah gelap dengan kapak panjang di kanan dan golok di tangan kiri sebagai senjata yang mereka gunakan, sebagian dari mereka juga ada yang mengenakan penutup wajah beserta tudung kepala.
Jika diingat-ingat atribut yang memakai tudung kepala tampak mirip sekali dengan kelompok yang mengincar nyawa Minna Spanner beberapa hari yang lalu.
Benar saja ternyata ke-3 orang itu sepertinya baru sampai di Wilayah ini dan hendak melapor ke atasannya.
Dari dalam ruangan, darah orang-orang yang telah mereka bantai belum juga dibersihkan. Di dalam sini terlihat beberapa orang sedang berbincang santai, akan tetapi ada 1 orang yang duduk di ruang singgasana ditemani 2 orang lainnya sedang menyiksa satu wanita, wanita itu adalah anak dari penguasa yang telah dibunuh olehnya.
Paras yang cantik tertutup oleh darah yang membasahi sekujur wajahnya. Baju yang sangat glamor yang ia kenakan itu menjadi begitu buruk karena telah dicabik-cabik oleh orang yang menyiksanya. Air matanya sudah tidak bisa keluar. Teriakannya sudah tidak berarti sama sekali, karena orang yang biasanya menjadi penjaga telah tewas di depan matanya sendiri beberapa hari yang lalu.
"Lapor Komandan! Kelompok yang ditugaskan ke Chandax telah kembali!"
Salah satu penjaga gerbang masuk ke ruangan lalu melaporkan sesuatu ke atasannya.
"Biarkan mereka masuk," jawabnya.
setelah di beri perintah oleh atasannya, mereka lantas masuk ke ruangan tersebut.
"Komandan Gui..."
Salah satu dari mereka menyapa komandan yang bernama Gui itu.
Orang yang bernama Gui ini memiliki postur yang sangat besar bahkan tubuhnya bisa dibilang sebanding dengan Bobs. Dari jauh ia tampak mengangkat bibirnya sambil menatap tajam dengan alis naik satu. Rambutnya yang panjang diikat, ia juga memiliki janggut tipis yang membuat wajahnya benar-benar sangar.
"... German Rainer telah kembali dari Chandax. Kami ingin melaporkan hasil kerja kami," ucapnya.
German Rainer adalah orang yang ketika bertarung dengan Bobs, kerjanya terus menerus memprovokasi, ia juga adalah orang yang tahu tentang peristiwa terbunuhnya Paris, teman dekat Bobs.
Mendengar ucapannya, Gui hanya mengangkat jari telunjuk sebagai isyarat untuk terus melanjutkan laporannya. Jika dilihat dari dekat jarinya saja sudah sangat besar dan juga kekar.
"Maaf kami telah gagal menjalankan misinya, pasukan penyelamat tiba-tiba saja datang dalam jumlah yang sangat besar. Saya juga heran mengapa mereka bisa tahu pergerakan kita dengan begitu cepat," lapor German.
Mendengar kabar kegagalannya. Gui lantas terkejut, ia mengepalkan tangannya dengan sangat kencang, matanya yang tadinya tajam tiba-tiba terbelalak. Membuat ketiga orang yang gagal dalam menjalankan tugasnya itu tertunduk ketakutan akan amukan dari atasannya ini.
"Kita sudah meremehkan Zeno, dari awal memang aku tidak ingin tergesa-gesa untuk membunuh Zeno. Sekarang apa yang akan kau lakukan Hubert de Hatters, bukankah kau yang harusnya bertanggung jawab!"
Gui kemudian marah kepada orang bernama Hubert yang sedang berdiri di samping kanannya. Sepertinya Hubert ini adalah otak dari misi untuk membunuh keluarga Spanner.
Hubert memiliki postur yang cukup kurus padahal ia tampak masih muda, sangat aneh jika dibandingkan dengan orang yang ada di kelompok pemberontak lainnya.
Sepertinya ia memiliki kecerdasan dalam mengatur strategi, oleh karena itu Gui mempercayainya sebagai penasihat.
"Ini di luar perkiraan saya tuan. Harusnya mereka jauh dari kastel tempat pasukan Chandax berkumpul. Dan juga bagaimana mungkin mereka tahu misi yang sangat rahasia ini dengan begitu cepat," jawab Hubert.
"Terus!? Mengapa mereka bisa tahu? Tch..! Sudah kubilang, Spanner kita habisi seperti kita menghabisi bangsawan lain saja."
Gui benar-benar kesal dengan ide Hubert untuk membunuh Spanner dengan cara memerintahkan kelompok pembunuh. Ia beranggapan bahwa Zeno harus dibunuh dengan cara biasa ketika ia membunuh bangsawan lain.
"Tapi untuk kasus Zeno berbeda tuan. Rakyat yang ada di bawah kekuasaannya begitu senang dan setia kepadanya. Bahkan saya saja hanya bisa merekrut 12 orang dari kedua Wilayah Chandax dan Chania. Apalagi sialnya mereka bisa dibilang naif dan juga bodoh."
Hubert sepertinya masih teguh dengan pendiriannya. Ia berpikir tidak mungkin menaklukkan Chandax dengan cara yang biasa-biasa saja.
"Yah... idemu memang sangat jenius, saking jeniusnya mereka jadi sadar dengan ancaman kita. Bodoh!"
Dengan kalimat sarkas, Gui kesal kepada Hubert.
"Saya minta maaf tuan. Ini murni kesalahan saya."
Hubert lalu menunduk dan meminta maaf kepada Gui. Tapi ekspresinya berkata lain, raut wajahnya terlihat begitu kesal. Ia menganggap komandannya ini terlalu naif karena menganggap Zeno bisa dikalahkan dengan bertempur seperti biasa.
"Menurut kalian siapa orang itu?" tanya Gui kepada Hubert dan yang lainnya.
"Maaf apa maksud anda tuan?"
German bertanya apa yang dimaksud oleh tuannya Gui.
"Siapa orang yang tahu kalau kalian mengincar anaknya Zeno?! Tidak mungkinkan dia sendiri yang mengungkapkannya."
Maksud Gui adalah siapa orang yang tahu tentang rencananya ini, ia pikir tidak mungkin Zeno sendiri yang tahu.
"Maaf kami tidak tahu tuan," jawab ke-3 orang itu dengan serentak.
Sementara Hubert berpikir keras, mengira-ngira siapa orang yang bisa menebak rencananya.
Apa orang itu?
Hubert sepertinya sudah memiliki kesimpulan siapa orangnya.
"Sepertinya orangnya adalah Roderick... Orang tua itu memiliki intuisi yang sangat tajam."
Hubert curiga dengan Roderick. Ia berpikir dengan intuisinya yang tajam sudah pasti orang yang dapat menebak rencananya adalah Roderick.
"Di mana Roderick pada saat kalian bertarung dengan Bobs?" tanya Gui.
"Kalau tidak salah, dia ada di dalam kereta kuda tuan. Tetapi kami juga tidak tahu apakah orang itu Roderick atau bukan," jawab German.
Karena misi yang terlalu tergesa-gesa, German dan yang lainnya belum sempat mengidentifikasi wajah dari orang-orang penting yang ada di wilayah Chandax. Yang ia tahu hanyalah wajah dari Zeno, Bobs, Minna dan juga Paris.
"Tch..." Hubert tampaknya kesal dengan keadaan yang terjadi saat ini.
\==============
Kembali ke kapal di mana Hengki dan Roderick berada. Mereka terlihat masih berbincang dengan Mia Ross pemilik rumah bordil sekaligus orang yang menjual berbagai informasi.
"Hubbert de Hatters?"
Hengki menanyakan suatu nama kepada Mia.
"Iya, dia adalah orang yang selalu mampir ke berbagai wilayah lalu membujuk orang-orang yang sedang menderita bergabung ke kelompoknya."
Mia kemudian menjelaskan orang bernama Hubbert itu kepada Hengki dan Roderick.
"Lantas siapa pemimpinnya?" tanya Roderick.
Sekarang sepertinya Roderick sudah mulai tertarik dengan informasi yang ditanyai oleh Hengki kepada Mia.
"Kalau itu, aku juga tidak tahu. Tapi walaupun aku tahu juga harganya pasti akan sangat mahal, dan uang yang kalian bawa tidak akan cukup untuk membeli informasi siapa pemimpinnya itu," jawab Mia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Ray
Mata duitan juga si Mia yg punya rumah bordil😱Up dan semangat💪🙏😘
2022-08-07
3
anggita
oke thor💪brkrya, smoga sukses novelnya.
2022-08-06
3