Episode 15 - Penghakiman Yang Tidak Sempurna

Stabia, Wilayah yang tadinya sangat ramai karena menjadi salah satu gerbang masuk Kerajaan Socotre kini sudah luluh lantah. Kehidupan di sini telah berubah, para bangsawan yang congkak telah dibinasakan, namun hal itu justru malah mengorbankan kehidupan banyak rakyat jelata. Akibat kekosongan kepemimpinan, seluruh rakyat hidup dengan masa depan yang tidak pasti. Banyak dari mereka hidup menggelandang di sisi jalan karena rumahnya sudah habis dibakar.

Kini Wilayah Stabia dipegang oleh kelompok pemberontak yang mereka namai Perfectum Iudicium dengan memiliki filosofi Penghakiman yang Sempurna.

Kastel Stabia yang tadinya indah karena memiliki taman yang begitu hijau dan luas kini sudah menjadi gersang. Kolam yang dipenuhi ikan hias sudah kering terkuras.

Kelompok Iudicium tampak sedang patroli mengitari kastel, takut tiba-tiba pasukan kerajaan menyerangnya.

Kelompok ini memiliki ciri khas pada atribut perangnya, mereka tampak mengenakan jubah compang camping berwarna merah gelap dengan kapak panjang di kanan dan golok di tangan kiri sebagai senjata yang mereka gunakan, sebagian dari mereka juga ada yang mengenakan penutup wajah beserta tudung kepala.

Jika diingat-ingat atribut yang memakai tudung kepala tampak mirip sekali dengan kelompok yang mengincar nyawa Minna Spanner beberapa hari yang lalu.

Benar saja ternyata ke-3 orang itu sepertinya baru sampai di Wilayah ini dan hendak melapor ke atasannya.

Dari dalam ruangan, darah orang-orang yang telah mereka bantai belum juga dibersihkan. Di dalam sini terlihat beberapa orang sedang berbincang santai, akan tetapi ada 1 orang yang duduk di ruang singgasana ditemani 2 orang lainnya sedang menyiksa satu wanita, wanita itu adalah anak dari penguasa yang telah dibunuh olehnya.

Paras yang cantik tertutup oleh darah yang membasahi sekujur wajahnya. Baju yang sangat glamor yang ia kenakan itu menjadi begitu buruk karena telah dicabik-cabik oleh orang yang menyiksanya. Air matanya sudah tidak bisa keluar. Teriakannya sudah tidak berarti sama sekali, karena orang yang biasanya menjadi penjaga telah tewas di depan matanya sendiri beberapa hari yang lalu.

"Lapor Komandan! Kelompok yang ditugaskan ke Chandax telah kembali!"

Salah satu penjaga gerbang masuk ke ruangan lalu melaporkan sesuatu ke atasannya.

"Biarkan mereka masuk," jawabnya.

setelah di beri perintah oleh atasannya, mereka lantas masuk ke ruangan tersebut.

"Komandan Gui..."

Salah satu dari mereka menyapa komandan yang bernama Gui itu.

Orang yang bernama Gui ini memiliki postur yang sangat besar bahkan tubuhnya bisa dibilang sebanding dengan Bobs. Dari jauh ia tampak mengangkat bibirnya sambil menatap tajam dengan alis naik satu. Rambutnya yang panjang diikat, ia juga memiliki janggut tipis yang membuat wajahnya benar-benar sangar.

"... German Rainer telah kembali dari Chandax. Kami ingin melaporkan hasil kerja kami," ucapnya.

German Rainer adalah orang yang ketika bertarung dengan Bobs, kerjanya terus menerus memprovokasi, ia juga adalah orang yang tahu tentang peristiwa terbunuhnya Paris, teman dekat Bobs.

Mendengar ucapannya, Gui hanya mengangkat jari telunjuk sebagai isyarat untuk terus melanjutkan laporannya. Jika dilihat dari dekat jarinya saja sudah sangat besar dan juga kekar.

"Maaf kami telah gagal menjalankan misinya, pasukan penyelamat tiba-tiba saja datang dalam jumlah yang sangat besar. Saya juga heran mengapa mereka bisa tahu pergerakan kita dengan begitu cepat," lapor German.

Mendengar kabar kegagalannya. Gui lantas terkejut, ia mengepalkan tangannya dengan sangat kencang, matanya yang tadinya tajam tiba-tiba terbelalak. Membuat ketiga orang yang gagal dalam menjalankan tugasnya itu tertunduk ketakutan akan amukan dari atasannya ini.

"Kita sudah meremehkan Zeno, dari awal memang aku tidak ingin tergesa-gesa untuk membunuh Zeno. Sekarang apa yang akan kau lakukan Hubert de Hatters, bukankah kau yang harusnya bertanggung jawab!"

Gui kemudian marah kepada orang bernama Hubert yang sedang berdiri di samping kanannya. Sepertinya Hubert ini adalah otak dari misi untuk membunuh keluarga Spanner.

Hubert memiliki postur yang cukup kurus padahal ia tampak masih muda, sangat aneh jika dibandingkan dengan orang yang ada di kelompok pemberontak lainnya.

Sepertinya ia memiliki kecerdasan dalam mengatur strategi, oleh karena itu Gui mempercayainya sebagai penasihat.

"Ini di luar perkiraan saya tuan. Harusnya mereka jauh dari kastel tempat pasukan Chandax berkumpul. Dan juga bagaimana mungkin mereka tahu misi yang sangat rahasia ini dengan begitu cepat," jawab Hubert.

"Terus!? Mengapa mereka bisa tahu? Tch..! Sudah kubilang, Spanner kita habisi seperti kita menghabisi bangsawan lain saja."

Gui benar-benar kesal dengan ide Hubert untuk membunuh Spanner dengan cara memerintahkan kelompok pembunuh. Ia beranggapan bahwa Zeno harus dibunuh dengan cara biasa ketika ia membunuh bangsawan lain.

"Tapi untuk kasus Zeno berbeda tuan. Rakyat yang ada di bawah kekuasaannya begitu senang dan setia kepadanya. Bahkan saya saja hanya bisa merekrut 12 orang dari kedua Wilayah Chandax dan Chania. Apalagi sialnya mereka bisa dibilang naif dan juga bodoh."

Hubert sepertinya masih teguh dengan pendiriannya. Ia berpikir tidak mungkin menaklukkan Chandax dengan cara yang biasa-biasa saja.

"Yah... idemu memang sangat jenius, saking jeniusnya mereka jadi sadar dengan ancaman kita. Bodoh!"

Dengan kalimat sarkas, Gui kesal kepada Hubert.

"Saya minta maaf tuan. Ini murni kesalahan saya."

Hubert lalu menunduk dan meminta maaf kepada Gui. Tapi ekspresinya berkata lain, raut wajahnya terlihat begitu kesal. Ia menganggap komandannya ini terlalu naif karena menganggap Zeno bisa dikalahkan dengan bertempur seperti biasa.

"Menurut kalian siapa orang itu?" tanya Gui kepada Hubert dan yang lainnya.

"Maaf apa maksud anda tuan?"

German bertanya apa yang dimaksud oleh tuannya Gui.

"Siapa orang yang tahu kalau kalian mengincar anaknya Zeno?! Tidak mungkinkan dia sendiri yang mengungkapkannya."

Maksud Gui adalah siapa orang yang tahu tentang rencananya ini, ia pikir tidak mungkin Zeno sendiri yang tahu.

"Maaf kami tidak tahu tuan," jawab ke-3 orang itu dengan serentak.

Sementara Hubert berpikir keras, mengira-ngira siapa orang yang bisa menebak rencananya.

Apa orang itu?

Hubert sepertinya sudah memiliki kesimpulan siapa orangnya.

"Sepertinya orangnya adalah Roderick... Orang tua itu memiliki intuisi yang sangat tajam."

Hubert curiga dengan Roderick. Ia berpikir dengan intuisinya yang tajam sudah pasti orang yang dapat menebak rencananya adalah Roderick.

"Di mana Roderick pada saat kalian bertarung dengan Bobs?" tanya Gui.

"Kalau tidak salah, dia ada di dalam kereta kuda tuan. Tetapi kami juga tidak tahu apakah orang itu Roderick atau bukan," jawab German.

Karena misi yang terlalu tergesa-gesa, German dan yang lainnya belum sempat mengidentifikasi wajah dari orang-orang penting yang ada di wilayah Chandax. Yang ia tahu hanyalah wajah dari Zeno, Bobs, Minna dan juga Paris.

"Tch..." Hubert tampaknya kesal dengan keadaan yang terjadi saat ini.

\==============

Kembali ke kapal di mana Hengki dan Roderick berada. Mereka terlihat masih berbincang dengan Mia Ross pemilik rumah bordil sekaligus orang yang menjual berbagai informasi.

"Hubbert de Hatters?"

Hengki menanyakan suatu nama kepada Mia.

"Iya, dia adalah orang yang selalu mampir ke berbagai wilayah lalu membujuk orang-orang yang sedang menderita bergabung ke kelompoknya."

Mia kemudian menjelaskan orang bernama Hubbert itu kepada Hengki dan Roderick.

"Lantas siapa pemimpinnya?" tanya Roderick.

Sekarang sepertinya Roderick sudah mulai tertarik dengan informasi yang ditanyai oleh Hengki kepada Mia.

"Kalau itu, aku juga tidak tahu. Tapi walaupun aku tahu juga harganya pasti akan sangat mahal, dan uang yang kalian bawa tidak akan cukup untuk membeli informasi siapa pemimpinnya itu," jawab Mia.

Terpopuler

Comments

Ray

Ray

Mata duitan juga si Mia yg punya rumah bordil😱Up dan semangat💪🙏😘

2022-08-07

3

anggita

anggita

oke thor💪brkrya, smoga sukses novelnya.

2022-08-06

3

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 - Rutinitas
2 Episode 2 - Mimpi Yang Membingungkan
3 Episode 3 - Setelah Sekian Lama
4 Episode 4 - Bobs. Kendalikan Emosimu
5 Episode 5 - Ksatria Sejati
6 Episode 6 - Namaku Hengki Tantama
7 Episode 7 - Prediksi Masa Depan
8 Episode 8 - Tampan Tetapi Kejam
9 Episode 9 - Soto Ayam
10 Episode 10 - Keceriaan Yang Telah Kembali
11 Episode 11 - Masih Di sini
12 Episode 12 - Surat Permohonan
13 Episode 13 - Keramaian
14 Episode 14 - Sang Mata Elang
15 Episode 15 - Penghakiman Yang Tidak Sempurna
16 Episode 16 - Janji Sang Terdahulu
17 Episode 17 - Kastel Naupaktos
18 Episode 18 - Reuni Singkat 2 Legenda
19 Episode 19 - Persiapan Berlayar
20 Daftar Wilayah
21 Episode 20 - Tak Tahu Diri
22 Episode 21 - Mobilisasi Pasukan
23 Episode 22 - Yang Tersisa
24 Episode 23 - Persiapan
25 Episode 24 - 2 Panglima Pemula
26 Episode 25 - Thriller
27 Episode 26 - Avis
28 Episode 27 - Gelombang I
29 Episode 28 - Benedict
30 Episode 29 - Sebelum Memulai Kembali
31 Episode 30 - Kublai Khan + Pengumuman
32 Episode 31 - Antara Pesimis & Optimis
33 Episode 32 - Permulaan Gelombang II
34 Episode 33 - Bidik & Lepaskan
35 Episode 34 - Who Is Really Being Threatened?
36 Episode 35 - Hutan Membara
37 Episode 36 - Nullum Consilium est Perfectum
38 Episode 37 - Darah
39 Episode 38 - Kemenangan Benedict
40 Episode 39 - Awal Kisah Untuk Hengki
41 Episode 40 - Tersanjung
42 Episode 40.1 - Kenangan Buruk
43 Episode 41 - Berlebihan
44 Episode 41.1 - Gambaran Stabia
45 Episode 41.2 - Curahan Hati Ajax
46 Episode 42 - Mindset
47 Episode 43 - Tanda Awal Perubahan
48 Episode 44 - Elliot Lascaris
49 Episode 44.1 - William Artemis
50 Episode 44.2 - Awal Mahakarya
51 Episode 45 - New Journey Begins
52 Episode 45.1 - Kemarahan Ajax
53 Episode 45.2 - Ajax, Pasukannya dan Dendam Rakyat Stabia (1)
54 Episode 46 - Jan, Pasukannya dan Dendam Kapten Alfred (2)
55 Episode 46.1 - Jan, German dan Dendamnya Masing-Masing (1)
56 Episode 46.2 - Jan, German dan Dendamnya Masing-Masing (2)
57 Episode 47 - Situasi Terkini Di Tempat Lain
58 Episode 47.1 - Jan, Mimpinya & Penyelamatan Hengki
59 Episode 47.2 - Hengki, Kesempatan & Tekad Jan
60 Episode 48 - Kesedihan Dan Kesenangan
61 Episode 48.1 - Belum Usai
62 Episode 48.2 - Dilema William
63 Episode 49 - Percikan Awal
64 Episode 49.1 - Hari Pertama Setelah Tumbangnya German
65 Episode 49.2 - Pendekatan Dengan Jan
66 Episode 50 - Semuanya Butuh Pertolongan
67 Episode 50.1 - Beringas
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Episode 1 - Rutinitas
2
Episode 2 - Mimpi Yang Membingungkan
3
Episode 3 - Setelah Sekian Lama
4
Episode 4 - Bobs. Kendalikan Emosimu
5
Episode 5 - Ksatria Sejati
6
Episode 6 - Namaku Hengki Tantama
7
Episode 7 - Prediksi Masa Depan
8
Episode 8 - Tampan Tetapi Kejam
9
Episode 9 - Soto Ayam
10
Episode 10 - Keceriaan Yang Telah Kembali
11
Episode 11 - Masih Di sini
12
Episode 12 - Surat Permohonan
13
Episode 13 - Keramaian
14
Episode 14 - Sang Mata Elang
15
Episode 15 - Penghakiman Yang Tidak Sempurna
16
Episode 16 - Janji Sang Terdahulu
17
Episode 17 - Kastel Naupaktos
18
Episode 18 - Reuni Singkat 2 Legenda
19
Episode 19 - Persiapan Berlayar
20
Daftar Wilayah
21
Episode 20 - Tak Tahu Diri
22
Episode 21 - Mobilisasi Pasukan
23
Episode 22 - Yang Tersisa
24
Episode 23 - Persiapan
25
Episode 24 - 2 Panglima Pemula
26
Episode 25 - Thriller
27
Episode 26 - Avis
28
Episode 27 - Gelombang I
29
Episode 28 - Benedict
30
Episode 29 - Sebelum Memulai Kembali
31
Episode 30 - Kublai Khan + Pengumuman
32
Episode 31 - Antara Pesimis & Optimis
33
Episode 32 - Permulaan Gelombang II
34
Episode 33 - Bidik & Lepaskan
35
Episode 34 - Who Is Really Being Threatened?
36
Episode 35 - Hutan Membara
37
Episode 36 - Nullum Consilium est Perfectum
38
Episode 37 - Darah
39
Episode 38 - Kemenangan Benedict
40
Episode 39 - Awal Kisah Untuk Hengki
41
Episode 40 - Tersanjung
42
Episode 40.1 - Kenangan Buruk
43
Episode 41 - Berlebihan
44
Episode 41.1 - Gambaran Stabia
45
Episode 41.2 - Curahan Hati Ajax
46
Episode 42 - Mindset
47
Episode 43 - Tanda Awal Perubahan
48
Episode 44 - Elliot Lascaris
49
Episode 44.1 - William Artemis
50
Episode 44.2 - Awal Mahakarya
51
Episode 45 - New Journey Begins
52
Episode 45.1 - Kemarahan Ajax
53
Episode 45.2 - Ajax, Pasukannya dan Dendam Rakyat Stabia (1)
54
Episode 46 - Jan, Pasukannya dan Dendam Kapten Alfred (2)
55
Episode 46.1 - Jan, German dan Dendamnya Masing-Masing (1)
56
Episode 46.2 - Jan, German dan Dendamnya Masing-Masing (2)
57
Episode 47 - Situasi Terkini Di Tempat Lain
58
Episode 47.1 - Jan, Mimpinya & Penyelamatan Hengki
59
Episode 47.2 - Hengki, Kesempatan & Tekad Jan
60
Episode 48 - Kesedihan Dan Kesenangan
61
Episode 48.1 - Belum Usai
62
Episode 48.2 - Dilema William
63
Episode 49 - Percikan Awal
64
Episode 49.1 - Hari Pertama Setelah Tumbangnya German
65
Episode 49.2 - Pendekatan Dengan Jan
66
Episode 50 - Semuanya Butuh Pertolongan
67
Episode 50.1 - Beringas

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!